Telah Terbit !

Yang sederhana, yang berserakan, yang tak diperhitungkan dan bertebaran di mana-mana, tetaplah harus dirayakan. Spesial SARBI edisi 8 di akhir tahun!

Segera Dapatkan !

Buku Puisi Karya KOMANG IRA PUSPITANINGSIH.

Toko Buku SARBI

Kumpulan buku bekas pilihan yang asik untuk dibaca dan dikoleksi dengan harga bersahabat.

Telah Terbit!

BULETIN TIKAR EDISI 02/2013 Diterbitkan oleh Komunitas Tikar Merah (KTM)

Dapatkan!

Buku Terbaru SARBIKITA Publishing Karya Heru Susanto

Blogroll

Saturday, January 18, 2014

Sastra(wan) dan Ekonomi

 photo soviet_poster_tp09_0_zps334a7e3e.jpg
 Fig.1  I’m bored at home; I’m happy in the crêche!
Soviet poster 1930s
© London School of Economics and Political Science 2007 Coll Misc 0719-16

Oleh Umar Fauzi Ballah

Ada sebuah perbincangan yang menjadi laten dalam beberapa "pemikiran" penulis kita dewasa ini—walaupun dugaan ini telah terjadi jauh sebelum ini—yakni pemuatan karya di media cetak. Dalam berlomba-lomba agar karya itu dimuat, faktor honorarium dari media menjadi hal yang tidak bisa dikesampingkan. Fenomena itu yang tidak sedikit dibicarakan di sosial media, misalnya, di grup Facebook, "Sastra Minggu."
Faktor ekonomi sebagai wilayah oportunis pada dasarnya tidak hendak berlawanan dengan wilayah kesusastraan sebagai produk yang lahir dari wilayah idealisme. Sebagai sebuah produk kesenian, harga bagi sebuah karya adalah salah satu wujud apresiasi. Hal ini berlaku dalam bidang seni apa pun. Setidaknya, hal ini untuk mengukuhkan fitrah bahwa aspek ekonomi adalah salah satu kebutuhan primer manusia.
Selain faktor honor sebagai bentuk pemuasaan diri, pemuatan karya di media cetak adalah kepuasaan itu sendiri. Karena itu, dan ini biasa dialami penulis pemula, mereka senang-senang saja ketika karya mereka dimuat walaupun honor tidak mereka dapatkan yang entah bisa terjadi karena proses birokrasi atau kecurangan pihak media atau memang tidak ada dana untuk ketentuan pemuatan tersebut.
Media cetak tidak dapat dipungkiri adalah penasbih seseorang bisa disebut sastrawan, baik itu penyair maupun pengarang. Sampai di sini sudah terjadi pengelompokan dan kelas-kelas sebagaimana konsep Karl Marx. Dahulu, pada tahun 1980-an, ada anggapan bahwa belum sastrawan jika karyanya belum dimuat majalah Horison. Anggapan ini kemudian dipecah oleh Nirwan Dewanto yang mengalihkannya pada media harian semacam koran Kompas sebagaimana pernyataan Nirwan dalam buku Pelajaran Mengarang, Cerpen Pilihan Kompas 1993:
“Harus kita akui, bahwa cerpen-cerpen terbaik di Indonesia selama lima tahun terakhir muncul di Kompas dan di Matra, bukan di (majalah sastra) Horison. Sungguh mengagetkan, begitu kita menyadari tiba-tiba, bahwa ‘kesehatan’ sastra kita amat bergantung kepada para redaktur cerpen itu. Tapi juga menggembirakan, kalau dengan itu para penulis cerpen dibebaskan dari (sebagian) tradisi sastra yang membelenggu.”
Fenomena dan mainstream ini terus berlanjut sampai saat ini. Dan, hari Minggu adalah hari sastra Indonesia. Maman Mahayana menyebutnya sebagai hari cerpen Indonesia. Sastra Indonesia memang terus berada dalam mitos-mitos tersebut sampai saat ini. Akan tetapi, lebih dari itu, dugaan saya adalah mitos itu tercipta bukan hanya pada relasi kekuasaan, melainkan juga relasi ekonomi.
Kompas, misalnya, memang dengan sadar telah menciptakan sebuah inovasi bagi tradisi kepengarangan yang masih kukuh sampai saat ini, yakni membukukan cerpen terbaik selama rentang setahun. Pada dasarnya, ini adalah tradisi turunan di mana Horison pun pernah melakukan hal serupa walaupun dalam bentuk yang lebih general.
Lalu, benarkah asumsi Nirwan 20 tahun yang lalu itu? Kenyataannya memang demikian. Suka tidak suka kondisi itu terus berlanjut. Pengarang-pengarang ternama di Indonesia mengirimkan karya terbaik mereka ke koran Kompas. Apakah kerja redaktur kemudian dipengaruhi nama-nama besar tersebut? Kita tidak bisa dengan serampangan menjawabnya dengan kemungkinan tersebut.
Kemungkin yang bisa saya buat adalah dengan melihatnya dalam relasi ekonomi. Tidak bisa dipungkiri bahwa beberapa media ini: Kompas, Koran Tempo, dan Jawa Pos adalah penguasa media nasional yang jangkauannya pada masyarakat lebih luas, pun dalam hal penghonoran.
Saya membayangkan pada kerja seorang sastrawan yang produktif. Begitu kerja selesai, selanjutnya pada proses penerbitan karya, dalam hal ini pemuatan ke media. Anggaplah seorang pengarang menciptakan dua buah cerpen. Seorang pengarang bisa dipastikan memahami bahwa karya berjudul A lebih baik daripada karya berjudul B.  Maka, wajarlah bahwa karya A itu akan dikirim ke koran yang mutu dan honornya juga baik. Dengan demikian, bisa dibayangkan bahwa sebuah koran sekelas Kompas pada dasarnya menerima karya dari pengarang-pengarang yang karyanya sejak awal terseleksi pengarangnya sendiri sebagai yang terbaik. Tentu saja, dugaan ini masih perlu diteliti lebih intens. Misalnya, kita bisa membandingkan kualitas cerpen seorang pengarang yang sama ketika karyanya dimuat di Kompas atau Jawa Pos dan media yang lain. Pembacaan itu sebenarnya lebih mudah mengingat beberapa buku cerpen mencantumkan riwayat pemuatan.
Selain itu, faktor estetika atau tampilan koran juga punya andil besar. Dalam pemuatan puisi, hal ini akan lebih terasa. Sebuah koran yang kurang memperhatikan pentingnya tipografi akan membuat tampilan sebuah puisi berubah dari tipografi yang semula dihadirkan penyair. Dari pembacaan ini, kita bisa tahu bahwa karya seni, seperti puisi yang memperhatikan detail penulisan, ternyata bisa rusak oleh tata letak koran yang serampangan. Dari sini, tampaklah kerja intelektual seorang redaktur dan lay outer. Dalam kerangka yang lebih besar, bisa kita baca manakah media yang betul-betul memiliki kepekaan budaya.
Relasi ekonomi dengan kualitas karya tidak bisa dipisahkan. Sebuah media yang besar dan dengan dukungan keuangan yang besar telah menciptakan sebuah ruang yang nyaman bagi pemuatan karya seperti cerpen dan puisi tanpa diganggu kehadiran, misal, keterdesakan oleh iklan. Pengarang sebagai kreator tentu akan mempertimbangkan hal tersebut sehingga wajarlah bila pengarang memilih media tertentu untuk karyanya yang dianggap bermutu.
Berbicara mainstream sastra koran, dahulu pernah ada Surabaya Post yang dianggap bermutu dengan honor yang cukup besar pada zamannya. Bersamaan dengan "bangkrutnya" Surabaya Post, nasib kualitas karya sastra di sana pun turut raib. Dari sini saya pun menduga bahwa tumbangnyaHorison bisa karena faktor honorarium yang sudah “tidak berkualitas.” Hasilnya, beberapa pengarang memilih mengirimkan karyanya pada media yang lebih baik. Bukankah ini sama halnya dengan analogi seni rupa? Sebuah lukisan yang berkualitas, tentu akan mendapatkan harga yang pantas, baik secara ekonomi maupun sejarahnya.
Saya tidak hendak melakukan proses berpikir generalisasi. Peran atau selera redaktur tidak bisa dipisahkan. Namun, saya tetap percaya bahwa estetika tetap memunyai nilai universal, pun terlepas dari sudut pandang politik sastra Indonesia.
Setidaknya, ada sebuah pemakluman dari kisah hidup Chairil Anwar. Konon, puisinya yang kemudian disebut saduran awalnya adalah sebuah proses penerjemahan yang dilakukan Chairil Anwar. Namun, karena keterdesakan ekonomi di mana honor sebagai penerjemahtidak lebih besar dari karya asli, dia pun membelot sekian derajat untuk menghapus karya tesebut sebagai terjemahan menjadi karya dirinya.


*) Umar Fauzi Ballah pengajar di Ganesha Operation Sumenep
    dan pengelola Lembar SARBI.

    Twitter @uf_ballah.
 


 

Puisi-Puisi Dody Kristianto di Jawa Pos, 29 Desember 2013

 photo 1512719_10201444355540241_1836760204_n_zps02fe74e2.jpg

Menyimak Ancangan Lesat
-          Teruntuk Midori Makibao

Demi depan belaka, demi yang tak mau terdahulukan,
demi yang enggan dilampaui bayangan sekalipun, kau
berwasiat tentang kebaikan cepat.

Percayalah, dengan kekukuhan kayuhan kaki. Langit
di kepala mungkin tak lebih dari buah jatuh yang makin
dekat. Percayalah, dengan kaki kiri kanan yang lihai
menggagahi pedal. Tanah di bawah seolah bersyahadat
mengangkat yang gemar berbalap.

Katakanlah, apa ini perilaku penyampai yang bermunajat
menibakan yang cepat dengan segenap keajaiban?

Sekali lagi, ingin kutampik pelbagai perihal gaib
dari pandangan sebelum kumulakan ibadah perlesatan.
Maka, sah dan halal kata-kata : segeralah menyingkir
tiga memedi di belakang, harus ngacir lima pocong yang baris
di pertengahan lintasan, lebih-lebih, wajib tersalip sepasang
danyang yang mengurus laju jalan depan.

Sebab, lawan yang sesungguh sebenarnya kegamangan
saat badan diterabas angin liar. Oh, anasir gila sasar
yang merusuhi rima dan langgam jalan sebelum belokan.

(2013)
 
Pit Ontel Kami

Selaku tukang besi terberkatilah engkau. Telah terperdaya lempeng
di depan pandang. Tak akan ia melawan dan mengacungkan diri
serupa semua perihal tajam. Ia bukan lagi sebilah yang berdalih
menggurat yang mengganti anak muda itu di sesembahan. Bukan pula
ia yang menggores wajah, badan, hingga segala yang tak terlindung
dengan kekebalan.

Kini engkau yang tangguh dan sungguh hendak memberinya berkah.
Dengan tempahan panas namun mesra. Dengan pukulan bertenaga
lagi berirama. Dengan kerapian lekuk paling sopan yang pernah diraba
kaum penjelajah maka tertatalah ia sebagai yang menerima lagi tabah
di bawah. Kau itikadkan ia selaku yang yang harus tertaklukkan,
yang harus menerima dorong dan kayuhan.

Maka, terberkatilah kini separuh jalan kami. Telah pasrah ia dipasungi
rantai paling damai. Sepasang yang memutar bakal santai mengantar
tubuh kami. Tak sampai ia laknat meski pantat tambun kami menuntunnya
pada laju berbatu paling jahat di depan makam. Hingga, kami bersua
yang mendongak, jalan menanjak itu, yang gemar menyembunyikan petang
dan menyiapkan kuburan untuk kami yang sedikit nakal dan sesekali lupa
jalan ke rumah.

(2013)
 

Tuntunan Menjelang Balap

Cukupkan dengan yang di bawah merasa terkangkang. Gairahkan
gerak selaras kiri dan kanan. Kerik selalu lidah agar diksi basmalah
tak luput terucap. Bila telah purna benar semua dan tak ada yang
beranjak makar, maka lantangkan sesumbar pertama. Seru nama

penunggang yang tepat berada di seberang mata. Jangan lupa itikadkan
sabar meski lobang di gelanggang sudah piawai berjalan-jalan.
Lipatgandakan tingkah kencang sebagaimana kau pernah berkejaran
dengan seteru yang percaya pit ontel dan jaran afrika. Jangan berubah

jadi jago gagap walau yang kau tantang gemar bernawak anasir liar
dan perangkap gelap. Bila sampai putaran ini pada belokan tajam,
kenang kembali kitab segala pelan dan perlahan. Cergaslah mengingat
wasiat mengeja. Dari huruf pertama, kedua, ketiga, dan seterusnya

betapa terentang semesta jarak. Pantang pula kau berlaku serupa yang
tergesa. Pacu daya di sekitar. Seimbangkan, seolah kaki ini lihai meniti.
Tuntun dan lanjutkan arah pada depan belaka. Tak ada yang harus kau
takutkan dari gelibat cepat ini. Yakinlah, ia sekadar angin yang lepas

dan terhempas di bidang dada.

(2013)
 

Kidung Bolt

Mulialah sepasang kaki jenjang dan kuat ini. Betapa tegak
Ia menapak, menyentak, serta mengantar badan dengan langgam
Paling lesat. Terberkati sungguh lajur mulus nan suci dari segala

Kerikil dan debu nyasar yang kurang ajar. Tertuntunlah sepasang kaki ini
Seolah ia menyapa kembaran di bawah sana, mengucap salam lagi melepas
Sekian safaat agar yang menjejak lekas tiba di garis sana. Selalulah siaga

Ancangan yang bersekutu dengan angin. Tak akan pusaran tak kasat mata
Itu berani menggempur kencang. Bukankah bidang dada seteguh baja ini
Akan menabrak, memecahnya, mengantar anasir lewat itu pulang

Ke segala arah. Lekas-lekas saja tersungkur dan terbelakang seteru
Di kiri kanan. Semoga pandang mereka disamarkan, disesatkan, serta
Dicanggungkan hingga taklah jauh berbeda garis akhir dan awalan.

(2013)

Muslihat Menelikung Kuda
Kuda tetaplah kuda. Untuk meredakannya, aku harus bersekutu
dengan angin. Tapi, rupanya bulan tak hendak jatuh dan angin
hanya serupa tetes terakhir hujan. Maka kupinjam bahasa rahasia
dari pawang. Hentaklah kaki berkali-kali. Batu mencoba melayang,
tapi tetap tak punya kehendak. Debu keluar terbang, tapi tak punya
luncur yang menghentak. Hingga yang paling tepat, aku bersiasat
dengan kerikil. Bisikan sederhana adalah peribahasanya. Memang
tak harus si cepat ditaklukkan dengan keliatan.

Tapi kuda tetaplah kuda. Aku harus mengakhirkannya. Benarlah.
Kaki lemah ini harus menerima sembur mesra dalam sekerjapan
malam. Oh, yang menjaga air segala air : kusambut air tujuh lautan,
sumur tua paling dalam, rawa remang tempat kunti bersarang.
Biar yang menunggu tanah tak lekas gegabah menyesap dan menahan
tapak dalam-dalam. Agar langkah ke depan seolah mengawang
tak menjejak. Dan jin iprit di genggaman gemar-gemarlah berucap
sawan. Semata demi menghambat langkah sang kuda yang tak terkawal
mata, yang harus dibikin lamat-lamat, yang tak harus menyentuh
akhiran lebih cepat.

Tapi benarlah, kuda tetaplah kuda.

(2013)


 

Puisi-Puisi Dody Kristianto di Koran Tempo, 29 Desember 2013

 photo korantempo29desember2013_zps9656467c.jpg

Persuaan Orang Tamat
Jika aku bangun, kau pun bangun. Tapi dengan rupa apa
kau dibangkitkan? Sementara kelewang kita telah disarungkan.

Tapi berdiamlah, bergeminglah untuk hikayat kejatuhan.
Agar yang masih di darat dan tak terperangkap kegelapan
masih mengenal bau darah, adab berhadapan, atau pencak galak
menantang yang berulang berputar. Sungguh, beragam gerak seru
kini aku lupakan.

Telah tak kasat pandang semua di depan. Kau seteruku bukan?
Tapi kau bukan yang dulu menungguku dan menyigapkan
kuda-kuda menyerang. Aku juga tak ada itikad menuntaskan.
Benarlah, telah berlalu semua gertakan macan, geliat naga,
sapuan orang samun yang karib dengan tubuh kita berdua.

Kini tinggal kutatap antariksa gimbal. Laut yang tak lebih
dari semangkuk kari basi. Lupakan saja tiga langkah ke depan.
Tidak juga harus kumentahkan semua sentakan. Tidak ada aku
atau kau yang menyerang dulu.

Inilah hikayat panjang menyimpan hentak perlawanan.
Kereta ke negeri terbang sudah hilang dari ingatan.

Aku bukan seteru lama yang lagi harus kau seru. Sebagaimana
kau juga bukan yang dulu memampirkan sebilah parang di dadaku
dan menggiringku ke tanah jauh. 

(2013)


Syair Petarung Gering
pastilah kau tak gentar terlempar pada laga paling muram. bukan bedebah banyak lagak yang membuat ihwal seranganmu surut. bukan pula kompeni nyasar jalan yang bikin keliaran tingkah kelewangmu beringsut.

pasti pula tak ciut segala silat tingkah hewan di depan rombongan norak yang menunggu nasib sial. sebab berpantang mundur kau dari semua hentakan penghadang yang bergegas menebasmu, memisah antara kepala dan badanmu.

tapi dengan angin nyungsep yang bertandang sembarangan di badan, gelagatmu pastilah segemetar kucing kurus dikepung hujan. silakan saja bersiap dengan tendangan tak tertangkap pandang.

tapi cergaslah mencegah anasir keblinger itu. telah mahir ia menampar lambung lemah tenaga. perkasalah dengan tohokan yang berumah di dada lawan. jantungmu benar bakal dikageti sakal yang berputaran. berpusinglah, mual, dan keluarkan semua kesialan.

taklah elok tingkah demikian di depan seteru yang mengasah gobang

(2013)

Kepada Jawara Klimis

“Boleh saja kau nampang dengan kegarangan pendekar.
Mungkin, jerilah semua yang memandang gebrakanmu
yang membuat janda gemetar dari berdirinya.”

Tapi, bagaimanakah bila kau menghadap pada cermin di depan?
Ia yang gemar mencatat segala bayangan tentu akan menyerumu
dengan bisik menyakitkan. Bisa pula ia menjawab pertanyaanmu
perihal tampang siapa yang tergarang?

Tentunya, kau bakal terpental bukan, seolah ia mengelak
dan melancarkan satu sapuan rahasia yang berumah di dadamu.

Meski telah dikenang engkau selaku yang menaklukkan cecunguk
nyasar, benar pula mata yang memandang bahwa kau kurang
tertampak sebagai pendekar. Dengan wajah bayi nan manis, mungkin
kau mirip pelengkap pertarungan belaka. Ya, sekadar pelengkap
semenjana. Orang yang dianggap pantas sebagai pelawat, lantas berlari
bersembunyi di rerumput tinggi. Taklah salah yang demikian.

Bila begitu, tak ada guna kau menyimpan segenap kebaikan kitab.
Bergurulah pada hikayat kewingitan. Mendaraslah pada rupa
yang tertata rumpang, nyungsang, dan tak lagi disawang tampan.
Pastinya, rupa kegawatan pasti merawi tafsir muka kurang ajar.

Harus berpindah rerambut pada sekitaran wajah yang polosan. Harus
bersarang kumis tebal agar macan yang menantang merasa ia bersua
sang kembaran. Taklah bergidik demit yang bersemayam
bila yang dipandang sebatas muka klimis yang lebih wajar dicubit
dan digelitik.

Sungguh, tidak barokah bila jawara hanya memasang muka rupawan
di depan sang penantang, yang memuntir kumis dan mengelus cambang
yang memanjang.

(2013)

Pulang ke Pelukan
melintas di depan kuburan? adakah jalan pintas
lebih ringkas pulang ke pelukan? bagaimana bila
kau yang biasa menyandang nama jawara terdepan
harus kencing di celana? tentulah kuda-kudamu
tersigap bakal ngibrit ke pojokan. lafal istigfar
mutlaklah luput diucap lidahmu yang tergagap.

benar belaka kabar. penghalang pulang sesungguhnya
hanya lubang yang mengancam ban. harus tuntas
lebih cepat kesyahduan yang selaras lagi seimbang.
harus kembali tingkah jantan pendekar pada kegicikan
dan kegentaran. sebab bila kaki sudah berdiri pada
pertengahan tanah paling lengang ini, segala ihwal sungil
selalu serupa begundal mengagetkan. benarlah, semua
gerak gelibat maupun yang merambat di hadapan
telah melebihi sajak gelap yang menimbun kata mayat.

taklah mempan dan akan mendal bila ajian
yang keluar hanya bertandang pada yang tak punya
wujud kasar. tak akan kabur dengan gertakan, batang
yang menunggu madah bangkit yang akan bersarang
di ingatannya. bukankah jurus mautmu kadaluarsa
bila dilesat untuk pocong miring atau gerandong sinting
yang gemar nyasar.

mungkin, kau harus menepikan segala perilaku pendekar
bila semua upaya tak lagi mempan. segala kitab khasiat silat
pasti tamat. alangkah melambat langkahmu nan cepat.
sepeda di tuntunan demikian berat bukan? ia seumpama
bagal tak mau jalan. bila demikian, tentu benar belaka
kau meminta jalan pintas lebih ringkas pulang ke pelukan.

(2013)       


 

Monday, December 30, 2013

Cerpen Puitis dan Pembaca(an)nya

 photo ArtistDamienHirstborn1965TitleMotherandChildDividedDateexhibitioncopy2007original1993MediumGlassstainlesssteelPerspexacrylic_zps6accf9fe.jpg
Artist: Damien Hirst (born 1965)| Title: Mother and Child (Divided)  
Date exhibition copy: 2007 (original 1993) | Medium: Glass, stainless steel, Perspex, acrylic paint, cow, calf and formaldehyde solut


Oleh Umar Fauzi Ballah

            “Pada dasarnya, Mardi Luhung adalah penyair, dan karena itu, cerpen-cerpennya pun tidak lepas dari ciri-ciri puisi, yaitu, suasana lebih penting daripada alur dan tokoh serta penokohan” (Budi Darma)
            Kutipan Budi Darma tersebut tertera sebagai endorsment kumpulan cerpen tunggal perdana karya Mardi Luhung berjudul Aku Jatuh Cinta Lagi pada Istriku (Komodo Books, 2011). Saya kutip pernyataan tersebut sebagai acuan dasar untuk ‘menengahi keributan” di grup Facebook, “Sastra Minggu” mengenai cerpen “Gizli” karya Sule Sumbaweh (Kompas, 22 Desember 2013). “Keributan” itu “dipromotori” seorang cerpenis Bamby Cahyadi. Saya merasa perlu menghadirkan catatan ini mengingat, setidaknya dua hal, (1) memaknai fiksi puitis dan (2) kondisi kritik sastra kita di era sosial media.
/1/
Fiksi puitis adalah istilah yang saya kemukakan untuk merujuk pada kehadiran prosa fiksi yang mengetengahkan unsur gaya bahasa di atas unsur yang lain. Dalam khasanah sastra Indonesia, itu bukanlah hal baru. Kita bisa membaca Pengakuan Pariyem-nya Linus Suryadi AG atau Sareyang-nya M. Faizi. Keduanya mewakili genre prosa liris. Pada tataran lain, kita temui pada Cala Ibi-nya Nukila Amal. Djenar Maesa Ayu, selain rajin mengekplorasi unsur sudut pandang, juga begitu gandrung pada bahasa yang puitis pada beberapa cerpennya. Dengan menyebut nama lain, tentu saja adalah Mardi Luhung, Seno Gumira Ajidarma, dan beberapa yang lain. Begitulah ketika kita berhadapan dengan “Gizli”. Bahkan, cerpen tersebut mengingatkan saya pada cerpen “Pemetik Air Mata” karya Seno.
Sule dan beberapa pengarang yang lain mengambil ranah eksplorasi bahasa di sana. Pengarang menjadikan gaya bahasa sebagai unsur dominan selain unsur intrinsik seperti penokohan, latar, sudut pandang, tema, dan amanat. Ini bukan berarti unsur yang lain tidak dihadirkan yang kemudian dikatakan sebagai cerpen yang tidak berhasil. Karena itu, pembaca harus memahami bahwa gaya bahasa menjadi pusat perspektif fiksinya. Fiksi demikian menghadirkan sisi kenikmatan berbahasa, meliputi bahasa yang imajis ataupun bahasa yang ritmis. Pun ada sebuah pembacaan yang keliru ketika fiksi mengambil ranah gaya bahasa ia tergolongkan sebagai fiksi surealis.
            Pengelompokan itu penting dihadirkan untuk bisa membaca secara objetif sebuah fiksi dalam kerangka kritik sastra yang sehat. Karena ini fiksi, cerita rekaan, mau tidak mau unsur pembangun utamanya: alur serta tokoh dan penokohan, harus dikaji pula sebagai sebuah kesemestaan harmonis meskipun pengarang memusatkannya pada gaya bahasa.
Mari kita membahas “Gizli.” Cerpen ini menghadirkan dua orang tokoh yakni, tokoh “perempuan” dan tokoh “dia” atau oleh narator dikatakan “orang itu.” Perlahan dia duduk di samping perempuan itu dengan nafas terengah-engah. Perempuan adalah tokoh yang dirudung kesepian dalam penantian sia-sia menunggu kekasihnya yang dihempas badai. Ia dihibur oleh kedatangan tokoh “orang itu.” Orang itu datang bersama cahaya yang bertengger di atas ubun kepalanya. Ini adalah simbol yang sudah umum diketahui, yakni malaikat atau orang yang sudah meninggal.
Secara umum, cerpen ini hendak melukiskan oposisi biner kehidupan, kebahagiaan dan kesedihan; kerinduan dan penantian. Dengan mengambil latar malam, pengarang hendak memperjelas suasana kemurungan dalam cerpen ini. Dari situ, pengarang mengambil ornamen bulan dan bintang sebagai metafor yang menjadi kesatuan dengan air mata perempuan. Sebuah kombinasi pas untuk sebuah cerpen roman picisan. Aku adalah kebahagiaan pemuja keramaian seperti pecahan bintang-bintang yang menjelma rembulan. Aku memunguti kesedihan dan kesunyian yang tercecer dikegelapan.
“Gizli”, judul cerpen ini, adalah bahasa Turki yang artinya tersembunyi. Yang tersembunyi adalah kenangan yang melahirkan air mata, kerinduan, dan kebahagiaan yang mesti dicari. Dalam cerpen ini, diceritakan bagaimana perempuan menari berputar ala sufi. Ini adalah ramuan ekstinsik di mana kita bisa teringat pada Rumi. Bahkan, secara bahasa, ingatan lain muncul sebagai intertekstualitas pada karya-karya Kahlil Gibran pun bahasa-bahasa romantis sastra Arab.
/2/     
Kondisi kritik sastra Indonesia saat ini adalah kondisi di mana batas kritik yang secara leksikal berarti penilaian mulai menjauh dari hakikatnya. Maka, timbullah sebuah fenomena gosip kesusastraan Indonesia mutakhir. Istilah ini merujuk pada perbincangan di sosial media yang mulai ditasbihkan sebagai kritik. Itulah yang terjadi pada perdebatan di grup Facebook “Sastra Minggu” pekan ini. Sebuah grup yang menjadi laboratorium maya kesusastraan media cetak Indonesia.
            Sosial media adalah risiko bagi kondisi posmodernisme sastra Indonesia. Buah pikiran yang di sosial media—Facebook—disebut komentar adalah kualitas intelektual dan kritik sastra saat ini. Sosial media telah meleburkan yang ahli dengan yang seolah ahli. Kondisi ini saya bayangan mirip komentar di warung kopi ketika menyaksikan sepak bola yang berjibun dengan komentar sebagai ahli yang diundang sebagai jubir pertandigan. Akhirnya, yang tejadi adalah yang tidak ahli menjadi seolah-olah ahli. Pembicaraan pun merembet pada persoalan yang tidak esensial sebagai kriteria kritik.
            Sosial media pada hakikatnya adalah sama seperti media yang lain. Saya tidak hendak menafikan bahwa kritik tidak bisa disampaikan melalui media tersebut. Namun, yang terkesan naif adalah apa yang mereka sampaikan adalah gosip, caci maki, dan puja-puji (istilah Goenawan Mohammad yang dikutip Bamby Cahyadi). Mengapa demikian? karena komentar—dalam FB—bukanlan entitas yang utuh sebagai karya tulis. Mereka merasa nyaman menyampaikan ide dalam kondisi seperti itu. Padahal, di FB misalnya, ada kolom “cacatan” atau dalam Twitter bisa disajikan dalam kultwit.
            Dengan demikian, mungkin kita bisa memaklumi mengapa beberapa sastrawan kita gelisah terhadap kondisi minimnya kritik sastra Indonesia, alih-alih sebuah kritik yang bermutu. Sosial media sedianya adalah ruang alternatif untuk menyampaikan gagasan. Ini adalah perayaan dokumentasi yang meriah. Bukankah tidak sedikit beberapa buku muncul dari gagasan-gagasan yang awalnya dituangkan di media sosial? Maka, persoalan berikutnya adalah bagaimana gagasan itu lahir dengan selamat dan nikmat untuk sebuah tulisan yang layak tamat.

Twitter @uf_ballah.


Monday, December 23, 2013

Lembar SARBI edisi #8 Desember 2013

 photo cover-_zps1e585888.jpg

 photo daftarisi_zps1516dbe8.jpg

 photo hlm28-29_zpsc1545f1a.jpg

Lembar SARBI edisi 8 Desember 2013

- Kulit Muka
Angkasapura

- Penulis
1. Ledo Ivo
2. Choirul Wadud
3. Oktarano Sazano
4. Misbahus Surur
5. Bagus Burham
6. Ramayda Akmal
7. Selendang Sulaiman
9. Much Khoiri
10. Akmad Fatoni

- Perupa
2. Siddharta
3. Kristijan Jerkovic
5. Staats Fasoldt
6. Wahyu Nugroho
7. Spyros Verykios
8. X-Go W
9. Alan Taylor Jeffries

-Pemusik

Lembar SARBI edisi 8 versi flash player dapat diunduh di link ini:

Versi PDF:

Versi cetak hitam putih menggunakan kertas bookpaper dapat dipesan di redaksi dengan sms
No 085851857130

*Kritik, saran dan semua yang hendak dikirim perihal SARBI dapat dialamatkan ke sarbikita@gmail.com



TERIMA KASIH

Thursday, December 19, 2013

Monolog Kasir Kita (3)

 photo HenryFuseliPercivalDeliveringBelisanefromtheEnchantmentofUrmaexhibited1783Oiloncanvassupport991x1257mmframe1248x1510x108mm_zps678bf986.jpg
Henry Fuseli Percival Delivering Belisane from the Enchantment of Urma 
exhibited 1783 | Oil on canvas support 991 x 1257 mm frame 1248 x 1510 x 108 mm

Akhirnya, inilah akhir dari naskah Monolog Kasir Kita setelah sebelumnya blog sarbikita menayangkan secara berseri naskah karya Arifin C Noer ini. Selamat membaca.

___________________________

Persetan! Saya yakin istri saya pasti kehabisan uang sekarang. Apakah saya mesti mengasihani dia? Tidak! Saya mesti membunuhnya.
Seakan menusukkan pisau.
Singa betina! Ya, sebaiknya dengan pisau saja, pisau.

Telepon berdering.

Persetan! Sekarang pasti dia.

Mengangkat telepon.

Kasir disini! Kasir PT Dwi Warna! Apa lagi! Jahanam! Ular betina yang telah menjadikan aku koruptor itu! Jangan bicara apa-apa! Tutup mulutmu! Mulutmu bau busuk! Aku bisa mati mendengar kata-katamu lewat telepon! Cari saja laki-laki lain yang hidungnya besar. Penggoda bah! Cari yang lain! Toch kau seorang petualang!

Meletakan pesawat telepon.

Jahanam! Apakah saya mesti membunuh tiga orang sekaligus dalam seketika? O, ya. Tadi saya sudah memikirkan pisau. Ya, pisaupun cukup untuk menghentikan jantung mereka berdenyut. (geram). Sayang sekali. Pengarang sandiwara ini bukan seorang pembunuh sehingga hambarlah cerita ini.

Tapi tak apa. Toch saya sudah cukup marah untuk membunuh mereka. Namun sebaiknya saya maki-maki dulu alisnya yang nista itu. Saya harus meneleponnya!

Mengangkat telepon.

Kemana saya harus menelepon? Tidak! (meletakan telepon)
Lebih baik saya rancangkan dulu secara masak-masak semuanya sekarang. Demi Allah, saudara mesti mengerti perasaan saya. Bilanglah pada isteri saudara-saudara : “Manis, jagalah perasaan suamimu, supaya jangan bernasib seperti Jazuli.”
Ya, memang saya adalah laki-laki yang malang. Tapi semuanya sudah terlanjur. Sayapun telah siap. Dengan menyesal sekali saya akan menjadi seorang pembunuh dalam sandiwara ini.

Seperti mendengar telepon berdering.

Hallo? Jazuli disini. Jazuli (sadar)
Saya kira berdering telepon tadi. Nah, saudara bisa melihat keadaan saya sekarang. Mata saya betul-betul gelap. Telinga saya betul-betul pekak. Saya tidak bisa lagi membedakan telepon itu berdering atau tidak. Artinya sudah cukup masak mental saya sebagai seorang pembunuh.

Tapi seorang pembunuh yang baik senantiasa merancangkan pekerjaan dengan baik pula seperti halnya seorang kasir yang baik. Mula-mula, nanti malam tentu, saya masuki halaman rumahnya. Saya berani mempertaruhkan separuh nyawa saya, pasti laki-laki itu ada disana. Dalam cahaya bulan yang diterangi kabut : ..Saya bayangkan begitulah suasananya.

Bulan berkabut, udara beku oleh dendam, sementara belati telah siap tersembunyi di pinggang dalam kemeja, saya ketok pintu serambinya.
Mereka pasti terkejut. Lebih-lebih mereka terkejut melihat pandangan mata saya yang dingin, pandangan mata seorang pembunuh.

Untuk beberapa saat akan saya pandangi saja mereka sehingga badan mereka bergetaran dan seketika menjadi tua karena ketakutan. Dan sebelum laki-laki itu sempat mengucapkan kalimatnya yang pertama, pisau telah tertancap di usarnya. Dan pasti isteri saya menjerit, tapi sebelum jerit itu cukup dapat memanggil tetangga-tetangga maka belati ini telah bersarang dalam perutnya. Tentu. Saya akan menarik nafas lega. Kalau mayat-mayat itu telah kaku terkapar di lantai, saya akan berkata : “Terpaksa. Jangan salahkan saya. Keadilan menuntut balas.”
Tiba-tiba pening di kepala.
Tapi kalau sekonyong-konyong muncul kedua anak saya? Ita dan Imam? Kalau mereka bertanya : “Pak, ibu kenapa pak? Pak, ibu pak?
Memukul-mukul kepalanya.
Tuhanku!

Duduk.

Dia melamun sekarang. Dua orang anaknya, Ita dan Imam, 5 dan 4 tahun menari-nari disekelilingnya. Di ruang tengah itu dengan sebuah nyanyian kanak-kanak : Bungaku.
Saudara-saudara bisa merasakan hal ini? Mereka sangat manisnya. Lihatlah. Saya tidak bisa lagi marah. Saya pun tak bisa lagi peduli pada apa saja selain kepada anak-anak yang manis itu. Saya tidak tahu lagi apakah isteri saya cantik apakah tidak. Saya tidak tahu lagi apakah laki-laki itu jahanam apakah tidak.

Saya hanya tahu anak-anak itu sangat manisnya. Betapa saya ingin melihat lagi bagaimana mereka tertawa. Tak ada yang lain mutlak harus dipertahankan kecuali anak-anak itu. Saudara-saudara mengerti maksud saya? Apakah hanya karena cemburu saya mesti merusak kembang-kembang yang telah bermekaran itu?

Balerina-balerina kecil itu menari bagai malaikat-malaikat kecil.
Semangat hidup yang sejati dan keberanian yang sejati timbul dalam diri begitu saya ingat Ita dan Imam anak-anak saya. Seakan mereka berkata : “Pak susulah ibu, pak. Pak, ke kantorlah, pak.”
Ya, Ita. Ya, Imam.
Malaikat-malaikat kecil itu gaib menjelma udara.

Saya harus pergi ke kantor. Akan saya katakan semuanya pada pak Sukandar. Saya akan mengganti uang itu setelah besok saya jual beberapa barang dalam rumah ini. Setelah semua beres saya akan mulai lagi hidup dengan tenang dan tawakal kepada Tuhan. Hari ini hari Jumat, di masjid setelah sembahyang saya akan minta ampun kepada Allah.
Saya tak mau tahu lagi apakah laki-laki Rahwana atau bukan. Saya tak mau tahu lagi apakah Sinta itu serong atau tidak. Saya tidak peduli. Tuhan ada dan laki-laki yang macam itu dan perempuan itu ada dalam hidup saya. Semuanya harus saya hadapi dengan arif, sebab kalau tidak Indonesia akan hancur berhubung saya menelantarkan anak-anak saya, Ita dan Imam.

Telepon berdering.

Jahanam! Kalau saudara mau percaya, inilah sundal itu. Setiap kali saya tengah berpikir begini, jahanam itu menelpon saya.
Telepon berdering lagi.
Jahanam! Inilah sundal itu sesudah uang kantor ludes, apakah ia mengharap rumah ini dijual.

Mengangkat pesawat telepon.

Ya, Misbach Jazuli

Tersirap darahnya.

Saudara, jantung saya berdebar seperti kala duduk di kursi pengantin. Demi Tuhan, tak salah ini adalah suara istri saya. Oh saya telah mencium bau bedaknya. Hutan mawar dan hutan anggrek. Ya, manis. Saya sendiri. Saya yakin dia pun sepikiran dengan saya. Saya akan mencoba menyingkap kenangan lama.
Hallo?..Tentu...Tentu. kenapa kau tidak menelepon tadi? Ya...ke kantor, bukan? Memang saya agak flu dan batuk-batuk.
(akan batuk tapi urung) ...Ya, manis. Kau ingat laut, pantai, pasir, tikar, kulit-kulit kacang..ah, indah sekali bukan?...Tentu...Tentu...He...?...Bagaimana?....Kawin? Kau?...Segera?

Lihatlah, niat baik selamanya tidak mudah segera terwujud. Apa?...Apa? Ha??? Saudara, gila perempuan itu. Apakah ini bukan suatu penghinaan? Dia mengharap agar nanti sore saya datang ke rumahnya untuk melihat apakah laki-laki calon suaminya itu cocok atau tidak baginya. Gila. Hmm, rupanya laki-laki yang dulu itu cuma iseng saja. Ya, tentu..bisa!

Meletakan pesawat dengan kasar.

Jahanam. Saudara tentu mampu merasakan apa yang saya rasakan. Beginilah, kalau pengarang sandiwara ini belum pernah mengalami peristiwa ini. Beginilah jadinya. Saya sendiri pun jadi bingung untuk mengakhiri cerita ini.
(tiba-tiba) Persetan pengarang itu! Jam berapa sekarang? Persetan semuanya! Yang penting saya akan ke kantor meski sudah siang. Dari kantor saya akan langsung ke masjid. Dari masjid langsung ke rumah mertua saya. Langsung saya boyong semuanya.
Anak-anak itu menanti saya. Persetan! Sampai ketemu. Selamat siang.
Melangkah seraya menyambar tasnya. Tiba-tiba berhenti. Setelah mengeluarkan sapu tangan, batuk-batuk dan menyedot hidungnya.
Saya influenza, bukan ?

SELESAI

________________________

Redaktur SARBI: Dody Kristianto

Anda Pengunjung ke

SARBI

Tentang Kami

Sastra Alienasi Rumput Berbasis Independen (SARBI) adalah kelompok diskusi yang bergiat mendiskusikan perihal isu sastra, seni, dan kebudayaan terkini dengan mengambil sudut pandang alternatif. Selain itu, SARBI juga banyak menggali pemikiran tradisi negeri sendiri dan konsepsi mancanegara yang diharapkan dapat bersinergi sehingga menghasilkan pandangan kontemporer yang segar. Untuk membuktikan perihal tersebut, kami melahirkan lembar SARBI untuk ikut menghiasi keriuhan dunia sastra, seni, dan budaya serta berharap dapat menjadi oase untuk memenuhi dahaga kita •

Redaksi

Pemimpin Redaksi Sidang Redaksi Sidang Redaksi Sidang Redaksi Sidang Redaksi Sidang Redaksi Penata Artistik

Tinggalkan Pesan

Dokumen Post