Telah Terbit !

Yang sederhana, yang berserakan, yang tak diperhitungkan dan bertebaran di mana-mana, tetaplah harus dirayakan. Spesial SARBI edisi 8 di akhir tahun!

Segera Dapatkan !

Buku Puisi Karya KOMANG IRA PUSPITANINGSIH.

Toko Buku SARBI

Kumpulan buku bekas pilihan yang asik untuk dibaca dan dikoleksi dengan harga bersahabat.

Telah Terbit!

BULETIN TIKAR EDISI 02/2013 Diterbitkan oleh Komunitas Tikar Merah (KTM)

Dapatkan!

Buku Terbaru SARBIKITA Publishing Karya Heru Susanto

Blogroll

Tuesday, May 21, 2013

Pembunuh Cerpenis Adalah Koran

 photo writing1_zps1a4ff2be.jpg
Artwork from www.andinostyles.com

Esai Eko Darmoko

Di suatu kesempatan, seorang kritikus sastra sekaligus prosais Budi Darma pernah mengatakan; bahwa cerpenis sekarang kebanyakan sudah pada mati. Mengenai perkataan Budi Darma ini, tentunya saya mempunyai tafsir sendiri—yang “mungkin” juga sama dengan penafsiran kebanyakan orang.

 Sepenuhnya saya setuju dengan perkataan Budi Darma: Saya memang meyakini, juga menafsirkan, bahwa sekarang ini banyak cerpenis yang mati—tentunya mati bukan dalam arti yang sebenarnya—karena tuntutan jumlah kata atau karakter yang ditentukan oleh koran-koran. Biasanya koran-koran tersebut, paling tidak, memberikan ketentuan (syarat) bahwa cerpen yang akan diterima dan dimuat, misalnya, adalah cerpen yang berkapasitas 1500 kata. Dan tentu saja, syarat ini, secara tidak langsung, akan menjadi semacam “pedang eksekusi” yang nantinya akan mengantarkan para cerpenis ke gerbang “kematian”nya.

Terkait dengan estetika, rasanya cukup saya umpamakan dengan konsep perempuan cantik. Tak perlu saya uraikan secara akademik apa “estetika” itu, terlebih lagi terkait dengan estetika dalam cerpen. Karena, mungkin, akan terkesan berlarut-larut hanya karena persoalan ektetika saja.

Setiap koran berangkat dengan estetikanya masing-masing. Ada yang mengusung masalah sosial yang dikemas dengan wadah realis. Ada yang mengusung masalah-masalah lain yang dikemas tidak dengan wadah realis (surrealis mungkin, atau absurd barangkali). Nah, pematokan-pematokan seperti inilah yang nantinya akan menjadi “pedang eksekusi” bagi si cerpenis. Cerpenis tidak lagi dituntut oleh kapasitas jumlah kata atau  karakter, tapi juga oleh persoalan lain: estetika. Tak bisa dibayangkan; andaikata tidak ada sebuah koran pun yang mau memuat cerpen bergenre realisme-magis seperti milik Danarto. Lantas bagaimana nasib cerpen-cerpen Danarto yang bernafas realisme-magis itu?

Sebetulnya, persoalan yang sampai saat ini belum terselesaikan terkait dengan cerpen adalah: (1) Seberapa panjangkah sebuah prosa dapat disebut sebagai cerpen. (2) Benarkah koran menjadi biang keladi atas kematian seorang cerpenis.
Dua pertanyaan inilah yang, sebetulnya tanpa sering disadari, menjadi persoalan-persoalan atas kelanjutan nasib cerpen dan juga cerpenis di Indonesia. Namun, sebelum menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, marilah  kita tengok sejenak tentang apa, siapa, dan bagaimana istilah “cerpenis” muncul.

Menurut Ajip Rosidi (kalau tak salah; dan semoga saja benar) istilah “cerpenis” untuk pertama kalinya dirumuskan dan diperkenalkan oleh Pramoedya Ananta Toer. Peristilahan “cerpenis”, pada mulanya, pernah  dibantah atau tidak disetujui oleh insan sastra di Indonesia karena terdapat bunyi yang mengesankan atau merujuk kepada alat kelamin laki-laki: “penis”. Namun, walaupun demikian, toh sampai sekarang pun istilah cerpenis masih digunakan oleh insan sastra di Indonesia.

Kembali pada dua pertanyaan di atas—dan kita anggap selesai persoalan apa, siapa, dan bagaimana istilah “cerpenis” muncul untuk pertama kalinya.

(1) Berapa ukuran panjang sebuah prosa hingga dapat disebut sebagai cerpen tentunya tidak bakalan mungkin bisa dijawab. Namun yang jelas adalah cerpen (cerita pendek) lebih pendek ketimbang sebuah novel (tentunya ini bukan jawaban yang cerdas, tapi kita sudah terlanjur memaknai seperti itu). Cerpen adalah sebuah karya sastra berbentuk prosa (kalau tidak berlebihan; dituturkan secara lugas) yang terdiri hanya satu konflik dan satu jalinan plot. Lain halnya dengan novel yang memiliki konflik lebih dari satu, lebih rumit, juga jalinan plotnya tidak sesederhana dalam cerpen. (2) Saya menyatakan benar adanya jika keberadaan koran adalah biang keladi dari matinya seorang cerpenis. Seorang cerpenis, yang ingin cerpennya dimuat oleh koran tertentu, pasti akan mengikuti syarat-syarat yang diajukan koran bersangkutan. Dengan daya ciptanya si cerpenis akan menuruti batasan-batasan itu. Dan, secara tidak langsung, jika saya tidak berlebihan, idealisme dan pandangan estetika si cerpenis akan terbunuh oleh “pedang eksekusi”: inilah yang disebut sebagai kematian seorang cerpenis—mati di kolom cerpen sebuah koran.

Mari kita tengok cerpen-cerpen yang (pernah) dimuat oleh koran-koran nasional—karena saya anggap koran nasional sudah menjadi kiblat terkait dengan kepakeman sebuah cerpen. Yang terutama, tentu saja, adalah koran Kompas (karena di setiap tahunnya selalu mengeluarkan buku kumpulan cerpen terbaiknya yang diambil dari cerpen-cerpen yang terbit di hari minggu). Cerpen-cerpen yang termuat di koran Kompas, tentunya, memiliki kapasitas jumlah kata yang seperti itu (silakan lihat sendiri di Kompas hari minggu atau buku kumpulan cerpennya yang sudah diterbitkan). Tentunya ini sudah menjadi pakem koran Kompas mengenai cerpen yang bagaimana yang pantas dimuat. Selain itu—selain persoalan kapasitas kata atau karakter dan persoalan estetika, ada persoalan lain, yakni terletak pada jati diri si cerpenis sendiri. Biasanya, koran-koran besar berskala nasional agak pilih-pilih dalam menentukan karya cerpenis siapa yang bakalan dimuat. Mereka (redaktur) selalu silau dan terpukau dengan nama-nama “besar”. Dan saya memang setuju; bahwa cerpenis dengan nama “besar” adalah cerpenis-cerpenis yang tidak boleh diragukan lagi kehebatannya—mereka sudah memiliki jam terbang yang sangat tinggi serta terjamin kualitasnya. Akan tetapi, dan juga harus direnungkan kembali, kasus seperti inilah yang pada dasarnya akan (semakin) membunuh cerpenis “pemula”—toh bukan berarti yang pemula adalah yang jelek: asalkan punya kemauan, tak ada salahnya, kan?

Usaha koran Kompas untuk mendokumentasikan cerpen-cerpennya ke dalam sebuah buku kumpulan cerpen adalah, bisa dikatakan, sebagai sebuah jembatan atau bisa juga dimaknai sebagai sebuah pergeseran selera dan makna.
Buku kumpulan cerpen terbaik Kompas adalah jembatan penghubung yang menghubungkan atau mempertemukan antara geliat “sastra koran” dengan khazanah “sastra serius”. Dan, seolah-olah, sebelum memasuki khazanah “sastra serius”, para pelaku sastra serta aktivis sastra dituntut terlebih dahulu untuk, mau tidak mau, bertempur di medan perang yang dinamakan “sastra koran”.
Cerpen-cerpen yang dulunya pernah muncul di koran kompas edisi minggu, yang jika tidak berlebihan, masih dipandang remeh karena sifatnya yang sementara (koran), kemudian yang “bernasib baik” akan dimasukkan kurator ke dalam buku kumpulan cerpen terbaik. Dari sinilah terjadi pergeseran makna: “sastra koran” yang sifatnya sementara menjelma menjadi “sastra serius” yang terkemas dalam sebuah buku. Sedangkan pergeseran selera dapat diartikan: “sastra serius” (dalam bentuk buku) adalah sebuah model pelarian dari kejenuhan (keengganan) pembaca dalam membaca “sastra koran” yang sifatnya masih sementara—tak jarang lembaran koran akan dipakai sebagai pembungkus nasi atau makanan lalu terbuang di tempat sampah. Dengan kata lain, “sastra serius” lebih berwibawa ketimbang “sastra koran”. Namun, mengapa “sastra koran” masih diburu dan diminati para cerpenis? Bukankah hal ini akan menjadi boomerang bagi mereka—mati. Mereka akan (selalu) mencoba mengikuti pematokan-pematokan yang ditetapkan koran-koran.

Saya merasa geli jika harus mengingat dan membayangkan: andaikata cerpen-cerpen Pramoedya Ananta Toer yang terkumpul dalam Cerita dari Blora dan Cerita dari Jakarta serta cerpen-cerpen Budi Darma dalam kumpulan Orang-orang Bloomington pernah dimuat di koran dalam sekali pemuatan (tidak bersambung). Tentunya hal ini akan menghabiskan jatah kolom dan halaman.

Dipublikasikan di Surabaya Post, 28 Juni 2009 dan diambil dari komunitascdr.blogspot.com

NB : Sewaktu diterbitkan di Surabaya Post, esai ini memang dimaksudkan untuk memancing wacana. Alhasil, beberapa tanggapan bermunculan atas esai ini. Esai kawan saya ini terbit secara bersambung di Surabaya Post, tanggal 28 Juni dan 5 Juli 2009. Entah, bagian di atas ini sudah lengkap atau hanya seri pertama saja.

@ Redaktur SARBI: Dody Kristianto

Sunday, May 19, 2013

Sajak-Sajak Nanang Suryadi

 photo img256copy_zpsfc1664b3.jpg
Ilustrasi Karya Nurul Putri untuk SARBI
Ada yang Menghitung Butir Hujan
ada yang mencoba menghitung butir butir hujan. satu demi satu. di sore yang lembab. adakah airmatamu? adakah rindu yang menggerutu. menunggu.

puisi menjelma permainan kanak. masa lalu yang ingin kau rengkuh. kebahagiaan serupa bayang bayang. yang jauh. yang rapuh.

secangkir kopi. sobekan kertas koran minggu. sajak yang tak sempat kubaca. kanakkanak membuat perahu. aku? menghitung butir hujan. menghitung waktu yang sia sia. menghitung usia yang memutih rambut. menghitung langkah menuju. menuju Tuju!
Marcopolo : fragmen sebuah film
marco, di padang rumput di padang gurun apa yang dicari? catatan catatan yang terus ketelusuri, dalam keringat dan debu. negerinegeri jauh. di negerinegeri yang riuh, mungkin hanya sunyi menyelinap, rindu yang tak terkata, sebagai luka yang selalu nganga. pada tapak yang mungkin retak, jejak petualang, sisakan nyeri rindu arah pulang. tapi jalan yang mana kan sampai? rindumu nyeri.

tuan, inikah negeri dimana kan ditemukan keping luka kan terobati oleh cinta. rindu yang nyeri membawaku ke sini, menata peta di tebingcuram. khan yang agung, kau tahu kuping mengkhi disimpan siapa? negeri yang tak kau kenali menyimpan rencananya sendiri.

marco, lelaki barbar dari venice, aku kublai khan cucu genghis khan penakluk dunia. Catatlah namaku, catatlah. dengan rindumu yang nyeri, negeri negeri yang kau kunjungi, catatlah. timur membawa cahaya ke barat yang gelap. aku, khan mengajarkanmu. deru dan debu, ringkik gemeretak tapak kaki kuda, silam yang riuh. kutaklukkan negeri negeri. kutaklukkan rindu yang nyeri.

marco, marco, catatlah tak ada pengkhianatan yang tak akan mendapat hukuman! unia harus diberi aturan, timur lebih beradab dari barat yang biadab, marco. aku khan yang agung mengajarkanmu.

Tentang Mimpi Penyair yang Tak Segera Ingin Tidur
bersama pringadi & yayan triansyah

(1)
ah, engkau penyair. mengapa tak segera tidur. terlelap. dan bermimpi menulis puisi. puisi yang kau tulis di dalam mimpi telah ditakwilkan dalam kitab primbon mimpi. berlapis mimpi seperti kue lapis yang manis legit dimakan saat kau lapar puisi

(2)
insomnia. amnesia. kau lupa mana kata yang harus kau ucapkan saat kau lupa untuk segera tidur karena lupa mana kata yang tepat untuk mengatakannya dan kini kau coba mengingat ingat insomnia atau amnesia. dan kau lupa untuk tidur segera.

(3)
ada yang membawa mimpinya ke dalam puisi yang ditulisnya di dalam mimpnya malam tadi. saat dia terbangun puisinya masih terus ingin bermimpi.

(4)
di dalam puisinya ia menata mimpi agar kata kata tersusun rapi diksi demi diksi yang serasi seperti puisi dalam mimpinya malam nanti

* Nanang Suryadi, lahir di Serang, 8 Juli 1973. Buku puisi terbarunya berjudul Cinta, Rindu, & Orang-Orang yang Menyimpan Api dalam Kepalanya. Sekarang bekerja sebagai staf pengajar di Fakultas Ekonomi Universitas Brawijaya.

Dimuat Lembar Sastra SARBI edisi #4, Agustus 2011

Aforisme Phytagoras

 photo AforismePhytagorascopy_zps099f9981.jpg
Ilustrasi Oleh Reza Maulana untuk SARBI

-Oleh Diekey LaliJiwo-


Kuantitas forum diskusi malam itu memang agak renggang, beda halnya dengan kalkulasi antusias forum diskusi lainnya. Walaupun memang terkesan lebih sunyi, akan tetapi ada kegaduhan tersendiri dalam masing-masing alam pikiran kami. Awalnya memang agak lucu, ketika kami mengundang beberapa kawan. Mereka menyangka pembahasan tentang Pythagoras beserta refleksinya, hanya akan sharing seputar serangkaian pelajaran masa lampau tentang rumus matematika. Pada akhirnya kami hanya bisa saling memaklumi bila filsafat yang akan kita pelajari dalam “ngupil” malam ini hanyalah renik terkecil dari kebesaran ilmu itu.
Suasana di luar ruangan dingin, aroma  tanah basah berpelukan mesra dengan musikalisasi gerimis yang selalu setia mengiringi ngerumpi perihal filsuf alam malam itu. Di awal suasana forum terkesan beku, kemudian kita menyepakati untuk meraba abad sebelum masehi itu dari sisi sejarah ruang hidup Pythagoras.
Ngerumpi diawali percikan tentang Samos yang merupakan suatu negara saingan dagang Miletus. Samos di pimpin oleh Polycrates, seorang bandit tua penguasa lautan. Bajak laut tersebut sedikit merasa beruntung, ketika pada akhirnya Miletus berhasil ditaklukan oleh Persia. Namun, karena ketakutannya akan serangan dari Persia. Polycrates mencoba bersekutu dengan Amasis raja mesir. Ternyata si Cambysses raja Persia itu malah mengirim seluruh kekuatan bala tentaranya untuk menghancurkan Mesir. Maka, munculah siasat dari Polycrates untuk berpindah kubu. Akhirnya Polycrates ikut-ikutan mengirim bala tentaranya untuk menyerang Mesir. Pascakejadian penyerangan itu, seorang penguasa Persia di Sardes mengatakan pada Polycrates bahwa ia akan memberontak pada maharaja dan akan memberi imbalan seandainya Polycrates ikut membantunya. Karena kerakusan Polycrates pada harta, dia akhirnya pergi ke Persia untuk merundingkan hal itu yang ternyata justru mengakibatkan Polycrates ditangkap dan disalib.
Menurut Betrand Russel, Pythagoras sudah hidup di samos kira-kira pada tahun 532 SM. Ada dua versi tentang asal-usul Pythagoras. Ada yang mengatakan jika dia adalah anak seorang terkemuka bernama Mnesarchos dan ada pula kalangan lain yang mengatakan bahwa dia adalah anak Dewa Apollo yaitu seorang dewa tertampan.
Pythagoras tidak menyukai sistem pemerintahan Polycrates. Hingga Pythagoras berupaya pindah ke Mesir. Tapi entah bagaimana caranya pada akhirnya dia melakukan perpindahan lagi ke Croton. Nah, di Croton itulah dia mendirikan suatu perkumpulan agama. Perkumpulan tersebut dengan cepat dapat mempengaruhi Croton. Namun, pada akhirnya malah warga Croton lebih banyak yang tidak menyukainya. Kemudian Pythagoras berpindah lagi ke Metapontion, tempat di mana kelak dia akan mati. Ajarannya berkembang pesat di sana. Awal mula Pythagoras menyebarkan ajaran tentang perpindahan jiwa. Bagi Pythagoras, tak ada kematian bagi setiap jiwa, ketika kematian tubuh tiba maka yang terjadi ialah mekanisme kelahiran kembali lewat jenis makhluk hidup lain, maka tak ada yang dilahirkan dalam keadaan yang sepenuhnya baru. Maka, selain mendengungkan ajaran pada kaumnya, ia kerap kali ikut mengkutbahi hewan. Mengenai ajarannya ini Xenophanes seorang filsuf setelahnya mengejeknya. Ketika Pythagoras bertemu dengan seseorang yang akan membunuh anjing, Pythagoras menghampirinya dan menyatakan jangan membunuh anjing itu. Dia adalah temanku. Aku mengetahui dari lolongannya. Bisa dikatakan ajaran Pythagoras adalah pembaharuan dari agama Orphis yang sudah ada sejak zaman Thales.
Orphisme sendiri hadir ketika masyarakat mengagungkan Bacchus. Ada dua versi mengenai kelahiran kembali Bacchus. Setelah Bacchus di bunuh oleh brigade Titan hanya menyisakan jantungnya saja. Beberapa kalangan menyatakan bila jantung itu dimakan oleh Semele yang kemudian melahirkan Bacchus kembali. Ada pula kalangan lain yang menyatakan bila akhirnya Zeus yang memakan jantung itu, kemudian Zeus melahirkan kembali Bacchus.
Disinilah awal ajaran tentang perpindahan jiwa. Dalam ritual untuk memuja Bacchus, kaum Orphis membantai hewan kemudian menyisakan jantungnya saja, lalu memakan hewan itu dalam keadaan mentah secara kolektif. Hal itu dilakukan semata untuk memperingati kisah pembantaian Bacchus oleh Titan. Dalam ajaran lain Orphis, sekte Asketis yang dianut oleh Pythagoras, karya yang menjadi milik bersama dan terdapat penyetaraan kedudukan wanita. Sementara makna anggur pada massa itu ialah suatu wujud penyatuaan diri dengan Bacchus berupa antusiasme. Bisa dikatakan Pythagoras adalah pemantik unsur Orphisme bagi Plato dan beberapa filsuf selanjutnya.
Pythagoras adalah orang pertama yang mengaitkan matematika dengan sesuatu yang bersifat mistis. Banyak orang sering menyebutnya sebagai seorang intelektual yang ganjil. Bagi zaman itu, matematika dianggap sebagai argumen kontemplasi. Kemudian, ketika bilangan itu sudah jelas tanpa sanggahan, sesuatu yang mistis itu pun bisa dianggap selesai. Metafisika dari argumen Pythagoras, yaitu ketika dia menyatakan bahwa segala sesuatu  ialah bilangan-bilangan. Teorema Phytagoras berasal dari aksioma-aksioma yang jelas dengan sendirinya. Epistemnya ketika dia mencoba mengorelasikan argumen aritmatika dengan sesuatu yang mistis sebagai bentuk kontemplasi, maka pengetahuan tentang angka-angka menjadi sesuatu yang utama. Dapat dikatakan bahwa matematika merupakan sumber pengetahuan yang eksak dan abadi. Sementara aksiologinya ketika angka dianggap sebagai nilai paling dasar dan paling penting. Oleh sebab itu, tidak heran bila epistemologi Pythagoras dijadikan sebagai ilmu pengetahuan sampai saat ini.    
Salah satu teman sharing ngupil malam itu, Dedi, mencoba menganalogikan bentuk pengaitan aritmatika dengan sesuatu yang mistis. Misalnya lewat perhitungan pengadu ayam, dengan melakukan perhitungan arah mata angin atau pun hari yang melalui serentetan hitungan matematis. Hingga pada akhirnya para pengadu ayam itu menyepakatinya. Tentunya dengan pola patuh terhadap hitungan itu, akibatnya dia harus mengikuti pola menghadap kemana hari apa ketika beradu ayam. Tentu saja tidak sepenuhnya benar, sama halnya dengan BMG yang meramalkan keadaan cuaca lewat perhitungan matematis. Atau hal lainya seperti bentuk pengkodean hasil studi lewat IPK, memang terlihat sedikit aneh bagi manusia modern seperti kami. Berbagai macam bentuk keaktifan kita dalam bangku kuliah hanya dihitung sebatas ukuran matematis. Maka dari itu, Pythagoras disebut Russel sebagai intelektual yang ganjil atas upayanya mengkombinasikan matematika dengan teologi. Hingga memiliki persamaan dengan Einstein dan Ny. Eddy sekaligus berada ditengah-tengah keduanya. 
Selanjutnya pembahasan ngupil malam minggu tersebut beralih dalam ranah pelacakan makna realita. Dalam artian bagaimana Pythagoras memandang semesta. Seperti salah satu argumen metafisiknya ketika dia beranggapan segala sesuatu adalah bilangan-bilangan. Pelacakan tentang Pythagoras pun tak berhenti sampai di situ, bahkan forum malam itu mencoba menggali tentang pemaknaan kebenaran bagi Parmenides dan Heraklitus. Dimana Parmenides menganggap sesuatu yang dapat dipercaya itu harus bersifat tetap. Heraklitus sendiri berusaha memunggunginya dengan mengatakan justru yang selalu berubah menjadi itu, adalah kebenaran. Di sana dapat dikatakan si Pythagoras masih beranggapan tentang sesuatu yang dapat dipercaya seperti halnya Parmenides. Ilmu pengetahuan yang didapat dari pemikiran yang dianggap dapat dipercaya. Maka, Pythagoras menganggap sesuatu yang diperoleh oleh indra tak lebih dari ilusi semata. Hingga bila pun yang ada dalam pikiran tak sesuai dengan kenyataan, maka haruslah yang dalam pikiran itu dipaksakan agar dipercaya dalam alam nyata.
Pengaitan matematika dengan sesuatu yang mistis itu memang agak sulit dimengerti oleh manusia modern seperti kami. Sampai pada akhirnya Dedi, mencoba untuk berjalan-jalan di dunia kontemporer dengan harapan menemukan kesamaan sifat dengan ruang manusia modern. Misalnya dengan analoginya tentang kepercayaan versi Heraklitus.
Dedi mencoba mengambil contoh terdekat. Misalnya ada mahasiswa yang terlibat dalam organisasi ekstrakampus namun mahasiswa tersebut menyatakan dirinya ada dalam lingkaran itu dengan alasan ingin berproses. Nah, disana akhirnya muncul konsepsi kebenaran ala Heraklitus. Sesuatu yang selalu berubah menjadi. Sedangkan menurut Dedi, tiap organ ekstra mempunyai ideologi yang mana itu dipandangnya sebagai sesuatu yang tetap. Biasanya salah satu alasan personal yang tergabung dalam organ ekstra, tidak lain karena ingin berproses. Maka seketika jawaban instan para penganut organ ekstra tersebut akan runtuh ketika mereka membeku para sesuatu kebenaran yang bersifat tetap. Sama halnya terlibat dengan organ tersebut malah membunuh prosesnya.
Akan tetapi analogi tersebut hanyalah contoh semata untuk meneropong gagasan Heraklitus dan Parmenides. Sedangkan bentuk pembenturan kedua versi metode pencarian kebenaran yang dapat dipercaya tersebut mustahil adanya. Analogi lainnya dari Dedi, seperti misalnya ketika kita mengenal tuhan hanya lewat bahasa yang diwujudkan dalam bentuk satu. Hal tersebut merupakan pengepulan tentang pandangan terhadap sesuatu yang ada dalam bentuk bilangan.
 Namun sejauh apapun meraba-raba pemikiran beberapa filsuf alam malam itu. Tentu saja masih dirasa forum hanya mampu menjangkau serpihan terkecil dari kebesaran filsafat. Sebagaimana mestinya jika segala hal tentang kebenaran tak lebih dari sekerdar asumsi sesaat saja.[]


·   DiekeyLalijiwo, lahir di Surabaya, 3 November 1989. Mahasiswa Sastra Sejarah Universitas Jember. Bergiat pada LPM Ideas.

 * Tulisan ini hanyalah review sederhana dari diskusi ngupil yang dihadiri oleh beberapa jenis elemen mahasiswa Jember, diskusi seputar filsafat ini biasa disebut “ngupil” (ngerumpi pilsafat). Kebetulan ngupil malam itu bertempat di sekretariat Lembaga Pers Mahasiswa Prima Fisip Univ. Jember tepat malam minggu (12/3/11). Sekitar jam delapan malam sampai sekitar setengah dua belas malam. Entahlah berapa kuantitas kuota forum yang hadir di malam yang basah itu.
* review sederhana ini disarikan dari diskusi ngupil (ngerumpi pilsafat) yang kebetulan bertempat di secretariat Lembaga Pers Mahasiswa Prima Fisip Univ Jember tepat malam minggu (12/3/11)

Dimuat Lembar Sastra SARBI edisi #4, Agustus 2011

Puisi-Puisi Dody Kristianto, Kompas, 13 Mei 2013

 photo _MG_0534copy_zpse00abe9a.jpg

Tarung Tenung

Puh, berkelit ataukah mengelak, ini hanyalah tingkah sekadar
pengganyang yang berserah pada daya kaum gentayang.

Kau yang mengimani teluh. Telah pula kau sawur
kembang mawar, melati, kenanga, kantil, hingga
aroma sigaret menyan yang mengundang tentara
tak tampak pandang.

Sebenarnya, ingin kukembalikan semua pada tarung belaka.
Harus melangkah pulang sawan yang kau semburkan,
harus beranjak pisau yang kau tanam dalam badan.

Lalu bagaimana semua tuntas bila kita tak beradu?
Tak ada bentur, tak ada gelut, tak ada geliat liat.
Dan kita serahkan semua pada tiup. Pada anasir
yang menebar ranjau-ranjau di udara

Wahai, kau yang menyerap tuba di penghujung liang,
lidahmu berbenih celaka, taringmu mengundang bahaya.
Haruskah kusemayamkan paku ke tengah gedebok pisang.
Agar kelak kau dapat mengerti, tanpa mencakar
dapat tembus logam dalam jantungmu, jantung peniup teluh
yang membangkitkan semut rangrang dalam lambungku.

(2013)

Memedi

Bismillahi, aku menunggu dengan tingkah sopan.
Kutaheskan badan lemah gemulai ini agar terbiasa
menerima sembur darimu. Sebagai yang kasat
dan tak kebal dari godaan, kupercaya kegaiban.
Kugedruk bumi tujuh kali dan kutunjuk langit
sesekali.

Keluarlah, mentaslah, bertarunglah.

Pastinya, aku pantang menyalakan lilin. Tak ada
komat kamit, bau menyan, hingga darah jago
yang terbelah. Gemetarkah aku? Tidak!
Meski rupamu tak kutangkap dalam cermin.

Sekali lagi, ini malam Jumat penghabisan.

Kuberucap basmallah pertama. Kusuwukkan
ke dalam kelewang. Agar aku yang lemah belaka
dapat menyigar tubuhmu. Atau jubahmu.
Atau batangmu. Atau segala tampak yang kusangka
kamu. Aduhai, sanak kadang pengganggu.

Ingin kutuntaskan kutuk dan sumpah serapahmu dulu.

(2013)



Menyambut Jenglot

Kamu kelana dan kami penyergap
Kamukah sesungguh jantung hati?
Tak maukah berubah selayak kami?

Tapi diammu langgam mengancam
Harus jeli kami memahami perilaku rahasia,
Penganut langkah rahasia dari kitab rahasia.
Juga pengucap doa rahasia dalam ayat rahasia.

Kemarilah,
bersepakatlah dengan sebatang dupa
sebatang yang gemar mengantar
segala rupa tak ada.

Kami mengamini. Perjumpaan berdua bukan perkara
menumpahkan darah. Tanpa perlu bimbang, kami rela
bertukar rupa. Masuklah, berapa banyak menyan
yang kami sembahkan agar kamu yang diam
mau bertandang?

Kemarilah,
sebelum pagi menunjuk pukul dua.
sebelum kami gedruk tanah dalam gerak
tujuh langkah

(2013) 
  


Genderuwo  

Siapa yang mau menemaniku? Kamu? Atau sesuatu
di luar kamu? Yang menerawang di sebalik kancut?
Yang mengincar dan ingin keluar dari cawat? Serta
menyiapkan kegawatan kunam sebagai serbuan awal.
Ketahuilah, aku perawan yang tak pernah gemetar.

Memang, aku pikir pula kita bernama sama. Bertubuh sama.
Dan berasal dari malam sama. Lama aku hindari
segala tarung. Agar temu malam ini semesra perjamuan lalu.
Kamu peyakin ikhwal awal kewingitan. Aku pemuja yang pasrah
pada yang mengendap. Jangan lagi tergesa. Jangan lagi lewat
dengan cepat.

Aku telah mengamankan segala kitab ajian. Aku simpan
agar sempurna semua penyatuan. Serupa sepasang angsa
mengambang pelan. Lepaskan. Lepas segera satu selubungmu
tersisa. Kita akan berjalan berdua. Berjalan menuju pagi
yang tak kembali

(2013)


Anda Pengunjung ke

SARBI

Tentang Kami

Sastra Alienasi Rumput Berbasis Independen (SARBI) adalah kelompok diskusi yang bergiat mendiskusikan perihal isu sastra, seni, dan kebudayaan terkini dengan mengambil sudut pandang alternatif. Selain itu, SARBI juga banyak menggali pemikiran tradisi negeri sendiri dan konsepsi mancanegara yang diharapkan dapat bersinergi sehingga menghasilkan pandangan kontemporer yang segar. Untuk membuktikan perihal tersebut, kami melahirkan lembar SARBI untuk ikut menghiasi keriuhan dunia sastra, seni, dan budaya serta berharap dapat menjadi oase untuk memenuhi dahaga kita •

Redaksi

Pemimpin Redaksi Sidang Redaksi Sidang Redaksi Sidang Redaksi Sidang Redaksi Sidang Redaksi Penata Artistik

Tinggalkan Pesan

Dokumen Post