Telah Terbit !

Yang sederhana, yang berserakan, yang tak diperhitungkan dan bertebaran di mana-mana, tetaplah harus dirayakan. Spesial SARBI edisi 8 di akhir tahun!

Segera Dapatkan !

Buku Puisi Karya KOMANG IRA PUSPITANINGSIH.

Toko Buku SARBI

Kumpulan buku bekas pilihan yang asik untuk dibaca dan dikoleksi dengan harga bersahabat.

Telah Terbit!

BULETIN TIKAR EDISI 02/2013 Diterbitkan oleh Komunitas Tikar Merah (KTM)

Dapatkan!

Buku Terbaru SARBIKITA Publishing Karya Heru Susanto

Blogroll

Thursday, August 9, 2012

Sajak-Sajak Dody Kristianto


Photobucket
Ilustrasi oleh Ferdi Afrar untuk SARBI

Sajak - Sajak Dody kristianto*


syair yang ditumpas malam

                          - merayakan Black Marianya Kevin Young

Sepanjang kegelapan rambutmu
kami tanami darah di dasar kabut.

Mimpi dan kematian paling dingin
melepas segala kereta
ke penjuru kedalaman.

Segeralah berlari sayangku. Kotakota konyol
dalam mimpi selalu minta hujannya.

Hanya lelaki, hanya lelaki yang kirim
kekelamannya bersegera : menudung tatapan
dan menggambar kotakota dalam teriakan.

Tapi kotakota hanyalah rembulan tidur
dan beratus spora mengirimkan pelamunnya.

Untuk ingatan hitam atau rumput
yang lebih kering dari luka.

2010



gladak kembar

Kota kematian, hujan melanturkan dirinya
entah akan ke mana. Para hantu jalan berjalan,
perlahan, menjelma kota baru bagi tubuhnya

: segera kami bertelanjang ke atas, ratusan bulan
di udara menandak puisi kelahirannya.

Kunang pucat pasi menggelar geram tarian
untuk kota baru-kotakota ingin bayang jasadnya
lepas dan telanjang

2010

*Dody Kristianto, bergiat pada Sastra Alienasi Rumbut Berbasis
Independen (SARBI)



Dimuat lembar sastra SARBI edisi 2, Oktober 2010





Lenyapnya Maestro Pulau Buru Dari Dunia Pendidikan


Photobucket
Ilustrasi oLeh Hanif untuk SARBI



Oleh Heru Susanto*

Keyakinan terhadap suatu ideologi tertentu memang mampu menyeret seseorang pada ruang penderitaan. Padahal, tidak semua keyakinan itu dimaksudkan mendatangkan kerusakan pada tatanan masyarakat, melainkan sebaliknya. Akan tetapi, setiap keyakinan tidaklah berdiri sendiri dalam kehidupan bermasyarakat. Ada banyak keyakinan hingga tidak jarang menimbulkan pertentangan yang menjurus pada kekerasan. Yang menggelikan, kekerasan itu muncul bukan berdasarkan memajukan peradaban, melainkan untuk berebut dan mempertahankan kekuasaan.

Salah satu tokoh nasional yang mengalami kekerasan dengan alasan keyakinan ideologi yang membahayakan kestabilan nasional ialah Pramoedya Ananta Toer (Pram). Pram merupakan sosok pribumi yang memiliki semangat dan keberanian dalam memperjuangkan kemerdekaan yang hakiki. Seakan-akan denyut nandinya penuh teriakan darah perlawanan. Dia tak segan-segan mengkritisi ketidakberesan pemerintah yang menyebabkan rakyat menderita di masa pemerintahan represif. Keganjilan yang bersliweran di lingkungan sosial dibingkainya dalam suatu pemikiran, lalu diteriakkan. Tidak heran kalau pemikirannya dianggap membahayakan kedudukan pemerintahan.

Sikap kritis Pram banyak dituangkan dalam tulisan. Tidak terhitung banyaknya karya-karya yang mengangkat keadaan sosial bangsanya. Tetapi, nasib tulisan itu ternyata tidak sepenuhnya berada di tangan pengarangnya, melainkan di tangan pemegang kekuasaan. Tidak sekadar nasib karya, nasib pengarangnya pun seakan-akan ditentukan oleh penguasa. Pram harus menghadapi konsekuensi terhadap pemikirannya hingga dia ditahan dan diasingkan di Pulau Buru. Di pulau itulah, dia mendapatkan “wahyu” dan menjelmalah dalam empat novel (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca) yang dikenal dengan Tetralogi Buru. Dengan karya-karya yang begitu mengagumkan, Pram memang pas menyandang gelar sastrawan besar Indonesia yang layak untuk diapresiasi generasi saat ini. Tetapi, apakah generasi kita mengetahui bahkan memahami?


Sengaja Dilupakan?

Dalam dunia pendidikan, nama Pram tidak pernah terpampang dalam buku-buku pelajaran. Bila siswa ditanya, “Siapa Pramoedya Ananta Toer?”, tidak jarang mereka diam atau malah berpikir, “Artis sinetron baru kale!.” Nah, ini bukan semata-mata karena siswa gagap dalam menyerap pengetahuan. Tetapi, siswa tersekap dalam ketakutan masa silam kekuasan.

Bila dicermati, perjuangan Pram dalam membangkitkan jiwa nasionalisme yang dewasa cukup signifikan. Hal itu dapat dilihat ketika Pram memperjuangkan persamaan hak terhadap masyarakat Tionghoa. Pada masa Demokrasi Terpimpin (1959), Soekarno mengesahkan P.P No. 10 yang mengharuskan semua pedagang eceran Tionghoa menutup usaha mereka di daerah pedalaman. Peraturan yang diskriminatif itulah yang menyebabkan keturunan Tionghoa semakin terpinggirkan dan menjadi korban kekerasan. Saat itu, Pram mengkritisi kebijakan tersebut dengan memunculkan tulisan Hoakiou di Indonesia (Hoakiau). Namun, Pram justru dianggap menjual negerinya sendiri karena lebih berpihak pada bangsa Tionghoa dan tulisan itu dibredel. Dia pun ditahan tanpa proses pengadilan. Saat itu, Pramlah salah satu tokoh yang dengan sadar berani mengambil risiko memperjuangkan nasionalisme yang lebih menyeluruh dan memberontak diskriminasi. Tapi, apakah perjuangannya tercantum dalam pembelajaran sejarah di sekolah kita?

Pembelajaran kita memang terkesan nyeleneh. Dalam pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia, Pram juga tidak pernah muncul dalam buku-buku pelajaran. Padahal, Pram merupakan sastrawan besar yang karya-karyanya digandrungi di berbagai negara. Karya-karyanya dipelajari di sana. Seharusnya, kita justru yang awal mengapresiasinya karena merupakan karya anak bangsa. Tetapi, di dalam negara sendiri, dia justru terasingkan hingga sekarang. Karya-karyanya masih dianggap sebagai karya yang tidak patut untuk dipelajari dan dijauhi. Pelajar cenderung disuguhi wacana sastra yang itu itu saja, sebut saja sastrawan angkatan Balaipustaka, Pujangga Baru, dan Angkatan 45. Bukan berarti angkatan itu tidak perlu diajarkan tetapi setidaknya pelajar juga harus mengenal maestro Pulau Buru untuk memperluas khasanah pengetahuan intelektual dan kesusastraan kita.

Wawasan terhadap jiwa nasionalisme bangsa dalam memperjuangkan kemerdekaan sebenarnya dapat dipelajari dari novelnya. Hal itu dapat dilihat dalam novel Tetralogi Buru yang mengisahkan perjuangan pribumi memperjuangkan hak-hak yang dirampas oleh bangsa kolonial. Nilai-nilai kebudayaan daerah juga dapat diserap dalam novel tersebut. Bahkan, wacana yang dihadirkan dalam karya Pram masih relevan dalam kondisi sosial-politik saat ini yang masih cenderung memperebutkan kekuasaan semata. Dengan mempelajari karya Pram, pelajar setidaknya mengetahui wacana kritis dan perjuangan pribumi untuk bangsanya. Sekali lagi, pelajaran sastra kita masih dipersempit dengan materi sastra yang itu-itu juga. Pembahasan mengenai karya-karya Pram masih sangat minim, bisa jadi tidak ada sama sekali. Apa ya kira-kira penyebabnya?

Kurikulum pendidikan kita memang diwanti-wanti untuk tidak mengajarkan pemikiran yang menyimpang. Oleh sebab itu, Pram tidak pernah nongol dalam ranah pembelajaran dengan beberapa alasan. Pertama, keyakinan ideologi yang diperjuangkannya dianggap melawan pemerintah. Kedekatannya dengan Lekra yang mendukung politik PKI menyebabkannya dilabeli sebagai komunis yang tidak sesuai dengan dasar negara. Pram dianggap tidak percaya pada Tuhan, sedangkan negara kita adalah negara yang berketuhanan.

Sebenarnya, menganggap Pram sebagai ateis itu perlu dipertanyakan. Pram masih meyakini keberadaan Tuhan. Dalam video dokumenter Mendengar Sibisu Bernyanyi yang dikeluarkan Yayasan Lontar, Pram pernah mengatakan, “Tuhan, kalau saya tidak dipergunakan dalam dunia ini, ambillah nyawa saya!” Itu diucapkan ketika Pram mengalami keputusasaan dan masih menyebut Tuhan sebagai tempat kembalinya segala sesuatu. Walau perkataan itu terlontar sebelum dikaitkan-kaitkan dengan komunis, Pram menunjukkan ekspresi yang memiliki spirit terhadap adanya kekuatan transendental. Pram juga membiarkan dirinya dituduh sebagai komunis dan tetap teguh dalam prinsipnya untuk menentang penindasan. Inilah intrik politik penguasa represif terhadap lawan politik yang dianggap membahayakan terhadap kedudukan nyamannya.

Kedua, karena berganti-ganti bui, antara lain bui masa kolonial, Orde Lama, dan Orde Baru dan baru bebas sepenuhnya tahun 1999, tampaknya masyarakat menganggap bahwa Pram seorang cacat hukum (penjahat/bandit). Stigma inilah yang menyebabkannya teralienasi dari lingkungan sosial, khususnya pendidikan. Stigma ini dilanggengkan untuk kepentingan kekuasaan semata. Bekas tahanan seakan-akan dianggap sebagai hewan yang belum mencapai tingkat evolusi yang sempurna.

Ketiga, dari kedua alasan tadi, secara tidak langsung, Pram adalah musuh pemerintah. Siapa yang berani melawan pemerintah, berarti dia adalah pengkhianat negara. Oleh sebab itu, memperkenalkan Pram pada dunia pendidikan juga berarti mengajarkan pemikiran musuh negara. Hal itu menyebabkan pendidik juga harus berpikir beberapa kali sebelum mengajarkannya, sebelum mereka pun nantinya juga dianggap sebagai musuh pemerintah. Walaupun wacana ini muncul di masa kekuasaan lama, pengaruhnya masih terasa hingga sekarang. Karenanya, sosok Pram bukan terlupakan, tapi cenderung dilupakan. Kita pasti yakin, bangsa kita bangsa besar yang memiliki pemikir-pemikir besar pula. Mungkinkah kita amnesia di usia yang sangat muda?

Butuh Keberanian

Bagi pengajar yang sudah lama mengabdi di dunia pendidikan, mengabdi di masa kekuasaan Orde Baru menyisakan trauma yang berpengaruh pada proses mengajar. Tidak perlu diragukan, ketakutan tersebut masih membekas di dunia pendidikan. Kenyataan ini mempengaruhi lambatnya pengenalan sosok Pram di dunia pendidikan. Sangat disayangkan bila sosok sastrawan itu dilupakan. Pengajar membutuhkan keberanian untuk meningalkan trauma masa silam.

Tidak perlu pengajar menunggu adanya buku pelajaran yang memuat sosok Pram atau menunggu Diknas untuk mengeluarkan kebijakan. Pembelajaran kita sudah harus mampu menerobos sejarah kelam. Kita bertanggung jawab pada generasi baru untuk mengenalkan masa lalu. Pram adalah salah satu kunci pendidikan demokrasi bangsa ini. Dia sekaligus sumber materi untuk memunculkan keberanian beraspirasi dan penentangan terhadap kepincangan politisi kekuasaan. Semoga kita kian belajar terbuka mulai saat ini. Ataukah kita juga melanjutkan kediaman terhadap sejarah kelam masa silam? Yang perlu diingat, mempelajari tidak harus mengikuti. Bisa jadi, mempelajari justru memberikan simulus pemikiran untuk mengkritisi. Semoga kita kian belajar terbuka mulai saat ini. Ataukah kita juga melanjutkan kediaman terhadap sejarah kelam masa silam? Subhanallah....

* Heru Susanto, Guru pada SMP Al-Azhar 13 Surabaya.
Penulis buku menguak misteri Tanda.

Dimuat lembar sastra SARBI edisi 2,  Oktober 2010 

Wednesday, August 1, 2012

Cerpen Angga Priandi, Majalah Story November 2010





Try out

“Ayo anak-anak, waktunya kurang sepuluh menit lagi!” kata penjaga try out yang dari tadi dengan sabar menunggui Haris dan kawan-kawannya.
Sontak hampir semua siswa gelagapan kebingungan lantaran masih ada banyak nomor jawaban mereka yang masih kosong. Oto tiba-tiba menggaruk kepalanya karena pusing dengan rumus-rumus matematika yang membingungkan. Kali ini adalah try out dari Diknas tiga mata pelajaran: Matematika, Bahasa Inggris, dan Bahasa Indonesia. Kemudian dilanjutkan besok juga tiga mata pelajaran: Fisika, Kimia, dan Biologi.
Haris masih ingat ketika awal mula soal-soal menjengkelkan itu dibagikan. Semua teman-temannya cukup PD dengan kemampuan mereka masing-masing. Atau mungkin, mereka telah berdoa agar si penjaga cukup sabar menjaga dan melayani keinginan siswa untuk saling menyontek. Haris pun demikian. Dia telah siap dengan beberapa kertas berisi rumus-rumus Matematika yang tidak dihapalnya. Dia pun telah berdoa agar penjaganya sabar.
Pukul 07.00.
“Tteeetttttt……!!!” suara bel meraung-raung.
Semua siswa telah siap di tempat duduknya masing-masing. Beberapa menit kemudian, penjaga try out datang membawa soal dan lembar jawaban yang masih kosong. Para siswa telah memberi kode kepada teman yang lain untuk saling membantu. Satu per satu soal dan lembar jawaban kosong telah dibagikan. Semua siswa yang telah siap dengan pensil 2B-nya langsung mengisi data diri mereka masing-masing.
“Waktunya 120 menit dimulai dari sekarang.” kata pengawas try out yang juga guru Matematika mereka.
“Mati aku, Pak ini kan killer.” gerutu Haris.
Haris membuka lembar soal pertama. Dilihatnya soal Matematika yang menantang untuk ditaklukkan. Satu nomor selesai, dua nomor selesai. Nomor tiga dilewati karena susah. Pun demikian dengan nomor-nomor selanjutnya sampai pada nomor sepuluh. Sebelas dilalui dengan selamat meski sedikit gak yakin. Pada nomor ke dua belas, Haris mulai malas.
“Ah, langsung saja ke soal Bahasa Inggris.” Pikirnya.
Dibukalah soal nomor ke-21. Jumlah soal try out ini 60: 20 Matematika, 20 Bahasa Inggris, dan 20 soal Bahasa Indonesia. Haris cukup lancar dalam mengerjakan soal Bahasa Inggris tersebut. Hanya beberapa nomor yang gagal diselesaikannya. Cukup membutuhkan waktu 30 menit, dia menyelesaikan soal Bahasa Inggris dengan meninggalkan 5 nomor saja.
Pukul 07.50.
Soal ke-41, Bahasa Indonesia. Karena mengerjakan soal Bahasa Inggris tadi dengan cukup cepat, Haris merasa sangat PD untuk menyelesaikan soal Bahasa Indonesia dengan cepat pula. Tapi, ketika kali pertama membuka soal itu, muncullah bacaan-bacaan yang panjang dan melelahkan. Melihatnya saja sudah merasa kenyang, apalagi harus membacanya.
“Ancrit!” gumamnya.
Dia melihat teman-temannya yang masih serius mengerjakan soal.
“Ancrit, anak-anak ini pada serius semua. Kayaknya pada bisa neh. Ancrit!” umpatan demi umpatan muncul dari pikiran Haris yang tak rela melihat temannya itu bisa mengerjakan soal yang dia sendiri tak mampu menyelesaikannya.
Dia masih memperhatikan teman-temannya itu sambil mencari kekuatan untuk kembali semangat mengerjakan soal-soal menyebalkan itu. Kemudian, dia memperhatikan jam tangan pemberian ibu tercinta: 07.53.
“Ah, masih lama.” Pikirnya.
Tiba-tiba terdengar suara lirih memanggilnya, “Ssstttt….” suara Evin lirih.
Sambil clingak-clinguk dia mencari sumber suara itu.
“Hem?” suara Haris lirih sambil mengangkat kepalanya dengan cepat lalu turun kembali.
“Sudah selesai?” tanya Evin.
“Belum lah.”
“Nomor lima belas apa?”
“Gak tahu. Sebentar, nanti saja.”
“Ok.”
Haris kembali merenung. Dia menaruh kepalanya di atas tangan yang telah disingkap dan berada di atas meja. Sambil terpejam, dia mencoba merangkai kembali semangat-semangatnya yang telah jatuh tercecar berhamburan ke mana-mana. Sempat terpikir untuk izin ke toilet untuk mencuci muka, tapi ragu.
“Ah, izin saja.”
Dia berjalan ke toilet untuk membasahi muka agar rasa malas itu sirna dari pikirannya. Selepas dari toilet, semangatnya kembali meski tak seutuh tadi.
“Saatnya membantai soal-soal brengsek itu.” gumamnya.
Dia teringat kata guru Bahasa Indonesianya di tempat les yang mengatakan bahwa soal Bahasa Indonesia itu jangan dibaca teksnya dulu, tetapi dibaca soalnya dulu. Kalau memang wajib membaca teks, ya dibaca, kalau tidak, ya langsung saja. Ah, metode singkat ini memang cukup digemari siswa dan anak muda zaman sekarang. Membaca adalah momok yang menyeramkan bagi siswa. Padahal, membaca adalah jendela dunia. Setidaknya ini kata para pakar pendidikan. Tapi tidak hanya itu. Bahkan, surat pertama yang turun dari kitab suci agama Islam, yaitu Alquran, adalah surat Al-alaq 1 – 5. Ayat pertama berbunyi iqro’ yang berarti bacalah. Tuhan pun telah menganjurkan umat-Nya untuk membaca. Lalu ada apa dengan anak muda zaman sekarang yang susah untuk disuruh membaca?
Beberapa soal akhirnya terselesaikannya juga walau memakan waktu yang cukup lama. Soal demi soal, materi demi materi, dan tema demi tema terjawab: tentang wacana, tentang tabel, tentang resensi, dan tentang daftar pustaka. Sekarang masuk pada materi sastra.
“Mati aku. Aku kan gak bisa sastra.”
Dia melirik pada penjaga try out yang memasang tampang seram.
“Ancriitt.”
08.30.
Waktu berjalan tanpa perintah. Haris masih berjuang dengan kegalauan pikiran untuk menjawab soal Bahasa Indonesia. Dia melihat reaksi teman-temannya juga mulai gelisah. Ada yang garuk-garuk kepala. Ada yang memegang kepala sambil mendongak ke atas. Ada yang menyandarkan kepalanya di atas meja. Bahkan, ada juga yang tertidur dengan lelapnya.
“Ah, persetan. Kalau tidak bertindak sekarang, bisa-bisa lembar jawabanku bisa kosong terus.” Pikir Haris sambil menghitung jumlah jawaban yang belum diisi: Matematika kurang 15 jawaban, Bahasa Inggris 5 jawaban, dan Bahasa Indonesia 10 jawaban.
“Yud….” suaranya berbisik memanggil Yudi, teman yang duduk di depannya tepat.
“hem….”
“Aku lihat jawabanmu donk?” sambil melihat ke arah penjaga. Aman.
“Aku belum selesai.”
“Iya, ndak papa. Aku cuma pengen lihat saja.”
“Belum koq, ntar aja ya?”
“Ancrit, cuma lihat saja nggak boleh. Dasar pelit!” pikir Haris.
Perburuan diganti ke arah samping kanan.
“Ssstttt, Fa…”
Ifa menoleh sambil menaikkan alisnya lalu dengan cepat turun kembali.
“Sudah selesai?”
Tanpa bersuara, Ifa hanya menggeleng dan menaikkan bahunya dengan ekspresi wajah yang innocent. Mungkin ke arah samping kiri bisa dapat jawaban.
“Jeng,…Ajeng….”
“Apa, Ris?”
“Lihat jawabanmu donk?”
“Neh….” kata Ajeng sambil menunjukkan lembar jawabannya yang ternyata juga masih banyak yang kosong, bahkan lebih banyak. Haris baru sadar kalau ternyata Ajeng punya kemampuan pelajaran yang di bawah rata-rata. Akhirnya dia melirik lembar jawaban Reni yang duduk tepat di belakangnya. Ada beberapa nomor yang bisa disonteknya, terutama pada soal Matematika.
“Syukurlah. Dari pada tidak sama sekali, hehehe.” Senyum kecil Haris muncul dari bibir tebalnya.
08.40.
“Ancrit, dua puluh menit lagi. Masih ada 20 soal lagi yang belum.” gerutunya.
“Oh, iya, aku kan punya beberapa rumus Matematika.” pikirnya tiba-tiba.
Dibukanya pelan-pelan kertas-kertas kecil itu. Dilihatnya rumus-rumus sialan itu. Semakin dilihat, semakin diseriusi, malah semakin puyeng. Sama seperti kepanjangan dari Matematika, Makin Tekun Makin Tidak Karuan.
Mungkin karena keadaan sudah kepepet, tiba-tiba semangatnya meninggi. Kemampuannya meningkat. Daya ingatnya semakin kalap untuk melahap soal-soal itu. Kemampuan seseorang akan menjadi besar tatkala dia berada pada situasi yang sulit, situasi yang terjepit, dan situasi yang mengharuskannya untuk berpikir cepat. Alam bawah sadar lebih berkuasa saat itu. Seandainya kita bisa menaikkan kemampuan kita dalam segala kondisi.
Dengan kemampuannya itu, soal-soal tersebut seolah kerupuk yang dengan mudah dikunyahnya lalu ditelan. Dari 20 soal yang kurang, setengahnya telah terjawab.
Tiba-tiba, “Ayo anak-anak, waktunya kurang sepuluh menit lagi!” kata penjaga try out yang dari tadi dengan sabar menunggui Haris dan kawan-kawannya.
Sontak hampir semua siswa gelagapan kebingungan lantaran masih ada banyak nomor jawaban mereka yang masih kosong. Oto tiba-tiba menggaruk kepalanya karena pusing dengan rumus-rumus matematika yang membingungkan. Rico dan Andre saling memandang. Susan tetap tenang dengan lembar jawaban dan soal di hadapannya. Sepertinya dia sudah tinggal beberapa nomor lagi atau bahkan dia sudah selesai. Yeni kaget karena tiba-tiba pensilnya terjatuh dan patah. Dia harus menyerutnya kembali. Kartika dan Melati yang dari tadi kerja sama tenang-tenang saja.
Semakin panik, maka pikiran semakin ruwet memikirkan jawaban yang tepat. Semakin tidak tenang, pun tidak tenang hasilnya.
“Apa boleh buat, pasti sudah tak sempat lagi kalau harus mengerjakannya dengan cara manual. Harus dengan cara yang lebih instan, yaitu menyontek. Hehehe.” kreativitas Haris muncul bersamaan dengan munculnya strategi setan untuk membantunya mendapat jawaban.
Diambillah lembar jawaban Reni tanpa ragu. Dilihatinya satu per satu, nomor demi nomor. Ada jawaban berkeliaran, langsung tangkap. Dikembalikan lembar jawaban itu. Dua nomor telah terisi.
Kelas semakin gaduh. Penjaga ternyata juga menghalalkan sontek-menyontek itu meskipun dia terkenal sebagai guru yang killer. Mungkin dia tak tega melihat siswanya mendapat nilai jelek. Atau mungkin, dia tak ingin citra sekolah tempatnya mengajar menjadi jatuh karena hasil try out Diknas siswa-siswanya jelek.
Melihat penjaganya bergeming, siswa semakin tak sungkan untuk saling bertukar pikiran langsung melalui lembar jawaban. Haris pun memanfaatkan moment spesial itu untuk memenuhi kuota jawaban yang harus terisi dari nomor 1 sampai dengan 60.
“Tteeetttt….!!” bel akhir masa pertempuran telah berbunyi. Semua puas, semua ikhlas terhadap hasil jawaban mereka meskipun belum tentu semua benar.
Haris tersenyum puas karena jawaban telah terisi meski sedikit tak yakin. Dilihatnya Yudi dan Ifa yang tadi tak mengacuhkannya. Dia hanya bergumam, “Try out ini sesungguhnya tak sepenuhnya menguji kepandaian, tetapi juga menguji kesetiaan.”


Surabaya, 22-23 Februari 2010

Puisi Ferdi Afrar, Kompas 29 Juli 2012




Penggendam
bukalah pintu sayu matamu
teras kosong yang terlupakan.
kami akan diam-diam meletakkan bandul jam,
juga lentik mantra agar kau tak terjaga
dari kegembiraanmu menghitung domba
melompat dari bimbang ke bimbang,
berselimut bulan.

kami akan berjumpa di lubang ketidaksadaran
kemudian kami ikhlaskan setengah jiwa kami
berdiam pada kerling mata: perabotanmu yang
mengering, perasaan-perasaanmu yang kumal,
halaman-halaman kosong yang akan kau tulis tentang kehilangan. ketika itu kami hanyalah ingatan yang mampir, yang bolak-balik menyembul dan tenggelam dari balik kenangan.

2012


Pembiak Kata
sepertimu kami memilah kata.
pada parasnya, pada garing nyaring suaranya,
pada kemolekan dan kesintalan dagingnya.
kami jejerkan, kami luruskan, agar tak ada yang mencong apalagi bengkong.
kami letakkan kata pada tempat
yang membuatnya bahagia.

kami kesepian, memutar nasib
seperti mengulangi percobaan bunuh diri.
sepanjang hari gentar memutar gasing di punggung. kami letih dan mendamparkan tubuh di garasi.
di atas meja, di temaram cahaya,
kami bersendempel pada kata.

tiba pada gelap
kami bermalam pada lamunan
yang membuat kami terasa akrab.
berdua melompat-akrobat dicelah kalimat. melawan gigil jam dan rayuan bantal. menapaki puncak paling sunyi.
ke negeri asing paling gaib,
yang belum pernah kami temui.
bersamanya kami berkelana mesra
hingga subuh bercahaya.

2012                      

Cerpen Angga Priandi, Majalah Story Januari 2012



Di Balik Senyum Itu
Bus itu tampak dari luar penuh sesak oleh penumpang. Tapi, hal itu tak menyurutkan niat kami untuk menaikinya. Bulan bersinar cukup terang meskipun kadang tertutup oleh awan dan abu karena semburan abu vulkanik dari gunung di dekat daerah itu. Ketika tanganku memberi sinyal kepada supir agar berhenti, bus tetap saja melaju.
“Ah, penuh lagi,” kataku, “gimana nih? Ntar kita sampai Bayasura pukul berapa? Brengsek!”
“Sabar Ngga, ntar juga pasti dapat bus kok,” kata Indah menenangkanku.
“Iya nih, sekarang sudah pukul sepuluh, ah..!!” Beni sependapat denganku.
“Padahal, besok siang laporan ini harus sudah terkumpul di meja Bu Niar, mana orangnya galak, lagi..” Melati menambahkan.
“Gangga, tuh ada lagi, coba aja dulu! Kayaknya sepi tuh,” kata Indah.
Bus memang terlihat sepi. Tapi, justru ini yang aneh, masak dari tadi ramai, eh yang ini sepi.
“Ah, sudahlah,” pikirku.
Teman-teman sudah bersiap mengangkat barang mereka masing-masing. Setelah mendapat sinyal dariku, bus pun berhenti. Saat kami naik, tak seorang pun penumpangnya berdiri. Itu berarti masih ada tempat duduk untuk kami berenam. Kursi kosong terpisah dari yang lain. Hanya dua kursi kosong yang berdampingan. Itu berada di bagian depan. Aku yang naik terakhir disisakan kursi depan itu. Di sebelahnya sudah ada Indah. Aku pun duduk bersebelahan dengan Indah. Sebelum duduk, kupandangi teman-teman yang lain. Kuhapalkan tempat duduk mereka, “Siapa tahu aku nanti butuh mereka,” pikirku.
Penumpang terdengar tenang. Mereka banyak yang tidur. Sambil pura-pura mengambil barang di tas, aku menengok mereka satu per satu. Beberapa ada yang tidur. Beberapa juga ada yang terjaga. Hampir semua penumpang terlihat pucat. Mungkin mereka kecapean. Beni, Melati, Citra, dan Ulfah sangat kelelahan. Mereka duduk terpisah deret dan baris. Melati yang sempat melihatku melemparkan senyum manisnya untukku. Dari dulu dia memang naksir aku, tapi aku belum memberi sikap kepadanya.
“Ngga, aku tidur ya,” kata Indah yang duduk di sebelahku.
“Iya, tidur saja. Biar aku yang jaga. Lagian perjalanan kan masih lama,” kataku. Perjalanan dari Kota Jembar ke Bayasura memang lama. Jarak keduanya lebih kurang 197 Km. Kalaupun supir memacunya dengan kecepatan rata-rata 60 Km/jam, dibutuhkan lebih dari tiga jam untuk sampai. Sambil memikirkan langkah apa saja yang harus kulakukan setelah sampai di Bayasura nanti, kulihat wajah Indah yang tak kalah manis dengan Melati. Ah, keduanya membuatku bimbang.
Kulihat jalan raya dengan jelas. Pak Supir memacu bus dengan sangat cepat. Kulihat di speedometer, jarum menunjukkan angka 70, tapi Pak Supir begitu sangat tenang. Tak lama, kondektur bus menghampiriku untuk menagih ongkos perjalanan.
“Bayasura Pak, enam orang: saya, yang ini, itu, itu, itu, dan yang itu,” sambil kutunjuk teman-teman yang lain dan kusodorkan uang 200 ribu rupiah.
Tanpa bicara, kondektur itu memberikan enam lembar karcis dan uang 50 ribu sebagai kembaliannya. Kulihat ada dua lembar 20 ribuan dan selembar 10 ribuan. Tanpa pikir panjang, kumasukkan uang itu ke dalam kantong sebelah kanan depan. Kondektur pun berlalu dengan cepat. Dia menghilang.
Kulihat gapura tertulis Selamat Jalan dari Kabupaten Jembar berlalu dengan cepat. Kupandangi supir dan kenek yang tak acuh. Mereka hanya diam dan memandang ke depan. Tak bicara satu sama lain. Ada apa dengan mereka? Apa mereka sedang bermasalah sampai-sampai tak bertegur sapa? Ah, itu bukan masalahku.
Dengan cepat supir membanting setir ke arah kanan. Aku terjerembap ke kiri, ke arah Indah yang sedang tidur mendengkur, “Ah, ternyata cewek cantik juga bisa mendengkur, hehehe.”
Pak Supir melirikku sesaat. Matanya gelap. Bibirnya tebal tertutup rapat. Dengan cepat mukanya kembali memandang ke depan, ke arah jalan yang sedang kami lalui. Lirikan itu seolah melontarkan pesan, “Jangan berpikir apa-apa tentang kami!”
Tiba-tiba dia melirik lagi. Kali ini dengan senyum tipis yang bengis. Matanya tetap gelap. Sangat menyeramkan. Firasatku mengatakan akan terjadi apa-apa.
Kulihat Indah yang masih tertidur lengkap dengan kecantikan dan dengkurnya yang menggebu, haha. Aku tersenyum manis. Tiba-tiba, keinginan untuk melihat kondisi kawan-kawan menyeruak. Aku masih bisa melihat Melati yang juga tertidur, tapi tidak mendengkur. Mungkin tidak terdengar olehku. Beni masih terjaga, tapi berwajah lelah. Citra yang aslinya cerewet juga menjadi sangat pendiam. Dia sedang tidur ditemani earphone yang menempel di telinganya.
Aku tidak menemukan Ulfah. Sebelumnya kulihat Ulfah duduk di kursi nomor tiga dari belakang.
“Ah, mungkin saja dia berpindah tempat.”
Di belakang kursi Ulfah tampak seorang penumpang dengan wajah pucat sedang mengunyah sesuatu. Matanya gelap serupa mata Pak Supir tadi. Kulihat sebelahnya juga sedang mengunyah. Sebelahnya juga. Sebelahnya juga. Apa mereka sedang makan bersama ya? Aku belum menemukan jawabannya.
Kupandangi jalan raya. Kunikmati suasana gelap yang hanya ada lampu dari bus yang kunaiki. Sebelah kanan dan kiri tak ada rumah. Hanya sungai panjang bersebelahan dengan jalan itu. Sungai itu sangat panjang seolah tak berujung.
Badanku sangat capek. Sedangkan, mata tak kunjung memejam. Tapi aku telah berjanji pada Indah untuk menjagannya. Aku harus menepati janji. Seorang laki-laki harus melakukan apa yang dia katakan.
Penumpang sebelah kanan juga menunjukkan kepucatan wajahnya. Mata mereka juga gelap serupa mata Pak Supir dan penumpang yang duduk di sekitar tempat duduk Ulfah.
Kulihat kursi Ulfah lagi. Dia masih tidak terlihat. Orang di sekitar tempat duduk Ulfah masih saja mengunyah. Tapi,…
Citra sekarang juga tak terlihat di tempat duduknya tadi. Ada apa ini? Gadis yang duduk dua kursi di depan Ulfah itu menghilang. Orang yang duduk di sekitar Citra juga sedang mengunyah sesuatu. Persis seperti orang-orang di sekitar Ulfah tadi. Hah? Apa ini hanya imajinasiku saja. Kulihat jalan raya dengan penuh pertanyaan. Kulihat Indah, ingin kubangunkan, tapi tak tega setelah mendengar dengkurannya yang semakin keras. Dia terlihat begitu kelelahan.
Kupandangi lagi kursi milik Ulfah dan Citra. Mereka benar-benar tidak ada. Beni dan Melati masih pulas. Mungkin lengkap dengan impian-impiannya. Kulihat lagi orang-orang yang sedang mengunyah itu. Wajahnya pucat. Matanya juga gelap. Persis seperti mata Pak Supir dan orang-orang yang duduk di sekitar Ulfah. Dari bibir mereka tampak keluar liur. Tapi, samar-samar berwarna merah, serupa warna darah. Salah satu dari mereka memandangku. Dengan senyum sinisnya dia menggerakkan bibir sambil mengunyah. Ada apa ini?
Aku berdiri. Memastikan apa yang terjadi. Kondektur yang ternyata duduk tepat di belakangku juga berdiri seolah berniat menghadang langkahku ke belakang.
“Permisi Pak, saya mau ke belakang. Mau bicara sama teman saya,” kataku. Tapi, dia tetap bergeming. Wajahnya menunduk ke bawah. Matanya juga gelap seperti mata Pak Supir, orang-orang di sekitar Ulfah, dan Citra
Bulu kudukku mulai berdiri. Mereka serempak kompak beranjak dari tempat dan ingin berlarian. Mungkin berkeliling leherku. Atau bahkan melompat keluar dari bagian tubuhku. Darahku menyeruak ke kepala. Jantungku bergenderang.
“Pak, tolong Pak, saya mau ke belakang. Memastikan keadaan teman saya,” nadaku mulai meninggi.
Tiba-tiba beberapa orang berdiri. Mata mereka juga gelap. Orang-orang yang duduk di sekitar Ulfah dan Citra juga berdiri. Mereka berliur merah serupa darah. Atau tepatnya memang darah. Ya, darah. Apa itu darah Citra dan Ulfah? Mereka melontarkan senyum sinis. Dari bibir mereka mulai tampak taring. Mereka pun pamer kuku-kuku yang panjang. Mulutnya menganga. Gigi-giginya terlihat tajam serupa gergaji. Tapi matanya tetap saja gelap seperti mata Pak Supir dan lainnya.
Sekarang mulutnya terbuka lebar. Melontarkan huruf A tanpa suara. Lima jarinya membuka dan siap menerkam.
“Beni, Mela, bangun!!!” teriakku.
Aku langsung mencoba menerobos kondektur itu. Pergumulan pun terjadi. Kupukul wajahnya, tapi dia malah tersenyum sinis. Dia mencekik leherku. Memukuliku dan membantingku ke depan bus, tepat di antara Pak Supir dan Indah yang ternyata masih tidur dan mendengkur. “Apa harus kubangunkan Indah?” pikirku, “ah, biarkan saja. Dia masih aman.”
Kuambil sepatu yang terpasang di kaki. Kulemparkan pada Melati agar dia bangun. Eh, sepatu itu tepat mengenai wajahnya. Dengan sedikit sadar, dia membuka mata dan mengusap liurnya. “Ah, ternyata dia berliur ketika tidur. Ah, tidak ada waktu membahas itu,” pikirku.
Kuambil sepatu yang satu lagi. Kulemparkan pada Beni. Ketika tersadar, Beni telah didekap oleh beberapa orang itu. Beni digigit, dicakar, digumuli, diremas, dibanting, dirobek bajunya, dan akhirnya dia tewas tak berdaya. Badannya digigiti dan dukuliti. Sangat kejam.
Makhluk apa ini? Apa ini makhluk dari film Resident evil? Ah, itu hanya film, tapi ini nyata.
“Indah, bangun, Ndah!!” Indah mulai tersadar.
“Mela, lariii!!!” teriakku. Mela langsung menaiki kursi-kursi untuk berlari ke arahku. Tiba-tiba Pak Supir mengerem bus. Mela terjerembap ke arahku. Tepatnya dipelukanku. Tapi, Pak Supir dengan cepat berdiri dan memegangi Mela. Digigitnya leher Mela. Mela melawan dengan menonjok muka Pak Supir hingga terpental keluar bus melewati kaca yang pecah karena tubuhnya. Mela yang jebolan karate sabuk coklat itu dengan sigap memukul dan menendang makhluk-makhluk itu yang mencoba mendekat.
“Indah, Gangga, pergi!! Aku akan melawan mereka,” kata Mela. “Ah, aku ini laki-laki, aku harus membantunya sekuat tenagaku,” pikirku.
“Indah, pergilah dulu! Nanti kami susul. Aku akan membantu Mela dulu,” kataku mayakinkan Indah. Indah langsung bergegas keluar bus. Tapi, pintu bus terkunci. Dia makin panik. “Ngga, gimana ini?”
Kutendang pintu itu, tapi justru aku yang jatuh terpental. Aku bangun lagi dan menendangnya beberapa kali, tapi tetap saja tak kunjung terbuka. Indah mencari cara lain untuk keluar bus itu. Dia mencoba membuka pintu Pak Supir.
Ternyata, pintu Pak Supir tak terkunci. “Ngga, lewat sini saja!” katanya.
Mela yang sedari tadi masih sigap menghalau makhluk-makhluk itu tampak kecapean. Beberapa makhluk itu masih menikmati daging Beni yang baru saja tewas. Sedangkan, di belakang bus, orang-orang yang telah menghabiskan daging Ulfah dan Citra mulai mencari mangsa baru. Mereka merangsek ke depan.
Mela kutarik agar cepat keluar. Setelah menyelesaikan satu tendangan mautnya ke kepala salah satu makhluk itu hingga terjatuh dan menindihi kawan-kawannya, Mela mengikutiku keluar bus. Selepas kami keluar, pintu bus kuganjal dengan kayu yang kutemukan di luar bus agar mereka tak bisa keluar.
Setelah di luar, kami langsung berlari menuju rumah penduduk setempat. Belum sempat aku berlari, tiba-tiba kakiku dipegang oleh Pak Supir tadi. Dia mencoba menggigit kakiku. Aku teriak, “Aaaach….!!! Toloooongngnggggg!!!”
Mela kembali dan menendang kepala Pak Supir beberapa kali. Aku pun mencoba melepaskan kakiku dari genggamannya. Berhasil.
Kami berlari dengan cepat menuju satu arah, yaitu lampu-lampu yang tampak dari jauh. Itu pasti rumah penduduk. Kulihat makhluk-makhluk itu pantang menyerah. Mereka keluar bus melalui kaca depan yang pecah tadi.
“Terus lari! Jangan berhenti!!” kataku kepada Indah dan Mela.
Setelah puluhan menit kami berlari, Indah berhenti. Dia kecapean. Aku dan Mela pun ikut berhenti. Lampu yang tampak dari kejauhan itu tak kunjung mendekat. Sepertinya sudah agak aman. Kami beristirahat sejenak. Kami duduk menjongkok. Kurogoh uang kembalian kondektur tadi, “Ah, ternyata hanya tiga lembar daun kering. Brengsek!” pikirku.
Mela duduk di dekatku. Napasnya terdengar keras sekali. Sama dengan napasku. Beberapa detik kemudian dia tampak tenang. Tak terdengar lagi napas yang tersengal-sengal itu. Wajahnya memucat. Matanya terlihat gelap. Dia memelukku. Dia pingsan di pelukanku.
“Mela kenapa?” kata Indah.
“Pingsan.”
“Terus gimana?”
“Ya sudah, biar aku yang gendong.”
“Kita harus cepat minta pertolongan, Ngga!”
“Iya, ayo kita jalan. Mela biar kugendong.”
Kugendong Mela dengan posisi seperti seorang suami yang menggendong istrinya dengan mesra. Dia kubopong dengan kedua tanganku. Rambutnya beruraian di sela-sela tanganku.
Saat kubopong Mela, sambil berjalan, kupandangi wajahnya: manis sekali. Di balik wajah yang imut ini tersimpan kekuatan yang luar biasa. Dia bisa mengalahkan makhluk-makhluk itu. Kalau tidak ada dia, pasti kami tidak akan selamat.
Tak lama kemudian, dia mulai tersadar. Dia tersenyum, agak sinis. Dia memelukku dalam gendonganku. Tiba-tiba dia menggigitku. “Aaaach!!! Melaaaaa….!!!”
Indah menoleh, “Kenapa Ngga?”
“Lari Ndah!!! Mela telah berubah menjadi makhluk itu. Lariiii!!!!!”
Tiba-tiba makhluk-makhluk yang mengejar kami datang dengan cepat. Mereka menggigitku, mencakarku, menarikku, dan memakanku. Indah yang melihatku tak kuasa menolong. Dia hanya bisa berlari menuju tempat yang belum tentu membuatnya selamat.

Surabaya, 31 Januari 2011

Cerpen Angga Priandi, Radar Surabaya 31 Agustus 2008


An Old Man in Red by Rembrandt Harmenszoon van Rijn



Pak Tua
(Andip)

Seorang tua duduk memandang perapian yang asapnya melingkar-lingkar hingga keluar dari gubuk tempat ia berteduh. Sebuah perapian yang biasa dipakai untuk menanak butiran beras hingga siap dirajam oleh tulang-tulang mulut. Wajahnya tergores ratusan garis-garis keriput yang menjalar  ke seluruh tubuh bagai akar serabut pohon mangga yang tengah dicangkok. Pandangannya kosong. matanya menunjukkan kesunyian. Nyanyian-nyanyian angsa tak menyurutkan kesepian yang telah menelan keramaian.
Ia semakin termangu menanti nasi yang ditanaknya. Rambut yang semakin memutih, badan yang sudah tidak tegak lagi dan beberapa buah giginya telah tanggal mengingatkan bahwa ia telah meninggalkan masa-masa muda, masa-masa dimana kekuasaan mampu dikendalikan, masa-masa ketika ia mampu melakukan segalanya.
“Masihkah kau mencintai aku sayang? Seperti puluhan tahun yang lalu saat kita sama-sama menggenggam kendali di sini. Aku tahu, aku sudah tidak muda lagi. Kerut-kerut di sekitar mataku telah mewarisi petunjuk alam bahwa Tuhan akan berencana menarik setiap helai nafas dan setiap detak jantungku. Sayang, masihkah kau mencintaiku seperti bintang yang tak akan berhenti bernyanyi menentramkan penghuni bumi hingga mereka terlelap dalam buaian-buaian mimpi? Tetap memanjakan aku seperti laut yang memanjakan nelayannya?”
“Apa menurut kamu aku tidak mencintaimu lagi? Aku akan tetap jadi ilalang yang dihembus angin pagi dan sore, sedangkan kau adalah belalang. Aku bersedia mempersembahkan tubuhku ini untukmu. Aku akan tetap melayani apa pun kehendakmu. Kata-katamu adalah sabda bagiku, dan aku akan senantiasa berkata duli tuanku.
“Tapi aku sudah tidak muda lagi, usia tua telah menghias setiap inci tubuhku. Mungkin nyamuk akan berpikir ratusan kali ketika ingin menyabik kulit dan menghisap darahku. Aku sudah tidak bertenaga. Tidak segarang atau sekuat dulu. Aku adalah tulang rapuh yang berusaha menopang tubuh.”
“Benar, kau memang telah rapuh. Aku masih ingat ketika ribuan bahkan ratusan ribu manusia berkumpul di gedung MPR memaksa Seseorang turun dari tahta kekuasaan di negara kita, kau memang bukan barisan terdepan, tapi kau selalu melindungi aku ketika beberapa orang aparat mencoba mendekat dan kau begitu kekar menarik dan menggendongku dari kerumunan itu. Menyelamatkan nyawaku. Kau pahlawanku sayang, dan sampai detik terakhir alunan nafas ini aku tidak akan pernah meninggalkanmu.”
“Itu adalah empat puluh tahun yang lalu. Tapi sekarang...”
“Kau tampak begitu ragu padaku. Apa yang membuatmu ragu kepadaku? Percayalah, rasa ini akan terus menyala.”
“Kau ingat berapa usiaku sekarang?”
“Tiga puluh satu agustus ketika banyak orang dibunuh karena sebab yang tidak jelas. Usiamu enam puluh delapan jika kau berulang tahun beberapa bulan kedepan. Aku ingat semua ceritamu. Kau dulu pernah bercerita tentang bagaimana kau dilahirkan, bukan? Ibumu harus menahan sakit karena mengungsi di tempat yang aman sebelum melahirkan anaknya. Kau lahir tepat pukul satu dini hari di rumah adik ibumu yang keesokan pagi menghilang dan ditemukan sore hari dalam keadan tidak bernyawa. Itulah sebabnya kau menjadi orang yang kuat. Orang yang penuh semangat dalam memerjuangkan kaum tertindas. Orang yang tidak pantang menyerah untuk mendapatkan sesuatu yang benar-benar layak untuk diperjuangkan meskipun urat nadimu harus terpotong.”
“Kau benar sayang. Bahkan aku sendiri lupa pernah bercerita tentang semua itu. Memang seharusnya aku tidak pernah meragukan cintamu padaku. Mungkin ini kerena aku terlalu mencintaimu hingga takut untuk kehilanganmu.”
Tiba-tiba bau anyir tercium dari hidung Pak Tua. Bau itu mengingatkan tentang pembantaian yang dilihatnya secara sembunyi-sembunyi ketika ia masih kanak-kanak. Pemandangan yang terpaksa harus tersimpan dalam memori otak. Pemandangan yang seharusnya tidak pernah ia lihat. Pemandangan yang harusnya hanya ada dalam film yang akan ditontonnya waktu ia dewasa.
“Sayang... sayang... kau dimana sayang! Bau itu kembali tercium. Bau anyir itu ada di sini. Sayang...!”
“Aku di sini sayang. Tenanglah! Aku akan tetap di sini menjaga kau dalam lelap ataupun terjaga. Tidak usah kau risaukan bau anyir itu. Bukankah bau itu yang bisa membuat kamu menjadi seperti sekarang. Bukankah itu salah satu alasan kamu mau berjuang melawan kolonialisme yang dilakukan bangsamu sendiri?”
“Sudah kubilang itu puluhan tahun yang lalu.”
“Dan kau akan tetap seperti itu.”
“Maafkan aku sayang, aku sekarang tidak lagi bisa menjagamu. Justru kau yang sekarang menjagaku.”
“Bukankah orang yang saling mencintai akan selalu menjaga satu sama lain? Kita telah berjanji untuk saling menjaga ketika kesulitan menerpa kita. Dulu ketika aku masuk dalam bidikan senapan aparat, kau dengan rela memberikan tubuhmu untuk ruang masuknya timah panas itu demi melindungi aku. Kau tak sadar beberapa hari hingga ibumu cemas dan terus-terusan menyalahkan aku.”
“Iya, dan akhirnya ketika aku sadar kau tampak lusuh karena harus menungguiku dan rela tidak mandi selama aku terbaring. Hahaha...”
“Ternyata kau ingat juga. Kau tau, aku harus berlutut minta ampun pada ibu.”
“Ya ingat lah, coba kalau saja waktu itu aku tidak membantumu memintakan maaf, pasti sampai sekarang ibu belum akan memaafkanmu.”
Pembicaraan mereka terhenti sesaat.
“Sayang, aku benar-benar mencintaimu. Maukah kau menemani aku hingga aku tua nanti?”
“Kau lupa sekarang kau sudah tua. Kau lupa berapa usiamu sekarang? Aku sudah katakan, enam puluh delapan bukan waktu yang sebentar dalam mengarungi hidup. Lebih dari tiga puluh tahun kita bersama, apa aku pernah meninggalkanmu?”
“Tapi mengapa sampai sekarang kita belum juga punya anak?”
“Sayang, sepenting apa anak bagimu?”
“Kau benar, selama kau selalu ada menemani aku, bagiku Tuhan sudah cukup adil dan aku tidak akan menuntut apa-apa lagi. sekarang aku ingin mendengar kau mengatakan bahwa kau mencintaiku. Maukah mangatakannya sayang!”
“Untuk apa?”
“Supaya aku benar-benar yakin bahwa kau memang mencintaiku.”
“Apa menurutmu sebaris kata yang tersusun menjadi kalimat itu bisa membuat kamu yakin kalau aku benar-benar mencintaimu. Bukankah dulu aku pernah mengatakannya kepadamu?”
“Itu dulu. Puluhan tahun yang lalu. Aku takut kalau kau sekarang tidak mencintai aku lagi.”
“Lihat, rasakan, ingat-ingat apakah dari dulu sampai sekarang ada perubahan yang terjadi padaku? Apa sikap dan perbuatanku kurang menunjukkan kalau aku mencintaimu? Menurutmu yang pencerminan seseorang itu bisa dilihat dari bicaranya atau perbuatannya?”
“Aku tahu. Tapi kali ini aku memang ingin sekali mendengar kalimat itu kau tujukan kepadaku. Apa susahnya mengatakan hal yang demikian?”
Mereka sama-sama terdiam. Gerimis melanda kerinduan pada angin. Gerhana seolah bicara tentang kesepiannya. Saling pandang dengan bintang tapi tak satu pun dari mereka yang berkata. Mereka ingin bersajak tapi lidah menjadi kaku oleh dingin di Himalaya.
Asap dari perapian semakin melingkari tubuh Pak Tua. Bau asap itu membangunkannya dari lamunan. Ia baru benar-benar sadar bahwa istrinya telah pergi meninggalkan tubuh tua dan rapuh miliknya. Tepatnya lima tahun yang lalu ketika ia mulai sakit-sakitan. Ketika semua tidak terkendali. Ketika masalah finansial membelit keluarga tanpa anak itu. Istrinya hilang entah kemana.
Asap semakin membesar bersamaan dengan membesarnya api itu. Pak Tua mencoba berdiri dan menyelamatkan diri. Kembali tulang-tulang rapuh itu benar-benar menghambat langkahnya untuk pergi. Beberapa menit setelahnya, pak tua pergi bersama abu yang tertiup angin senja. Hanya ada asap dan abu yang menari-nari.

Surabaya, 23 April 2007

Anda Pengunjung ke

SARBI

Tentang Kami

Sastra Alienasi Rumput Berbasis Independen (SARBI) adalah kelompok diskusi yang bergiat mendiskusikan perihal isu sastra, seni, dan kebudayaan terkini dengan mengambil sudut pandang alternatif. Selain itu, SARBI juga banyak menggali pemikiran tradisi negeri sendiri dan konsepsi mancanegara yang diharapkan dapat bersinergi sehingga menghasilkan pandangan kontemporer yang segar. Untuk membuktikan perihal tersebut, kami melahirkan lembar SARBI untuk ikut menghiasi keriuhan dunia sastra, seni, dan budaya serta berharap dapat menjadi oase untuk memenuhi dahaga kita •

Redaksi

Pemimpin Redaksi Sidang Redaksi Sidang Redaksi Sidang Redaksi Sidang Redaksi Sidang Redaksi Penata Artistik

Tinggalkan Pesan

Dokumen Post