Telah Terbit !

Yang sederhana, yang berserakan, yang tak diperhitungkan dan bertebaran di mana-mana, tetaplah harus dirayakan. Spesial SARBI edisi 8 di akhir tahun!

Segera Dapatkan !

Buku Puisi Karya KOMANG IRA PUSPITANINGSIH.

Toko Buku SARBI

Kumpulan buku bekas pilihan yang asik untuk dibaca dan dikoleksi dengan harga bersahabat.

Telah Terbit!

BULETIN TIKAR EDISI 02/2013 Diterbitkan oleh Komunitas Tikar Merah (KTM)

Dapatkan!

Buku Terbaru SARBIKITA Publishing Karya Heru Susanto

Blogroll

Thursday, May 2, 2013

Setan Di Kepala Ibu

 photo Artworkcopy_zpsde9c9b68.jpg
Ilustrasi oleh Andhika Nugraha a.k.a Dika Toolkit


Oleh Pringadi Abdi Surya

#1

Ada setan di kepala ibu.
Mungkin setan. Aku sendiri tak yakin. Sama tak yakinnya dengan kenapa aku harus memanggilnya ibu. Tapi, aku kemudian menggambarnya dengan sosok bertanduk dan lidah yang menjulur panjang, seperti hendak memakan aku. Memakan kami.
Aku menyebut ‘kami’ karena tak cuma aku yang berada di kelas ini. Sebuah kelas melukis yang baru pertama kali kuikuti atas desakan ayahku yang juga seorang pelukis. “Mulai besok, kamu ikut les lukis,” katanya tiba-tiba sepulang ia menghadiri pembukaan galeri lukisan miliknya sendiri, sebuah galeri tunggal dari pelukis handal. Ia tidak bertanya tentang jawabanku, ya atau tidak. Tidak. Setelah berkata seperti itu, ia langsung masuk ke kamar. Menutup pintu, dan meninggalkan aku di ruang tengah sambil bertanya-tanya, apakah memang buah tak boleh jatuh jauh dari pohonnya?
Tapi saat ini aku lebih tertarik pada setan di kepala ibu ketimbang memikirkan hal itu. Dia terkikik-kikik dan mengacungkan jari tengahnya kepadaku. Kontan saja kubalas dengan perlakuan yang sama. Aku acungkan jari tengahku padanya. Dan ibu mendekat. Dengan ekspresi kesumat.
“Kau tak suka pada ibu?”
Aku diam saja. Pasti ibu tak akan percaya jika kukatakan ada setan di kepalanya. Dan setan itu sekarang sedang menjulurkan lidahnya, menggoyangkan pantatnya ke kiri dan ke kanan --- meledekku. Tapi, aku sabar kali ini. Aku memilih menundukkan kepalaku. Seperti merasa bersalah.
Aku tahu tindakan seperti ini akan menyelamatkanku. Terbukti, sesaat kemudian ibu melenggang pergi dari mejaku dan melihat meja anak-anak lainnya. Dan setan itu, kembali tampak menggoyangkan pantatnya ke kiri dan ke kanan, mengejekku karena tak mampu berbuat apapun.

#2

Sebenarnya aku tak pernah melihat setan. Tak pernah melihat penampakan, sebelum ini. Kata orang, setan itu menakutkan. Tapi nyatanya, tadi, setan itu begitu menjengkelkan. Ingin sekali aku memukul kepalanya. Mematahkan tanduknya. Dan melemparnya keluar dari jendela. Tapi, satu yang kemudian aku tahu, setan itu licik. Dia begitu licik dengan berlindung di atas kepala ibu.
Aku sering ditinggal di rumah sendirian. Rumah yang dipenuhi berbagai lukisan dan kanvas-kanvas berisi coretan cat yang belum jadi. Kadang aku heran, aku tak pernah melihat ayah melukis di rumah ini. Yang aku tahu, begitu aku bangun akan bertambah satu lukisan dengan campuran warna-warna yang menurutku begitu sempurna. Begitu menggoda.
Pernah aku berpikir, pasti setan yang melukis ini semua. Tak ada bunyi-bunyi di malam hari. Tak ada suara-suara yang membangunkan aku dari tidurku. Begitu senyap. Tapi ayah tak mungkin setan. Meski kami jarang bertemu dan bahkan tak pernah berpelukan.

#3

Setan itu masih di kepala ibu. Aku melihat buku gambarku yang berisi coretan sosok setan. Membanding-bandingkannya dengan setan di kepala ibu. Tapi ibu tidak tahu. Sebab aku tidak menunjukkan ekspresi berlebihan.
Semua orang sedang asik melukis. Tapi aku masih menggambar garis-garis.
“Ibu penggemar lukisan ayahmu,”
“Oh ya?”
“Dulu ia tak begitu hebat.”
Aku mulai tertarik mendengarkan ceritanya. Tanganku masih terpaut di kanvas. Sambil membayangkan kucing. Sebab aku suka kucing walau aku tak pernah memegangnya secara langsung. Tak boleh ada kucing di rumah. Ayahku tak suka kucing. Atau lebih tepatnya, ia tak suka memelihara kucing.
“Yah, tapi mungkin dewa lukis sedang memiihnya satu dekade ini. Ayahmu begitu luar biasa sekarang. Lukisannya memang luar biasa.”
“Jadi, sejak kapan ibu mulai kenal ayahku?”
Dan untuk itulah, kali pertama aku mendengarkan cerita tentang ayahku. Cerita dari teman semasa kuliahnya dulu. Ayah memang seorang yang tertutup. Ia tak pernah bercerita apa-apa kepadaku. Pernah suatu kali aku menanyakan dimana ibu, ibu yang melahirkanku. Tapi ia diam saja. Aku tak lagi berani bertanya setelah itu. Tak lagi menginggung-nyinggung ibu. Anggap saja aku tak punya ibu. Aku cuma punya ayah.

#4

Aku membawa kanvas itu pulang tanpa sepengetahuan ayah. Aku letakkan di kamar, di bawah tempat tidur. Takut jika tiba-tiba ayah pulang dan masuk ke kamarku tanpa sepengetahuanku. Ia pasti marah. Selama ini memang aku dilarang melukis di rumah ini oleh ayah. Toh, aku memang tak berminat melukis sebelum ini. Tapi gara-gara setan di kepala ibu itu, aku jadi jadi ingin melukis. Aku ingin meluki sosoknya yang tak bisa kutangkap. Yang begitu menjengkelkan.
Kalau kurasa ayahku sudah tak ada, aku pindahkan kanvas itu di pinggir jendela. Biar terkena cahaya. Dan aku akan mulai melukis. Tidak peduli disebut apa lukisanku, kubisme kah? Impressionis kah? Ah, aku cuma mau melukis setan itu. Setan yang begitu suka menggoyangkan pantatnya ke kiri dan ke kanan. Dan tanganku pun bergerak ke kiri dan ke kanan. Bergoyang-goyang. Warna. Warna. Aku campur warna sesukaku. Aku pun menari seperti digerakkan oleh kuasku. Ah, aku tak butuh kuas. Aku membuangnya. Dan mulai kucelupkan tanganku sendiri ke dalam kaleng-kaleng cat. Menggoreskannya ke kanvas.
Aku mulai heran, ini bukan seperti pertama kali aku melukis. Seperti sudah berulang kali kulakukan. Satu, dua, sepuluh, atau sudah beribu-ribu kali kulakukan ini. Kerasukan setankah aku? Setan yang sejak pertama kali kulihat bertengger di kepala ibu itu?
Tidak, tidak. Aku mulai melihat setan itu di kanvas. Tertawa-tawa. Mencibir. Menjulurkan lidah. Dan menggoyangkan pantatnya ke kiri dan ke kanan.
Aku mulai tertawa-tawa. Balas mencibir. Balas menjulurkan lidah. Dan balas menggoyangkan pantatku ke kiri dan ke kanan.
Hei setan, rasakan! Kini aku mampu balaskan dendamku setiap saat aku mau!

#5

Lukisanku hilang. Padahal aku yakin beberapa hari lalu aku meletakkannya kembali di bawah tempat tidur. Aku mencarinya sekali lagi. Mungkin saja setan sedang menjahiliku. Kabarnya setan sering ‘meminjam’ barang yang kita punya. Mereka akan tertawa-tawa menyaksikan kita kebingungan, kalap, dan menyerah Dan di pandangan selanjutnya, barang yang kita cari itu akan berada di tempatnya semula. Padahal kita yakin, sebelumnya tak ada. Tapi aku tak percaya. Sebab aku tak pernah mengalami hal seperti itu. Tapi sekarang, aku berpikir mungkin saja seperti itu.
Dan kesekian kalinya aku melongok ke kolong tempat tidur, lukisan itu tetap tak ada. Bodohnya aku yang percaya pada kabar burung macam itu.
Lantas siapa? Dan kemana? Tidak mungkin kan kalau lukisanku bisa hilang tiba-tiba? Tidak mungkin pula kalau setan di kepala ibu yang mencurinya?
Aku mencari ayah. Tapi aku ingat, ayah mungkin marah jika tahu aku mulai melukis di kamarku. Toh, saat aku memanggilnya, ia memang sudah tak ada. Rumah ini sudah senyap seperti biasanya. Cuma ada aku. Sendiri.

#6

“Bagaimana lukisanmu?” ibu bertanya kepadaku dengan rasa ingin tahu. Ibu pasti meremehkanku sebab di kelas ini aku cuma biasa mencorat-coret kertas dan kanvas, membuat garis-garis yang tak ada satu pun mereka pahami. Aku seringkali merasa segerombolan anak-anak menertawakanku diam-diam saat aku merasa sudah selesai membuat sebuah gambar. Aku merasa telah menggambar banyak kucing. Tapi mereka bilang itu cuma garis. Saat kutatap ibu, dirinya malah diam saja. Seperti membela segerombolan anak-anak, yang menurutku, bodoh yang hobinya menggambar fragmen senja, daun gugur, dan hal-hal yang remeh. Aku pikir kucing lebih indah. Dan setan di kepala ibu ini, yang bergerak-gerak, akan jauh lebih indah.
Aku menggelengkan kepala. “Hilang, Bu.”
“Hilang?”
Ah, aku makin gemas pada setan di kepalanya. Sama halnya kegemasanku pada ketidakpercayaan ibu bahwa lukisanku benar-benar hilang. Aku tahu, ibu pun pasti meremehkanku. Ibu pasti memandang hanya karena aku anak pelukis handal dan terkenal. Tidak lebih. Di matanya, mungkin aku cuma seorang anak yang patut dikasihani karena terpaksa mengikuti kelas melukis yang tidak aku sukai. Tapi itu tidak benar. Aku benar-benar ingin melukis sejak kulihat setan di kepala ibu. Setan yang membuatku merasa gemas setiap dia menjulurkan lidahnya, mencibir, dan menggoyangkan pantatnya ke kiri dan ke kanan.”
“Ya sudah, kamu coba lukis ulang saja. Nanti ambil saja peralatannya di ruang sebelah.”
Aku menganggukkan kepala.
“O, iya, beberapa hari yang lalu ibu bilang pada ayahmu tentang kanvas yang kaubawa pulang. Ayahmu sepertinya senang akhirnya kamu tertarik pada kanvas.”
Aku terperangah. Ayah tahu aku membawa kanvas ke rumah? Bisa habis aku dimarahinya. Kakiku mulai gemetar. Tanganku mulai gemetar. Dan sekujur tubuhku juga ikut-ikutan gemetar. Ayah memang belum pernah marah. Tapi aku mulai membayangkan kemarahan ayah. Ia akan menamparku di pipi kiri dan kanan. Ia akan mengikatku dan menggantung tubuhku di bawah langit-langit. Memasukkan semut dan serangga ke tubuhku. Biar menggeranyangi kesakitanku.
“Hei, kamu tidak apa-apa?”
Aku menoleh ke ibu. Ke kepalanya. Dan aku lebih kaget, setan di kepala ibu sudah tak ada. Setan itu benar-benar tak ada. Aku berdiri dan berjalan ke belakang ibu. Mungkin saja setan itu sedang bersembunyi di punggung ibu. Tapi ternyata setan itu memang tak ada. Kulihat sekeliling. Aku tak peduli pada pandangan ibu yang kebingungan menyaksikan gerakku yang berpindah-pindah dari kolong meja, ke belakang lemari, melongok ke atasnya, lalu berpindah ke jendela. Tapi memang setan itu sudah benar-benar tak ada. Baik di kepala ibu, maupun di ruangan ini.
“Kamu kenapa, Nak?”
“Ke mana?”
“Apanya yang ke mana?”
“Setan itu.”
“Setan apa?”
“Setan yang selama ini kulihat di kepala ibu?”
“Apa maksudmu?!”
“Aku menggambar setan itu. Setan yang kulihat saat pertama kali bertemu dengan ibu. Setan yang punya tanduk. Bermuka buruk. Dan acapkali meledekku, Bu. Dia suka sekali menjulurkan lidahnya, mencibir, dan menggoyangkan pantatnya ke kiri dan ke kanan.”
“Kamu gila, Nak!”
“Aku tidak gila.”
“Pasti cuma halusinasimu.”
“Tidak. Halusinasi tak mungkin muncul setiap hari.”
“Sebaiknya, kamu pulang sekarang. Kamu butuh istirahat. Ibu akan menelpon ayahmu.”
“Tidak, tidak. Jangan telepon ayahku, Bu?”
“Oh iya, kamu ternyata anak yang baik. Hari ini pasti ia sedang berada di dalam konferensi penting. Ibu tak boleh mengganggunya.”
“Konferensi apa?”
“Lho? Kamu nggak tahu?”
Aku menggeleng. Kepanikanku akan kehilangan setan di kepalanya teralihkan dengan rasa penasaranku terhadap ayah. Aku memang tak pernah tahu apa-apa tentang ayah selain sosoknya di rumah dan keberadaannya sebagai pelukis handal dan terkenal. Aku tak pernah diajaknya mengikuti pameran lukisannya. Mencari tahu pun aku tak diperbolehkan. Aku menurut karena aku takut ayah akan marah. Karena aku takut ayah akan meninggalkanku jika ia marah. Dan aku tak punya siapapun selain ayah.
“Lukisan terbarunya memecahkan rekor penjualan termahal se-Asia.”
“Lukisan?”
“Memangnya kamu tidak pernah melihat lukisannya? Lukisan yang ajaib!”
“Tidak. Ayahku bahkan melarangku melukis di rumah. Aku cuma melihat beberapa lukisannya yang digantung di rumah, dan beberapa coretan kanvas yang tak selesai.”
Ibu tampak kaget. “Nanti sore lukisan itu dipamerkan, kamu mau ikut?”
“Tapi nanti ayah marah?”
“Tidak, ada ibu yang akan melindungimu. Ibu merasa sudah saatnya kamu melihat lukisan ayahmu. Kamu harus melihat betapa mengagumkannya dia.”
Aku pun mengangguk. Setuju.

#7

Surga. Aku pikir aku sedang berada di surga. Galeri ternyata adalah tempat yang sangat indah. Aku pun jadi bertanya-tanya kenapa ayahku tak pernah mengajakku kemari.
Suasana begitu ramai. Aku yakin mereka semua adalah penggemar lukisan ayahku. Sesekali kucuri dengar pembicaraan mereka yang memuji lukisan-lukisan ayah.
“Mereka cuma orang awam,” ibu memulai pembicaraan, “kamu lihat lukisan ini?” ia tampak memandang sebuah lukisan berwarna mayor coklat keemasan. Pemandangan senja. Di kiri jalannya terlihat sebuah gereja, dan seorang anak laki-laki tergeletak memegang sapu lidi. “Lukisan ini tidak istimewa,” lanjutnya lagi.
Aku memandangi lukisan itu sekali lagi. Mencoba memahami apa yang ibu katakan.
“Keistimewaan ayahmu akan kamu lihat di ruangan setelah ini,” ucapnya sambil tersenyum. Aku makin penasaran. Jika lukisan sebagus ini dibilang ‘biasa’ saja. Bagaiamana dengan yang luar biasa?
Dan memang aku menganga setelahnya. Aku melihat berjajar lukisan yang seperti bergerak. Aku
melihat awan-awan menggumpal yang membentuk rupanya. Aku melihat debu-debu yang melingkar menjadi asap. Aku melihat genangan air yang tumpah ke atas. Tidak. Tidak. Ini bukan kali pertama aku melihat lukisan-lukisan ini. Langkahku makin cepat. Melihat satu per satu lukisan yang dipajang dan semakin akrablah aku dengan suasana yang tergambar dalam lukisan.
“Hei, Nak…” aku tak lagi hirau pada ibu. Aku mulai menoleh ke kanan dan ke kiri dengan tergesa. Melihat sejuta daun gugur dan merambas menjadi air. Dan tanganku. Dan tanganku yang kulihat mengusap kanvas. Mencelupkannya di kaleng-kaleng cat. Aku melihat aku menari di malam hari, sambil menggerakkan-gerakkan tangan, kaki, badan, semuanya. Aku melihat aku, diriku lah, yang melukis semua lukisan ini.
Tidak. Tidak. Aku mulai mencari ayah. Aku ingin bertanya kenapa aku bisa merasa seperti ini. Kenapa aku bisa merasa akulah yang melukis semua ini. Aku susuri jalan galeri sambil setengah berlari. Dan di ujungnya, aku lihat ayahku. Aku lihat ayahku di balik kerumunan orang. Dan sebuah lukisan lain yang tampak begitu akrab bagiku. Lukisan setan di kepala ibu!
“Minggiiir!!!” Aku berteriak saja.
Ayah mulai melangkah mendekat.
Aku mulai kesumat.
Aku menatapnya. Menatap kepalanya.
Dan kulihat sosok itu. Dia mencibir. Menjulurkan lidahnya. Dan menggoyangkan pantatnya ke kiri dan ke kanan.
Ada setan di kepala ayah!*

(Bintaro, 2009)

Pringadi Abdi Surya dilahirkan di Palembang, 18 Agustus 1988. Terpilih menjadi Duta Bahasa Provinsi Sum-Sel. Buku kumpulan puisi tunggalnya berjudul Alusi (Pustaka Pujangga, 2009). Karya-karyanya juga terpublikasi pada beberapa media dan antologi bersama. Blognya www.reinvandiritto.blogspot.com. 

Dimuat lembar sastra SARBI edisi #3, Februari 2011

Sajak-Sajak Dedy Tri Riyadi

 photo lautcopy_zps4a18a7f1.jpg
Fotografi karya Maxie Ellia Kalangi untuk SARBI

Yang Kuman, Yang Lautan

Kau koloni kuman, Lautan yang kuseberangi seorang diri
dengan mata terpejam. Bukan lantaran kau begitu menakutkan,
tetapi menaklukkanmu adalah beragam kemungkinan.

Aku, perahu kebimbangan. Cadik patah, layar terbelah.
Ombak setinggi lutut, menekukku sepenuh kalut.
Pulau dan pepohonan seperti kenangan membayang.
Menghiba-menghimbau agar aku cepat pulang.

Kita: lambang perjuangan di dinding candi,
di gambar selembar uang. Kisah nenek moyang
yang tersengal - terpenggal pada lirik lagu.

Seperti punggung ikan paus tertikam harpun.
Menyelam! Tenggelam!

Sebelum pukat, sebelum jerat.
Sebelum pantun bernada laknat.

2010

Sejak Lebak Dituliskan Dalam Sajak

Lembut lekuk tubuhmu, Adinda, lumat
dalam warna karat senja di hutan karet.
Aku, Saija, mata sawah yang terlalu sarat
oleh tangis para peladang yang berderet.

Apakah yang tersisa dari sajian kisah cinta
yang digubah Tuan Multatuli ini? Kecuali
fakta sejarah telah begitu berdarah karena
duka tak kunjung sirna dari kami, Pribumi.

Sejak Lebak dituliskan dalam sajak Rendra,
tak semua bisa sepakat bahwa cinta begitu
dekat dengan kematian, Adinda, maka
kubiarkan saja di langit yang tak lagi biru

kubayangkan kau bagai Shinta direngkuh
Rahwana, dikejar Garudeya, dan aku,
Laksmana, rela mati untuk Rama, Sang Raja.

2010

Sajak Laron

1.
Suatu malam, di depan cahaya,
ada yang berdoa. Sederhana saja:
"Tuan Icarus, pakailah tubuh saya!"

Dan sepasang sayap lilin,
lurus lagi halus tumbuh sempurna.

2.
Dengan rasa percaya, dia berkelana
dari cahaya kepada cahaya.

Karena ada banyak cahaya yang tak pernah
dilihatnya sejak dia diperam dalam tanah.

Sebagai rindu, dialah Ibrahim.
Berangkat tanpa syarat, selain sarat cintanya.

Maka, setiap berjumpa cahaya,
dipersembahkannya sejumput sisik sayap,
sambil berharap,"Terbakarlah sebagai sukacita!"

Dan dia terus berkelana, dari cahaya ke cahaya,
dengan rasa percaya.

Sebagai rindu, dia tak pernah jemu
menjumput dan membakar sisik sayap
setiap bertemu cahaya hingga seluruhnya
tercabut dari pundak, dan jatuh.

3.
Suatu malam, di depan cahaya,
ada yang berkata begini rupa:
"Tuan Gibran, tugasmu paripurna."

Sayap-sayap lilin telah punah,
dan cinta pada cahaya mengantar rindu,
dalam lubang-lubang baru.

2010


Yang Himar, Yang Hingar

Janganlah Kau sangka aku: Dermawan
Di luar tembok, tertambat hanya 2 ekor himar
Pakailah mereka sesukamu, Tuan
Padanya tak bergembok, segalanya telah terlukar

Dan mari kuantar Tuan ke Pasar
Di sana, yang hinggar dan sesak itu kesabaran
Segobang, secupak kuberikan juga,
kuanggap hilang, kuanggap tak berharga.
Tanpa payung dan panji, pasti kupenuhi janji,
seperti daun palma berbentang jejari.

Duhai Tuan, perjalanan panjang ini;
Kau atau Aku yang harus memulai?

2010

DedyTri Riyadi, lahir di Tegal Jawa Tengah. Kini tinggal di Jakarta. Puisinya diterbitkan (Bersama Inez Dikara dan Maulana Achmad) dalam buku “Sepasang Sepatu Sendiri dalam Hujan.” Blognya www.toko-sepatu.blogspot.com

Dimuat lembar sastra SARBI edisi #3, Februari 2011

Wednesday, May 1, 2013

Sastrawan Jangan Hanya Dijajah Keindahan!

 photo iconcopy23copycopy_zps293ba250.jpg

Ilustrasi oleh Rayi Christian Wicaksono untuk SARBI


Oleh Nurani Soyomukti*

Tidak sedikit sastrawan yang mabuk keindahan. mereka terjebak pada “imperium keindahan”—dan lupa bahwa persoalan sastra adalam masalah humanisme: Sastra-Humaniora! Karenanya sastra(wan) harus punya nyali untuk bicara pada kemanusiaan. Kemanusiaan, dan bukan hanya keindahan dan permainan katakata, adalah kunci dari kegiatan kesusastraan. Masalahnya, jika persoalan sastra harus lebih ditekankan pada keindahan, mengapa penghargaan sastra (seperti Nobel Sastra) selalu saja diberikan pada sastrawan yang bicara banyak hal dan mengeluarkan pandangannya—yang penuh nilai dan berpihak—tentang manusia, masyarakat, dan sejarah?

Apakah sejarah dan manusia berada di wilayah objektif (ada dan independen) atau hanya harus dibiarkan berada dalam pikiran dan pemaknaan orang, terutama sastrawan? Kalau keindahan itu relatif dan tidak bisa diuniversalkan (dinilai dengan patokan tertentu), mengapa masih saja ada pemilihan tentang karya sastra (atau bahkan film, musik, dan produk-produk estetis) yang terbaik? Berarti keindahan memang tidak pernah hanya mendekam dalam benak, tetapi juga selalu bersenyawa dengan realitas material, wacana yang diangkat oleh media yang sifatnya material, dan tentunya bersenyawa dalam dunia kenyataan yang dapat diukur.

Pokok persoalan kemanusiaan akan dapat dipahami dan diselami sastrawan jika ia memaksimalkan potensi pengetahuannya, dan bukan semata-mata kepintaran dan kebiasaannya menyusun, merangkai, dan me(mper)mainkan kata-kata indah atau kisah kehidupan yang diangkatnya. Tak heran jika abad 20 lalu, Chernysevsky, seorang filsuf seni-sastra Rusia, mengatakan bahwa “TIDAK ADA YANG INDAH DARIPADA KEHIDUPAN ITU SENDIRI”.

Maka, tuntutan yang diberikan pada sastrawan untuk memperindah kehidupan adalah tanggungjawab dan komitmen sosialnya—yang harus dimiliki. Karena tanpa komitmen ini mereka menganggap bahwa posisinya (sebagai seniman atau sastrawan) dianggap anugerah yang muncul dengan sendirinya dan tak terikat dengan relasi material dalam kehidupan. Sastrawan pun lupa diri, menganggap bahwa menulisi kertas dengan kata-kata untuk menyusun karya adalah kebanggaan. Akhirnya mereka lupa bahwa ada kertas kehidupan yang perlu ditulisi agar kisahnya benar-benar indah, manusiawi, tidak diwarnai centang-perenang dalam hubungan antara manusia satu dengan manusia lain. Singkatnya, mereka harus menggoreskan nilai-nilai yang diungkapkan dalam karya-karyanya. Nilai-nilai itu tentunya dihasilkan dari renungan dan analisa yang mendalam atas realitas sosial di bumi empat ia berpijak. Dalam konteks inilah, ilmu pengetahuan dan filsafat harus melekat dalam diri sastrawan.

Bahkan seorang sastrawan juga identik dengan orang yang jenius, intelek, dan mereka ini dapat dikatakan sebagai golongan minoritas kreatif (creative minority) yang berani tampil ke depan menyuarakan pemikirannya. Mereka juga berani mengambil inisiatif dalam merespon gerak kebudayaan. Oleh sebab itulah, sastrawan sebagai kalangan yang memiliki kelebihan sangat jauh berbeda dibandingkan orang awam. Sejarawan besar Arnold Toynbee pernah mengatakan: “There was a deep, indeed and essential difference between the genius and masses. And so the great mind, creating for the future, was doomed in his own day to loneliness and lack of appreciation. Genius is casually related to insanity”.

Maka salah satu sebab mengapa sastrawan sebagai intelektual dianggap sebagai orang yang bermartabat adalah karena ia tidak menghabiskan waktunya hanya untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang purba (hidup hanya untuk sekedar makan, minum, seks, serta kepuasan-kepuasan nafsu yang dibawa eksisensinya sebagai tubuh), tetapi berupaya mengorbankan pemenuhan-pemenuhan tubuh untuk memperbanyak aktivitas yang memperkaya pengetahuan dan berusaha merespon atau merubah keadaan. Makanya, intelektual dianggap sebagai kalangan yang “derajatnya tinggi”, “lebih langka dan unik”.

Meskipun kebanyakan sastrawan lahir dari mereka yang berasal dari kelas ekonomi cukup, sebagaimana pada jaman kerajaan hanya dari golongan istana bangsawan) saja yang dapat menjadi sastrawan dan pujangga, kita tidak dapat mengatakan bahwa sastrawan tidak pernah lahir dari kalangan miskin. Wiji Thukul, misalnya, benar-benar penyair yang lahir dari kalangan miskin. Bahkan dapat ditegaskan di sini bahwa intelektualitas dan ilmu pengetahuan objektif dalam sejarah sebenarnya adalah warisan dari semangat orang miskin. Hanya dalam kondisi kontradiksi yang secara material dialami oleh rakyat miskin yang kesulitan menghadapi hiduplah kesadaran akan kontradiksi muncul, yang ini data mengarah pada aktivitas mempertayakan segala sesuatu yang menjadi sebab-sebab permasalahan yang dihadapi.

Ideologi kemiskinan adalah ideologi membongkar sebab-sebab kemiskinan; sedang ideologi kekuasaan adalah ideologi yang mengarah pada upaya untuk melanggengkan kekuasaan.

Hal itu sebenarnya adalah landasan moral kenapa sastrawan harus berpihak karena dengan berpihak pada orang miskin berarti mereka membongkar dunia ini. Apalagi posisi sosial dan ekonomi kekayaan juga tidak lepas dari hubungan produksi yang dalam tatanan kontradiktif selalu dicrikan dengan hubungan antara kelas tertindas dan kelas penindas. Kelas penindas akan selalu menjaga agar tatanannya (yang menindas dan menghisap kerja-kerja rakyat miskin) stabil. Maka segala upaya untuk memproduksi aparat maerial dan ideologis juga diarahkan untuk membuat tatanan itu langgeng. Sedangkan rakyat miskin juga membutuhkan keadilan dan dalam epos tertentu juga berjuang melawan penindasan yang dilakukan terhadapnya.

Sastra berada dalam wilayah pertarungan ideologis tersebut. Apakah sastra hanya akan memproduksi kemanusiaan dalam cara pandang penindas sebagaimana para sastrawan dan pujangga di jaman kerajaan hanya menuliskan karya dan menceritakan dongeng-dongeng yang menyanjung-nyanjung para raja dan kalangan bangsawan agar rakyat tunduk-patuh membayar upeti dan menyerahkan tenaga produktif dan semua miliknya untuk dikuasai raja, ataukah sastra dengan landasan filsafatnya yang dalam akan mampu menyuarakan realitas rakyat yang merintih perih, yang darah, keringat, dan air matanya telah dikorbankan dalam kehidupan yang dinikmati oleh raja-raja dan para pembela-pembelanya (termasuk sastrawan), hal inilah yang disebut keberpihakan. Karena sastrawan percaya bahwa realitas itu ada dan bisa dirasakan, tidak relatif dan absurd, maka ia dapat merasakannya. Ia percaya mana yang benar mana yang salah. Bahkan pada saatnya ia juga percaya bahwa—sebagaimana ditegaskan sastrawan Rusia—“bahkan samudra darahpun tidak sanggup menenggelamkan kebenaran”.***

*Nurani Soyomukti, peserta Arisan Sastra Bulanan dan Ketua Quantum Litera Center/QLC—Lembaga Pemberdayaan Keberaksaraan

Dimuat lembar sastra SARBI edisi #3, Februari 2011

Sajak-Sajak Fitri Yani

 photo IMG_9794copy_zps99a23f4a.jpg
Fotografi karya Pramoedya Tony Mahendra untuk SARBI


Rumah Matahari

mengapa begitu asing rumah
padahal telah kugantung lukisan matahari
di ruang tamu
agar kau selalu menatap harapan yang menyala
kuletakkan arloji di dalam lemari
agar setiap kali kau atau pun aku membukanya
kita akan menemukan kembali waktu-waktu
yang tak seharusnya berlari dari dada kita
adakah ruang lain yang pintunya kau biarkan terbuka
hingga aku kerap merasa ada dingin lain yang bertamu
dan kau tak pernah khusuk merasakan keberadaanku
katakan, apa yang membuat lukisan itu memudar
dan tiba-tiba terbakar
jelaskan padaku, mengapa begitu samar detak arloji
di malam hari

November 2010

Taman dan Pemiliknya

desember kali ini, aku melihat daun-daun terjatuh dari tanganmu
tangan yang semula begitu hati-hati menjaga setiap tanaman
yang hendak tumbuh di tubuhku, tanah yang merasakan kemarau
hingga tiba musim semi, sesuatu tumbuh dalam diam
bersemi dalam pemeliharaanmu

dari telapak tanganmu daun-daun itu bicara
tentang empat musim yang bersatu
sayap-sayap angin puyuh
dan awan merah yang mendekap keluh

aku merasakan ketabahan majnun di gurun sahara
aku melihat arah perjalanan yudistira di puncak himalaya
namun daun-daun itu kini menyentuhku
dan tubuhku berubah kering
semua benih yang hendak tumbuh
memendam tubuhnya
ke tempat yang lebih dalam lagi

di langit, matahari seperti hilang dan menjelma lingkaran abu-abu
apakah kau salah menanam benih atau tubuhku
yang gagal menafsir musim, duhai pemilik taman.

Desember, 2010

Padang Karbala

seperti pertanda di segenggam tanah
yang tiba-tiba memerah
begitulah aku membayangkanmu:
matahari yang garang
di langit yang hendak runtuh
dan di antara deru suara pasukan berkuda
kau berdiri
bagaikan sebatang kayu yang tak takutkan api
menggenggam waktu
berbalut sorban yang telah basah.

2010

Ketika Gelap Jatuh

dari ranting pohon
ia menyaksikan orang-orang bergegas
ke sebuah rumah
dan berdoa

sementara di langit
ada yang pulang sendiri-sendiri

Agustus 2010

Fitri Yani, lahir di Liwa (Lampung Barat) 28 Februari 1986. Menyelesaikan pendidikan sarjana di FKIP Universitas Lampung. Selama kuliah, berlajar di Unit Kegiatan Mahasiswa Bidang Seni (UKMBS) Unila divisi teater dan sastra. Buku kumpulan puisinya “Dermaga Tak Bernama” (Siger Publisher, 2010). Tinggal di Bandarlampung.

Dimuat lembar sastra SARBI edisi #3, Februari 2011

Anda Pengunjung ke

SARBI

Tentang Kami

Sastra Alienasi Rumput Berbasis Independen (SARBI) adalah kelompok diskusi yang bergiat mendiskusikan perihal isu sastra, seni, dan kebudayaan terkini dengan mengambil sudut pandang alternatif. Selain itu, SARBI juga banyak menggali pemikiran tradisi negeri sendiri dan konsepsi mancanegara yang diharapkan dapat bersinergi sehingga menghasilkan pandangan kontemporer yang segar. Untuk membuktikan perihal tersebut, kami melahirkan lembar SARBI untuk ikut menghiasi keriuhan dunia sastra, seni, dan budaya serta berharap dapat menjadi oase untuk memenuhi dahaga kita •

Redaksi

Pemimpin Redaksi Sidang Redaksi Sidang Redaksi Sidang Redaksi Sidang Redaksi Sidang Redaksi Penata Artistik

Tinggalkan Pesan

Dokumen Post