Telah Terbit !

Yang sederhana, yang berserakan, yang tak diperhitungkan dan bertebaran di mana-mana, tetaplah harus dirayakan. Spesial SARBI edisi 8 di akhir tahun!

Segera Dapatkan !

Buku Puisi Karya KOMANG IRA PUSPITANINGSIH.

Toko Buku SARBI

Kumpulan buku bekas pilihan yang asik untuk dibaca dan dikoleksi dengan harga bersahabat.

Telah Terbit!

BULETIN TIKAR EDISI 02/2013 Diterbitkan oleh Komunitas Tikar Merah (KTM)

Dapatkan!

Buku Terbaru SARBIKITA Publishing Karya Heru Susanto

Blogroll

Showing posts with label cerpen SARBI. Show all posts
Showing posts with label cerpen SARBI. Show all posts

Saturday, April 23, 2016

010 dan Pacar-pacarnya

Sumber Gambar: www.pulsk.com
Oleh: Faisal L. Hakim

010
Sungguh manjur anjuran teman saya waktu itu, “Jika kamu ingin dapat perempuan cantik kayak artis di teve-teve, gampang, jadilah aparat” katanya waktu itu. Ya, kira-kira lima tahun lalu ketika saya masih duduk di bangku SMA kelas dua.

Sungkan juga sebenarnya saya bercerita, tetapi mungkin, cerita saya akan menjadi inspirasi bagimu yang kesulitan memperistri perempuan sesuai dengan harapanmu, tentunya jika masih punya kesempatan untuk seleksi dan lolos menjadi aparat negara.

Saya tidak ngganteng-ngganteng amat. Buktinya, waktu SD sampai lulus SMA saya tidak pernah punya gandengan seperti teman-teman. Saya selalu sulit mendapatkan perempuan idaman saya. Saya jones menahun.  Sudah hampir putus asa.

Setelah lulus SMA saya teringat ucapan teman saya tadi. Saya pikir-pikir dulu. Dan akhirnya sepakat dengan sarannya. Bukan tanpa alasan, saya riset dahulu. Melihat tetangga kanan-kiri yang memiliki suami aparat. Meski rata-rata sudah usia kepala tiga, mereka cantik-cantik.

“Bagaimana, terbukti, kan, ucapanku?” ujar temanku beberapa hari setelah saya meminang bunga desa.
“Ya, berkat kau, saya rela mengingkari janji saya sendiri untuk tidak menjadi aparat.”

Resti dan Vina
Hari-hariku saat ini penuh dengan buaian. Mulai dari teman-teman kampus hingga teman-teman di Karang Taruna kampungku, memujiku. Betapa tidak, aku kini memiliki kekasih berpangkat dari pulau sebarang.

Ia masih seminggu di sini. Buah dari usahaku mondar-mandir di depan kamp pelatihan. Nyangkut juga parasku kepadanya. Tak rugi aku merawat diri. Bersaing dengan gadis-gadis desa lain, termasuk temanku sendiri, Vina. Betapa bahagianya bersanding dengan seorang aparat.

Tidak mudah untuk mendapatkannya. Aku harus bersaing dengan Vina, teman karibku. Sempat minder pula. Vina cantik. Tak kalah denganku. Ia seorang biduan. Suaranya bagus. Dan hanya rela dijamah oleh cowok-cowok militer. Vina kenal dia dari bbm. Entah bagaimana.

Aku berkorban dari materi hingga perasaan untuk merenggut perhatiannya. Bukan tanpa alasan, bayangkan, betapa romantisnya ketika saya mengantar suami di bandara ketika ia mau berangkat perang. Atau stasiun. Atau terminal. Lalu ia mencium keningku. Dan terabadikan di foto. Romantisme itu, begitu indah. Layaknya film-film Perang Dunia II. Atau novel-novel latar kolonial.

Pun akhirnya persahabatan kami merenggang. Vina yang menjadi teman sejak kecil terpaksa kusakiti. Salahkanlah cinta, salahkanlah takdir, Vin!

Aku coba untuk meminta maaf kepada Vina setiap hari, bagaimanapun ia sahabatku, namun ia selalu menghindar, “maaf res, aku terburu-buru,” katanya waktu terakhir kami berpas-pasan di kampus.

Kucoba kirim pesan bbm kepadanya, “Vin, maafin aku”, di-R pun tidak. Ternyata di-D lebih menyakitkan.

Tak kusangka, sakitnya tidak berhenti di situ. Pada akhirnya Vina menunjukkan betapa ia juga menyandang status yang sama denganku: pacarnya. Dengan durasi yang sama pula: hampir sembilan bulan. 

010
Jauh dari isteri adalah pengalaman baru bagi saya. Betapa cantiknya ia hingga saya rela menjadi seorang abdi negara untuk mendapatkannya. Dan, betapa cinta kami terestui semesta alam tatkala ia rela meninggalkan pacarnya yang sudah tiga tahun bersamanya. Jodoh memang tidak ke mana.

Namun setelah di tempat baru ini, betapa pula saya sangat butuh sentuhan nyata seorang perempuan. Bukan hanya suara, atau ketikan pesan pendek isteri saya yang indah. Lagi pula, hati saya hanya untuknya. Bukan yang lain.

Saya baru rasakan betapa mudahnya mendapatkan perempuan cantik. Bahkan, tidak perlu mencari. Nyata saja, siapa juga yang bodoh dan tega membiarkan orang terjamin masa depannya seperti saya, kesepian di tanah rantau.

Buktinya, seminggu setelah kedatangan saya di pulau ini sudah ada yang menawarkan cinta kepada saya. Tidak tanggung-tanggung, dua mahasiswi cantik di salah satu universitas swasta di sini. Ya, saya pantas mendapatkannya. Kalau bisa dua, kenapa harus satu. Toh, keduanya tak akan mendapatkan hati saya yang sudah dimiliki Diana.

Diana
Setiap detik saya tak habis-habisnya merinduinya. Seorang yang telah berhasil merebut hatiku yang sudah kujanjikan pada kekasihku dulu.

Memang, selain harapan orang tua, menjadi isteri seorang berpangkat adalah keinginan hati kecilku. Betapa bahagiannya saya memilikinya. Tak peduli betapa sakitnya ia yang kutinggalkan. Sudah menjadi wajar dan lumrah di mana ada kebahagiaan harus ada yang dikorbankan. Ya menyakitinya, ya menerima sumpah serapahnya. Saya memang pantas mendapatkannya.

Namun, yang harus saya khawatirkan untuk ke depannya, adalah merelakan suami saya pergi menjalankan tugas di luar pulau. Saya sendiri, di rumah seperti saat ini, sudah saya pikir sebelumnya. Resiko menjadi isterinya. Hatta, terjadi juga kecemasan itu. Belum lagi, bicara kesetiaan, saya tidak yakin bahwa kesetiaan sejujur kesan saat kami berpisah dengan lambat. Antara dermaga dan samudra, waktu itu.

Aku
Jika kau menyangkal bahwa sakit hati tidak sesakit sakit gigi, maka aku rela sakit gigi seumur hidup daripada menanggung luka sedemikian dalam. Tanpa bisa dioprasi. Tanpa bisa diapa-apakan lagi.

Luka adalah luka, biarpun senyummu menutupi. Namun kenyataannya, dengan senyum aku bisa menghibur diri. Bahkan, hingga menjadi bahan olok-olok anak kecil di gang-gang kampung. “Orang gila, orang gila, orang gila....” hingga mereka lelah.

Siapa sangka, melalui senyuman, aku bisa merubah benci menjadi pura-pura benci atau pura-pura cinta. Saya mengidap dendam kesumat, atau bisa kau bahasakan cinta kesumat.

Pada siapa lagi kalau bukan Diana. Perempuan sialan yang selalu kucintai. Sampai kini. “Ini bukan pura-pura,” sanggahku pada diri sendiri.

Untuk kali ini perasaanku tidak sepihak, sebagaimana ia memilih laki-laki keparat itu dan meludahiku begitu saja. Aku menduga ia telah menyesal sedemikian rupa sampai akhirnya ia mengirim pesan singkat kepadaku, “aku kangen kamu, mas.”

Duh Gusti, betapa senyumku kepada alam membuahkan hasil. Biarpun diiringi tangisan sesal dan sakit yang mendalam. Ia ternyata masih merindukanku.

“Begitu juga denganku, dek”, singkat saja.Untuk selanjutnya, kami tidak lagi berbalas pesan singkat, tapi bertukar suara, menuju ke sentuhan, menuju pelukan, dan menuju cakrawala cinta.

010
Beberapa bulan lagi saya pulang. Sudah rindu isteri. Apalagi, akhir-akhir ini kami jarang komunikasi. Entah mengapa, malas saja rasanya. Tapi begitu tugas saya di sini hampir berakhir, kerinduan itu muncul tiba-tiba. Saya membayangkan, isteri saya sekarang tambah cantik, lebih matang. Ya, saya ingin memeluknya erat.

Aku
Cinta kami tak terbantahkan. Dalam konteks ini, terkadang aku tidak percaya bahwa jodoh pasti tepat sasaran. Kupikir, jodoh adalah ketika cinta sejati seperti yang kumiliki bertemu. Meskipun tanpa upacara pernikahan.  

Sialnya, apa yang saya pahami terbantahkan juga. Alih-alih aku bahagia, aku sekarat ketika mendengar keparat itu mau tiba. Pasti Diana akan kembali kepadanya. Bukan hanya tubuhnya yang aduhai, melainkan juga hati dan jiwanya. Lalu aku, lenyap begitu saja.

Diam-diam aku pergi. Dan tak akan kembali. Daripada makan hati. Mati berkali-kali.

Diana
Jika kau bertanya bagaimana kabar saya hari ini, dengan maksud bahwa apakah saya riang dan bahagia menunggu kedatangan suami pulang dari tugas, maka saya jawab, tidak!

Sejujurnya hatiku sudah terenggut oleh kekasihku. Yaitu dia yang seharusnya tak kutinggalkan demi dirinya.

Sementara kini, beberapa hari lagi, suamiku pulang. Saya tidak tahu harus bagaimana. Terhimpit dalam puing-puing tajam tak berbelas kasihan. Saya tak pernah menyangka cinta sesakit ini. Film-film dan novel-novel tentang kerinduan seorang isteri menanti suaminya pulang perang hanyalah bulshit belaka. Setidaknya begitu yang kurasakan.

Bahkan, ketika mereka berhiperbola seperti “o Tuhan, betapa penantian adalah musibah para perindu stadium akhir” saya kira tak lebih dari dusta yang dibenar-benarkan.

010
Rumah itu terlihat. Tak asing bagi saya. Bahkan, dari jarak puluhan kilo, saya bisa mencium bau selokannya. Bau pesing tikus sudut-sudutnya. Juga bau sambal trasi yang dibuat oleh isteri saya.

Langkah saya semakin cepat. Ransel puluhan kilo di punggung semakin tidak terasa bebannya. Tinggal beberapa langkah lagi saya sampai di depan pintunya. Sudah tak sabar melihat ia membuka pintu sembari menampakkan cekung pipi yang menghiasi senyummnya.

“Assalamualaikum...” saya ketuk pintu itu. Satu dua kali tak berbalas. Sunyi. Terhnyak saya ketika ada sahutan, “waalaikumsalam..” suaranya sedikit lirih. Tepat di belakang saya.

Saya terpaku, terdiam sebantar. Tanpa menolehnya. “Bukan suara itu yang kuharapkan,” batinku. Pelan-pelan saya memutar badan. Terlihat seorang separuh baya. Tetangga sebelah pemilik toko kelonthong.

“ Mas Aryo?” Sapa perempuan itu.

“Oh, ibu, iya saya. Baru pulang dari tugas.”  Sahutku.

Perempuan itu memberi jawaban sunyi. Saya melanjutkan, “hmm... saya ketuk pintu dari tadi, tapi nggak ada jawaban. Ibu tahu isteri saya di mana?”

Ia menceritakan dari awal hingga akhir. Begitu dramatis. Diam-diam mata saya meneteskan air. Membasahi pipi kanan lalu kiri. Besok sudah tujuh harinya.




Surabaya 2016




Cerita ini hanya fiksi dan rekaan belaka. Apabila ada kesamaan peristiwa atau kejadian, itu hanya kebetulan belaka.

Keterangan: 010—gaya rambut yang bagian samping kepala memakai clipper tanpa sepatu dan bagian atas memakai sepatu ukuran satu.










Sunday, April 10, 2016

Cerpen: Roti Terakhir

www.tumblr.com
Oleh: Faisal Hakim

Alih-alih di garda depan, hasrat saya untuk mati bela negara tak tersampaikan. Saya di garda paling belakang. Bukannya pengecut atau pecundang, melainkan garis kehidupan saya bukan untuk tombak pertempuran.

Tak lama setelah negara saya merayakan kemenangan, saya tiba-tiba dihinggapi penyesalan: tidak bisa mati bersama kawan-kawan di medan perang, juga bersama Sukinah, istri saya. Saya dalam kedukaan. Kesunyian. Dan penjajahan. Saya terperangkap dalam tubuh dengan garis kenyataan yang tak sesuai dengan harapan. Katanya, itu adalah takdir Tuhan.

Belum lama ini nama saya sering disebut-sebut oleh banyak orang. Saya heran.  Manusia renta dengan latar belakang pembuat roti bisa menjadi topik pembicaraan. Saya teringat propaganda perang. Jangan-jangan saya diwacanakan yang tidak-tidak. Saya paham betul bagaimana propaganda menjadi mitos yang bisa merasuk secara radikal ke benak halayak! Seharusnya mereka tidak perlu repot-repot, saya akan mengaku sebagai pecundang. Dengan senang hati.

Baru saya ketahui kedatangan wartawan beberapa hari lalu bukan untuk mengupas kepecundangan saya. Tak lama, judul berita di salah satu koran ternama di negera saya adalah “Semangat Roti Perang Rasminto”. Saya kaget bukan kepalang. Bagaimana mungkin seorang tukang roti menjadi perbincangan. Di koran?

Suatu hari saya diminta membuat roti perang oleh sepasang suami-istri kaya raya. Manusia terhormat. Perusahaannya di mana-mana. Keduanya kaya keturunan. Saya menolak. Mereka membujuk. Katanya, mereka akan mengadakan pesta besar-besaran. Merayakan perusahan barunya. Pesta itu akan dihadiri oleh: dari rakyat biasa hingga pejabat-pejabat negara, termasuk juga mengundang Pemimpin negara.

Saya tetap menolak. Alasannya, selain pensiun, resep yang saya gunakan tidak ada di toko roti manapun. Bukan berupa bahan-bahan yang biasa: soda, telur, tepung, dan lain-lain. Resep yang saya gunakan adalah semangat. Dalam kemurnian jiwa. Letaknya di luar kesadaran. Syukur akan lebih nikmat jika saya bisa campur beberapa tetes air mata. Dan itu sulit dilakukan.

Saya katakan kepada mereka, “Jangan hanya karena saya pembuat roti perang, atau saya sedang menjadi buah bibir di media massa, lantas bisa dijadikan roti saya sebagai bahan prestisius di depan para pejabat!”

“Meskipun kami bisa membantumu pergi berperang di garda depan?” jawab Suami dari wanita cantik di sebelahnya.

“Hmm.. Ya, baiklah.”  Saya memang mendambakan mati di medan perang.

Seminggu kemudian, sepuluh ribu satu roti telah  saya sediakan. Seorang pesuruh mengambil di gubuk saya. Saya katakan kepadanya, roti terakhir yang saya buat adalah yang paling nikmat. Tanpa sengaja air mata saya menetes saat mencetaknya karena ingat Sukinah. Dan itu pertanda terakhir saya membuat roti.

***
Di pesta pembukaan perusahaan. Suami dari wanita cantik itu berpidato di depan para undangan. Ia memperkenalkan bagaimana perusahaan barunya. Istri dari laki-laki yang berpidato itu mendampingi. Anggun sekali, sedikit ambisius. Senyum manis kepada para tamu. Tajam tatapannya, sebagaimana tatapan pemburu birahi. Pun demikian dengan isi pidato suami dari wanita cantik itu, menggelegar menembus gendang telinga para hadirin.

Pembicaraan mengenai bisnis baru Pasutri itu hampir selesai. Tidak lupa, lelaki itu membicarakan tentang roti perang buatan Kakek. Konon, memakan roti perang, seperti bisa merasakan sensasi perang. Beberapa puluh tahun lalu. Ia juga menceritakan tentang pembuat roti tersebut, yang baru-baru ini menjadi perbincangan publik karena rotinya yang mengasup energi sedikit magis ke dalam tubuh.

Para tamu undangan semakin penasaran pada tumpukan roti di meja. Panjangnya seratus meter membentuk dua siku huruf U di halaman rumah megah itu.  Pemimpin tertinggi dipersilahkan menyantap roti, disertai penghormatan setinggi-tingginya. Disusul oleh para Menteri, Walikota, Gubernur, dan Bupati masing-masing daerah serta Dewan Perwakilan Rakyat dari daerah hingga pusat. Dengan Penghormatan setinggi-tingginya juga.

Tak pandang Presiden, Menteri, Gubernur, atau pejabat-pejabat yang lainnya. Mereka merasakan sensasi yang luar biasa nikmat. Ketika gigitan pertama, seolah boleh dikatakan, “jika tidak karena menyandang gelar, mereka akan keluar kebringasannya bak singa kelaparan.” Atau, seperti malam pertama setelah dipingit bertahun-tahun. Sayangnya, karena status prestisius yang menempel di pundak mereka, menghambat lidah untuk merasakan secara sempurna. Meski begitu, ada beberapa juga yang tak sungkan menyembunyikan di balik jas hitam atau kemeja batiknya untuk dilahab bersama dengan nafsu dasariahnya, nanti setelah pulang.

Giliran para pebisnis menuju meja. Tak sabar menunggu para pejabat bergeser. Lama sekali. Seperti tak rela meninggalkan meja tempat roti-roti itu disajikan. Tumpukan roti itu, nyaris mengendalikan otak sehat para pebisnis untuk mengambil alih tempat kumpulan para pejabat. Bagaimanapun, sejatinya pejabat tetap di bawah para pebisnis-pebisnis. Bedanya, para pejabat adalah wujud dari sosok yang nampak terhormat.

Tapi tidak, para pebisnis masih bisa menahan nafsu melumat roti-roti itu. Tak lama kemudian, Presiden dan para pejabat negara lainnya beralih tempat. Sudah tidak enak dipandang. Pasutri yang menjadi tuan rumah itu pun sedikit kikuk.

Setelah melahapnya, para pebisnis berkelakuan aneh. Mirip para pejabat. Namun sedikit lebih rakus. Pantas saja, mereka sedikit aman, tidak ditempeli gelar oleh rakyat. Lebih lama pula. Para undangan biasa, seperti tetangga kanan-kiri Pasutri tersebut sudah berdorong-dorongan. Oh ya, para pemuka agama ikut di dalam kumpulan yang sedang berdorong-dorongan itu.

Penasaran, para undangan yang terakhir pun  mengambil alih kumpulan para pebisnis. Mereka tak sungkan-sungkan lagi. Saling pukul. Berebut. Suasana menjadi riuh. Ricuh. Chaos. Mereka tak mau dijadikan yang terakhir. Mereka berpikir, nanti para pebisnis hanya menyisakan sedikit untuk mereka, sedangkan jumlah mereka jauh lebih banyak!

Pasutri Bingung. Juga penasaran. Sebagai tuan rumah, mereka sengaja tidak mencicipi roti perang sebelumnya. Itu kesalahan. Atau mungkin malah menjadi langkah yang benar. Setidaknya, pendapat kedua ini lebih menghargai tamu karena menyajikan makanan yang bukan sisa. Entahlah.

Pasutri heran. Bisa-bisanya pesta hancur hanya karena roti perang! Mereka juga berusaha mencicipi. Tapi sial, keduanya hanya kebagian secuil dari hasil merebut dari tangan seseorang. Meski begitu, mereka merasakan kenikmatan tiada tara. Ketagihan. Tapi sayang roti segera habis. Hanya mendapat masing-masing sebesar batu akik. Pesta berantakan. Tapi satu hal, rasa malu atau sungkan dengan kondisi demikian menjadi lebur, lenyap.

Para undangan pulang satu persatu sering habisnya roti di meja. Satu-dua orang berhasil membawa pulang roti yang di sematkannya di dalam jas, kemeja, bahkan celana dalam. Pasangan suami istri itu termenung. Duduk beradu punggung di dekat meja roti. Tak sengaja, keduanya melihat satu roti yang jatuh di kolong meja. Kebetulan, itu adalah roti paling nikmat dengan campuran tetesan air mata.

***
Tidak seperti pasangan suami istri yang romantis dan penuh pengertian. Mereka tidak mau mengalah satu sama lain.  Terjadilah ikrar, “Jika salah satu dari kita ada yang mengeluarkan suara, maka ia kalah dan harus merelakan roti itu!” tantang suami wanita cantik itu.

“Baiklah, dan satu lagi, jika kita berpindah dari tempat kita duduk, atau sedikit saja tidak memandang roti itu, maka ia akan kalah!” tambah istri laki-laki itu penuh ambisi.
“Baik, saya sepakat!” suami wanita cantik itu tak mau kalah.

***
Sudah dua hari berselang. Pasutri itu masih bersikukuh dengan pendiriannya. Tidak ada cinta. Tidak ada kemesraan. Mereka fokus terhadap roti di kolong meja. Parah, mereka tak pernah berpindah sekalipun ingin membuang kotoran dari dalam tubuhnya!

Sementara itu, roti dilihat dari jarak Pasutri itu duduk, sudah kelihatan menjamur. Tetap saja, mereka enggan merubah pendirian satu sama lain, “Itu roti perang, mana mungkin bisa menjamur atau basi hanya berselang beberapa hari.”, batin dari salah satu di antara keduanya.

Memasuki hari ketiga. Malam. Mereka berdua semakin lusuh. Kotor. Masih saling mengawasi roti di kolong meja. Membisu seperti batu. Hingga terdengar suara detik jam yang kian cepat, dan detak jantung yang kian lambat.

Dalam kesenyapan di rumah megah itu, melahirkan berbagai alasan bagi dua orang undangan di dalam pesta tempo hari. Dua orang itu, kenyataannya masih terbayang betapa nikmatnya roti yang disajikan. Timbullah pikiran bahwa Pasutri tersebut masih memiliki roti simpanan yang bisa untuk dicuri.

Kelengahan rumah Pasutri yang megah itu membuat leluasa dua pencuri memasukinya. Masuk jendela melalui pohon di sebelahnya. Di tengah aksinya, mereka berubah pikiran. Rumah sunyi senyap. Mereka mengemasi seluruh isi rumah. Aman sekali. Bahkan mereka sempat pulang dan kembali lagi membawa truk. Mereka angkut semua isi rumah. Rumah megah mejadi kosong. Tetapi roti pun yang pernah memicunya untuk mencuri tidak juga ditemukan.

“Meski isi rumah sudah kosong, mungkin di halaman depan masih ada sisa-sisa roti.” Ujar salah satu pencuri.
“Ya, encer juga pikiranmu.” Kata temannya.

Keduanya pun langsung menuju halaman rumah Pasutri. Mereka kaget. Bertemu dengan Pasutri yang duduk beradu punggung dan menoleh kearah yang sama. Kedua pencuri menahan langkah. Terpukul mundur. Setelah mereka tengok, tak ada siapa pun. Mereka tak di kejar! Mereka kembali. Mengendap sambil mengenakan topeng. Mereka mendekati Pasutri yang diam saja. Mereka merasa aneh. Merasa diuntungkan, lalu mengemasi barang-barang layak curi di halaman rumah. Namun tak menemukan roti di kolong meja itu.

Merasa aman, kedua pencuri menjadi-jadi. Istri cantik laki-laki itu menjadi incaran. Kedua pencuri menarik tubuh wanita itu dari punggung suaminya. Wanita itu tetap membatu meski tubuhnya diseret. Kepala wanita tetap menoleh ke kolong meja. Kedua pencuri kebelet birahi. Mereka fokus pada si wanita cantik.

Suami wanita cantik tetap diam seribu bahasa. Mempertahankan posisinya, “Pencuri bodoh, cepat buat bersuara mulut istriku, aku tak sabar menyantap benda di kolong meja!” katanya dalam hati. Kedua pencuri abai saja pada laki-laki penatap roti.

Wanita cantik meronta sambil mulut terkunci. Berusaha mempertahankan posisi. Kedua pencuri tak tahan. Tak jauh, sekitar dua meter di belakang suami si wanita, kedua pencuri melepaskan birahi kepada si wanita cantik. Suaminya tetap diam. Fokus kepada roti. Tak kuat menahan kelakuan pencuri, wanita cantik melenguh seperti sapi betina.

Bersama lenguhan istri, sang suami berkata, “Akhirnya mulutmu terbuka, aku menang, aku berhak atas roti itu!” Triak suami dari wanita cantik itu sambil menuju kolong meja dan cepat-cepat melumat roti ternikmat campuran air mata itu. Dia melahapnya di kolong meja!

Sementara suami dari wanita cantik itu menuju kolong meja kemudian menyantap roti usang itu, dua pencuri selesai dengan hasratnya, mereka pergi meninggalkan rumah Pasutri.

Laki-laki yang mendapatkan roti terakhir keluar dari kolong meja. Wajahnya puas, matanya berkaca-kaca. Ia menuju kepada isterinya dan berkata, “Aku menang, dan kau kalah!”

“Bodoh!” Dengan suara lirih si wanita. Tak berdaya.

***
Mendengar kabar Pasutri itu, kakek saya shok. Saya merasa bersalah sudah menceritakannya. Sekarang sudah empat puluh harinya.  




Surabaya, 2015






Tuesday, August 13, 2013

Gingsul

 photo gingsulcopy_zps8dc9c817.jpg
Karya Deni Dessastra, a.k.a Doeasembilanpro

Cerpen Salamet Wahedi

“Dokter, sebelum dokter memeriksa gigi saya. Saya ingin mengutarakan duduk persoalan yang saya hadapi. Seperti kata dokter, dua bulan lalu, saat saya memutuskan mencabut gigi saya, saya sebenarnya tidak ingin mengutak-atik gigi saya. Seperti kata dokter pula, saya sebenarnya tidak ingin membuang satu-satunya barang saya yang paling berharga. Saya selalu teringat kata-kata dokter, selalu mengandaikan hidup dengan kata-kata dokter. Dalam hidup kita harus memiliki ‘harga’. Harus berharga”
Pagi ini, 06.00, sebelum dentang jam kerja berseru di setiap kepala, Evi Joe seperti ingin menumpahkan segala isi kepalanya di meja dokter Zopick. Evi Joe, pasien nomor antri lima. Nomor antri terakhir pasien praktik pribadi Dokter Zopick sebelum berangkat ke rumah sakit. Rumah dokter Zopick bertemu dengan semua orang dari semua lapisan.
Evi Joe, dara yang duapuluh empat tahun lalu tangisnya pecah di sebuah rumah sakit. Tangis yang lebih muda kira-kira dua tahun dibanding tangis dokter Zopick. Joe tumbuh kembang di sebuah keluarga sederhana. Keluarga yang pagi-pagi sudah harus menyela dingin embun dan udara bukit Padike. Keluarga yang bersetia dengan lenguh kerbau. Dengan arit. Dengan keranjang. Dengan rumputan yang segar.
Tapi tidak dengan Joe. Ia tidak ingin mencecap dingin embun. Ia tidak ingin bersetia dengan ritus lereng bukit Padike. Ritus yang menyanggulkan hidup pada perjalanan berangkat-pagi-pulang-sore hanya demi selenguh kerbau. Ritus Sisiphus yang ketika mendongakkan kepala hanya kesederhanaan yang paling purna membayang.
Setelah lulus SMP, setelah usia muda mulai diintai pernikahan pedesaan, Joe memutuskan melanjutkan sekolah. Joe, yang tumbuh sebagai gadis belia, tumbuh dengan sederhana. Ia hanya ingin sekolah ke jenjang yang paling tinggi. Jenjang sekolah yang tidak akan lagi memedulikan atau mempermasalahkan penampilannya. Joe, tidak seperti temannya, tidak dikaruniai wajah yang wah. Bentuk tubuh yang aduhai. Atau suara solek yang membangkitkan sejuta cerita dan gairah.

***
“Masalah apa yang Anda hadapi? Sehingga Anda bolak-balik ke sini hanya memeriksakan gigi yang menurut saya sudah wajar. Gigi anda sungguh bagus. Dapat memperindah senyum Anda”, setengah menggoda setengah kesal, Dokter Zopick menanggapi cerita pasien terakhirnya pagi ini. Cerita yang seolah membentang seribu rupa kesibukan. Bermacam kebisingan. Sedang jam menunjuk pukul 06:15.
“Gigi saya sebenarnya tidak bermasalah. Saya sangat bersyukur dikaruniai gigi seperti ini. Tapi gigi saya yang gingsul ini, yang kata dokter bisa menambah harga diri saya, ternyata menimbulkan masalah. Membuat orang-orang yang melihat saya, jadi gelisah. Mereka gelisah. Lebih tepatnya sering bergairah”
Kali pertama orang jatuh cinta pada Joe, adalah ketika Joe duduk di kelas 2 SMA. Adalah Ahmad Mubassir, teman sekelasnya, orang yang pertama mengungkapkan kekagumannya pada keistimewaan gigi gingsul Joe. Waktu itu, Joe dan teman-temannya baru usai mengikuti mata pelajaran olahraga. Lari-lari kecil dan jalan jarak jauh.
“Joe, ke kantin yuk”, seperti biasa, Mubassir selalu mengajak Joe makan bareng. Joe selalu tidak punya alasan untuk menolak. Joe selalu sendirian. Tapi kali ini Joe merasakan ajakan Mubassir tidak seperti biasanya. Nada suara Mubassir menyiratkan hawa yang membuat dada Joe bergetar.
“Joe”, setengah ragu, sambil melahap dua helai mie ayam, dan dengan raut yang memancar rona kemalu-maluan, Mubassir menatap mata Joe. Ia seolah-olah sedang mencari kata-kata yang pas, mengulur waktu hingga saatnya tiba. “Joe aku suka kamu Joe” setengah tersedak, Joe membalas tatapan Mubassir. Tapi cuma sebentar. Joe buru-buru berpikir. Mencar-cari alasan apakah yang membuat Mubassir nekad. Nekad, sebab pilihan ini, menurut Joe, di luar kewajaran anak-anak yang jatuh cinta. Joe dalam hitungan detik, seolah masih ingin menyadarkan diri, bahwa tak ada yang istimewa dari penampilannya. Joe, juga ingin menyadarkan Mubassir, tidak salahkah ia mengucapkan kata-kata yang ‘sakral’, melegenda dan bahkan memenuhi setiap cerita besar anak manusia. Joe sekali lagi ingin memastikan bahwa Mubassir lagi bergurau.
Tapi sayang Mubassir tidak bergurau. “Joe aku serius. Kalau kau tanya kenapa aku suka kamu, karena kau bergingsul. Gingsulmu yang telah membuatku kepincut

***
“Apakah karena cinta teman Anda, Anda gelisah dan merasa bersalah dengan gigi Anda? Sehingga Anda mencabut gigi gingsul Anda?”, dokter Zopick membetulkan letak kaca-matanya. Tangannya meraih ballpaint dan menuliskan beberapa keterangan Joe yang dianggap perlu. Nama lengkap Joe. Usia Joe. Juga tidak lupa alamat lengkap Joe.
Mendengar pertanyaaan yang dilempar dengan nada menggoda dan bercanda, Joe agak sedikit tersipu. Wajahnya sejenak merona. Tapi buru-buru ditepis Joe dengan senyum menidakkan.
Setelah lulus SMA, Joe benar-benar sadar bahwa Mubassir memang suka padanya. Mubassir melamar Joe untuk menjalin hubungan yang diikat dengan tali kasih. Hubungan yang direstui oleh kedua orang tua terkasih. Tapi Joe menolaknya dengan halus. Joe masih bingung. Sebab selain Mubassir, ternyata sudah banyak orang-orang yang bisik-bisik ke orang tuanya. Dengan alasan melanjutkan sekolah, Joe meminta waktu untuk hidup sebagai remaja sederhana.
Tapi sayang, untung tak dapat dikejar, malang tak dapat ditolak. Keputusan Joe menolak Mubassir, ternyata seperti tombol nyala bom waktu. Dalam hitungan menit siap meledak. Tersiarlah kabar Joe menolak pinangan Mubassir. Meledaklah bom watu itu. Orang-orang yang selama ini sembunyi-sembunyi mencintai Joe, atau enggan mendekati Joe karena sungkan pada Mubassir, anak kepala desa Padike, mulai menampakkan diri. Bahkan tak jarang mereka mulai berdebat tentang siapa yang bisa meluluhkan hati Joe. Bisa mendapatkan cinta Joe. Bisa menikmati gigi gingsul Joe seutuhnya.
Kaum lelaki Desa Padike; para pemuda, orang yang sduah beristri dan jenis lelaki lainnya semisal duda; mulai ramai memperbincangkan Joe. Mereka mulai menimbang kekurangan dan kelebihan Joe. Mengukur kekuatan mendapatkan Joe. Atau bahkan terang-terangan melakukan lobi untuk saling menjinakkan. Sehingga bermacam-macamlah rupa orang-orang yang mencintai Joe. Ada yang terang-terangan mengakui dan menyebut Joe  sebagi pujaan hati. Joe pemilik gigi gingsul yang melukai hati. Juga ada yang masih sembunyi-sembunyi mengakui keunikan gigi gingsul Joe.
Setiap hari, orag-orang pecinta Joe terus mendebatkan Joe. Tiada henti mereka mencari dan mengurai jejak-rekam hidup Joe. Maka tidak heranlah, kalau suatu waktu mereka terpilih sebagai anggota dewan, akan berputar-putar menyelesaikan suatu masalah. Mereka akan hadir sebagai empu kata-kata. Sebagai generasi bangsa yang malas kerja.
Joe resah. Joe gelisah. Joe juga merasa bersalah. Joe akhirnya mencabut gigi gingsulnya untuk mengakhiri masalah.

***
“Keperluan Anda sekarang? Ingin mencabut gigi lagi?”, dokter Zopick memastikan keperluan pasien terakhirnya. Pasien yang dua bulan lalu, membuatnya melemparkan pertanyaan-pertanyaan gelisah dan menggoda. Sedang jam sudah menunjuk pukul 06: 45.
“Itulah masalahnya Dokter. Saya ke sini masih bingung. Saya tidak tahu mesti berbuat apa-apa”, Joe tampak gelisah. Rasa bersalah begitu membuncah. “Setelah saya cabut gigi gingsul saya, orang-orang, yang konon katanya mencintai saya, jadi marah. Saya bingung dengan tetangga saya. Dengan masyarakat desa saya”.
“Lantas?”
“Saya minta pendapat Dokter. Apa yang sebaiknya saya lakukan? Atau bagaimana saya mesti bersikap dan mengambil keputusan? Atau … Saya bingung bagaimana cara menyelesaikan masalah ini. Tolong beri saya saran Dokter?”
“Lantas?”
“Menurut dokter, saya harus bagaimana?”
“Saya hanya seorang dokter gigi”
“Lantas?”
“Anda bingung dengan masyarakat Anda?
“Ya. Lantas?”
“Bagaimana kalau Anda jadi istri saya?” dokter Zopick benar-benar membetulkan letak kaca-matanya. Ia menatap lurus ke mata Joe yang berkaca-kaca. Joe tak bisa berkata ‘lantas’ dengan tanda baca lagi.
Sedang jam menunjuk pukul 06:59. Pukul untuk berangkat kerja. Dan deru mobil di depan rumah dokter Zopick, seolah ingin memastikan pagi yang tidak biasa. Pagi yang membuat Joe tambah gelisah.

Lidahwetan, 2010

Salamet Wahedi, lahir di Sumenep, 3 Mei 1984. Alumnus Ponpes Mathali'ul Anwar.

Dimuat Lembar Sastra SARBI edisi #4, Agustus 2011

Friday, May 3, 2013

Delirium Hotel Chelsea

 photo ILL2copy_zpsf0151cc9.jpg
Ilustrasi Oleh Sigit Santosa untuk SARBI

Oleh Dian Prima


AKU adalah karakter "B" di dalam buku From A To B And Back Again The Philosophy Of Andy Warhol yang bersemayam di kepala seorang penulis muda yang berada dalam situasi depresi yang parah karena harus menulis di media massa untuk mendapatkan uang (dan begitu sedikitnya sehingga tidak mampu menutup riset yang dilakukan), menarik diri dari kehidupan sosial dan tidak lagi menjumpai jalan keluar, kecuali menulis atau bunuh diri.

Seperti kanker, aku menghisap habis seluruh hidupnya dengan bermega-mega byte data biografi diriku yang didownload dengan 4 disket murahan dari sebuah warnet, memenuhi sebagian besar alam bawah sadarnya dengan adegan-adegan yang tidak koheren, campur-aduk dan menjelma mimpi buruk yang berulang tiap malam dan di pagi harinya, merasakan sakit kepala karena sesak pikiran yang membanjir minta tubuh dalam rangkaian kalimat, seperti adegan-adegan yang terjadi berikut ini.

***

AKU tinggal di kamar bernomor 907, di lantai 2, di sisi luar tembok kamarku, neon sign hotel: Chelsea Hotel. Tiap senja aku biasa berdiri di depan jendela, berlama-lama menatap kejap-kejap lampu neon hotel yang menyimpan kesedihan sendiri yang berlarat-larat, memanggil-manggil jiwa-jiwa kesepian dari seluruh penjuru dunia untuk datang dan tinggal. Yang berencana hanya seminggu akhirnya akan terjebak bertahun-tahun dengan ritual tiap senja datang kembali ke meja resepsionis, memesan kamar yang sama meski menggunakan nama yang berbeda, menatap sebentar penghuni-penghuni baru, menjumpai situasi nausea yang sama, merasa semakin sendiri untuk kemudian kembali ke kamar dan menangis diam-diam di sudut ranjang.

Berdiri tegak bersama ingatan kejayaan masa lalu yang terus berlanjut di film-film terbaru, diapit oleh toko gitar bekas dan toko peralatan memancing, hotel ini adalah arus hidup itu sendiri. Chaos yang memanifestasikan diri melalui para individual yang berkeras hati untuk hidup dengan cara mereka sendiri, tubuh-tubuh yang menolak untuk patuh dan disiplin, meracuni roh dengan keindahan, tenggelam dalam kreativitas dan perbedaan, komuni egois yang pernah ada tidak untuk alasan tertentu kecuali hanya untuk mengejek kerumunan dan pemimpin-pemimpin politik mereka (demi segala roh, di hadapan wajah Kemanusiaan telah aku ludahi mereka dengan dahakku yang berwarna hitam).

Aku baru saja terbangun karena mendengar dering telepon semakin mengeras. "Not again," itu pasti telepon dari Andy Warhol. Andy adalah seniman jenius yang mampu menciptakan peradaban sendiri, kemampuan yang hanya dimiliki oleh segelintir orang di dalam sejarah, tapi bagiku, dia tak lebih dari seorang teman baik yang hanya aku butuhkan untuk membunuh waktuku karena tidak lagi yang mengejutkanku di dalam kehidupan ini, "Sebentar A, aku akan menghidupkan alat perekam."

Beberapa bulan terakhir mesin-mesin berukuran kecil mulai mengambil alih segalanya, setelah orgasme tak berkesudahan dengan dildo, aku tergila-gila pada tape recorder dan kamera polaroid. Seperti seorang maniak, aku merekam apa pun yang terjadi di sekelilingku, percakapan-percakapan omong kosong dan gerak tubuh-tubuh yang terjebak dalam kekinian, akan menjadi abadi.

"Ok, Andy, sekarang kau bisa berbicara."

"Brigid, apakah kamu masih menyimpan kaset rekaman percakapanmu dengan ibumu? Aku akan membelinya 25 dolar sebuah."

"Kenapa kamu menginginkannya, isinya kan cuma pertengkaran-pertengkaran Freudian tak berujung pangkal..."

"Apakah kamu masih membenci ibumu?" Andy terus menerus menanyakan hal ini di telepon tiap pagi. Mungkin dia berharap aku mau sedikit mengubah kelakuanku pada ibuku.

"Ya, tentu saja masih. Aku masih belum mengerti kenapa dia terus memaksaku menguruskan badan dan menyuruhku untuk mengenakan gaun dengan renda-renda, hanya untul menjadi socialite yang elegan?"

"Dan Andy, sekali lagi aku katakan padamu, dia selalu memakai hairspray, bahkan ketika pergi tidur dan dia tidak peduli kalau aku selalu sakit kepala kalau berada di dekatnya, karena itu aku membencinya."

"Anyway, A, aku mau turun ke restoran sebentar, mulutku sangat kering, aku mau membeli coklat."

Setelah mendengar suara batuknya, Andi berkata, "Ok. Tolong cubitkan pantat penjaga lift yang mirip James Dean itu yah."

"Baik, A, aku segera kembali," aku mematikan tape recorder dan kemudian mencuci mukaku di wastafel.

***

LOBBY ini terlihat seperti galeri seni atau museum. Pada dindingnya aku temukan lukisan-lukisan dengan ukuran besar dari pelukis-pelukis yang pernah tinggal di sini. Tepat di bawah 6 jam dinding besar (penanda waktu dari seluruh dunia, di sini orang-orang hidup dalam waktunya sendiri-sendiri, sejumlah orang sedang makan malam terserak ke penjuru kota, yang lain baru saja mengalami mimpi buruk) dengan lingkaran sempurna, tergantung potret hitam-putih hotel ini pada tahun 1902, di sudut kiri bawahnya aku temukan, ditulis dengan tinta emas, berjudul The Tower of Babel.

Di sini aku melihat orang-orang dari masa lalu, hantu-hantu juga sampar berjalan hilir-mudik dengan bahasa-bahasa yang khas milik mereka sendiri. Pintu lift terbuka, aku melihat tetangga sebelah kamarku berdiri dengan mata sayu kurang tidur menatapku lurus-lurus, "Nanti syutingnya jam berapa?"

"Paling setelah makan siang," aku segera mendekat dan meraih tangannya, "Ayo kita ke restoran, sepertinya kau butuh ngobrol denganku!" Nico dengan ogah-ogahan menyeret kakinya mengikutimu. Oh, my God...bahkan pada situasi terburuk, perempuan yang satu ini tetap menjadi mahkluk terindah yang pernah diciptakan Popular Culture.

Restoran lengang. Kursi-kursi dan meja-meja berbincang-bincang dengan suara pelan. Dari sebuah jukebox di sebelah pintu masuk aku mendengar sebuah komposisi klasik dari Johan Sebastian Bach, "Air". Aku memilih meja di tengah. Aku paling suka menjadi bagian dari ruang kosong yang besar, perasaan keagungan yang tak terpermanai menjalar ke semesta yang terjauh.

Aku selalu ingat impresi pertama pertemuanku dengannya, sebuah kenyataan yang kasat mata bahwa Nico adalah orang yang menyukai kesendirian, dia selalu menutup diri pada orang-orang baru. Suatu kali aku pernah bertanya kenapa dia melakukan hal itu, dengan tegas dia menjawab, "Aku tidak mau dibebani masalah orang lain, aku ingin waktuku habis dengan bercakap-cakap dengan hantu ayahku yang dibunuh Nazi."

Sejak kecil Nico tidak pernah bertemu dengan ayahnya dan hidup dalam imajinasi kehadiran hantu ayahnya di manapun dia berada. Dan dia begitu membenci orang-orang yang memujanya karena wajahnya yang begitu cantik. Dia lebih suka dikenal sebagai perempuan pemberontak yang sedih, mabuk di atas panggung dan selalu overdosis, sebuah image yang baru-baru ini dipopulerkan oleh Janis Joplin.

"So, bagaimana kabar Andy, sudahkah dia meneleponmu pagi ini?"

Belum sempat aku menjawab, seorang waitress mendekat kemudian menyerahkan daftar menu. "Mau pesan apa?" sebuah pikiran menyeruak, betapa aku suka dengan hotel ini, bahkan wajah seorang waitress pun tak beda jauh dari bintang-bintang film di bioskop. "Kopi dan dua batang cokelat ukuran terbesar, Nico?"

"Susu cokelat hangat." Waitress mencatat di buku kecil dan tersenyum kecil sebelum berlalu.

"Ya, dia sudah telepon tadi, sepertinya dia terkena flu, dan Nico, Andy semakin paranoid, kemarin dia terpanik-panik sendiri, dia bilang sudah terlalu banyak drugs di gerombolan ini, dia takut kalau-kalau ada yang over dosis." Restoran lengang, "Air" dari Bach masih mengapung di udara.

"Aku tidak sabar untuk hari terakhir syuting ini," aku mengulurkan sebatang cigarette ke tangannya. Dia menolak ketika aku akan menyalakan, memain-mainkan di antara jari-jarinya yang lentik untuk kemudian dikulumnya, beberapa detik kemudian pandanganku mengabur, sepertinya sisa-sisa amphetamine dalam kepalaku aktif bekerja kembali, aku terserang halusinasi pada dinding restoran, dalam warna hitam putih aku melihat seseorang menembak seorang pendeta perempuan di dalam gereja, orang-orang berlarian, menahan jeritan dan bersembunyi di bawah kursi, darah mengalir dari reruntuhan altar menuju ke jalan.

***

HARI terakhir pengambilan gambar. Kamar 732. Orang-orang tidak sabar untuk merayakannya. Andy mengintip di balik lensa kamera, tiang-tiang penyangga lampu dan kabel-kabel berserakan. "Action!" Nico meraih gunting di sebelah telepon, menatap dirinya sendiri di depan cermin dan memulai monolognya, "Aku menjadi saksi kelahiran bintang-bintang dan kematiannya. Ribuan hari-hari yang penuh kesedihan dan nostalgia terus-menerus menyerangku tiap kali mesin projektor menembakkan cahaya di dinding Oh, waktu yang bersemayam dalam diri. Oh, waktu sinematik."

'Cut!" Andy keluar dari kungkungan lensa kamera, "Film ini akan menjadi dinamit bagi orang-orang tolol di luar sana, mari berpesta!"

Bintang-bintang baru berpelukan, dari kamera polaroid aku sempat melihat setetes air mata jatuh ke pipi Nico. Suara gedoran di pintu dan teriakan-teriakan. Tiba-tiba beberapa polisi merangsek ke dalam kamar dan langsung menggeledah badan. Semua terdiam. Mereka tidak menemukan apa-apa, kecuali beberapa pil lexotan. Di tengah serangan rasa panik, pada dinding aku melihat darah mengalir dari arah reruntuhan altar menuju ke jalan. (72)

Jogjakarta, Januari-Juli 2008

Dian Prima, alumnus LPM Indikator Fakultas Ekonomi Universitas Brawijaya. Penggagas buletin Ut Omnes Sint.

Dimuat Lembar Sastra SARBI edisi #3, Februari 2011

Thursday, May 2, 2013

Setan Di Kepala Ibu

 photo Artworkcopy_zpsde9c9b68.jpg
Ilustrasi oleh Andhika Nugraha a.k.a Dika Toolkit


Oleh Pringadi Abdi Surya

#1

Ada setan di kepala ibu.
Mungkin setan. Aku sendiri tak yakin. Sama tak yakinnya dengan kenapa aku harus memanggilnya ibu. Tapi, aku kemudian menggambarnya dengan sosok bertanduk dan lidah yang menjulur panjang, seperti hendak memakan aku. Memakan kami.
Aku menyebut ‘kami’ karena tak cuma aku yang berada di kelas ini. Sebuah kelas melukis yang baru pertama kali kuikuti atas desakan ayahku yang juga seorang pelukis. “Mulai besok, kamu ikut les lukis,” katanya tiba-tiba sepulang ia menghadiri pembukaan galeri lukisan miliknya sendiri, sebuah galeri tunggal dari pelukis handal. Ia tidak bertanya tentang jawabanku, ya atau tidak. Tidak. Setelah berkata seperti itu, ia langsung masuk ke kamar. Menutup pintu, dan meninggalkan aku di ruang tengah sambil bertanya-tanya, apakah memang buah tak boleh jatuh jauh dari pohonnya?
Tapi saat ini aku lebih tertarik pada setan di kepala ibu ketimbang memikirkan hal itu. Dia terkikik-kikik dan mengacungkan jari tengahnya kepadaku. Kontan saja kubalas dengan perlakuan yang sama. Aku acungkan jari tengahku padanya. Dan ibu mendekat. Dengan ekspresi kesumat.
“Kau tak suka pada ibu?”
Aku diam saja. Pasti ibu tak akan percaya jika kukatakan ada setan di kepalanya. Dan setan itu sekarang sedang menjulurkan lidahnya, menggoyangkan pantatnya ke kiri dan ke kanan --- meledekku. Tapi, aku sabar kali ini. Aku memilih menundukkan kepalaku. Seperti merasa bersalah.
Aku tahu tindakan seperti ini akan menyelamatkanku. Terbukti, sesaat kemudian ibu melenggang pergi dari mejaku dan melihat meja anak-anak lainnya. Dan setan itu, kembali tampak menggoyangkan pantatnya ke kiri dan ke kanan, mengejekku karena tak mampu berbuat apapun.

#2

Sebenarnya aku tak pernah melihat setan. Tak pernah melihat penampakan, sebelum ini. Kata orang, setan itu menakutkan. Tapi nyatanya, tadi, setan itu begitu menjengkelkan. Ingin sekali aku memukul kepalanya. Mematahkan tanduknya. Dan melemparnya keluar dari jendela. Tapi, satu yang kemudian aku tahu, setan itu licik. Dia begitu licik dengan berlindung di atas kepala ibu.
Aku sering ditinggal di rumah sendirian. Rumah yang dipenuhi berbagai lukisan dan kanvas-kanvas berisi coretan cat yang belum jadi. Kadang aku heran, aku tak pernah melihat ayah melukis di rumah ini. Yang aku tahu, begitu aku bangun akan bertambah satu lukisan dengan campuran warna-warna yang menurutku begitu sempurna. Begitu menggoda.
Pernah aku berpikir, pasti setan yang melukis ini semua. Tak ada bunyi-bunyi di malam hari. Tak ada suara-suara yang membangunkan aku dari tidurku. Begitu senyap. Tapi ayah tak mungkin setan. Meski kami jarang bertemu dan bahkan tak pernah berpelukan.

#3

Setan itu masih di kepala ibu. Aku melihat buku gambarku yang berisi coretan sosok setan. Membanding-bandingkannya dengan setan di kepala ibu. Tapi ibu tidak tahu. Sebab aku tidak menunjukkan ekspresi berlebihan.
Semua orang sedang asik melukis. Tapi aku masih menggambar garis-garis.
“Ibu penggemar lukisan ayahmu,”
“Oh ya?”
“Dulu ia tak begitu hebat.”
Aku mulai tertarik mendengarkan ceritanya. Tanganku masih terpaut di kanvas. Sambil membayangkan kucing. Sebab aku suka kucing walau aku tak pernah memegangnya secara langsung. Tak boleh ada kucing di rumah. Ayahku tak suka kucing. Atau lebih tepatnya, ia tak suka memelihara kucing.
“Yah, tapi mungkin dewa lukis sedang memiihnya satu dekade ini. Ayahmu begitu luar biasa sekarang. Lukisannya memang luar biasa.”
“Jadi, sejak kapan ibu mulai kenal ayahku?”
Dan untuk itulah, kali pertama aku mendengarkan cerita tentang ayahku. Cerita dari teman semasa kuliahnya dulu. Ayah memang seorang yang tertutup. Ia tak pernah bercerita apa-apa kepadaku. Pernah suatu kali aku menanyakan dimana ibu, ibu yang melahirkanku. Tapi ia diam saja. Aku tak lagi berani bertanya setelah itu. Tak lagi menginggung-nyinggung ibu. Anggap saja aku tak punya ibu. Aku cuma punya ayah.

#4

Aku membawa kanvas itu pulang tanpa sepengetahuan ayah. Aku letakkan di kamar, di bawah tempat tidur. Takut jika tiba-tiba ayah pulang dan masuk ke kamarku tanpa sepengetahuanku. Ia pasti marah. Selama ini memang aku dilarang melukis di rumah ini oleh ayah. Toh, aku memang tak berminat melukis sebelum ini. Tapi gara-gara setan di kepala ibu itu, aku jadi jadi ingin melukis. Aku ingin meluki sosoknya yang tak bisa kutangkap. Yang begitu menjengkelkan.
Kalau kurasa ayahku sudah tak ada, aku pindahkan kanvas itu di pinggir jendela. Biar terkena cahaya. Dan aku akan mulai melukis. Tidak peduli disebut apa lukisanku, kubisme kah? Impressionis kah? Ah, aku cuma mau melukis setan itu. Setan yang begitu suka menggoyangkan pantatnya ke kiri dan ke kanan. Dan tanganku pun bergerak ke kiri dan ke kanan. Bergoyang-goyang. Warna. Warna. Aku campur warna sesukaku. Aku pun menari seperti digerakkan oleh kuasku. Ah, aku tak butuh kuas. Aku membuangnya. Dan mulai kucelupkan tanganku sendiri ke dalam kaleng-kaleng cat. Menggoreskannya ke kanvas.
Aku mulai heran, ini bukan seperti pertama kali aku melukis. Seperti sudah berulang kali kulakukan. Satu, dua, sepuluh, atau sudah beribu-ribu kali kulakukan ini. Kerasukan setankah aku? Setan yang sejak pertama kali kulihat bertengger di kepala ibu itu?
Tidak, tidak. Aku mulai melihat setan itu di kanvas. Tertawa-tawa. Mencibir. Menjulurkan lidah. Dan menggoyangkan pantatnya ke kiri dan ke kanan.
Aku mulai tertawa-tawa. Balas mencibir. Balas menjulurkan lidah. Dan balas menggoyangkan pantatku ke kiri dan ke kanan.
Hei setan, rasakan! Kini aku mampu balaskan dendamku setiap saat aku mau!

#5

Lukisanku hilang. Padahal aku yakin beberapa hari lalu aku meletakkannya kembali di bawah tempat tidur. Aku mencarinya sekali lagi. Mungkin saja setan sedang menjahiliku. Kabarnya setan sering ‘meminjam’ barang yang kita punya. Mereka akan tertawa-tawa menyaksikan kita kebingungan, kalap, dan menyerah Dan di pandangan selanjutnya, barang yang kita cari itu akan berada di tempatnya semula. Padahal kita yakin, sebelumnya tak ada. Tapi aku tak percaya. Sebab aku tak pernah mengalami hal seperti itu. Tapi sekarang, aku berpikir mungkin saja seperti itu.
Dan kesekian kalinya aku melongok ke kolong tempat tidur, lukisan itu tetap tak ada. Bodohnya aku yang percaya pada kabar burung macam itu.
Lantas siapa? Dan kemana? Tidak mungkin kan kalau lukisanku bisa hilang tiba-tiba? Tidak mungkin pula kalau setan di kepala ibu yang mencurinya?
Aku mencari ayah. Tapi aku ingat, ayah mungkin marah jika tahu aku mulai melukis di kamarku. Toh, saat aku memanggilnya, ia memang sudah tak ada. Rumah ini sudah senyap seperti biasanya. Cuma ada aku. Sendiri.

#6

“Bagaimana lukisanmu?” ibu bertanya kepadaku dengan rasa ingin tahu. Ibu pasti meremehkanku sebab di kelas ini aku cuma biasa mencorat-coret kertas dan kanvas, membuat garis-garis yang tak ada satu pun mereka pahami. Aku seringkali merasa segerombolan anak-anak menertawakanku diam-diam saat aku merasa sudah selesai membuat sebuah gambar. Aku merasa telah menggambar banyak kucing. Tapi mereka bilang itu cuma garis. Saat kutatap ibu, dirinya malah diam saja. Seperti membela segerombolan anak-anak, yang menurutku, bodoh yang hobinya menggambar fragmen senja, daun gugur, dan hal-hal yang remeh. Aku pikir kucing lebih indah. Dan setan di kepala ibu ini, yang bergerak-gerak, akan jauh lebih indah.
Aku menggelengkan kepala. “Hilang, Bu.”
“Hilang?”
Ah, aku makin gemas pada setan di kepalanya. Sama halnya kegemasanku pada ketidakpercayaan ibu bahwa lukisanku benar-benar hilang. Aku tahu, ibu pun pasti meremehkanku. Ibu pasti memandang hanya karena aku anak pelukis handal dan terkenal. Tidak lebih. Di matanya, mungkin aku cuma seorang anak yang patut dikasihani karena terpaksa mengikuti kelas melukis yang tidak aku sukai. Tapi itu tidak benar. Aku benar-benar ingin melukis sejak kulihat setan di kepala ibu. Setan yang membuatku merasa gemas setiap dia menjulurkan lidahnya, mencibir, dan menggoyangkan pantatnya ke kiri dan ke kanan.”
“Ya sudah, kamu coba lukis ulang saja. Nanti ambil saja peralatannya di ruang sebelah.”
Aku menganggukkan kepala.
“O, iya, beberapa hari yang lalu ibu bilang pada ayahmu tentang kanvas yang kaubawa pulang. Ayahmu sepertinya senang akhirnya kamu tertarik pada kanvas.”
Aku terperangah. Ayah tahu aku membawa kanvas ke rumah? Bisa habis aku dimarahinya. Kakiku mulai gemetar. Tanganku mulai gemetar. Dan sekujur tubuhku juga ikut-ikutan gemetar. Ayah memang belum pernah marah. Tapi aku mulai membayangkan kemarahan ayah. Ia akan menamparku di pipi kiri dan kanan. Ia akan mengikatku dan menggantung tubuhku di bawah langit-langit. Memasukkan semut dan serangga ke tubuhku. Biar menggeranyangi kesakitanku.
“Hei, kamu tidak apa-apa?”
Aku menoleh ke ibu. Ke kepalanya. Dan aku lebih kaget, setan di kepala ibu sudah tak ada. Setan itu benar-benar tak ada. Aku berdiri dan berjalan ke belakang ibu. Mungkin saja setan itu sedang bersembunyi di punggung ibu. Tapi ternyata setan itu memang tak ada. Kulihat sekeliling. Aku tak peduli pada pandangan ibu yang kebingungan menyaksikan gerakku yang berpindah-pindah dari kolong meja, ke belakang lemari, melongok ke atasnya, lalu berpindah ke jendela. Tapi memang setan itu sudah benar-benar tak ada. Baik di kepala ibu, maupun di ruangan ini.
“Kamu kenapa, Nak?”
“Ke mana?”
“Apanya yang ke mana?”
“Setan itu.”
“Setan apa?”
“Setan yang selama ini kulihat di kepala ibu?”
“Apa maksudmu?!”
“Aku menggambar setan itu. Setan yang kulihat saat pertama kali bertemu dengan ibu. Setan yang punya tanduk. Bermuka buruk. Dan acapkali meledekku, Bu. Dia suka sekali menjulurkan lidahnya, mencibir, dan menggoyangkan pantatnya ke kiri dan ke kanan.”
“Kamu gila, Nak!”
“Aku tidak gila.”
“Pasti cuma halusinasimu.”
“Tidak. Halusinasi tak mungkin muncul setiap hari.”
“Sebaiknya, kamu pulang sekarang. Kamu butuh istirahat. Ibu akan menelpon ayahmu.”
“Tidak, tidak. Jangan telepon ayahku, Bu?”
“Oh iya, kamu ternyata anak yang baik. Hari ini pasti ia sedang berada di dalam konferensi penting. Ibu tak boleh mengganggunya.”
“Konferensi apa?”
“Lho? Kamu nggak tahu?”
Aku menggeleng. Kepanikanku akan kehilangan setan di kepalanya teralihkan dengan rasa penasaranku terhadap ayah. Aku memang tak pernah tahu apa-apa tentang ayah selain sosoknya di rumah dan keberadaannya sebagai pelukis handal dan terkenal. Aku tak pernah diajaknya mengikuti pameran lukisannya. Mencari tahu pun aku tak diperbolehkan. Aku menurut karena aku takut ayah akan marah. Karena aku takut ayah akan meninggalkanku jika ia marah. Dan aku tak punya siapapun selain ayah.
“Lukisan terbarunya memecahkan rekor penjualan termahal se-Asia.”
“Lukisan?”
“Memangnya kamu tidak pernah melihat lukisannya? Lukisan yang ajaib!”
“Tidak. Ayahku bahkan melarangku melukis di rumah. Aku cuma melihat beberapa lukisannya yang digantung di rumah, dan beberapa coretan kanvas yang tak selesai.”
Ibu tampak kaget. “Nanti sore lukisan itu dipamerkan, kamu mau ikut?”
“Tapi nanti ayah marah?”
“Tidak, ada ibu yang akan melindungimu. Ibu merasa sudah saatnya kamu melihat lukisan ayahmu. Kamu harus melihat betapa mengagumkannya dia.”
Aku pun mengangguk. Setuju.

#7

Surga. Aku pikir aku sedang berada di surga. Galeri ternyata adalah tempat yang sangat indah. Aku pun jadi bertanya-tanya kenapa ayahku tak pernah mengajakku kemari.
Suasana begitu ramai. Aku yakin mereka semua adalah penggemar lukisan ayahku. Sesekali kucuri dengar pembicaraan mereka yang memuji lukisan-lukisan ayah.
“Mereka cuma orang awam,” ibu memulai pembicaraan, “kamu lihat lukisan ini?” ia tampak memandang sebuah lukisan berwarna mayor coklat keemasan. Pemandangan senja. Di kiri jalannya terlihat sebuah gereja, dan seorang anak laki-laki tergeletak memegang sapu lidi. “Lukisan ini tidak istimewa,” lanjutnya lagi.
Aku memandangi lukisan itu sekali lagi. Mencoba memahami apa yang ibu katakan.
“Keistimewaan ayahmu akan kamu lihat di ruangan setelah ini,” ucapnya sambil tersenyum. Aku makin penasaran. Jika lukisan sebagus ini dibilang ‘biasa’ saja. Bagaiamana dengan yang luar biasa?
Dan memang aku menganga setelahnya. Aku melihat berjajar lukisan yang seperti bergerak. Aku
melihat awan-awan menggumpal yang membentuk rupanya. Aku melihat debu-debu yang melingkar menjadi asap. Aku melihat genangan air yang tumpah ke atas. Tidak. Tidak. Ini bukan kali pertama aku melihat lukisan-lukisan ini. Langkahku makin cepat. Melihat satu per satu lukisan yang dipajang dan semakin akrablah aku dengan suasana yang tergambar dalam lukisan.
“Hei, Nak…” aku tak lagi hirau pada ibu. Aku mulai menoleh ke kanan dan ke kiri dengan tergesa. Melihat sejuta daun gugur dan merambas menjadi air. Dan tanganku. Dan tanganku yang kulihat mengusap kanvas. Mencelupkannya di kaleng-kaleng cat. Aku melihat aku menari di malam hari, sambil menggerakkan-gerakkan tangan, kaki, badan, semuanya. Aku melihat aku, diriku lah, yang melukis semua lukisan ini.
Tidak. Tidak. Aku mulai mencari ayah. Aku ingin bertanya kenapa aku bisa merasa seperti ini. Kenapa aku bisa merasa akulah yang melukis semua ini. Aku susuri jalan galeri sambil setengah berlari. Dan di ujungnya, aku lihat ayahku. Aku lihat ayahku di balik kerumunan orang. Dan sebuah lukisan lain yang tampak begitu akrab bagiku. Lukisan setan di kepala ibu!
“Minggiiir!!!” Aku berteriak saja.
Ayah mulai melangkah mendekat.
Aku mulai kesumat.
Aku menatapnya. Menatap kepalanya.
Dan kulihat sosok itu. Dia mencibir. Menjulurkan lidahnya. Dan menggoyangkan pantatnya ke kiri dan ke kanan.
Ada setan di kepala ayah!*

(Bintaro, 2009)

Pringadi Abdi Surya dilahirkan di Palembang, 18 Agustus 1988. Terpilih menjadi Duta Bahasa Provinsi Sum-Sel. Buku kumpulan puisi tunggalnya berjudul Alusi (Pustaka Pujangga, 2009). Karya-karyanya juga terpublikasi pada beberapa media dan antologi bersama. Blognya www.reinvandiritto.blogspot.com

Dimuat lembar sastra SARBI edisi #3, Februari 2011

Anda Pengunjung ke

SARBI

Tentang Kami

Sastra Alienasi Rumput Berbasis Independen (SARBI) adalah kelompok diskusi yang bergiat mendiskusikan perihal isu sastra, seni, dan kebudayaan terkini dengan mengambil sudut pandang alternatif. Selain itu, SARBI juga banyak menggali pemikiran tradisi negeri sendiri dan konsepsi mancanegara yang diharapkan dapat bersinergi sehingga menghasilkan pandangan kontemporer yang segar. Untuk membuktikan perihal tersebut, kami melahirkan lembar SARBI untuk ikut menghiasi keriuhan dunia sastra, seni, dan budaya serta berharap dapat menjadi oase untuk memenuhi dahaga kita •

Redaksi

Pemimpin Redaksi Sidang Redaksi Sidang Redaksi Sidang Redaksi Sidang Redaksi Sidang Redaksi Penata Artistik

Tinggalkan Pesan

Dokumen Post