Telah Terbit !

Yang sederhana, yang berserakan, yang tak diperhitungkan dan bertebaran di mana-mana, tetaplah harus dirayakan. Spesial SARBI edisi 8 di akhir tahun!

Segera Dapatkan !

Buku Puisi Karya KOMANG IRA PUSPITANINGSIH.

Toko Buku SARBI

Kumpulan buku bekas pilihan yang asik untuk dibaca dan dikoleksi dengan harga bersahabat.

Telah Terbit!

BULETIN TIKAR EDISI 02/2013 Diterbitkan oleh Komunitas Tikar Merah (KTM)

Dapatkan!

Buku Terbaru SARBIKITA Publishing Karya Heru Susanto

Blogroll

Wednesday, August 1, 2012

Puisi Ferdi Afrar, Kompas 29 Juli 2012




Penggendam
bukalah pintu sayu matamu
teras kosong yang terlupakan.
kami akan diam-diam meletakkan bandul jam,
juga lentik mantra agar kau tak terjaga
dari kegembiraanmu menghitung domba
melompat dari bimbang ke bimbang,
berselimut bulan.

kami akan berjumpa di lubang ketidaksadaran
kemudian kami ikhlaskan setengah jiwa kami
berdiam pada kerling mata: perabotanmu yang
mengering, perasaan-perasaanmu yang kumal,
halaman-halaman kosong yang akan kau tulis tentang kehilangan. ketika itu kami hanyalah ingatan yang mampir, yang bolak-balik menyembul dan tenggelam dari balik kenangan.

2012


Pembiak Kata
sepertimu kami memilah kata.
pada parasnya, pada garing nyaring suaranya,
pada kemolekan dan kesintalan dagingnya.
kami jejerkan, kami luruskan, agar tak ada yang mencong apalagi bengkong.
kami letakkan kata pada tempat
yang membuatnya bahagia.

kami kesepian, memutar nasib
seperti mengulangi percobaan bunuh diri.
sepanjang hari gentar memutar gasing di punggung. kami letih dan mendamparkan tubuh di garasi.
di atas meja, di temaram cahaya,
kami bersendempel pada kata.

tiba pada gelap
kami bermalam pada lamunan
yang membuat kami terasa akrab.
berdua melompat-akrobat dicelah kalimat. melawan gigil jam dan rayuan bantal. menapaki puncak paling sunyi.
ke negeri asing paling gaib,
yang belum pernah kami temui.
bersamanya kami berkelana mesra
hingga subuh bercahaya.

2012                      

Cerpen Angga Priandi, Majalah Story Januari 2012



Di Balik Senyum Itu
Bus itu tampak dari luar penuh sesak oleh penumpang. Tapi, hal itu tak menyurutkan niat kami untuk menaikinya. Bulan bersinar cukup terang meskipun kadang tertutup oleh awan dan abu karena semburan abu vulkanik dari gunung di dekat daerah itu. Ketika tanganku memberi sinyal kepada supir agar berhenti, bus tetap saja melaju.
“Ah, penuh lagi,” kataku, “gimana nih? Ntar kita sampai Bayasura pukul berapa? Brengsek!”
“Sabar Ngga, ntar juga pasti dapat bus kok,” kata Indah menenangkanku.
“Iya nih, sekarang sudah pukul sepuluh, ah..!!” Beni sependapat denganku.
“Padahal, besok siang laporan ini harus sudah terkumpul di meja Bu Niar, mana orangnya galak, lagi..” Melati menambahkan.
“Gangga, tuh ada lagi, coba aja dulu! Kayaknya sepi tuh,” kata Indah.
Bus memang terlihat sepi. Tapi, justru ini yang aneh, masak dari tadi ramai, eh yang ini sepi.
“Ah, sudahlah,” pikirku.
Teman-teman sudah bersiap mengangkat barang mereka masing-masing. Setelah mendapat sinyal dariku, bus pun berhenti. Saat kami naik, tak seorang pun penumpangnya berdiri. Itu berarti masih ada tempat duduk untuk kami berenam. Kursi kosong terpisah dari yang lain. Hanya dua kursi kosong yang berdampingan. Itu berada di bagian depan. Aku yang naik terakhir disisakan kursi depan itu. Di sebelahnya sudah ada Indah. Aku pun duduk bersebelahan dengan Indah. Sebelum duduk, kupandangi teman-teman yang lain. Kuhapalkan tempat duduk mereka, “Siapa tahu aku nanti butuh mereka,” pikirku.
Penumpang terdengar tenang. Mereka banyak yang tidur. Sambil pura-pura mengambil barang di tas, aku menengok mereka satu per satu. Beberapa ada yang tidur. Beberapa juga ada yang terjaga. Hampir semua penumpang terlihat pucat. Mungkin mereka kecapean. Beni, Melati, Citra, dan Ulfah sangat kelelahan. Mereka duduk terpisah deret dan baris. Melati yang sempat melihatku melemparkan senyum manisnya untukku. Dari dulu dia memang naksir aku, tapi aku belum memberi sikap kepadanya.
“Ngga, aku tidur ya,” kata Indah yang duduk di sebelahku.
“Iya, tidur saja. Biar aku yang jaga. Lagian perjalanan kan masih lama,” kataku. Perjalanan dari Kota Jembar ke Bayasura memang lama. Jarak keduanya lebih kurang 197 Km. Kalaupun supir memacunya dengan kecepatan rata-rata 60 Km/jam, dibutuhkan lebih dari tiga jam untuk sampai. Sambil memikirkan langkah apa saja yang harus kulakukan setelah sampai di Bayasura nanti, kulihat wajah Indah yang tak kalah manis dengan Melati. Ah, keduanya membuatku bimbang.
Kulihat jalan raya dengan jelas. Pak Supir memacu bus dengan sangat cepat. Kulihat di speedometer, jarum menunjukkan angka 70, tapi Pak Supir begitu sangat tenang. Tak lama, kondektur bus menghampiriku untuk menagih ongkos perjalanan.
“Bayasura Pak, enam orang: saya, yang ini, itu, itu, itu, dan yang itu,” sambil kutunjuk teman-teman yang lain dan kusodorkan uang 200 ribu rupiah.
Tanpa bicara, kondektur itu memberikan enam lembar karcis dan uang 50 ribu sebagai kembaliannya. Kulihat ada dua lembar 20 ribuan dan selembar 10 ribuan. Tanpa pikir panjang, kumasukkan uang itu ke dalam kantong sebelah kanan depan. Kondektur pun berlalu dengan cepat. Dia menghilang.
Kulihat gapura tertulis Selamat Jalan dari Kabupaten Jembar berlalu dengan cepat. Kupandangi supir dan kenek yang tak acuh. Mereka hanya diam dan memandang ke depan. Tak bicara satu sama lain. Ada apa dengan mereka? Apa mereka sedang bermasalah sampai-sampai tak bertegur sapa? Ah, itu bukan masalahku.
Dengan cepat supir membanting setir ke arah kanan. Aku terjerembap ke kiri, ke arah Indah yang sedang tidur mendengkur, “Ah, ternyata cewek cantik juga bisa mendengkur, hehehe.”
Pak Supir melirikku sesaat. Matanya gelap. Bibirnya tebal tertutup rapat. Dengan cepat mukanya kembali memandang ke depan, ke arah jalan yang sedang kami lalui. Lirikan itu seolah melontarkan pesan, “Jangan berpikir apa-apa tentang kami!”
Tiba-tiba dia melirik lagi. Kali ini dengan senyum tipis yang bengis. Matanya tetap gelap. Sangat menyeramkan. Firasatku mengatakan akan terjadi apa-apa.
Kulihat Indah yang masih tertidur lengkap dengan kecantikan dan dengkurnya yang menggebu, haha. Aku tersenyum manis. Tiba-tiba, keinginan untuk melihat kondisi kawan-kawan menyeruak. Aku masih bisa melihat Melati yang juga tertidur, tapi tidak mendengkur. Mungkin tidak terdengar olehku. Beni masih terjaga, tapi berwajah lelah. Citra yang aslinya cerewet juga menjadi sangat pendiam. Dia sedang tidur ditemani earphone yang menempel di telinganya.
Aku tidak menemukan Ulfah. Sebelumnya kulihat Ulfah duduk di kursi nomor tiga dari belakang.
“Ah, mungkin saja dia berpindah tempat.”
Di belakang kursi Ulfah tampak seorang penumpang dengan wajah pucat sedang mengunyah sesuatu. Matanya gelap serupa mata Pak Supir tadi. Kulihat sebelahnya juga sedang mengunyah. Sebelahnya juga. Sebelahnya juga. Apa mereka sedang makan bersama ya? Aku belum menemukan jawabannya.
Kupandangi jalan raya. Kunikmati suasana gelap yang hanya ada lampu dari bus yang kunaiki. Sebelah kanan dan kiri tak ada rumah. Hanya sungai panjang bersebelahan dengan jalan itu. Sungai itu sangat panjang seolah tak berujung.
Badanku sangat capek. Sedangkan, mata tak kunjung memejam. Tapi aku telah berjanji pada Indah untuk menjagannya. Aku harus menepati janji. Seorang laki-laki harus melakukan apa yang dia katakan.
Penumpang sebelah kanan juga menunjukkan kepucatan wajahnya. Mata mereka juga gelap serupa mata Pak Supir dan penumpang yang duduk di sekitar tempat duduk Ulfah.
Kulihat kursi Ulfah lagi. Dia masih tidak terlihat. Orang di sekitar tempat duduk Ulfah masih saja mengunyah. Tapi,…
Citra sekarang juga tak terlihat di tempat duduknya tadi. Ada apa ini? Gadis yang duduk dua kursi di depan Ulfah itu menghilang. Orang yang duduk di sekitar Citra juga sedang mengunyah sesuatu. Persis seperti orang-orang di sekitar Ulfah tadi. Hah? Apa ini hanya imajinasiku saja. Kulihat jalan raya dengan penuh pertanyaan. Kulihat Indah, ingin kubangunkan, tapi tak tega setelah mendengar dengkurannya yang semakin keras. Dia terlihat begitu kelelahan.
Kupandangi lagi kursi milik Ulfah dan Citra. Mereka benar-benar tidak ada. Beni dan Melati masih pulas. Mungkin lengkap dengan impian-impiannya. Kulihat lagi orang-orang yang sedang mengunyah itu. Wajahnya pucat. Matanya juga gelap. Persis seperti mata Pak Supir dan orang-orang yang duduk di sekitar Ulfah. Dari bibir mereka tampak keluar liur. Tapi, samar-samar berwarna merah, serupa warna darah. Salah satu dari mereka memandangku. Dengan senyum sinisnya dia menggerakkan bibir sambil mengunyah. Ada apa ini?
Aku berdiri. Memastikan apa yang terjadi. Kondektur yang ternyata duduk tepat di belakangku juga berdiri seolah berniat menghadang langkahku ke belakang.
“Permisi Pak, saya mau ke belakang. Mau bicara sama teman saya,” kataku. Tapi, dia tetap bergeming. Wajahnya menunduk ke bawah. Matanya juga gelap seperti mata Pak Supir, orang-orang di sekitar Ulfah, dan Citra
Bulu kudukku mulai berdiri. Mereka serempak kompak beranjak dari tempat dan ingin berlarian. Mungkin berkeliling leherku. Atau bahkan melompat keluar dari bagian tubuhku. Darahku menyeruak ke kepala. Jantungku bergenderang.
“Pak, tolong Pak, saya mau ke belakang. Memastikan keadaan teman saya,” nadaku mulai meninggi.
Tiba-tiba beberapa orang berdiri. Mata mereka juga gelap. Orang-orang yang duduk di sekitar Ulfah dan Citra juga berdiri. Mereka berliur merah serupa darah. Atau tepatnya memang darah. Ya, darah. Apa itu darah Citra dan Ulfah? Mereka melontarkan senyum sinis. Dari bibir mereka mulai tampak taring. Mereka pun pamer kuku-kuku yang panjang. Mulutnya menganga. Gigi-giginya terlihat tajam serupa gergaji. Tapi matanya tetap saja gelap seperti mata Pak Supir dan lainnya.
Sekarang mulutnya terbuka lebar. Melontarkan huruf A tanpa suara. Lima jarinya membuka dan siap menerkam.
“Beni, Mela, bangun!!!” teriakku.
Aku langsung mencoba menerobos kondektur itu. Pergumulan pun terjadi. Kupukul wajahnya, tapi dia malah tersenyum sinis. Dia mencekik leherku. Memukuliku dan membantingku ke depan bus, tepat di antara Pak Supir dan Indah yang ternyata masih tidur dan mendengkur. “Apa harus kubangunkan Indah?” pikirku, “ah, biarkan saja. Dia masih aman.”
Kuambil sepatu yang terpasang di kaki. Kulemparkan pada Melati agar dia bangun. Eh, sepatu itu tepat mengenai wajahnya. Dengan sedikit sadar, dia membuka mata dan mengusap liurnya. “Ah, ternyata dia berliur ketika tidur. Ah, tidak ada waktu membahas itu,” pikirku.
Kuambil sepatu yang satu lagi. Kulemparkan pada Beni. Ketika tersadar, Beni telah didekap oleh beberapa orang itu. Beni digigit, dicakar, digumuli, diremas, dibanting, dirobek bajunya, dan akhirnya dia tewas tak berdaya. Badannya digigiti dan dukuliti. Sangat kejam.
Makhluk apa ini? Apa ini makhluk dari film Resident evil? Ah, itu hanya film, tapi ini nyata.
“Indah, bangun, Ndah!!” Indah mulai tersadar.
“Mela, lariii!!!” teriakku. Mela langsung menaiki kursi-kursi untuk berlari ke arahku. Tiba-tiba Pak Supir mengerem bus. Mela terjerembap ke arahku. Tepatnya dipelukanku. Tapi, Pak Supir dengan cepat berdiri dan memegangi Mela. Digigitnya leher Mela. Mela melawan dengan menonjok muka Pak Supir hingga terpental keluar bus melewati kaca yang pecah karena tubuhnya. Mela yang jebolan karate sabuk coklat itu dengan sigap memukul dan menendang makhluk-makhluk itu yang mencoba mendekat.
“Indah, Gangga, pergi!! Aku akan melawan mereka,” kata Mela. “Ah, aku ini laki-laki, aku harus membantunya sekuat tenagaku,” pikirku.
“Indah, pergilah dulu! Nanti kami susul. Aku akan membantu Mela dulu,” kataku mayakinkan Indah. Indah langsung bergegas keluar bus. Tapi, pintu bus terkunci. Dia makin panik. “Ngga, gimana ini?”
Kutendang pintu itu, tapi justru aku yang jatuh terpental. Aku bangun lagi dan menendangnya beberapa kali, tapi tetap saja tak kunjung terbuka. Indah mencari cara lain untuk keluar bus itu. Dia mencoba membuka pintu Pak Supir.
Ternyata, pintu Pak Supir tak terkunci. “Ngga, lewat sini saja!” katanya.
Mela yang sedari tadi masih sigap menghalau makhluk-makhluk itu tampak kecapean. Beberapa makhluk itu masih menikmati daging Beni yang baru saja tewas. Sedangkan, di belakang bus, orang-orang yang telah menghabiskan daging Ulfah dan Citra mulai mencari mangsa baru. Mereka merangsek ke depan.
Mela kutarik agar cepat keluar. Setelah menyelesaikan satu tendangan mautnya ke kepala salah satu makhluk itu hingga terjatuh dan menindihi kawan-kawannya, Mela mengikutiku keluar bus. Selepas kami keluar, pintu bus kuganjal dengan kayu yang kutemukan di luar bus agar mereka tak bisa keluar.
Setelah di luar, kami langsung berlari menuju rumah penduduk setempat. Belum sempat aku berlari, tiba-tiba kakiku dipegang oleh Pak Supir tadi. Dia mencoba menggigit kakiku. Aku teriak, “Aaaach….!!! Toloooongngnggggg!!!”
Mela kembali dan menendang kepala Pak Supir beberapa kali. Aku pun mencoba melepaskan kakiku dari genggamannya. Berhasil.
Kami berlari dengan cepat menuju satu arah, yaitu lampu-lampu yang tampak dari jauh. Itu pasti rumah penduduk. Kulihat makhluk-makhluk itu pantang menyerah. Mereka keluar bus melalui kaca depan yang pecah tadi.
“Terus lari! Jangan berhenti!!” kataku kepada Indah dan Mela.
Setelah puluhan menit kami berlari, Indah berhenti. Dia kecapean. Aku dan Mela pun ikut berhenti. Lampu yang tampak dari kejauhan itu tak kunjung mendekat. Sepertinya sudah agak aman. Kami beristirahat sejenak. Kami duduk menjongkok. Kurogoh uang kembalian kondektur tadi, “Ah, ternyata hanya tiga lembar daun kering. Brengsek!” pikirku.
Mela duduk di dekatku. Napasnya terdengar keras sekali. Sama dengan napasku. Beberapa detik kemudian dia tampak tenang. Tak terdengar lagi napas yang tersengal-sengal itu. Wajahnya memucat. Matanya terlihat gelap. Dia memelukku. Dia pingsan di pelukanku.
“Mela kenapa?” kata Indah.
“Pingsan.”
“Terus gimana?”
“Ya sudah, biar aku yang gendong.”
“Kita harus cepat minta pertolongan, Ngga!”
“Iya, ayo kita jalan. Mela biar kugendong.”
Kugendong Mela dengan posisi seperti seorang suami yang menggendong istrinya dengan mesra. Dia kubopong dengan kedua tanganku. Rambutnya beruraian di sela-sela tanganku.
Saat kubopong Mela, sambil berjalan, kupandangi wajahnya: manis sekali. Di balik wajah yang imut ini tersimpan kekuatan yang luar biasa. Dia bisa mengalahkan makhluk-makhluk itu. Kalau tidak ada dia, pasti kami tidak akan selamat.
Tak lama kemudian, dia mulai tersadar. Dia tersenyum, agak sinis. Dia memelukku dalam gendonganku. Tiba-tiba dia menggigitku. “Aaaach!!! Melaaaaa….!!!”
Indah menoleh, “Kenapa Ngga?”
“Lari Ndah!!! Mela telah berubah menjadi makhluk itu. Lariiii!!!!!”
Tiba-tiba makhluk-makhluk yang mengejar kami datang dengan cepat. Mereka menggigitku, mencakarku, menarikku, dan memakanku. Indah yang melihatku tak kuasa menolong. Dia hanya bisa berlari menuju tempat yang belum tentu membuatnya selamat.

Surabaya, 31 Januari 2011

Cerpen Angga Priandi, Radar Surabaya 31 Agustus 2008


An Old Man in Red by Rembrandt Harmenszoon van Rijn



Pak Tua
(Andip)

Seorang tua duduk memandang perapian yang asapnya melingkar-lingkar hingga keluar dari gubuk tempat ia berteduh. Sebuah perapian yang biasa dipakai untuk menanak butiran beras hingga siap dirajam oleh tulang-tulang mulut. Wajahnya tergores ratusan garis-garis keriput yang menjalar  ke seluruh tubuh bagai akar serabut pohon mangga yang tengah dicangkok. Pandangannya kosong. matanya menunjukkan kesunyian. Nyanyian-nyanyian angsa tak menyurutkan kesepian yang telah menelan keramaian.
Ia semakin termangu menanti nasi yang ditanaknya. Rambut yang semakin memutih, badan yang sudah tidak tegak lagi dan beberapa buah giginya telah tanggal mengingatkan bahwa ia telah meninggalkan masa-masa muda, masa-masa dimana kekuasaan mampu dikendalikan, masa-masa ketika ia mampu melakukan segalanya.
“Masihkah kau mencintai aku sayang? Seperti puluhan tahun yang lalu saat kita sama-sama menggenggam kendali di sini. Aku tahu, aku sudah tidak muda lagi. Kerut-kerut di sekitar mataku telah mewarisi petunjuk alam bahwa Tuhan akan berencana menarik setiap helai nafas dan setiap detak jantungku. Sayang, masihkah kau mencintaiku seperti bintang yang tak akan berhenti bernyanyi menentramkan penghuni bumi hingga mereka terlelap dalam buaian-buaian mimpi? Tetap memanjakan aku seperti laut yang memanjakan nelayannya?”
“Apa menurut kamu aku tidak mencintaimu lagi? Aku akan tetap jadi ilalang yang dihembus angin pagi dan sore, sedangkan kau adalah belalang. Aku bersedia mempersembahkan tubuhku ini untukmu. Aku akan tetap melayani apa pun kehendakmu. Kata-katamu adalah sabda bagiku, dan aku akan senantiasa berkata duli tuanku.”
“Tapi aku sudah tidak muda lagi, usia tua telah menghias setiap inci tubuhku. Mungkin nyamuk akan berpikir ratusan kali ketika ingin menyabik kulit dan menghisap darahku. Aku sudah tidak bertenaga. Tidak segarang atau sekuat dulu. Aku adalah tulang rapuh yang berusaha menopang tubuh.”
“Benar, kau memang telah rapuh. Aku masih ingat ketika ribuan bahkan ratusan ribu manusia berkumpul di gedung MPR memaksa Seseorang turun dari tahta kekuasaan di negara kita, kau memang bukan barisan terdepan, tapi kau selalu melindungi aku ketika beberapa orang aparat mencoba mendekat dan kau begitu kekar menarik dan menggendongku dari kerumunan itu. Menyelamatkan nyawaku. Kau pahlawanku sayang, dan sampai detik terakhir alunan nafas ini aku tidak akan pernah meninggalkanmu.”
“Itu adalah empat puluh tahun yang lalu. Tapi sekarang...”
“Kau tampak begitu ragu padaku. Apa yang membuatmu ragu kepadaku? Percayalah, rasa ini akan terus menyala.”
“Kau ingat berapa usiaku sekarang?”
“Tiga puluh satu agustus ketika banyak orang dibunuh karena sebab yang tidak jelas. Usiamu enam puluh delapan jika kau berulang tahun beberapa bulan kedepan. Aku ingat semua ceritamu. Kau dulu pernah bercerita tentang bagaimana kau dilahirkan, bukan? Ibumu harus menahan sakit karena mengungsi di tempat yang aman sebelum melahirkan anaknya. Kau lahir tepat pukul satu dini hari di rumah adik ibumu yang keesokan pagi menghilang dan ditemukan sore hari dalam keadan tidak bernyawa. Itulah sebabnya kau menjadi orang yang kuat. Orang yang penuh semangat dalam memerjuangkan kaum tertindas. Orang yang tidak pantang menyerah untuk mendapatkan sesuatu yang benar-benar layak untuk diperjuangkan meskipun urat nadimu harus terpotong.”
“Kau benar sayang. Bahkan aku sendiri lupa pernah bercerita tentang semua itu. Memang seharusnya aku tidak pernah meragukan cintamu padaku. Mungkin ini kerena aku terlalu mencintaimu hingga takut untuk kehilanganmu.”
Tiba-tiba bau anyir tercium dari hidung Pak Tua. Bau itu mengingatkan tentang pembantaian yang dilihatnya secara sembunyi-sembunyi ketika ia masih kanak-kanak. Pemandangan yang terpaksa harus tersimpan dalam memori otak. Pemandangan yang seharusnya tidak pernah ia lihat. Pemandangan yang harusnya hanya ada dalam film yang akan ditontonnya waktu ia dewasa.
“Sayang... sayang... kau dimana sayang! Bau itu kembali tercium. Bau anyir itu ada di sini. Sayang...!”
“Aku di sini sayang. Tenanglah! Aku akan tetap di sini menjaga kau dalam lelap ataupun terjaga. Tidak usah kau risaukan bau anyir itu. Bukankah bau itu yang bisa membuat kamu menjadi seperti sekarang. Bukankah itu salah satu alasan kamu mau berjuang melawan kolonialisme yang dilakukan bangsamu sendiri?”
“Sudah kubilang itu puluhan tahun yang lalu.”
“Dan kau akan tetap seperti itu.”
“Maafkan aku sayang, aku sekarang tidak lagi bisa menjagamu. Justru kau yang sekarang menjagaku.”
“Bukankah orang yang saling mencintai akan selalu menjaga satu sama lain? Kita telah berjanji untuk saling menjaga ketika kesulitan menerpa kita. Dulu ketika aku masuk dalam bidikan senapan aparat, kau dengan rela memberikan tubuhmu untuk ruang masuknya timah panas itu demi melindungi aku. Kau tak sadar beberapa hari hingga ibumu cemas dan terus-terusan menyalahkan aku.”
“Iya, dan akhirnya ketika aku sadar kau tampak lusuh karena harus menungguiku dan rela tidak mandi selama aku terbaring. Hahaha...”
“Ternyata kau ingat juga. Kau tau, aku harus berlutut minta ampun pada ibu.”
“Ya ingat lah, coba kalau saja waktu itu aku tidak membantumu memintakan maaf, pasti sampai sekarang ibu belum akan memaafkanmu.”
Pembicaraan mereka terhenti sesaat.
“Sayang, aku benar-benar mencintaimu. Maukah kau menemani aku hingga aku tua nanti?”
“Kau lupa sekarang kau sudah tua. Kau lupa berapa usiamu sekarang? Aku sudah katakan, enam puluh delapan bukan waktu yang sebentar dalam mengarungi hidup. Lebih dari tiga puluh tahun kita bersama, apa aku pernah meninggalkanmu?”
“Tapi mengapa sampai sekarang kita belum juga punya anak?”
“Sayang, sepenting apa anak bagimu?”
“Kau benar, selama kau selalu ada menemani aku, bagiku Tuhan sudah cukup adil dan aku tidak akan menuntut apa-apa lagi. sekarang aku ingin mendengar kau mengatakan bahwa kau mencintaiku. Maukah mangatakannya sayang!”
“Untuk apa?”
“Supaya aku benar-benar yakin bahwa kau memang mencintaiku.”
“Apa menurutmu sebaris kata yang tersusun menjadi kalimat itu bisa membuat kamu yakin kalau aku benar-benar mencintaimu. Bukankah dulu aku pernah mengatakannya kepadamu?”
“Itu dulu. Puluhan tahun yang lalu. Aku takut kalau kau sekarang tidak mencintai aku lagi.”
“Lihat, rasakan, ingat-ingat apakah dari dulu sampai sekarang ada perubahan yang terjadi padaku? Apa sikap dan perbuatanku kurang menunjukkan kalau aku mencintaimu? Menurutmu yang pencerminan seseorang itu bisa dilihat dari bicaranya atau perbuatannya?”
“Aku tahu. Tapi kali ini aku memang ingin sekali mendengar kalimat itu kau tujukan kepadaku. Apa susahnya mengatakan hal yang demikian?”
Mereka sama-sama terdiam. Gerimis melanda kerinduan pada angin. Gerhana seolah bicara tentang kesepiannya. Saling pandang dengan bintang tapi tak satu pun dari mereka yang berkata. Mereka ingin bersajak tapi lidah menjadi kaku oleh dingin di Himalaya.
Asap dari perapian semakin melingkari tubuh Pak Tua. Bau asap itu membangunkannya dari lamunan. Ia baru benar-benar sadar bahwa istrinya telah pergi meninggalkan tubuh tua dan rapuh miliknya. Tepatnya lima tahun yang lalu ketika ia mulai sakit-sakitan. Ketika semua tidak terkendali. Ketika masalah finansial membelit keluarga tanpa anak itu. Istrinya hilang entah kemana.
Asap semakin membesar bersamaan dengan membesarnya api itu. Pak Tua mencoba berdiri dan menyelamatkan diri. Kembali tulang-tulang rapuh itu benar-benar menghambat langkahnya untuk pergi. Beberapa menit setelahnya, pak tua pergi bersama abu yang tertiup angin senja. Hanya ada asap dan abu yang menari-nari.

Surabaya, 23 April 2007

Sunday, July 29, 2012

TELAH DIBUKA UNTUK SARBI #7


Photobucket



REDAKSI MENERIMA tulisan, esai, kolom (perihal khusus yang berhubungan dengan tokoh, sastra, seni, atau budaya pada umumnya), cerita pendek, puisi, naskah drama, resensi, informasi kegiatan budaya. Untuk tulisan prosa maksimal 11.000 karakter tanpa spasi •

Redaksi juga menerima kontribusi karya rupa dengan berbagai medium, manual drawing, fotografi, digital art, painting dll. Kirimkan link portofolio atau contoh karya •

Semua permohonan menjadi kontributor edisi 7 dialamatkan ke sarbikita@gmail.com Sertakan biodata singkat dan alamat surat. Paling lambat Pertengahan September 2012 •

Redaksi belum dapat memberikan imbalan materi pada penulis maupun perupa yang telah berpartisipasi. Redaksi sebatas menyediakan ruang berkarya dan mendukung setiap individu yang ingin berkarya. Hak cipta karya ada pada masing-masing kontributor. Redaksi hanya meminta izin pemuatan karya pada Lembar SARBI atau media lain yang berhubungan dengan kegiatan forum SARBI •


Pemimpin Redaksi


Arfan Fathoni

Saturday, July 28, 2012

LEMBAR SARBI EDISI #6 JULI 2012

Photobucket


Photobucket


Lembar SARBI edisi 6 Terbit Juli 2012

KONTRIBUTOR

- Kulit Muka
Chantal Huang

- Penulis
1. Bhirau Wilaksono
2. Jacob Julian
3. Yuyutsu RD Sharma
4. Joni Agung
5. M. Faizi
6. Mahdi Idris
7. Lina Kelana
8. Halina Said

- Perupa
1. Carolina Rodriguez
2. Roby Dwi Antono
3. Jill Forshee
4. Prima R Bardin
5. SYGA
6. Debbie Garcia
7. Celso Bressan
8. Yusrizal

-Musik
Superboy

 
Lembar Sarbi edisi 6 terbit dalam versi flash player dapat diunduh gratis di link ini: http://www.mediafire.com/?ze70ty6idy64772

Versi pdf : http://www.mediafire.com/view/?68bixq3fraigrov

Versi cetak hitam putih dapat dipesan diredaksi dengan kirim inbok/email atau kontak sms di 08990389066

*Kritik, saran dan semua yang hendak dikirim perihal SARBI dapat dialamatkan ke sarbikita@gmail.com


TERIMA KASIH

Friday, July 13, 2012

Resensi Umar Fauzi Ballah, Kompas, 24 Juni 2012

Photobucket


Data Buku
Judul         : Belajar Bersepeda (kumpulan puisi)
Penulis       : Mardi Luhung
Tebal         : viii + 68 hlm
Penerbit     : buku bianglala, Gresik
ISBN         : 978-602-8671-74-3
Harga        : Rp 25.000,- (POD)

Ikhtiar Puisi dan Prosa Mardi Luhung
Oleh Umar Fauzi Ballah

Lima tahun belakangan ini, jika kita merunut proses kreatif Mardi Luhung  kita akan mendapatkan fakta: pertama, “keinsyafan” Mardi Luhung (ML) meninggalkan binalitas dalam diksi puisinya sebagaimana terangkum dalam Ciuman Bibirmu yang Kelabu (CByK) (2007) maupun yang lahir sebelumnya yang takterangkum dalam antologi tersebut.

Hal ini pernah dilontarkan ML sendiri. Dua tahun lalu, ketika ML menerbitkan Buwun dan keliling kota, salah satunya di Madura, dia mengungkapan bahwa dia malu ketika mengetahui bahwa CByK dibaca juga oleh siswa-siswanya. Barangkali itulah yang membuat puisi-puisi ML menjadi berbeda. Meskipun demikian, karakteristik pola ungkap dan penyusunan bahasa puisinya yang liar, imajinatif, dan berlompatan, tetap terasa.

Kedua, Mardi Luhung semakin menunjukkan kecemerlangan produktivitasnya. Selain puisi, sejak tahun 2009, cerpenya sering menghiasi media cetak bahkan menjadi salah satu cerpen terbaik pilihan Kompas 2010 dan 2011.

Ketiga, Buwun (2010) memperoleh anugerah buku puisi terbaik Katulistiwa Literary Award 2010. Itulah titik tolak kecemerlangan dan buah kerja kerasnya. Bahkan, setahun setelah buku itu terbit, Mardi Luhung menerbitkan kumpulan cerpen tunggal pertamanya Aku Jatuh Cinta Lagi pada Istriku (2011) dan yang paling baru adalah kumpulan puisi Belajar Bersepeda (Oktober 2011)

Puisi itu dibagi menjadi tujuh subjudul yang jika kita cermati setiap puisinya, masing-masing subjudul membentuk sebuah kesatuan tema dan bentuk. Alhasil, posisinya menjadi ambigu bagi kehadiran prosa dalam puisi. Dalam subjudul “Fantasi”, misalnya, semuanya berkisah tentang gajah. Pun begitu dalam subjudul “Bersepeda” yang ditutup dengan puisi berjudul ‘Seperti Adam yang Bersepeda’ bercerita tentang sepeda.

Membaca BB saya seperti sedang berhadapan dengan sebuah prosa Mardi Luhung, tetapi dalam bentuk yang unik. Untuk dikatakan prosa, apa yang disajikan di dalamnya penuh dengan lapis makna, sedangkan unsur tokoh dan alurnya remang-remang. Begitu juga, jika dikatakan sebagai puisi, saya berhadapan dengan cerita berangkai. BB menjadi sintesis pencapain Mardi Luhung ketika pada saat yang sama puisi dan prosanya semakin cemerlang.

Tidak mudah berhadapan dengan kumpulan puisi BB. Banyak kode subjetif penyair yang sulit dipahami pembaca. Ini lebih sulit ketimbang Buwun. Dan soal ini sudah menjadi salah satu karakter ML. misalnya, Mardi sering memakai majas antonomasia untuk menyebut tokoh yang hendak diwartakan dalam puisinya. Misalnya, si wanita yang telah menjadi taruhan di meja dadu, si cacing tanah, si babon, yang asing, si ganji, si cantik, si sunan, si jenggot lebat, dan sebagainya.

Diperlukan kekayaan literatur bagi pembaca untuk menembus kode-kode dalam puisinya tersebut. Atau paling tidak menganggapnya sebagai jumpalitan imajinasi Mardi yang liar yang cukup dibaca secara harfiah.

Religiositas dalam Intertekstual
Sebagaimana telah saya kemukakan di atas, ada variasi tema dan diksi yang dihadirkan dalam puisi-puisi Mardi Luhung pasca-CByK. Dalam Buwun maupun BB, binalitas, sarkasme, keseronokan, dan sebagainya tidak dihadirkan kembali. Beberapa puisinya bahkan mengusung religiositas.

Puisi-puisi ML, pun  dalam BB, tidak hanya mengalihkan realitas dunia, mitos, atau sosio-geografis, akan tetapi beberapa sumber penciptaan puisi ML sesungguhnya berasal dari teks yang ia alihkan dalam teks puisi. Karena itu, perlu pembacaan intertekstualitas guna memahami rimba pemaknaan puisinya.

Puisi ML yang berkecendrungan sulit dipahami itu membuat religiositas dalam puisinya pun sulit untuk diungkap. Yang terjadi adalah hal itu hanya dapat diraba-raba melalui kode yang secara harfiah tersurat dalam teks.

Simaklah puisi ‘Sinai’ yang dengan mudah dapat dipahami tentang Nabi Musa ketika mengalami pengalaman spiritual “bertemu” dengan Tuhan. Kau berkata api. Dan perkataanmu itu jadi api… Kau yang di gunung itu pun Cuma melambai. Tanganmu yang putih tampak berkilat. Dan dari kilat itu, aku mendengar: “Api dalam kitabku, bukan untuk dibaca.”

ML juga sering mengambil banyak khasanah hanya dalam satu puisi sehingga puisinya terlihat seperti sebuah mozaik. Puisi ‘Cacing Tanah’, misalnya, secara umum melukiskan tentang Syaikh Siti Jenar—lalu si cacing tanah yang lain, yang telah dimanusiakan lewat gelap malan itu pun segera membuka rahasia-kulit-coklatnya—dengan Sunan Kalijaga yang digambarkan sebagai—Kau menjaga tongatnya. Bersila di pinggir sungai. Namun, pada saat yang sama penyair menghadirkan sosok Drupadi melalui bait: Dan si wanita keramas dari darah si penjudi. Si wanita yang telah dijadikan taruhan di meja dadu.

Melalui puisi ‘Tali Kekang’, ML menggambarkan tentang nafsu: Berpergianlah sejauh mungkin. Tapi kembalilah sebelum tersesat. Pada bagian akhir puisi ini, ML mengalihan perumpamaan Imam Ghazali tentang nafsu yang laiknya kuda liar, nakal, dan binal. Karena itu, dikatakan ML: Yang jelas, ada seekor kuda dalam diri. Yang tali kekangnya perlu untuk diam-diam dipotong atau disambung.

Hal itu terjadi juga dalam puisi ‘Pesan’. ML pun berpesan: kita begitu tak leluasa menyebut si yang liyan dengan satu tarikan napas? Ternyata, Adik, jawabnya cuma satu: “Terlalu banyak ular merah. Yang merayap di batu merah. Pada magrib yang merah!” Yah, ML memodifikasi idiom dalam Islam. Bait terakhir itu tidak lain adalah perumpamaan yang pernah dilontarkan oleh nabi tentang orang riya (senang dipuji) itu seperti semut hitam yang merayap di atas batu hitam pada malam yang gelap gulita.

Lebih dari itu, semua yang ditampilkan dalam BB, baik kemasan maupun isi, dikerjakan dalam totalitas dan eksperimentasi. Misalnya adanya index di halaman terakhir buku tersebut. Selain itu, dalam subjudul “Bersepeda”, puisi ditampilkan dengan warna dasar kertas hitam. Puisinya pun cendrung lebih panjang dan ditulis dengan rata kanan kiri sehingga membentuk sebuah tipografi kotak yang rapi.

*) Umar Fauzi Ballah penyair dan esais kelahiran Sampang

PUISI DODY KRISTIANTO, JURNAL SAJAK NO 3

Photobucket

Photobucket


Penantian
sungguh Puan, lampau sudah ia tunggu kampung terjauh
kampung yang hanya tampakkan sepenggalan malam
dan kerumun lampu jejalan yang makin padam.

Melebihi sabar Puan, ia nantikan sepasang malaikat
mengganyang ia punya pandang, punya penantian

pada kekasih yang terus lenggang di kering dadanya
yang hibuk dirambani kerontang


Pulang
Lalu di mana tualang
akan berakhir tuan?

Di ranjang puan, di peraduan
ketika tubuh renta perlahan
dan sepasukan serupa kelam
pelan menikam, menghujam

Friday, June 22, 2012

Pembacaan Puisi

 

Pembacaan Puisi: Talak Dengan Hujan
Oleh: Umar Fauzie Ballah
 Project S
Forum SARBI

Wednesday, April 18, 2012

SARBI DALAM EARTH HOUR 2012

Photobucket

Photobucket

Photobucket

Photobucket

Photobucket

Monday, April 2, 2012

BEDAH BUKU RAGIL SUKRIWUL "AVONTUR"


Photobucket

Photobucket

Photobucket

Photobucket

Photobucket

Photobucket

Bedah buku Ragil Sukriwul di balai pemuda 27 Maret 2012

SARBI DI ACARA TALKSHOW MENULIS


Photobucket

SARBI berfoto bersama dengan Arswendo Atmowiloto


Photobucket


Photobucket

Photobucket

Photobucket

SARBI berfoto bersama dengan Prof. Budi Darma 

Photobucket

Umar Fauzi Ballah berdialog dengan  Prof. Budi Darma 

Talk show 'Aktualisasi Kreatif dan Kreatif Menulis Opini', pembicara: Arswendo Atmowiloto dan Prof. Budi Darma di UNESA Surabaya.

PUISI DODY KRISTIANTO, KOMPAS 25 MARET 2012

Photobucket



Perihal Kalah Bertarung

Bagaimana bila jurus dan siasatmu yang paling ampuh tak mampu menggoyahkan ia? Memindah ia dari berdirinya.

Atau jika belukar dan bebatang tinggi menolak menjagamu, menyamarkanmu dari tatapannya yang berjaga.

Tentu kamu lebih menunggu geludug di langit  bertandang dan menyambarnya yang masih memainkan jurus yang tak mampu kamu elakkan.

Kamu yang telah memainkan segala senjata, yang menunjukkan itikad menyentuh bagian jantungnya. Semua muslihatmu telah ia kira, telah ia hitung sampai pada tusukan pedangmu yang terhalus.

Tentu ia lebih banyak mendaras kitab dibanding kamu yang hanya sampai mengejanya.

Maka, biar jurusnya menghampirimu. Pasrah saja. Namun, amati segala tingkah yang disimpan tinju itu. Kamu tentu tak menduga bila tinjunya melepas bayangan yang ingin meninggalkan jejak memar pada dadamu.

Atau bila tiba-tiba telapak itu berubah pedang, menyentuh dan meninggalkan sayatan atau irisan pada kulitmu.

Semua tingkah lakunya tentu kamu simpan dalam kenangan. Kelak, kamu berharap akan berjumpa lagi dengannya. Mengembalikan segala memar dan luka yang ia tinggalkan.

Tentu saja kamu harus mengucap doa agar jurus termahirnya tidak menyentuh tubuh dalammu dan membalikmu menuju tanah yang tak pernah kamu rasa.

Bila demikian, kamu tentu mengucap selamat tinggal bukan?

(2012)


Melatih Pukulan Kidal

bukan adab sopan itu
yang kamu cemaskan benar bukan
tapi bagaimana yang tak imbang ini
kini sejalan

selaras dalam gerak, menyatu dalam sajak
hingga yang terlihat ialah sepasang hantam
paling rancak

kuatkanlah, sebagaimana kamu mengenali
tangan kananmu yang sanggup memecah batu

pertama
bila mampu keraskan ia
hingga sebuah martil
tak sanggup menggoyang keteguhannya

kedua
ia sungguh perlu lemas
ia perlu mengambang namun mematikan
ia perlu mengenal bagaimana ular yang tenang 
sanggup melemahkan seekor macan

ia perlu belajar ihwal keluwesan
pada dedaun yang sudah hilang hijaunya
dan tinggal menunggu waktu pulang ke tanah

(2012)

Thursday, March 29, 2012

ULANG TAHUN DELTA SASTRA

Photobucket


Mozaik Delta Sastra

Konon, keberadaan sebuah komunitas sastra adalah motivasi tambahan bagi sebuah individu untuk terus berkarya dan mengembangkan dirinya. Mengutip apa yang dikatakan oleh Umar Fauzi Ballah bahwa komunitas menjadi persenyawaan kreatif individu. Pun, sebuah komunitas sastra berfungsi menyatukan dan mempertemukan individu yang memiliki persamaan visi dan misi. Konon, sejarah sastra Indonesia telah mencatat sejumlah nama. Sebutlah nama-nama semacam (apabila secara tersita dapat  disebut sebagai komunitas) Pujangga Baru dengan tiga serangkainya : Sutan Takdir Alisjahbana, Amir Hamzah, serta Armijn Pane, angkatan 45 yang digelorai dan digairahi oleh Chairil Anwar, Asrul Sani, dan Rivai Apin, sampai nama-nama komunitas yang saat ini masih eksis berdiri dan tegak pada belantara sastra Indonesia.

Sebutlah nama-nama semacam Komunitas Salihara, Komunitas Berkat Yakin (Lampung), Komunitas Daun, Komunitas Intro (Padang), Komunitas ASAS (Bandung), Tikar Pandan (Banda Aceh), Rumah Dunia (Serang), dll. Di Jawa Timur pun, kita tak dapat menepikan begitu saja komunitas yang telah menjadi dan memiliki keteguhan sendiri dalam melalui derasnya arus sastra. Kita tentu sudah mendengar nama-nama semacam Bengkel Muda Surabaya (BMS), Forum Studi Sastra dan Seni Luar Pagar (FS3LP), Komunitas Rabo Sore (KRS), Komunitas Lembah Pring, Komunitas Arek Japan Mojokerto, Komunitas Sanggar Lentera Sumenep dan masih banyak lagi. Semua komunitas di atas dipersatukan oleh unsur “primordialisme”, entah satu kesatuan kampus, daerah, ideologi, dan lain-lain.

Kini, memasuki abad XXI, komunitas bukanlah sebuah kumpulan yang harus bertemu dan berdiskusi dalam sebuah tempat khusus. Komunitas tidak harus ada dalam satu waktu yang sama. Ya, batas-batas semacam itu telah dirusak oleh globalisasi, internet dalam hal ini. Melalui beberapa medium, semacam, forum-forum milis, blog, jejaring sosial, kita dapat berdiskusi tanpa harus bertemu muka. Ya, saya dapat berdiskusi dengan seorang teman yang saat ini berada di negeri nun jauh di sana. Pada satu sisi, hal ini tentu menggembirakan. Pertemuan kreatif akhirnya tidak harus dibatasi oleh ruang dan waktu. Namun, pada satu sisi, hubungan secara estetis bisa pula tidak sekuat ketika kita berkomunitas dan menjalin pertemuan secara langsung. Dibandingkan dengan bahasa tulis,  ada yang berbeda ketika sebuah pesan harus disampaikan dalam bahasa lisan. Tentu hal ini disebabkan karena kita lebih terbiasa menggunakan bahasa lisan tinimbang tulis. Ya, ternyata kelisanan belum sepenuhnya beralih pada keberaksaraan.

Kali ini, saya bertemu dengan kumpulan cerpen Komunitas Delta Sastra yang berbasis di kota Sidoarjo, sebuah kota yang sepi secara sastra dan mungkin hanya dapat saya temukan nama-nama semacam R Giryadi, F Aziz Manna, Tan Tjin Siong, (Alm.) Lan Fang, sampai generasi seperti Dody Kristianto yang telah menorehkan nama pada pentas kesusastraan nasional. Akan tetapi, bila kita melihat siapa saja nama-nama yang berada pada kumpul`n cerpen ini, kita akan menemukan bahwa mereka berasal dari berbagai tempat dan tidak dibatasai oleh waktu dan ruang. Sangat mungkin, nama-nama ini saling menjalin silaturahmi kreatif melalui dunia maya sehingga bersepakatlah mereka untuk  melahirkan sebuah kumpulan yang mungkin dimaksudkan sebagai pengejahwantahan atas diskusi kreatif yang mereka lakukan selama ini. Maka, kumpulan cerpen ini bisa kita sebut sebagai ajang “pertemuan langsung” kawan-kawan Delta Sastra di dunia nyata.

Sekali lagi, jika kita membaca para cerpenis di dalam kumpulan ini, kita akan mendapati bahwa nama-nama ini berasal dari berbagai latar belakang yang berbeda. Nama-nama ini juga bukanlah nama besar yang sudah melanglang buana di dunia sastra kita. Nama-nama ini bisa jadi adalah nama-nama baru yang beritikad untuk menggairahkan dunia sastra. Hal ini sekaligus semakin memperkuat asumsi bahwa internet telah membuat gaung sastra melebar. Tentu saja kegairahan bersastra via internet ini juga dibarengi dengan beberapa efek negatif.
***
Kali ini saya berhadapan dengan sebuah kumpulan cerpen Komunitas Delta Sastra yang berjudul Hujan Melukis Lautan. Judul ini adalah analogi yang pas sebagai awal mula penciptaan. Bukankah kita masih ingat bahwa berjuta tahun yang lalu, lautan memang tercipta dari hujan deras yang turun kali pertama di bumi. Hujan deras inilah yang lantas menjadi lautan bagi bumi dan lautanlah yang dicurigai mencipta cikal bakal bibit kehidupan di bumi. Tentu saja hal di atas menurut para penganut teori evolusi.

Seperti sudah saya singgung di atas, para cerpenis ini berasal dari pelbagai latar belakang daerah, pendidikan, dan profesi. Dan yang patut kita apresiasi adalah mereka memiliki keberanian untuk berkarya lantas memublikasikasikan dalam satu kumpulan yang ada di depan kita ini. Semangat ini patut kita acungi jempol dan kita berharap tentunya para cerpenis ini tidak berhenti sampai pada Hujan Melukis Lautan.

Seperti halnya para penulis yang umum kita temui pada dunia jejaring sosial, khususnya, facebook, para penulis ini (mungkin) sudah cukup banyak menerima apresiasi dalam forum jejaring sosial tersebut. Entah itu berupa pujian, tepuk tangan, masukan, saran, kritikan, bahkan sampai cacian sekalipun. Ya, mengutip apa yang pernah dibahas oleh Fahrudin Nasrullah dalam Temu Sastra Jatim 2010, bahwa facebook adalah dunia simulacra, di mana segala bisa masuk dan bersengkarut di sana.

Tentunya tulisan ini terlalu sempit bila harus mengapresiasi secara luas karya para cerpenis dalam kumpulan Hujan Melukis Lautan. Anggaplah tulisan ini sekadar sebagai pengantar diskusi saja. Para cerpenis dalam kumpulan ini, telah berhasil memindahkan realitas sehari-hari ke dalam sebuah bentuk fiksi. Ya, kata Suripan Sadi Hutomo, sastra memang tak terlepas dari kenyataan dan rata-rata isi cerita para cerpenis ini berdasarkan dari kenyataan, entah pengalaman pribadi, hasil pembacaan di berita, eksplorasi terhadap masa lalu, dan sebagainya. Bahkan, saya memosisikan para cerpenis ini sukses memberikan gambaran mengenai kehidupan pada kita.

Hanya saja, penikmat sastra tetap harus kritis terhadap sebuah karya. Artinya, sebuah karya sesempurna apapun, tetap membuka satu celah untuk dimasuki. Kritik tetap perlu diberikan untuk mengawal para sastrawan agar karya-karya mereka tetap terjaga kualitasnya. Kali awal membaca, saya menangkap judul para cerpenis ini cenderung ingin berindah-indah dengan bahasa yang cenderung klise. Tengoklah judul-judul semacam “Takdir Berduri”, “Ombak Keraguan” (Kwek Li Na), “Pelangi Jelaga” (Filiya Putri), “Lembaran Kasih yang Terberai” (Iis Istrini), “Semoga Cinta Bersemi Selamanya”, “Persembahan Kasih di Langit Cinta” (Pena Armansyah), “Menepis Badai di Batas Cakrawala” (Sukmawati Ryo).

Apakah judul-judul di atas tidak boleh dituliskan dalam karya sastra? Tentu saja boleh dan setiap orang berhak untuk menuliskan judul pada karya yang ia hasilkan. Akan tetapi, ternyata menulis judul sebuah karya tak semudah apa yang kita bayangkan. Saya tak tahu apa yang dipikirkan oleh Budi Darma sehingga menghasilkan judul-judul semacam “Olenka”, “Rafilus”, “Derabat”, sampai “Pohon Jejawi”. Dalam sebuah ulasan di Jurnal Sajak edisi II, Agus R Sarjono menyebutkan bahwa bahasa klise adalah salah satu musuh bagi puisi (adakah ia juga musuh bagi sastra secara keseluruhan?)  

Selain itu, ada kecenderungan bahwa para penulis cerpen ini terjebak dalam melodrama berkepanjangan seperti karya Sukmawati Ryo misalnya. “Menepis Badai di Batas Cakrawala” menyuguhkan cerita mengenai perjalanan dua anak manusia yang bertemu sekian tahun lalu, lalu terpisah, dan akhirnya berjumpa kembali. Selain sangat “detail”, cerita ini juga muda ditebak pada akhirnya. Hal ini tentu saja membuat kenikmatan untuk memburu akhir cerita berkurang.

Sebuah cerpen Kwek Li Na, “Latar Berduri” juga meninggalkan sejumlah pertanyaan bagi saya pribadi. Di manakah latar terjadinya cerpen ini? Apakah ia berada di Taiwan? Atau bahkan di Indonesia? (adanya tokoh Pak Karin dan Bu Is membuat kecurigaan saya mengarah pada Indonesia sebagai latar). Tentu saja hal ini semakin mengagetkan tatkala Natesya berhasil menemui pamannya di Taiwan. Aneh, seorang tokoh yang (mungkin) terdampar di Indonesia bisa kembali ke Taiwan.

Cerpen-cerpen Hawa El Pandani mungkin lebih sederhana dalam bertutur. Rata-rata cerpennya bercerita mengenai kehidupan wanita malam. Hawa El Pandani relatif sangat bersahaja dalam menyampaikan pesan moral pada pembacanya. Dalam bahasa Nirwan Dewanto, sekali lagi, sastra adalah pertemuan antara sisi moral dan bentuk. Sebuah karya sastra akan terjebak pada kutbah-kutbah bila hanya menitikberatkan pada pesan moral belaka. Bentuk, mestilah mendapat poris berimbang. Saya teringat pada sebuah cerpen DN Kurnia yang berjudul “Perempuan Tengah Malam”. Gaya bertutur DN Kurnia dalam cerpen itu menggunakan sudut pandang orang kedua : Ia sebagai penutur. Kehidupan seorang pelacur pun akhirnya terceritakan melalui sudut pandang orang lain. Itu merupakan sebuah strategi untuk membuat bentuk baru terhadap suatu tema.

Saya tertarik dengan sebuah cerpen Teguh Budi Utomo “Bunga Genjer di Sorban Kyai”. Cerpen berlatar sejarah ini turut mengingatkan saya pada sebuah cerpen Indra Tranggono, “Jas, Tongkat dan Kesunyian”. Cerpen yang berlatar belakang pembantaian massal pada tahun 1965 menjadi sebuah sudut pandang lain dalam penceritaan sejarah kita. Bagi saya, menulis cerita dengan latar belakang sejarah selalu memberikan tantangan tersendiri. Latar sejarah menuntut kita untuk peka pada konteks dan persoalan yang terjadi pada masa itu.

Pada akhirnya, saya mengucapkan selamat pada Komunitas Delta Sastra. Kelahiran kumpulan ini semoga menjadi awal yang baik bagi perjalanan komunitas ini. Tentu saja komunitas ini haruslah peka terhadap kritik, sebab kritik yang sebenarnya menjadi pelecut bagi karya-karya yang akan lahir pada masa mendatang.   Wallahualam bissawab.

Pengantar diskusi disampaikan oleh Arfan Fathoni di acara ulang tahun Komunitas Delta Sastra Tgl 26 Februari 2012



Photobucket


Photobucket


Photobucket


Photobucket

Anda Pengunjung ke

SARBI

Tentang Kami

Sastra Alienasi Rumput Berbasis Independen (SARBI) adalah kelompok diskusi yang bergiat mendiskusikan perihal isu sastra, seni, dan kebudayaan terkini dengan mengambil sudut pandang alternatif. Selain itu, SARBI juga banyak menggali pemikiran tradisi negeri sendiri dan konsepsi mancanegara yang diharapkan dapat bersinergi sehingga menghasilkan pandangan kontemporer yang segar. Untuk membuktikan perihal tersebut, kami melahirkan lembar SARBI untuk ikut menghiasi keriuhan dunia sastra, seni, dan budaya serta berharap dapat menjadi oase untuk memenuhi dahaga kita •

Redaksi

Pemimpin Redaksi Sidang Redaksi Sidang Redaksi Sidang Redaksi Sidang Redaksi Sidang Redaksi Penata Artistik

Tinggalkan Pesan

Dokumen Post