Telah Terbit !

Yang sederhana, yang berserakan, yang tak diperhitungkan dan bertebaran di mana-mana, tetaplah harus dirayakan. Spesial SARBI edisi 8 di akhir tahun!

Segera Dapatkan !

Buku Puisi Karya KOMANG IRA PUSPITANINGSIH.

Toko Buku SARBI

Kumpulan buku bekas pilihan yang asik untuk dibaca dan dikoleksi dengan harga bersahabat.

Telah Terbit!

BULETIN TIKAR EDISI 02/2013 Diterbitkan oleh Komunitas Tikar Merah (KTM)

Dapatkan!

Buku Terbaru SARBIKITA Publishing Karya Heru Susanto

Blogroll

Thursday, December 19, 2013

Budi Darma: Antara Takdir dan Absurditas Manusia

 photo budidarma_zps9b140263.jpg  

Oleh Imam Muhtarom*

Budi Darma secara konsisten mengatakan bahwa kepengarangannya disebabkan oleh takdir. Bakat, kemauan, dan kesempatan menulis hanyalah rangkaian pernyataan takdir.

Budi Darma mendapat julukan penulis serba bisa. Salah seorang tokoh prosa Indonesia Angkatan 1970-an, ini dikenal sebagai pengarang yang revolusioner pada masa itu. Bahkan, Prof. A. Teeuw menilainya sebagai pengarang yang paling berhasil dalam usaha pembaruan, khususnya dalam hal teknik fiksi dan isinya. Penulis kelahiran Rembang, Jawa Tengah, pada 25 April 1937 ini dianggap sebagai pelopor penggunaan teknik kolase, dan karya-karyanya dapat disejajarkan dengan karya-karya mancanegara.

Nama Budi Darma merupakan nama pemberian sang kakek. Awalnya ditulis dalam satu rangkaian: Boedidarma. Tujuannya agar si pemilik nama berbudi baik dan mempunyai darma kepada sesama. Semua saudara Budi Darma diberi nama oleh kakeknya, kecuali adik bungsunya, yang diberi nama oleh ayahnya sendiri. Namun, Boedidarma kemudian sering dipanggil Budidarmo lantaran tinggal di lingkungan Jawa.

Orangtua Budi Darma adalah Munandar Darmowidagdo dan Sri Kunmaryati. Dari pasangan ini ia merupakan empat laki-laki bersaudara. Sosok Munandar Darmowidagdo, yang berprofesi sebagai pegawai pos, itu ternyata banyak memengaruhi karya sastra Budi Darma. Seorang tokoh tukang pos dinarasikan panjang lebar dan memegang peranan penting dalam novelnya Rafilus (1988). Bahkan, ada bab dalam novel itu yang berjudul “Upas Pos Munandir”. Tokoh Munandir dalam novel Rafilus merupakan tokoh penting. Ia memberi banyak informasi, pengakuan, dan rahasia tokoh-tokoh lainnya, baik melalui surat yang diantarkannya maupun dari pengakuan tokoh Munandir sendiri.

Ibu Budi Darma, Sri Kunmaryati, seorang ibu rumah tangga. Sejak kecil hubungan dengan sang ibu terbilang dekat. Budi Darma seriang berdiskusi dengan sang ibu berkenaan materi di majalah berbahasa Jawa Tjipto Kawedar. Misalnya mengenai Bharatayudha. Tidak aneh bila kelak Budi Darma mampu menjalin hubungan baik dengan banyak perempuan. Salah satu cerpennya yang berkenaan dengan ibunya adalah Kitri. Ibunya pernah melahirkan bayi perempuan, namun meninggal dalam usia beberapa minggu. Ibu Budi Darma mengalami keguguran tiga sampai empat kali.

Perjalanan fisik dapat dikatakan menjadi bagian penting dalam proses kepengarangan Budi Darma. Profesi ayahnya sebagai pegawai kantor pos membuat keluarganya sering berpindah-pindah tempat tinggal: Bandung, Kudus, Salatiga, Jombang, Semarang, dan Yogyakarta. Kelak, perjalanan menjadi simpul utama dalam karya-karyanya, terutama perjalanan ke luar negeri. India menghasilkan cerpen Gauhati, Nyonya Talis, sementara Amerika Serikat, dan Prancis melahirkan sebagian cerpen dalam Orang-Orang Bloomington, novel Olenka,d an novel Ny. Talis.

Selama penjajahan Jepang, Budi Darma merasakan betapa menderitanya rakyat Indonesia akibat kekejaman, kemiskinan, dan kelaparan. Suatu hari, Budi Darma kecil menyaksikan seorang serdadu Jepang mengemudikan sepeda motor besar dengan kecepatan tinggi, dan sengaja menabrak lelaki pribumi yang sedang berjalan dari belakang. Tubuh lelaki itu terpelanting ke atas, berputar sekejap di udara, sebelum terjatuh dengan suara mengerikan. Tubuh lelaki pribumi itu berkelejat sekejap, lalu diam. Sementara serdadu Jepang itu tetap melanjutkan sepeda motornya dengan kecepatan tinggi. Mungkin, adegan itulah yang menjadi salah satu inspirasi yang menggambarkan kematian tokoh Rafilus atau Habibah dalam novel Rafilus  dan kematian suami Ny. Talis dalam novel Ny. Talis (1996).

Semasa kanak-kanaknya, kehidupan Budi Darma lekat dengan pengalaman perang; masa-masa mengerikan penjajahan Belanda dan Jepang, Peristiwa Madiun, pemberontakan Tentara Islam Indonesia (TII) hingga peristiwa Gerakan 30 September 1965. Pengalaman traumatik dialami Budi Darma ketika ia menyaksikan penyembelihan orang-orang PKI (Partai Komunis Indonesia) yang dituduh terlibat dalam Gerakan 30 September 1965. Terpenggalnya kepala-kepala orang PKI itu dituangkan dalam karya sastranya. Tokoh Rafilus dan Habibah dalam Rafilus serta suami Ny. Talis dalam novel Ny. Talis, tewas dengan kepala terpenggal.

Selain mengalami trauma masa perang, masa kecil Budi Darma dilalui dengan membaca dan bertanya. Selain gemar berjalan-jalan, ia pun senang ilmu pengetahuan. Ia sering pergi ke rumah tetangganya yang mempunyai bacaan, selain membaca majalah-majalah milik ibunya. Ia juga senang bermain layang-layang, mandi di sungai, dan bermain di dekat rel kereta api atau rel lori pengangkut tebu. Jika ada lori yang lewat, dengan seizin masinis, Budi Darma beserta teman-teman sepermainannya melindas paku untuk dijadikan pisau mainan. Pada masa kecilnya ia juga membuat mainan wayang-wayangan yang disorot lampu minyak sehingga tampak bayangan besar-besar di tembok.

Satu hal yang masih terus melekat pada diri Budi Darma hingga kini adalah, ia suka mempertanyakan segala sesuatu. Pertanyaan-pertanyaan itu kemudian menjadi obsesi. Pertanyaannya bukan saja yang bersifat ilmu pengetahuan, melainkan ihwal yang lebih hakiki, misalnya mengapa manusia harus lahir, menjadi tua, dan meninggal. Bagaimana seandainya semua orang tidak pernah meninggal? Bagaimana seandainya manusia tidak pernah sakit? Mengapa orang ini tidak dilahirkan lima belas tahun yang lalu, melalui orangtua lain, di negara yang lain? Mengapa laut tidak penuh meskipun banyak sungai mengalir ke lautan? Dan sebagainya. Pertanyaan-pertanyaan itu selalu mengejar-ngejar Budi Darma pada waktu kecil, dan hingga sekarang terus menghantui pikirannya, menjadi obsesi.
***
Budi Darma secara konsisten mengatakan bahwa kepengarangannya disebabkan oleh takdir. Bakat, kemauan, dan kesempatan menulis hanyalah rangkaian pernyataan takdir. Bahkan, hambatan untuk menulis, dalam bentuk apa pun, juga tidak lepas dari takdir. Ia sering berpikir mengapa ia menulis. Ia merasa ada sesuatu dalam dirinya yang memaksanya untuk menulis. Ia merasa bahwa tanpa menulis ia akan menjadi manusia tidak bermanfaat. Namun begitu, katanya, seorang pengarang meski diliputi teka-teki, mau tidak mau menulis mengenai takdir: menulis tentang kebahagiaan dan ketidakbahagiaan. Alasan lainnya adalah kerena obsesinya sendiri. Sejak kecil ia suka mempertanyakan berbagai hal dan sifatnya lebih hakiki. Obsesi itu terus mengejarnya. Oleh karena itu, ia terus menulis. Pada hakikatnya semua tulisan Budi Darma berkisar pada pertanyaan-pertanyaannya. Dengan pertanyaan tadi, ia memberi jawaban yang dijabarkan dalam bentuk cerpen atau novel. Setiap usai menulis, ia merasa tidak puas dengan jawabannya sendiri. Oleh karena itu, ia terus menulis lagi.

Imajinasi merupakan modal kepengarangan Budi Darma. Baginya, kekuatan imajinasi identik dengan kepekaan seorang pengarang. Imajinasi dan kepekaan bagi seorang pengarang sifatnya personal. Kepengarangan bukanlah pertukangan. Kepekaan seorang pengarang akan meredup dengan sendirinya begitu ada kesibukan yang mengganggu, dan tidak akan kembali tajam begitu kesibukan itu hilang. Karena itu, menjadi pengarang jauh lebih sulit ketimbang menjadi, katakanlah, dekan, camat, atau polisi, meskipun tidak semua orang dapat dan sanggup menjadi dekan, camat atau polisi. Begitu seorang pengarang mati, tugasnya sebagai pengarang tidak dapat diambilalih orang lain. Sebaliknya, kalau dekan, camat, atau polisi mati, dalam waktu singkat akan ada orang yang dapat dan mampu menggantikannya.

Semua karya Budi Darma, menurut pengakuannya, lahir dalam perjalanan. Novel Olenka yang ditulisnya pada akhir 1979, merupakan hasil perjalanannya ketika ia menempuh studi di Indiana University, Bloomington, Amerika Serikat (1974-1976). Saat itu, ketika hendak mendekati Gedung Tulip Tree, salju pun turun. Ia segera lari masuk gedung. Di dalam lift, ia bertemu seorang perempuan dan tiga anak laki-laki berpakaian kotor. Peristiwa itulah yang memicunya menulis Olenka. Bahkan, kalimat pertama yang memicu lahirnya novel Rafilus, yakni: “Rafilus telah mati dua kali, kemarin dia mati, hari ini tanpa pernah hidup lagi dia mati lagi”, lahir dalam perjalanan.

Novel Ny. Talis ditulisnya dalam tempo dua bulan, sejak 9 November 1990 sampai 8 Januari 1991, yakni dalam dalam perjalanan di Bloomington, Indiana, Amerika Serikat. Saat tinggal di Amerika Serikat, ia sering menginap di rumah orang Amerika. Cerita pendek Laki-laki Tua Tanpa Nama, Joshua Karabish, Keluarga M, Orez, Yorrick, Ny. Elberhart, dan Charles Lebourne, dalam kumpulan cerpen Orang-orang Bloomington (1980), merupakan hasil pengamatan dan penghayatannya tentang cara pandang orang Amerika selama perjalanan. Meski pada waktu hujan salju ganas, Budi Darma tetap melakukan perjalanan. Kesenangannya berjalan-jalan itu masuk ke dalam cerpennya berjudul Bambang Subali Budiman (Horison, Oktober 1981).

Selain perjalanan, faktor bacaan juga memicu kepengarangan Budi Darma. Sajak karya Samuel Taylor Coleridge (1772-1834) berjudul Kubla Khan, masuk dalam cerpen Kritikus Adinan. Begitu pula cerpen karya Anton P. Chekhov (1860-1904) The Darling, Antic Hay (1923) karya Aldous Huxley (1894-1963), A Passage to India (1924) karya E.M. Foster (1879-1970), dan Women in Love karya D.H. Lawrence (1885-1930), yang masuk ke dalam novel Olenka. Sementara untuk karya-karya pengarang Indonesia, sajak-sajak karya Chairil Anwar (1922-1949) Derai-derai Cermara, Kesabaran, Senja di Pelabuhan Kecil, dan Kerikil Tajam dan yang Terempas dan Terkandas, memicu lahirnya novel Olenka. Bahkan, Mahabharata, Al Quran, Kitab Perjanjian Lama (Genesis), Filsafat Ilmu karya Jujun S. Suriasumantri, serta Pengantar Ilmu Sastra karya Jan van Luxemberg dkk, juga masuk ke dalam novelnya Rafilus. Budi Darma pun sering mendengarkan musik dan ihwal lainnya yang berkaitan dengan musik, serta perihal penyakit dan kesehatan, yang juga masuk ke dalam novel Olenka dan Ny. Talis.

Suatu hari, pada musim gugur 1979, Budi Darma mendengarkan suatu pembicaraan dalam National Public Radio (NPR) mengenai orang-orang jenius yang memiliki jaringan sel otak khusus. Pembicaraan itu ternyata seputar komponis Johann Sebastian Bach, Ludwig van Beethoven, dan Fryderyk Franciszek Chopin. Pembicaraan yang ia dengarkan itu masuk ke dalam novelnya Olenka. Dengan demikian, novel Olenka secara keseluruhan sesungguhnya adalah cerminan pengalaman dan penghayatan Budi Darma mengenai kehidupan di Amerika. Sementara kumpulan cerpennya Orang-orang Bloomington merefleksikan pengalaman dan penghayatannya semasa di Bloomington.

Budi Darma tidak tahu apakah ia beruntung atau tidak memiliki imajinasi yang kadang-kadang ganas dan meletup-letup. Imajinasi adalah sesuatu yang tidak ada, kemudian ada dalam alam pikirannya. Makin tajam kepekaan seorang pengarang maka makin melejitlah imajinasinya. Makin tumpul kepekaannya, makin malas imajinasinya, kemudian mengantuk, tidur, dan mungkin mampus (Darma, 1982: 127). Imajinasi yang dia ingat dengan jelas terjadi pada saat ia naik kereta dari Madiun ke Surabaya. Entah mengapa, tiba-tiba ia seolah melihat pesawat terbang, sementara ia yakin pesawat terbang itu sebetulnya tidak ada. Imajinasi inilah yang kemudian hadir dalam cerpennya Dua Laki-laki. Imajinasi pesawat terbang itu juga masuk dalam novel Olenka, yaitu ketika tokoh Fanton Drummond naik pesawat terbang kecil bersama Arnold, anak sahabat karibnya, dan Wilson, anggota panitia pemilihan walikota Bloomington. Saat menulis novel itu, Budi Darma memang telah memiliki pengalaman terbang beberapa kali dengan pesawat terbang kecil. Ia tidak dapat melepaskan diri dari raungan pesawat terbang yang pernah melayap ke dalam otaknya beberapa tahun sebelumnya. Mungkin suatu hari nanti, ruang pesawat terbang itu akan hadir lagi dalam bentuk lain, tanpa ia minta, dan bahkan tanpa ia sadari.

Sebagai pengarang yang dikaruniai imajinasi yang menakutkan, Budi Darma tidak bisa menulis mengenai kehidupan yang manis, paling tidak sampai sekarang. Pengakuan Harry Aveling, bahwa “cerita-cerita Budi Darma menakutkan saya” (Horison, April 1974) adalah benar. Beberapa orang bergidik pada waktu membaca Orang-orang Bloomington: kesepian, ketuaan, penyakit disertai cinta, penyesalan, dan kehendak berbuat baik sangat mewarnai kumpulan cerpen ini. Oleh karena itu, kritikus yang menyebut Budi Darma sebagai “pengarang jungkir balik” tidak keliru: seperti juga logika dalam imajinasinya, karena logika dalam cerpen-cerpennya, baik absurd maupun realistis, banyak yang berjungkir balik.

Selain kepekaan dan imajinasi, menurut Budi Darma, seniman yang baik hakikatnya adalah intelektual yang baik. Mereka selalu dalam keadaan menyerap, terlibat dalam proses kreatif, dan menyeleksi apa yang mereka serap ke dalam komposisi yang hebat. Sebaliknya, seorang intelektual yang tidak memiliki kemampuan komposisi bukanlah pengarang. Begitu persepsi dan seleksi yang tinggi memadu dalam komposisi yang hebat, jadilah karya seni yang baik. Ketidakmampuan menemukan persoalan, menyebabkan seseorang tidak mungkin menulis mengenai suatu persoalan. Milik orang semacam ini terbatas pada kemampuan menceritakan kembali pengalamannya, atau apa yang pernah dilihatnya, didengarnya, atau dipelajarinya. Oleh karena itu, pengarang sebaiknya juga seorang peneliti—pengertian “penelitian” di sini bukan dalam arti yang formal—dan memiliki kehidupan intelektual, yaitu selalu mencari, selalu mengkaji, dan hidup dengan baik. Sikap hidup seperti itulah yang menunjang kreativitas. Apa pun bentuk dan forum pemikirannya, itu sudah merupakan kegiatan intelektual. Hal itulah yang ditunjukkan Budi Darma melalui esai-esainya; kecintaannya terhadap sastra dan keterlibatannya pada forum-forum sastra.

Budi Darma tidak pernah memperhitungkan bahwa menulis adalah untuk masa depan. Ia menulis hanya dengan memikirkan saat ini. Itu dikemukakannya di “Pengakuan” dalam Solilokui (1983). Baginya, apa yang pernah ia tulis tidak memiliki arti apa-apa lagi dan bahkan ia merasa malu terhadap tulisan-tulisannya sendiri pada masa lalu. Ia sadar, bahwa apa yang yang ia tulis saat ini akan menjadi bukan apa-apa, kelak bila saatnya tiba. Oleh karena itu, ketika menulis, ia hanya memikirkan saat ini. Ia merasa sebagai objek dan terbius oleh takdir. Ia tidak perlu tahu apa yang akan ia tulis. Semua akan datang dengan sendirinya tanpa ia rencanakan, tanpa dapat ia kuasai. Justru Budi Darma-lah yang dikuasai oleh apa yang akan ditulisnya. Cerpen-cerpennya dalam Orang-orang Bloomington, ditulisnya menjelang akhir 1979. Yang ditulisnya saat itu berada di luar kesadarannya sendiri. Dan, proses seperti itulah yang ia alami setiap ia menulis cerpen.
Budi Darma laiknya Sisipus. Seperti kata William Faulkner (1897-1962) yang sering ia kutip, “Kita semua gagal dalam mencapai impian kita mengenai karya yang sempurna, karena rata-rata kita berada pada kegagalan indah untuk mengerjakan sesuatu yang tidak mungkin terjangkau. Maka seorang seniman terus bekerja, berusaha lagi, (dan) seorang seniman percaya, bahwa setiap kali dia berusaha lagi dia akan berhasil” Oleh karena itu, ia tidak takut gagal saat ia menulis.

Namun, ada satu ketergantungan saat Budi Darma menulis, yaitu suasana baik dan mesin tulis. Tanpa mesin tulis, otaknya sering macet dan imajinasinya yang sudah terlanjur menggebu-gebu terpaksa gugur dengan sendirinya. Jika ia dapat menulis tanpa mesin tulis, barang yang sudah jadi ini berjuang kembali mencari wujud yang baru. Pada saat mengetik, ia kewalahan untuk tidak mengubah-ubah, mempertentangkan, dan memperkelahikan apa yang sudah ia tulis sendiri. Meski bergantung pada mesin tulis dan suasana baik untuk menulis, sebenarnya mereka hanyalah sarana dari persoalan yang lebih mendasar yang tertangkap oleh inderanya, yakni tentang kepahitan hidup manusia sendiri.

Masalah kebetulan juga tak lepas dari proses saat ia menulis. Budi Darma telah berusaha merumuskan masalah kebetulan yang kurang lebih identik dengan afinitas. Ia menyadari bahwa masalah kebetulan banyak ditentukan oleh selektivitas. Hanya yang mengesankanlah yang memengaruhi proses penulisan. Dalam keterlibatannya dengan segala hal, ia selalu dalam proses melakukan seleksi. Dalam novel Olenka, balon Trans-Amerika da Vinci melintasi udara Bloomington pada 1 Oktober 1979 malam hari. Pada saat itulah tokoh Olenka meninggalkan tokoh Fanton Drummond untuk selama-lamanya. Akan tetapi, da Vinci tidak begitu saja masuk ke dalam Olenka, jika tidak jauh sebelumnya ia tidak menyukai berita tentang penerbangan balon. Bahkan, beberapa tahun sebelum menulis Olenka, Budi Darma sudah pernah melintasi udara Bloomington dengan menumpang sebuah balon. Budi Darma sendiri sering memerhatikan pertandingan naik balon yang tinggal-landasnya di lapangan Tulip Tree. Memang benar da Vinci gagal mendarat di Washington karena cuaca di seluruh Amerika Serikat Barat Tengah waktu itu sangat buruk. Sementara dalam Olenka, Budi Darma menyatakan, bahwa balon itu disimpan di sebuah museum di Washington setelah berhasil mengarungi udara Amerika. Artinya, ada alasan-alasan yang kuat suatu materi cerita dimasukkand alam karyanya.

Masalah kebetulan yang berupa afinitas yang diwujudkan antara tokoh Fanton Drummond dan tokoh Olenka tidak mengakibatkan Budi Darma jatuh pada ketidakkonsistenan dalam menggarap suatu cerita. Selain terkait topik tersebut menghantui setiap manusia dari dulu hingga sekarang, gagasan tentang afinitas ini diperoleh Budi Darma dari Antic Hay karya Aldous Huxley, A Passage to India karya E.M. Forster, Jane Eyre karya Emily Jane Brontë (1818-1848), dan cerpen Manu karya P.S. Rege (Roop Katthak). Afinitas tidak lain juga selubung misteri bagi manusia. Berdasarkan dari karakter misteri itu sendiri penggarapan dalam cerita menunjukkan kemisteriusan itu sendiri. Misteri bisa muncul tiba-tiba dalam sebuah cerita karena ia adalah misteri. Budi Darma dapat menggarapnya dalam cerita tanpa harus merontokkan ceritanya, bahkan justru menguatkannya.

Budi Darma dapat menulis dengan cepat tanpa pernah berpikir tentang pembaca. Ketika bertemu Nugroho Notosusanto, ia dapat menulis tiga cerpen dalam sehari dan semuanya dimuat dalam majalah sastra Cerita. Meski saat menulis ia tidak pernah membayangkan adanya pembaca, namun ia tidak meneror pembaca dengan kepalsuan, melainkan dengan keterusterangan. Keterusterangan adalah kebahagiaan baginya, sekaligus yang menyebabkannya menderita, yaitu ketika menghadapi fakta sebagai gejala dari sesuatu yang jauh lebih hakiki. Pengalamannya menulis cepat itu masuk ke dalam Olenka. Tokoh Wayne yang semula sulit menulis, tiba-tiba dapat menulis cerpen dengan lancar.

Novel Olenka setebal 232 halaman diselesaikan Budi Darma dalam waktu kurang dari tiga minggu. Novel Rafilus sebanyak 186 halaman ditulisnya Juli 1985 hingga September 1985 di Singapura. Itu pun terpotong oleh urusannya di Singapura, di Cambridge, di London, dan di Jakarta. Novel Ny. Talis setebal 265 halaman ditulis di Indiana University Bloomington, Indiana pada 9 November 1990 hingga 8 Januari 1991.
Hal yang menarik lainnya adalah seusai menulis karya-karyanya, ia akan menulis kembali, namun bukan memperbaiki tulisan yang sudah jadi, melainkan mengetik kembali tulisannya yang berupa tulisan tangan. Saat menulis novel Rafilus, ia menulisnya dari konsep ke naskah siap cetak, dan ada bagian yang direvisi. Hal ini ia akui dalam catatan akhir novel Rafilus.

Dalam naskah tulisan tangan saya yang asli, sebenarnya Pawestri mengakui keterbatasan daya jangkau pikirannya dalam melihat takdir. Entah mengapa, pada waktu mengetik naskah ini menjadi naskah siap untuk diterbitkan, pengakuan Pawestri terlepas. Dan sebenarnya saya tidak sengaja melepaskannya (Darma, 1988: 196).

Selain mengetik tulisannya kembali yang berupa tulisan tangan, Budi Darma selalu membuat catatan-catatan setelah cerpen-cerpen dan novelnya selesai ditulis. Hal tersebut muncul  karena setelah menulis karya sastra, ia merasa menjadi orang gagal, kecewa, dan malu terhadap tulisan-tulisannya sendiri pada masa lalu—hal ini berkaitan dengan satu-satunya obsesi ketika ia menulis cerpen pada akhir 1960-an dan pada awal 1970-an. Saat itu kehidupan serba sukar, yaitu obsesinya mendapatkan mesin tulis, lalu menulis, lain tidak—sehingga menjadikan Budi Darma untuk tetap menulis, seperti “Pengakuan” dalam Solilokui, “Mulai dari tengah” dalam Proses Kreatif: Mengapa dan Bagaimana Saya Mengarang (Pamusuk Eneste, peny.), “Prakata: Mula-mula adalah tema” dalam Orang-orang Bloomington, “Asal-usul Olenka” dalam Olenka, “Exordium”, “Abstraksi”, “Catatan” sebagai perenungannya tentang novel Rafilus, dan “Menengok Masa Lampau” dalam Fofo dan Senggring. Meskipun demikian, Budi Darma tahu bahwa dalam setiap tahap perkembangannya, ia menyelesaikan sesuatu yang utuh, tidak setengah-setengah, dan tidak eksperimental.

Budi Darma merupakan penulis produktif dengan kualitas yang terus terjaga. Sepanjang masa kepengarangannya, tidak ada karya yang keluar dari konsep kepengarangannya. Semua karyanya tidak lain benih dari konsep kepengarangan yang ia hayati. Menulis cerita dengan materi apa pun karya itu selalu memiliki kekhasan atau sidik jari Budi Darma. Dalam karya-karyanya entah itu yang realistis maupun absurd ada konsep yang terus dipegangnya secara konsisten. Bukan pada aliran penulisannya melainkan pada tokoh manusia yang digarapnya. Memang, Budi Darma berkecendrungan menulis tentang manusia-manusia aneh dan tak bernama semisal tokoh penyair besar, laki-laki setengah umum, laki-laki mencurigakan, dan orang-orang pengadilan. Bukan nama yang menjadi persoalan, tetapi bagaimana karakterisasi tokoh-tokoh itu sehingga membentuk sosok yang kuat.

Latar dalam cerpen dan novel Budi Darma sesungguhnya menunjuk pada situasi yang dialami tokoh-tokohnya dan bukan menunjuk pada latar bersifat sosial apalagi fisik. Ia lebih banyak memerhatikan masalah-masalah yang berlaku secara universal. Meskipun bahan-bahan karya sastranya mengambil latar di Indonesia, namun bahan-bahan itu diolahnya sehingga karya sastra yang dihasilkan memiliki jarak dengan bahan mentahnya. Karya-karyanya adalah suatu bentuk pemikiran tentang kepahitan dan kekosongan hidup; kesepian, keterasingan, kesendirian, dan kekejaman.

Karya-karya Budi Darma memiliki ciri khas: pusat ceritanya ada pada tokoh. Tokoh mendapat perhatian utama, bahkan yang utama. Tokoh bersama penokohannya diletakkan pada titik utama untuk menerjemahkan tema supaya menjadi konkret. Hampir semua karyanya adalah bentuk penerjemahan gagasan yang abstrak berupa manusia kesepian, sulit mengadakan komunikasi dengan orang lain, ke dalam cerita yang nyata. Kumpulan cerpen Orang-Orang Bloomington bisa menjadi contoh yang baik. Sembilan cerpen yang ditulisnya saat menempuh pendidikan di Bloomington, bercerita seputar orang-orang yang diamatinya di Bloomington. Dalam cerpen-cerpen tersebut tidak terdapat kegamangan dalam bercerita karena seluruh ceritanya berlatar di Kota Bloomington.

Kemampuan untuk memasuki jiwa tokoh-tokohnya membuat Budi Darma tidak mengalami gegar budaya untuk menuliskan cerita-cerita yang bukan miliknya. Tidak ada masalah kultural dalam dirinya. Bahkan, dalam Olenka, latar budaya Barat bisa dicerna sebagaimana orang Barat memahaminya.
Sebaliknya, karya-karya Budi Darma dalam Rafilus, Nyonya Talis, dan cerpen-cerpen yang berlatar Indonesia, tidak lantas dipenuhi corak sosial-kultural Indonesia. Karya-karya tersebut tidak langsung mengacu pada Surabaya meskipun secara fisik novel Rafilus dan Nyonya Talis berlatar kota Surabaya. Kota-kota yang dihadirkan dalam novel Budi Darma bukan kota yang tertera dalam opini banyak orang tentang kota tersebut, atau kota yang tertera dalam brosur biro perjalanan. Kota-kota tersebut adalah kota yang ada dalam bayangan tokoh-tokohnya lewat imajinasi Budi Darma selaku pengarang.

Budi Darma memasuki jiwa tokoh-tokohnya berdasarkan sifat-sifat, antara lain culas, baik, jahat, pendendam, dan seterusnya. Tokoh-tokoh tersebut tidak jatuh pada sentimen lokal di mana tokoh tersebut berada. Dalam istilah Budi Darma sendiri, ia mengebor sukma tokoh-tokohnya. Dengan mengebor sukma itu secara tidak langsung ia bisa dikatakan kosmopolit. Ia tidak latah pada konteks lokal, tetapi ia masuk pada sanubari manusianya. Misalnya cerpen Gauhati yang berlatar India. Tidak terasa keindiaannya dalam cerpen tersebut. Justru, pembaca hanya mengalami pergulatan kemanusiaan itu dengan jiwanya masing-masing.
Konsep kepengarangan Budi Darma inilah yang membedakan sekaligus memberi kekhasan pada keseluruhan karya-karyanya. Ia membaca banyak buku dan karya-karya orang lain, tetapi ia sama sekali tidak terbawa oleh karya-karya mereka. Konsep kepengarangan itulah yang memandu dan membuat karya-karya Budi Darma nyaris tidak mendapatkan epigonnya. Sebab konsep kepengarangannya bukanlah soal menulis, melainkan pandangan keseluruhan yang dibuat dan dihayati sang pengarang sepanjang hidupnya.

* Imam Muhtarom, lahir 12 Mei 1977. Lulus dari Fakultas Sastra Universitas Airlangga Surabaya pada 2001. Menulis fiksi, resensi buku, ulasan sastra, penulis pameran seni rupa, dan karya terjemahan. Pada 2000 dan 2001 dua fiksinya diantologikan dalam Gonjong 1 dan Potret Keluarga (Universitas Negeri Padang-Universitas Deakin Australia), dan dialihbahasakan ke bahasa Inggris. Mendapatkan penghargaan Blog Sastra (2011) dari Badan Bahasa, Jakarta. Salah satu dari 10 Terbaik penulisan cerpen Harian Bali Post (2002). Kumpulan cerpennya Rumah yang Tampak Biru oleh Cahaya Bulan diterbitkan Grasindo (2007). Cerpennya masuk dalam Kumpulan cerpen bersama Si Murai dan Orang Gila (DKJ dan Kepustakaan Populer Gramedia, 2010), dan Matahari di Nusantara (Pusat Bahasa, Kemendiknas, 2010). Buku kumpulan esei sastra KULMINASI, Teks, Konteks, Kota akan terbit pada 2013. Penelitiannya mengenai karya Budi Darma, antara lain Tokoh dan Penokohan dalam Kumpulan Cerita pendek Orang-Orang Bloomington Karya Budi Darma. Kini, kurator Borobudur Writer and Cultural Festival 2012.

NB : diambil dari web www.kultur-majalah.com

____________________

Redaktur SARBI: Dody Kristianto

Wednesday, December 18, 2013

Mempertimbangkan Keseragaman

 photo ArtistKennethMartin19051984TitleSeventeenLinesDate1959-63MediumOilpaintonhardboardDimensionssupport1524x914mmCollectionTate_zpseb7b2471.jpg
Artist: Kenneth Martin (1905‑1984) | Title:  Seventeen Lines | Date 1959-63 
Medium: Oil paint on hardboard | Dimensions support 1524 x 914 mm | Collection: Tate


Oleh Umar Fauzi Ballah

Ketika diluncurkan sebagai buku puisi “pilihan” Festival Seni Surabaya 2013, 28 November lalu, saya membayangkan akan mendapatkan sebuah kejutan dari puisi silat karya Dody Kristianto bertajuk Petarung Kidal. Sebuah kejutan yang memacu andrenalin seperti saat membaca beberapa puisi tersebut yang pernah dimuat di harian Kompas, Lampung Post, dan Koran Tempo. Setidaknya, perasaan serupa juga bisa dibaca dari antusias teman-teman di jejaring sosial dalam menyambut buku ini. Bahkan, Rakhmad Giryadi “meresepsi” kekaguman tersebut dalam bentuk puisi yang pernah dimuat di Jawa Pos edisi 10 November 2013 berjudul “Pertarungan Hujan (teruntuk pendekar Dody Kristianto).”
Saya pun membayangkan bahwa dipilihanya serpihan puisi silat Dody Kristianto itu atas dasar kekaguman serupa. Setidaknya, hal itu dapat dibaca dari kata pengantar puisi tersebut bahwa dalam rentang lima tahun terakhir Dody Kristianto menunjukkan perkembangan pencapaian estetika yang signifikan. Itu pun benar adanya. Saya sepakat akan hal itu.

Puisi Dody Kristianto berada dalam pusaran arus puisi Indonesia mutakhir di mana puisi lahir sebagai olahan dari teks yang ada. Puisi lahir untuk mempercanggih bahasa lain sebagai sebuah modifikasi puitik. Puisi bertumpu pada teknik, keterampilan, dan kepengrajinan bahasa yang melahirkan kesan-kesan puitik, untuk tidak mengatakan bahwa beberapa puisi mutakhir minus “pesan.”
Lalu mengapa serpihan puisi silat Dody Kristianto yang dipilih panitia? Jawaban panitia adalah karena penyair ini memiliki keunikan pemilihan tema puisi yang dipilihnya, yakni renik-renik ingatan antropologis tentang ilmu silat.

Di bumi nusantara ini khasanah ilmu silat adalah seni yang bisa dikatakan adalah warisan leluhur yang masih bertahan sampai saat ini dalam berbagai variannya, misal, cerita silat, perguruan silat, maupun kitab-kitab yang menerakan berbagai jurus-jurus.
Dody Kristianto sepertinya awas pada hal yang demikian untuk kemudian ia modifikasikan dalam bahasa yang puitis. Walhasil, dari pengamatan itu, dia melahirkan 27 puisi yang kesemuanya tentang jurus dan tentang pertarungan. Di sinilah kemudian letak persoalan itu.  Ketakjuban yang saya dapatkan ketika membaca puisi tersebut dalam bentuk serpihan yang tersebar di berbagai media tiba-tiba lenyap dan senyap. Ada hal ganjil ketika semua itu dihadirkan dalam sebuah buku.

Saya perlu bersabar menghadapi berbagai kelebat jurus silat yang ada dalam buku tersebut. Bersabar juga dengan keseragaman pengucapan, tempo, dan suasana puisi tersebut.

“Kecelakaan” serupa hampir saya temukan dalam beberapa buku puisi, yakni ketakjuban yang berbeda dari serpihan puisi dan buku puisinya. Indikasi ini saya simpulkan sebagai bentuk ketidakjeliaan dalam menyunting serpihan puisi ke dalam buku puisi. Akhirnya, puisi yang dalam bentuk serpihannya tampak anggun menjadi kehilangan ruh ketika berada dalam kumpulan. Maka dari itu, saya pun mengajukan sebuah gugat, perlukah serpihan puisi itu disunting demi gagasan yang berhasil dalam bentuk buku?
            Saya tidak hendak mengatakan bahwa Petarung Kidal adalah sebuah kumpulan yang gagasannya kurang tersampaikan dengan rapi dan baik. Buku ini bahkan jelas sekali hendak merangkum tentang apa, pencak silat. Persoalan yang ada dalam puisi-puisi di dalamnya adalah keseragaman.

Pertama, mari kita simak tempo, suasana, dan nada dalam puisi-puisi tersebut. Beberapa puisi di dalamnya gandrung pada cara membuka dengan pilihan kata negatif. Lihatlah betapa bertaburan diksi semisal, bukan dan jangan baik sebagai pembuka maupun dalam tubuh puisi. Selain itu, diksi dengan kata bermakna penegasan seperti sungguh pun bertaburan dalam puisi-puisi di dalamnya.

Kedua, puisi silat Dody Kristianto ini mengambil wilayah naratif di mana aku adalah tanding dari kamu atau kau sebagaimana puisi “Jurus Terjauh”. Akan tetapi, aku lebih banyak bersembunyi. Kehadirannya seolah-olah hendak mengajari sang musuh, kamu. Dalam hal itu, tidak bisa tidak kehadiran kata-kata penegasan yang lain seperti, percayalah, ingatlah.

Dody Kristianto pada dasarnya mampu memetaforkan kisah silat itu dalam puisi silat dengan baik. Saya kutip bait ini yang saya kira cukup mewakili fenomena yang sering kita lihat. Namun, menjadi berkilauan dalam bahasa yang puitis. ia yang kamu kira bercakar/ sebenarnya hanya mengandalkan genggam/ genggaman terkencang, gengaman/ yang kamu pandang sederhana saja/ namun ia dapat menyobek belulangmu/ dan membuat tulangmu tampak di luaran.

Dody berhasil menjadi “penemu” modifikasi puisi silat dari khasanah nusantara ini. Dengan puisi-puisi tersebut, tampaklah kesignifikanan pencapaian estetikanya. Namun, keseragaman pengucapan dalam puisinya telah memukulnya kembali.
Akhirnya, saya hanya bisa membayangkan puisi-puisi itu tanpa judul. Hanya ditandai penomoran /1/, /2/, /3/ dan seterusnya. Pun dengan membuang subjudul, kemudian adanya endnotes untuk menjelaskan judul semula sebelum dibukukan. Barangkali itu jurus terindah untukmu!

NB : Ini adalah tulisan yang dibuat oleh Umar Fauzi Ballah saat diskusi buku Petarung Kidal di iBoekoe, Yogyakarta, pada 15 Desember 2013.

__________________

Redaktur SARBI: Guruh Sable W

Tuesday, December 17, 2013

Dari Diskusi Petarung Kidal di iBoekoe, Jogjakarta, 15 Desember 2013

Umar Fauzi Ballah (tengah) dan Bung Faiz iBoekoe
Pendekar dari Banten, Ahmad S Rumi sedang memberikan paparan
Pendekar Umar Fauzi Ballah yang jauh-jauh datang dari Sumenep
R Giryadi (berjaket putih) tengah khusyuk mengikuti diskusi
Salamet Wahedi (bernaju hitam) saat membuka acara
Beberapa penyair yang hadir adalah Shohifur Ridho (paling kanan) dan di sebelahnya Badrul Chairul Munir
Diskusi seru di iBoekoe. Dari ki-ka : Ahmad S Rumi, Moh. Fatoni, Dody Kristianto, dan Alek Subairi
Ahmad S Rumi (memegang mic), Moh. Fatoni, dan Dody Kristianto
Baca juga esai pengantar diskusi Umar Fauzi Ballah (klik)
____________________

Redaktur SARBI: Guruh Sable W

Tuesday, December 10, 2013

Undangan Bedah Buku Puisi "Petarung Kidal" Karya Dody Kristianto

 photo DiskusiPetarungkidalcopy_zps1d1c5311.jpg

Puisi-Puisi Sitor Situmorang

 photo sitorsitumorang_zps8c90845a.jpg

Berita Perjalanan
        Buat H.B. Jassin

Kujelajah bumi dan alis kekasih
Kuketok dinding segala kota
Semua menyisih

Keragaman nikmat bebas
Serta kerdilnya ikatan batas
Tersisa di tangkapan hanya hampa

Saat memuncak
Detik menolak
Terbanting diri pada kebuntuan

Hati berontak
Batas mengelak
Meruah ingin dalam kekosongan

Jakarta, A’dam, Paris, Genova satu nama
Salju Alpina di Jibuti guruan Afrika
Sejak itu sepakat kebuntuan
Jadi teman seperjalanan kekosongan
Dalam sajak mencari kepenuhan
Perang antara kesetiaan dan pengembaraan

Kepada Anakku

Hai, anakku jadilah tukang
Di waktu senggang jangan baca
Sajak-sajak petualang

Cintailah kerjamu
Lupakan kepedihan bapak
Tebusan duka ibu

Bila datang penyair
Jangan terima bertamu
Segala yang mengingatkan padamu
Usir

Bahagia
Hanya di hidup sederhana

Antara pagi kerja
Dan senja memuja
Kehidupan sederhana
Di tengah manusia kenal setia

Paris-Yuillet
Bois de Boulogne Grand Lac

Antara hari-hari pohon tak berdaun
Kita terlena di bawah musim bunga
Hidup seakan kita serahkan pada hari mengalun
Tertidur di atas perahu kolam terlucut damba

Sungguh, Lamartine bisa saudara
Jika Rimbaud tak lari ke tepi Sahara

Gambar Kota Dulu

Depan jendela gadis mengurai rambut
Ditimpa sinar pagi menyepuh kota
Sungai di bawah memantul sinar bulan muda
Di mata selamanya yang masih kusut

Di cermin tertera kejadian dalam
Nafsu remaja yang berakhir di malam
Menyatu dengan dendang pagi
Hari baru yang menyusukan hati

Cinta hidup yang tidak kepalang
Di dadanya yang tak tahu diri telanjang
Meraih diriku yang tak tahu pulang
Sebelum semua pintu terpalang

Adakah malammu sudah berhenti risau
Mencari pacar
semenjak semua telah lalu
kenangan jad pudar?
Tapi kau bukan merpati ̶  kutahu
Yang bisa tenteram merindu
dalam sangkar
Akupun nanar.

Surat Kertas Hijau

Segala kendaraannya sudah tersaji hijau muda
Melayang di lembaran surat musim bunga
Berita dari jauh
Sebelum kapal angkat sauh

Segala kerontokan menonjol di kata-kata
Menepis dalam kelakar sonder dusta
Harum anak dara
Mengimbau dari seberang benua

Mari, Dik, tak lama hdup ini
Semusim dan semusim lagi
Burung pun berpulangan

Mari, Dik, kekal bisa semua ini
Peluk goreskan di tempat ini
Sebelum kapal dirapatkan

______________________________

Sitor Situmorang adalah seorang penyair ulung Indonesia yang telah puluhan tahun berkarya. Ia lahir pada tanggal 2 Oktober 1923 dan genap berusia 90 tahun. Bagi Sitor, mencapai usia lanjut bukan halangan untuk berkarya, karena Sitor masih menulis puisi, masih menikmati karya sastra orang lain dan selalu bersemangat untuk mengikuti diskusi dan pembicaraan mengenai sastra dan politik. Beberapa buku puisinya antara lain Surat Kertas Hijau (1954), Dalam Sajak (1955), Wajah Tak Bernama (1956), Zaman Baru (1962), Dinding Waktu (1976), Angin Danau (1982), Bunga di Atas Batu (1989), serta Rindu Kelana (1994).

Ia dilahirkan di sebuah desa kecil bernama Harianboho di pulau yang (kini) bernama Samosir, sebuah pulau kecil di tengah Danau Toba di Sumatra Utara. Ia memiliki darah murni dari Suku Batak, karena dalam silsilah keluarga dari garis ayah dan ibu, semuanya merupakan orang Batak. Pada usia muda Sitor sudah merantau keluar kampung, dan pada akhirnya ia keliling dunia, sesuatu yang diinginkannya sejak remaja.

Kecintaannya pada Suku Batak telah diwujudkan dengan ketekunannya menelusuri sejarah suku tersebut yang kemudian disusun dalam satu buku berjudul Toba Na Sae (The Last Toba). Dalam buku itu Sitor merunut sejarah sukunya melalui berbagai penelitian pustaka, mewawancarai tokoh adat bahkan juga menyusun kembali legenda dan mitos yang selama ini dikenal sebagai cerita lisan (dongeng). "Nama pulau Samosir dulu bukan Samosir, tetapi karena orang-orang dari desa Samosir sering menyeberang ke daratan, maka orang mengenal dan menjuluki semua penduduk pulau itu sebagai orang dari Pulau Samosir," kata Sitor sekilas mengenai sejarah kampung halamannya.

Sang pengenala ini mengaku sangat mencintai kota Paris, Perancis yang disebutnya sebagai Jantung Peradaban Eropa. Setelah gagal dalam pernikahan pertama (dan mempunyai sejumlah putra dan cucu), Sitor  melabuhkan hatinya pada seorang wanita Belanda, Barbara Brouwer yang menjadi istrinya serta ibu dari seorang anaknya. Puisi-puisi di atas diambil dari kumpulan Malam Sutera (2004, Matahati).

Redaktur SARBI: Dody Kristianto


Dicari: HB Jassin untuk Forum Lingkar Pena

 photo ArtistFernandLeacuteger18811955TitleABCDate1927MediumGouacheonpaperDimensionssupport194x278mmframe410x503x20mmCollectionTate_zps817884bf.jpg
Artist Fernand Léger (1881‑1955) | Title ABC | Date 1927 | Medium Gouache on paper Dimensions support: 194 x 278 mm frame: 410 x 503 x 20 mm | Collection Tate

Esai Hafi Zha

Seandainya saja HB Jassin dihidupkan kembali, pasti dia akan memilih untuk mati lagi. Melihat begitu bertebarannya karya sastra baik di media cetak, maupun di media internet, HB Jassin pasti akan segera mengatakan “Kuburkan aku kembali.”
Teeuw pernah menyebut HB Jassin sebagai penjaga sastra Indonesia. Siapa yang berani meragukan sumbangsih sang Paus Sastra itu? Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin adalah warisan takterbantahkan bagi dunia sastra Indonesia. Siapa yang mampu menggantikannya saat ini?
Di masa sekarang perkembangan dunia tulis menulis sangatlah pesat. Sarana publikasi, baik media cetak maupun internet bisa dimanfaatkan untuk mempublikasi karya. Maka tidak heran jika banyak penulis-penulis baru lahir tanpa bisa dibendung. Mereka membawa berbagai macam cerita dengan bermacam aliran. Semuanya memberi warna dalam perjalanan dunia tulis menulis sastra kita.
Geliat para penulis ini pun diikuti dengan tumbuhnya komunitas-komunitas penulis. Menulis tak lagi sekadar mencurahkan isi hati dan pikiran atau memberikan hiburan. Akan tetapi lebih dari itu, mencoba mengusik pembacanya untuk bercermin diri. Merasakan dan menghayati. Sebuah perkumpulan menjadi sebuah wadah untuk berbagi ilmu, bertukar pikiran, dalam mencapai suatu tujuan tertentu. Dengan satu idealisme.
Forum Lingkar Pena (FLP) merupakan salah satu komunitas penulis yang terbesar di negeri ini. Memiliki banyak anggota yang tersebar di berbagai negara. FLP seperti oase di tengah gersangnya bacaan yang humanis dan agamis. Dalam hitungan waktu yang singkat, FLP mampu menelurkan banyak penulis. Karya-karya para penulisnya tersebar di berbagai media.
Namun, sangat disayangkan karena kelahiran penulis FLP tak diikuti dengan lahirnya seorang HB Jassin. Karya-karya yang ditelurkan menguap entah ke mana. Dengan kata lain, tak ada apresiasi atau kritik terhadap karya-karya tersebut. Padahal, jika saja sebuah karya dikupas tuntas, diapresiasi, ataupun dikritik, tentu akan sangat membantu penulisnya untuk berkembang. Dan secara tidak langsung akan mendorong penulis yang lain untuk berkarya lebih baik lagi. Menjadi sebuah kebanggaan tersendiri bagi seorang penulis bila karyanya diapresiasi oleh seorang ahli sastra.
Ketiadaan seorang yang mengambil peran sebagai kritikus dalam organisasi membuat FLP berjalan di tempat. Tidak bisa disebut mengalami kemunduran. Tapi juga tidak bisa dibilang mengalami kemajuan. Anggotanya tetap ada, dan mungkin terus bertambah. Para penulisnya masih berkarya, walau kadang orang luar hanya mengetahui nama-nama penulis yang “itu-itu” lagi.


----------------------------------------------

NB : Ketika iseng browsing di internet, kami tiba-tiba menemu esai ini. Mungkin, membincang eksistensi FLP masih cukup menarik. Selain memang dikenal sebagai komunitas dengan jumlah anggota yang cukup besar, karya-karya anggota FLP jelas bejibun. Namun, seperti disoroti oleh penulis esai, masih belum ada kritik yang menyoroti karya-karya FLP yang luar biasa melimpah ini. Esai ini diambil dari blog www.rumahkata-hafizha.blogspot.com. Link : http://rumahkata-hafizha.blogspot.com/2012/02/dicari-hb-jassin-untuk-forum-lingkar.html

FLP bukan tidak memiliki orang-orang sekualitas H.B. Jassin. Helvy Tiana Rosa dan M. Irfan Hidayatullah hanyalah salahdua dari orang-orang itu. Selain sebagai dosen sastra, mereka juga tercatat sebagai kandidat doktor di perguruan tinggi negeri terkemuka. Andai saja keduanya mau mengambil peran yang dahulu dimainkan oleh H.B. Jassin, tentu saja FLP akan menjadi organisasi yang terkemuka. Dunia apresiasi di FLP akan hidup. Upaya itu memang sudah mulai dirintis oleh Wildan Nugraha dan diharapkan diikuti oleh para akademisi yang tentunya suara mereka dibutuhkan untuk mengadvokasi karya para anggota, seperti yang dulu pernah dilakukan H.B. Jassin terhadap karya-karya Chairil Anwar.

Dunia sastra saat ini memang berbeda dengan zaman H.B. Jassin. Oleh sebab itu, tugas kritik sastra yang dahulu banyak dimainkan Jassin, bisa mulai dilakukan di komunitas-komunitas. Selain itu, usaha pendokumentasian karya-karya anggota FLP perlu dilakukan sebagai upaya menegakkan benang merah sejarah. Seandainya upaya ini dilakukan dengan sangat serius, bukan takmungkin, gaung FLP tidak hanya terdengar di dalam negeri, tetapi juga di mancanegara. Kami percaya.

Redaktur SARBI: Dody Kristianto


Monday, December 9, 2013

Undangan Berpartisipasi Dalam Ubud Writers & Readers Festival ( UWRF) 2014

 photo 11113478274_07b72867f1_z_zps157838c7.jpg 

Ubud Writers & Readers Festival kembali membuka seleksi karya untuk festival 8 – 12 Oktober  2014.

UWRF akan memilih 15 penulis emerging Indonesia yang kehadiran serta partisipasinya di festival akan didanai oleh UWRF dan lembaga funding mitra Hivos. Pemilihan akan didasari pada sejumlah kriteria, termasuk kualitas karya, prestasi dan konsistensi dalam berkarya, serta dedikasi pada pengembangan kesusastraan Indonesia. Seleksi dilakukan oleh Dewan Kurator yang beranggotakan penulis-penulis senior Indonesia.

Kegiatan festival meliputi: Panel Diskusi, pembacaan karya, lokakarya, peluncuran buku, pementasan seni, serta beberapa acara satellite yang diadakan di beberapa kota di Indonesia.

Bila Anda adalah penulis Indonesia, atau mengenal penulis yang Anda anggap layak, layangkan pendaftaran sesuai syarat dan ketentuan di bawah ini:
  • Penulis adalah warga negara Indonesia ( menyertakan fotokopi KTP)
  • Menulis karya sastra, baik berupa puisi, prosa ( cerpen, novel, atau novelet), naskah drama maupun karya nonfiksi.
  • Karya dapat berupa buku, kumpulan naskah yang belum ataupun sudah pernah diterbitkan di media massa.
  • Penulis yang sudah menerbitkan buku silahkan mengirimkan beberapa buku karyanya.
  • Bagi penulis yang belum menerbitkan buku dipersilahkan mengirimkan 30 karya puisi terbaik atau 8 karya cerpen terbaik, atau 5 karya essai, atau 3 naskah drama dengan dijilid.
  • Karya dapat juga dikirimkan melalui email dan panitia akan meminta hardcopy jika diperlukan.
  • Sertakan biodata diri, nomor kontak / HP dan alamat email dengan jelas. Silahkan melampirkan tentang aktivitas sastra dan keterlibatan dalam komunitas yang diikuti. Apabila anda menggunakan nama pena, mohon sertakan juga nama lengkap yang asli.
  • Koresponden dan pengumuman seleksi akan dilakukan melalui Email.
Kirim ke sekretariat panitia UWRF paling lambat tanggal 30 Januari 2014 (cap pos). Pengumuman 15 penulis yang terpilih akan di umumkan pada akhir Mei 2014.
Pengiriman Aplikasi ditujukan kepada :

Program Indonesia – Ubud Writers & Readers Festival
Jl. Raya Sanggingan Ubud – Indus Restaurant. PO Box 181, Ubud Bali 80571. 
Telp : 0361-7808932
Email : gustra@ubudwritersfestival.com 

*Bagi penulis dari luar Bali yang terpilih, Panitia akan menanggung biaya  transportasi (penerbangan) dan akomodasi selama berlangsungnya acara dari tanggal 8-12 Oktober 2014.

CATATAN: Tema UWRF 2014 akan segera diumumkan panitia.

www.ubudwritersfestival.com


NB : Informasi ini diambil dari laman www.negerigunturalam.wordpress.com. Bila ada kawan-kawan penulis yang berminat, silahkan dicoba!


Puisi-Puisi Wing Kardjo

 photo T07486_9_zpse646e166.jpg
Sir Stanley Spencer | Zacharias and Elizabeth 1913-14 | Oil and pencil on canvas
support: 1426 x 1428 x 24 mm frame: 1703 x 1705 x 130 mm


Yang Jauh
Seolah hidup harus hidup
kau yang jauh, makin jauh
saja, seakan hanya bayang-
bayang di bawah pohon teduh
Kau hilang dari pemandangan
tapi pula tak mati seperti mimpi.
Adakah yang kautunggu selalu
meskipun hari-hari terus berlalu?
Mungkin petang dan bayang-
bayang musim panas makin
panjang, makin cemas
daun-daun menguning mendekati
musim gugur. Hari makin pendek
saja. Nanti, nantikanlah!

Piknik 55
Kereta terakhir menderit
di ujung stasiun. Telah habis hari ini
perjalanan bersama, senja di balik bukit-
bukit kelabu. Telah lalu umur hari, satu dari

panjangnya rasa. Jauh berbeda
udara pegunungan daripada kota
yang satu ketenangan, yang lain keriuhan,
ketekunan dalam kerja, kesibukan dalam nyala.

Dua-duanya sama-sama
menghidupi kelanjutan,
kehijauan tumbuhan

dan harapan. Masih luas
lapangan dan subur
turun keakanan.

Bukit
Bukan kebetulan hidup kaurisaukan
meski makan dan penginapan
sudah terjamin hingga
tahun depan

Dalam gelisah tidur, mimpi mendaki
bukit telur, kapan kapal pecah, laut
berdebur. Bagaimana bisa tekebur
hidup bisa begitu saja lebur.

Pentingnya hati terkunci di laci,
lahir sajak seperti arak,
yang terpendam dalam-

dalam, diperam
cahaya bulan.
Bulan.

Scheveningen
Laut, lautkah itu
yang kauberikan padaku
seperti yang kaujanjikan
dulu, sepi dan tak berarti

Laut, lautkah itu
gemerlap dan perak
di tiap ombak, pecah dan
bersatu dalam keluasan waktu

Laut
lautkah itu, yang
kauberikan padaku

dan
hanya itu
saat kau berlalu!

Surga
Ke Paris!
(menghindari
sipilis) Amsterdam
God damn!

Sementara
Iqra buka celana
aku menunggu depan
etalase kaca.

(yang tirainya
menutup dan membuka)

Aku sengsara, sengsara
bukan karena neraka
tapi surga di mana-
mana!

Perut
Hari melonjak
dalam perut sajak.
Sepi tak beranjak.

Bayang
Di kelab malam
lampu dan bayang-bayang
Tak pernah tentram
 
Rumah
Berumah tanah.
beratap langit, dua-
duanya pahit?

Waktu

1.
Aku makan
waktu. Aku
makan mimpi, aku
makan nasi lauk-pauk basi.

Minum racun
buah-buahan busuk
yang disisihkan Adam
dan Hawa di sisi senja,

Kala Tuhan
menenggelamkan
matahari dalam kelam

dan dosa
mengusir mereka
dari Sorga

2.
Andai mesti
suci mengapa manusia
tergoda, andai penuh cinta
mengapa mesti sepi dan sia-sia

Andai jasad fana
mengapa jiwa mesti
baka, andai hidup maya
mengapa mesti cari selamat.

Aku
hanya bisa
mencatat detik-

detik melompat
memohon
tobat


Wing Kardjo lahir Garut 23 April 1937, dan meninggal dunia di Jepang pada 19 Maret 2002. Kumpulan puisinya yang sudah terbit Selembar Daun (Pustaka Jaya, 1974), Perumahan (Budaya Jaya, 1975), Fragmen Malam (Pustaka Jaya, 1975), dan Pohon Hayat: Sejemput Haiku (Forum Sastra Bandung, Mei 2002. Ia juga menerjemahkan Pangeran Kecil karya Antoine St. Exepery dan Sajak-sajak Perancis Modern dalam Dua Bahasa (1975). Selain itu menulis pula sejumlah esai, dan novel pendek, semi biografi, terbit dengan judul Topeng.*

NB : puisi-puisi di atas dipetik dari beberapa sumber, yaitu www.langitjiwa.wordpress.com, www.kepadapuisi.blogspot.com, serta www.pikiran-rakyat.com

Redaktur SARBI: Dody Kristianto


Anda Pengunjung ke

SARBI

Tentang Kami

Sastra Alienasi Rumput Berbasis Independen (SARBI) adalah kelompok diskusi yang bergiat mendiskusikan perihal isu sastra, seni, dan kebudayaan terkini dengan mengambil sudut pandang alternatif. Selain itu, SARBI juga banyak menggali pemikiran tradisi negeri sendiri dan konsepsi mancanegara yang diharapkan dapat bersinergi sehingga menghasilkan pandangan kontemporer yang segar. Untuk membuktikan perihal tersebut, kami melahirkan lembar SARBI untuk ikut menghiasi keriuhan dunia sastra, seni, dan budaya serta berharap dapat menjadi oase untuk memenuhi dahaga kita •

Redaksi

Pemimpin Redaksi Sidang Redaksi Sidang Redaksi Sidang Redaksi Sidang Redaksi Sidang Redaksi Penata Artistik

Tinggalkan Pesan

Dokumen Post