Telah Terbit !

Yang sederhana, yang berserakan, yang tak diperhitungkan dan bertebaran di mana-mana, tetaplah harus dirayakan. Spesial SARBI edisi 8 di akhir tahun!

Segera Dapatkan !

Buku Puisi Karya KOMANG IRA PUSPITANINGSIH.

Toko Buku SARBI

Kumpulan buku bekas pilihan yang asik untuk dibaca dan dikoleksi dengan harga bersahabat.

Telah Terbit!

BULETIN TIKAR EDISI 02/2013 Diterbitkan oleh Komunitas Tikar Merah (KTM)

Dapatkan!

Buku Terbaru SARBIKITA Publishing Karya Heru Susanto

Blogroll

Wednesday, April 17, 2013

Sajak Alex R. Nainggolan

 photo 496142_3d_art_guby_1920x1080_wwwGdeFonru_zps4f0922ca.jpg
Artwork by Gdefon


Bibir

mungkin aku mesti kembali pada bibirmu yang dulu
yang rekah merah, bergulat lelah basah serupa hujan singgah
namun beratuskali kecup, tak lekas jadi obat mujarab
dusta itu liat dan keras
seperti pemanis sirup
semacam orang-orang di televisi
berkabar mimpi-mimpi korupsi

ah, apakah aku perlu percaya lagi pada bibirmu?
seperti adam yang mencuri lingkaran waktu
terjerat kenyal bibir hawa?
bahkan saat apel telah dilumat sempurna

sepanjang letih diam
sebaris malam yang kukuh di depan
aku tersaruk, menghayati bibirmu
ungu pada setiap perih yang kautanam
menciptakan belukar akar
dari rapat pepohonan hutan
dan suaraku tenggelam
pada wajah berita pucat
yang terus berkata-kata
sepanjang jam

seperti puisi
tak selesai kutafsir
bibirmu yang gelambir
kenanganku meriang di tubir
lukisan bibir yang tak rampung diarsir

seperti adam
aku mungkin akan membaca kata yang tersisa
dari perona bibirmu yang nyala

Edelweis, 2013


Hari yang Kelabu

engkau selalu tiba di waktu dan jam yang sama
hari kelabu, langit yang membatu
bayangan angin terdiam
menempuh abad-abad yang lalu
sekian lama bencana tak terbaca
luka yang tumbuh jadi belati dingin paling tajam
menyayat hingga sekarat

namun begitu sukar kau beri warna ganih yang putih
pada langit, rangkaian nasib yang gagal ditebak

ah, engkau selalu tiba di waktu dan jam yang sama
sementara cemas cuaca tak tamat untuk rebah

2013

Alex R. Nainggolan lahir di Jakarta, 16 Januari 1982. Menyelesaikan studi di FE Unila
jurusan Manajemen. kini bekerja sebagai PNS di Pemprov DKI Jakarta. Buku terbarunya Rumah Malam di Mata Ibu (kum cerpen, 2012), Sajak yang Tak Selesai (kum puisi, 2012), Kitab Kemungkinan (kum cerpen, 2012)

Sumber: Harian Jawa Pos, Minggu 31 Maret 2013

@ Redaktur SARBI: Guntur Sekti  Wijaya

Monday, April 15, 2013

Acara Bincang Santai Lembar Sastra SARBI edisi 7

 photo 63425_354965637937575_559734780_n_zps26ea70de.jpg

 photo 149439_354964411271031_1326065813_n_zps7e8dee40.jpg

 photo 539630_354964987937640_290507734_n_zps374e5d34.jpg

Foto -foto Dokumen Baitkata Library

Forum SARBI di Radio DJ FM Surabaya

 photo _MG_0092copy-2_zps29cde477.jpg

 photo _MG_0089copy_zps0d8302ae.jpg

 photo _MG_0102copy_zps49a92675.jpg

Menolak Kanalisasi Puitika Jawa Timur

 photo diving-for-treasure-820-1170-2200-610x425_zps03f464fb.jpg
Diving for Treasure, Painting 1170 x 820 cm @ stonycreekgallery

Arfan Fathoni

MENYIMAK esai F Aziz Manna yang berjudul “Tiga Aliran Puitika Jawa Timur” sangat terasa sekali bahwa para kritikus (atau pengamat?) sastra kita masih gemar dengan kanalisasi dan dikotomi, membagi-bagi masyarakat menjadi beberapa blok. Di satu sisi, hal ini dapat memudahkan kita dalam mengidentifikasi, lebih-lebih meneliti secara mendalam sebuah kelompok dan estetika yang diusung suatu kelompok. Namun, di sisi lain, pendikotomian itu tak pelak akan menimbulkan pola-pola pemikiran bahwa hubungan dalam sastra ternyata kurang lebih sama dengan hubungan gangster. Di mana, seseorang harus bergabung dengan seseorang yang lain untuk menghadapi kelompok lain.

Aziz membagi aliran puitika Jawa Timur dalam tiga kelompok besar : aliran para pemilik teguh puisi gelap, aliran para peyakin puisi terang, dan aliran alternatif penganjur suara-suara lain yang dipelopori oleh W Haryanto. Pembagian ini sendiri sudah mengesankan hal yang berbau Surabaya-sentris. Artinya, pembagian ala Aziz juga menunjukkan bahwa dua kelompok besar yang “eksis” berada di Surabaya. Sementara kelompok lain yang berada di luar Surabaya, condong diremehkan dan harus rela ditaruh dalam satu aliran yang diembel-embeli sebagai “alternatif”.

Aliran puisi gelap sendiri adalah aliran yang dipelopori sebagian besar eksponen Forum Studi Sastra dan Seni Luar Pagar (FS3LP) dan Teater Gardu Puisi (Gapus). Oleh Arif B Prasetyo, aliran ini dikatakan memberikan kontribusi pada sastra Indonesia kontemporer. Aliran puisi gelap konon mengekspos panorama kegelapan jiwa dengan kadar kepekatan dan kemabukan yang belum pernah terpampang dalam khasanah puisi dari berbagai provinsi lain. Dalam kesempatan lain, salah satu anggota dari aliran ini, Indra Tjahyadi, pernah mengungkapkan manifesto puisi gelap di mana tugas penyair adalah menyelamatkan manusia dari kejatuhan mengerikan ke jurang kebanalan dunia. Untuk itulah, puisi harus didorong ke arah pemaknaan yang paling ambigu, yakni dengan menggelapkan makna.

Tugas penyair dari dulu memang selalu ambigu. Di satu sisi, ia memfungsikan dirinya sebagai perombak peradaban atau meminjam bahasa Octavio Paz, membawa suara lain. Di sisi yang lain, penyair tak lebih hanya sebagai pengkhayal, sekumpulan (dan ini yang sangat parah) pengangguran yang bahkan untuk menyelamatkan dirinya saja harus berharap pada kebaikan orang lain. Melihat kondisi terkini, sangat mungkin sebagian besar pelaku sastra di Indonesia dapat kita masukkan ke dalam golongan terakhir.

Entah, ketika Aziz menulis esai tersebut apakah ia dalam keadaan sadar. Bahwa ia adalah salah satu bagian dari Forum Studi Sastra dan Seni Luar Pagar (FS3LP) yang mengusung puisi gelap memang benar. Akan tetapi, dalam Festival Seni Surabaya 2010, bukankah Ribut Wijoto selaku PO Sastra menulis bahwa puisi-puisi Aziz sudah melampaui tradisi puisi gelap (dalam bahasa Ribut adalah post-puisi gelap). Secara estetika pun, puisi-puisi Aziz menolak mengekspos panorama kegelapan jiwa yang dikatakan oleh Arif B Prasetyo sebagai landasan puisi gelap.

Lantas, bukankah Mashuri, salah tokoh gerakan puisi gelap, juga sudah mulai meninggalkan kegelapan puisi ala Luar Pagar ini? Dan Indra Tjahyadi yang menjadi pengusung “Manifesto Puisi Gelap” kini lebih banyak mengeksploitasi sisi dukalara, kesedihan, dan mendung perasaan seorang manusia. Dalam ulasan Arif B Prasetyo, kecenderungan ini mengakibatkan puisi Indra menjadi semakin terang. Ribut Wijoto, sebagai juru bicara gerakan puisi gelap, ternyata juga menulis puisi yang tak dapat dibilang gelap. Lantas apakah masih kontekstual jika para tokoh di atas dilabeli sebagai pengusung puisi gelap?

Sangat disayangkan, Aziz mungkin agak abai membaca perkembangan generasi penyair terkini yang tumbuh di lingkungan Unair Surabaya. Sebagai tempat kelahiran dan penggagas puisi gelap, mazhab ini mulai luntur dari dalam. Bacalah penyair-penyair muda dari Unair semacam Ayu Kartika Dewi, Abimardha Kurniawan, Asril Novian Alifi, Sonny Alfansa, sampai Mamik Bo Wijaya. Puisi-puisi mereka juga mengangkat hal remeh temeh yang dikatakan Aziz banyak digarap oleh penyair dari Komunitas Rabo Sore.

Pemberian label terang pada penyair-penyair yang bernaung di dalam Komunitas Rabo Sore (atau Unesa pada umumnya) juga tidak sepenuhnya tepat. Pada perjalanan awal kepenyairannya, Dody Kristianto menolak konsep puisi komunikatif dan terlarut dalam penggelapan makna sebagaimana dieksploitasi oleh para penyair Luar Pagar. Puisi-puisi Dody yang terpublikasi dalam antologi tunggalnya Lagu Kelam Rembulan (SARBI, 2012) setidaknya menunjukkan itikad tersebut. Selain itu, puisi-puisi yang ditulis oleh Heru Susanto dan GS Wijaya dari Forum SARBI (yang notabene juga berkuliah dan berproses di Unesa) juga menunjukkan kecenderungan bergelap-gelap ria. Akan tetapi, sangat disayangkan bahwa ketiga penyair Forum SARBI ini tidak mau memproklamasikan dirinya sebagai penyelamat umat manusia dari kejatuhannya.

Maka, dalam satu kota sangat mungkin terdapat lebih dari satu estetika. Dan sebenarnya sangat disayangkan, Aziz memotret perkembangan ini berdasarkan data di atas meja. Aziz kurang memiliki ketekunan sebagaimana yang dilakukan oleh W Haryanto yang selama ini, turun langsung ke bawah dan mengadakan diskusi dengan komunitas-komunitas yang hidup di daerah.

Apa yang ditulis oleh Aziz tentu sangat berisiko jika diletakkan sebagai panduan terkini untuk membaca gelagat sastra Jawa Timur. Ya, tiga aliran yang dibaca oleh Aziz ini hanya sebatas data-data di atas meja dan kurang elok jika harus dilabeli sebagai dunia puisi Jawa Timur dalam konteks yang utuh.(*)

Arfan Fathoni, fungsionaris Sastra Alienasi Rumput Berbasis Independen (SARBI).


Tiga Aliran Puitika Jawa Timur

 photo melgaard_untitledxs_0_34aa3f03263b52f7_zps936c1751.jpg
Untitled 2009, Oil on Canvas 240 x 300 cm by Bjarne Melgaard

F Aziz Manna

Situasi kesusasteraan khususnya perpuisian di Jawa Timur saat ini sangatlah meriah. Bahkan bisa dikata menegangkan. Bagaimana tidak, hingga kini perbincangan sastra (puisi) di Jatim menukik ke arah paling vital.

Menajam pada visi dan ideologi puisi. Tapi secara garis besar, perbincangan yang kerap berujung pertikaian ini terkanalisasi dalam tiga aliran deras. Yakni,aliran para pemeluk teguh puisi gelap, aliran peyakin puisi terang, dan aliran alternatif penganjur suara-suara lain. Aliran terakhir ini lebih cenderung mengarah pada gerakan politik sastra. Meski begitu, mereka tetap melakukannya dengan tawaran estetika. Kanalisasi tiga aliran puitika Jatim ini merupakan kristalisasi dari gerakan sastra sebelumnya. Pada 1993, para sastrawan Jatim memelopori gerakan Revitalisasi Sastra Pedalaman (RSP).

Gerakan ini seakan ingin membuka mata Indonesia bahwa kegiatan bersastra tidak melulu hadir di Jakarta. Setelah itu, berkecambahlah kantong-kantong sastra di Jatim. Berdasar pendataan Komunitas Sastra Indonesia (KSI) yang dilakukan pada Maret 1998 tercatat sedikitnya 167 komunitas sastra Indonesia yang muncul di berbagai daerah dan 33 di antaranya terdapat di Jatim. Menariknya, data itu tidak menyebut tiga nama komunitas yang menghembuskan tiga aliran besar dalam perbincangan sastra terkini di Jatim seperti tersebutkan di atas. Ini berarti, pasca 1998 kian membiak pertumbuhan komunitas sastra di Jatim.

Berdasar pendataan terbaru yang dilakukan Balai Bahasa Jawa Timur pada 2010 terdeteksi sebanyak 114 komunitas sastra yang pernah muncul dan beraktivitas di Jatim. Komunitas ini hampir ada di tiap wilayah Jatim. Para praktisi dan pemerhati perpuisian Jawa Timur pasti mengetahui tiga kelompok aliran deras ini. Meski terkadang sebagian dari mereka tidak mengakuinya secara eksplisit. Aliran para pemeluk teguh puisi gelap dipelopori oleh sekelompok mahasiswa Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Kelompok aliran puisi terang dimotori oleh kumpulan mahasiswa Universitas Negeri Surabaya (Unesa).
Sedangkan kelompok aliran alternatif yang menawarkan suara-suara lain dipenuhi oleh beragam jenis kumpulan, mulai dari komunitas di luar kampus, aktivis, pemerhati seni, pegawai balai bahasa, hingga pedagang, dan pengangguran. Aliran puisi gelap merupakan kelompok yang cukup militan dan solid sampai saat ini. Mereka memulai gerakan puitikanya melalui Forum Studi Sastra dan Seni Luar Pagar (FS3LP) dan Teater Gardu Puisi Surabaya (Gapus) sejak era 1990-an. Hingga kini para personilnya masih berkreasi. Salah satu pemeluk teguh puisi gelap ialah Indra Tjahyadi.

Dalam manifesto puisi gelapnya,Indra meneriakkan kredo: puisi harus didorong ke arah pemaknaan yang paling ambigu, yakni dengan menggelapkan makna. Sebab itulah satu-satunya cara untuk menyelamatkan manusia dari kehancurannya sebab hidup di dunia kini yang telah dipenuhi kebanalan. Arif Bagus Prasetyo dalam catatan kuratorial ‘Forum Sastra Indonesia Hari Ini wilayah Jawa Timur‘ yang digelar komunitas Salihara Jakarta mengakui secara terbuka bahwa sampai hari ini di Jawa Timur belum muncul gerakan puitik yang semilitan dan seserius puisi gelap.

Mazhab puisi gelap mengekspos panorama kegelapan jiwa dengan kadar kepekatan dan kemabukan yang belum pernah terpampang dalam khasanah puisi dari berbagai provinsi lain. Sehingga, kehadiran puisi gelap layak dicatat sebagai kontribusi unik Jawa Timur dalam sejarah sastra Indonesia kontemporer. Aliran kedua yang mulai tumbuh di Jawa Timur ialah puisi terang. Kelompok ini muncul pada era 2000-an dimobilisasi oleh Komunitas Rabo Sore yang bermarkas di Unesa. Kelompok ini mendapatkan suntikan puitik dari penyair kawak dari Gresik, HU Mardi Luhung. Beberapa sosok yang mendiami kelompok ini ialah A Muttaqin, Umar Fauzi Ballah, Dody Kristianto, dan lainnya.

Kelompok ini menyuarakan gerakan puisi terang yang menyuarakan kehidupan manusia sehari-hari dengan bahasa yang komunikatif dan tidak atraktif. Model puitika kelompok ini dipasangkan sebagai ‘lawan‘ puisi gelap. Dalam obrolan mereka yang terekam melalui jejaring sosial, mereka menyepakati bentuk puisi Gokil sebagai identitas mereka. Gokil merupakan sebuah prokem anak gaul yang sering diartikan sebagai gila. Namun kegilaan yang dimunculkan dalam puisi kelompok ini bukanlah penjungkirbalikan logika. Puisi Gokil diterjemahkan dalam kredo mereka sebagai puisi gegojekan atawa begejekan. Sebuah jenis puisi tidak serius tapi serius.

Rahmat Giryadi, sastrawan dan dramawan lulusan Unesa menyebutnya sebagai puisi ‘seGo kiKil‘ (nasi kikil) dan puisi ‘soGOKane upIL‘ (alat pencungkil kotoran hidung). Sebutan Giryadi ini begitu pas untuk menamai gerakan puisi kelompok Unesa yang mengusung keseharian, ketidakseriusan yang serius. Dalam kredo puisi Gokil ini, posisi A Muttaqin ditempatkan paling atas sebagai ketua kelompok, menyusul Timur Budi Raja sebagai wakil ketuanya dan Dody sebagai penanggung jawabnya.

Aliran ketiga yang tumbuh di Jawa Timur merupakan kelompok ‘tengah‘ yang tidak mendukung puisi gelap pun puisi terang ‘Gokil‘. Aliran ketiga ini cenderung membawa suara-suara lain. Menawarkan alternatif bentuk puisi. Sayangnya, kelahiran aliran ketiga ini lebih bernuansa politis daripada puitis. Aliran suara lain ini dimotori oleh Wahyu Haryanto, AF Tuasikal, serta Puput Amiranti. Belakangan ini, aliran suara lain terus mengumpulkan kekuatan dengan menggandeng komunitas-komunitas sastra dan seni di beberapa wilayah di Jatim. Beberapa komunitas itu tersebar di Mojokerto, Lamongan, Jombang, Malang, Madura, dan Surabaya.

Aliran alternatif ini menginginkan adanya revolusi generasi penyair Jawa Timur. Mereka menolak penyair penyair terdahulu dan menawarkan generasi-generasi mutakhir. Meski, generasi mutakhir yang ditawarkan belum memiliki karier panjang. Beberapa penyair alternatif yang coba ditawarkan seperti Abimardha Kurniawan, Fahmi Fakih, Dadang Ari Murtono, Amal Sejati dan lainnya.

Dalam kredo berjudul ‘Regenerasi Penyair Jawa Timur‘, Puput Amiranti menyatakan, apa yang terjadi jika generasi-generasi yang terdahulu tetap berada pada posisi kepemimpinan di atas ,sesungguhnya yang mereka lakukan bukanlah memberikan arah baru atau memberi petunjuk yang lebih baik di masa mendatang melainkan kenikmatan- kenikmatan memorabilia kejayaan mereka dulu yang pernah melegenda namun sekarang tinggal rangkaian cerita yang kerap diulang-ulang.

Puput pun menyuarakan lahirnya generasi muda sastra yang berusaha berdiri di atas pemikiran sendiri tanpa dibayang- bayangi penyair-penyair terdahulu. Aliran alternatif ini meyakini, penyair-penyair muda yang lepas dari penyair-penyair sebelumnya memiliki potensi estetik yang besar dan layak diberi tempat. Ketiga aliran ini merupakan penghuni sah dari peta perpuisian Jawa Timur. Namun yang perlu diingat, sebagai sebuah provinsi para penyair (meminjam isilah kritikus Ribut Wijoto), Jawa Timur haruslah bisa menyemaikan lebih banyak lagi aliran puisi.

Saya meyakini, selama kelompok sastra ini bisa berdialog kreatif tanpa saling membunuh, beberapa tahun ke depan akan bermunculan lagi aliran-aliran baru puisi Jawa Timur. Semoga.

F Aziz Manna, penyair dan anggota Forum Studi Sastra dan Seni Luar Pagar (FS3LP). Esai ini termuat pada harian Seputar Indonesia edisi Jawa Timur, 25 Maret 2012.

@Redaktur SARBI: Dody Kristianto

Puisi Dody Kristianto, Koran Tempo, 10 Maret 2013

 photo _MG_0113copy-1_zps533297ab.jpg

Memendam Jawara

Bila hanya menanam tubuhku, maka tanamlah.
Tapi jangan dengan cara sekadar.
Bila hanya itu dayamu, sungguh urungkan saja.

Aku selalu berjarak dari malam keramat.
Bila kau percaya akan hujan
serupa petarung pertama yang menyerang
maka kubur aku dengan kesempurnaan.

Dengan mengingat kepala
yang terpisah dari badan.

Jangan pernah mengenangku
serupa orang tamat, jangan menumpahkan darah
seolah kau petarung sempurna, jangan.

Yang kau pendam ini tak benar mati.
Aku menunggu saat diingatkan kilat yang nyasar,
dibangunkan dari tidur sementara.

Tentu keliru jika kau memendam
dengan tingkah yang benar sekadar.

(2012)

Kelihaian Tubuh Api

Perihal melayang yang kubilang sedang saja. Masih yakinkah kau bertentang memakai ilmu terbang?

Aku ingin mengulik semua yang tak kau sentuh. Dengan langgamku lamat lagi pelan, dengan tingkahku perlahan namun tenang.

Kuimpikan anasir gerak benar terpancang. Pada langkah pertama, pada ancang awalan, pada tendang terarah.

Ketahuilah, harus jeli aku mendaras kitab matahari. Agar panas itu berumah sempurna dan pukulku yang lepas susah dihempas.

Bila tiba pedih itu mendera badan, ingin aku nyatakan tubuhku tabah dirubung api.

Dan tak akan mudah segala kelewang bermadah di hadap dada, “membukalah, menguaklah yang diselubung pangkal angin, perlihatkan jantung dingin yang mesti lepas dan tumpas.”

Jika sudah tak mempan segala yang tajam bersarang, masihkah kau percaya pada ilmu terbang?

(2012)



Membalik Cakaran

Langkah yang salah, sebab cakaran telah bertandang
dan meninggalkan tanda. Tapi jangan bergeming
dan menunggu hingga terpinggir. Kau mengerti
bila amukannya belum benar reda. Segeralah kembali
pada langkah pertama, kuda-kuda semula
hingga mendekati serangannya tiba. Tahan.
Tunggu ia dekatkan hunjam tikam selanjutnya.
Bertabahlah. Berdiamlah bagai yang tak gentar
dengan gempuran pedang. Hanya yang tenang
yang akan mengingat gerak mengelak cakaran.
Jangan gegabah membikinnya terjotos. Jangan.
Ia yang membantai seratus jawara tentu menyimpan
satu tonjokan untukmu. Takkan ia keluarkan
beragam jurus hingga ancang bertahanmu benar terbuka.
Bila demikian, sia-sialah kau mengingat jurus-jurus awal,
yang benar kau ancang untuk petarung tak terkalahkan ini.
Sungguh jangan menuruti langkah gegabah. Bisa saja
kau serupa petarung tanggung yang mudah diredam olehnya.

(2012)




Tuesday, April 9, 2013

Puisi-Puisi Sayayoshi

 photo philippe-halsman_zps4b6f0f2b.jpg
The Dali Atomicus by Philippe Halsman (1948)


nafas beku neil untuk hoax pendaratan di bulan

nafasku adalah nafasmu
yang inginnya wangi eukaliptus
namun bau sepatu mampus

namun bukan bau sepatu mampus
yang akan membunuh beruang kutub
melainkan pembabat hutan hijau
dan penyemai hutan beton berhati kuncup

mari saudaraku
kita ke kutub utara beku
siapkan mantel dan sepatu salju
kereta salju dan putri salju

mari tiba di sana
atau buat semua orang percaya bahwa
kita pernah tiba di sana.
seperti hoax yang pernah neil lakukan kepada kita.

1832 30042008

(sembari mengganggu blackuniverse yang terus menyala, 

ketika ia terus mengganggu whalerider yang sedang memintal)

tentang seorang santri yang gemar mendengarkan lagu-lagu satanik

ia dengarkan mp3 bajakan itu satu persatu
tentang setan, neraka, jahanam nan syahdu

agar tidak sendiri termangu
di keabadian ruang tunggu

2119 20112008

gembel-gembel bercahaya

siapa yang tidak jenuh kehidupan kota?

tahi-tahi berkendara
yang siap
disergap
tinja-tinja berseragam

para hartawan berlagak gelandangan
berpedang
melawan
gelandangan nan hartawan

siapa yang tidak jenuh kehidupan kota?
tuhan dan pasukan pencolengnya pun demikian

sekonyong-konyong
air bah berebut mangsa dengan
lahar hangat

ketika
gembel-gembel bercahaya
melangkah bersama
seraya berkata
"maaf, hanya penyembah berhala
yang berhak masuk surga."

1602 18112008

Sayayoshi adalah penyair misterius yang mempublikasikan puisi-puisinya pada blog www.gedongproject.blogspot.com serta beberapa blog pribadinya yang lain. Penyair ini juga mendapat perhatian dalam salah satu esai Afrizal Malna. Tiga puisi ini diambil dari blog tersebut.

@ Redaktur Sarbi: Dody Kristianto


Anda Pengunjung ke

SARBI

Tentang Kami

Sastra Alienasi Rumput Berbasis Independen (SARBI) adalah kelompok diskusi yang bergiat mendiskusikan perihal isu sastra, seni, dan kebudayaan terkini dengan mengambil sudut pandang alternatif. Selain itu, SARBI juga banyak menggali pemikiran tradisi negeri sendiri dan konsepsi mancanegara yang diharapkan dapat bersinergi sehingga menghasilkan pandangan kontemporer yang segar. Untuk membuktikan perihal tersebut, kami melahirkan lembar SARBI untuk ikut menghiasi keriuhan dunia sastra, seni, dan budaya serta berharap dapat menjadi oase untuk memenuhi dahaga kita •

Redaksi

Pemimpin Redaksi Sidang Redaksi Sidang Redaksi Sidang Redaksi Sidang Redaksi Sidang Redaksi Penata Artistik

Tinggalkan Pesan

Dokumen Post