Telah Terbit !

Yang sederhana, yang berserakan, yang tak diperhitungkan dan bertebaran di mana-mana, tetaplah harus dirayakan. Spesial SARBI edisi 8 di akhir tahun!

Segera Dapatkan !

Buku Puisi Karya KOMANG IRA PUSPITANINGSIH.

Toko Buku SARBI

Kumpulan buku bekas pilihan yang asik untuk dibaca dan dikoleksi dengan harga bersahabat.

Telah Terbit!

BULETIN TIKAR EDISI 02/2013 Diterbitkan oleh Komunitas Tikar Merah (KTM)

Dapatkan!

Buku Terbaru SARBIKITA Publishing Karya Heru Susanto

Blogroll

Monday, October 28, 2013

Syair Pemanggul Mayat Raih Penghargaan Balai Bahasa Jatim

Buku puisi Indra Tjahyadi yang berjudul Syair Pemanggul Mayat meraih penghargaan dari Balai Bahasa Jawa Timur sebagai kategori karya terbaik tahun 2013. Selain Syair Pemanggul Mayat, dewan juri yang terdiri dari Dr. IB Putera Manuaba, M Shoim Anwar, dan Widodo Basuki juga menetapkan Suparto Broto dan mendiang Suripan Sadi Hutomo sebagai penerima penghargaan sastrawan berdedikasi dan sastrawan anumerta. Sementara, penghargaan komunitas terbaik diberikan pada laboratorium Sastra LA Rose Lamongan. Masing-masing pemenang berhak atas hadiah uang tunai sebesar Rp10 juta.
Di samping pemberian penghargaan, Balai Bahasa Jawa Timur juga menggelar bedah empat majalah berbahasa daerah yakni Jokotole (bahasa Madura), Lontar using (bahasa Using), Titis Basa (bahasa Jawa), serta Ajisaka (beraksara Jawa). Diskusi yang menghadirkan narasumber Prof. Dr. Setya Yuwana Sudikan, MA dan sastrawan Jawa, JFX Hoery ini berlangsung dengan hangat. Setya Yuwana memberi masukan mengenai orientasi penerbitan keempat majalah ini. Selanjutnya, Yuwana pun menyarankan bahwa keempat majalah terbitan Balai Bahasa Jatim ini agar lebih menyasar siswa sekolah (SMP dan SMA).
Tak kalah kritis dengan Yuwana, JFX Hoery pun menyampaikan beberapa masukan perihal penyuntingan pada majalah Titis Basa. Bahkan, Hoery memaparkan secara rinci beberapa kesalahan penulisan dalam majalah Titis Basa yang masih belum menggunakan kaidah penulisan bahasa Jawa secara benar.
Acara penghargaan sastra 2013 dan bedah majalah berbahasa daerah pada hari Senin, 28 Oktober ini merupakan puncak rangkaian acara Gebyar 28 yang diadakan oleh Balai Bahasa Jawa Timur. Acara tahunan ini diselenggarakan dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda. (dk)          

Tuesday, October 8, 2013

Monolog Kasir Kita (2)

 photo ArtistPawelAlthamerborn1967TitleSelf-PortraitasaBusinessmanAutoportretjakoBiznesmenDate2002withadditions2004MediumJackettrou_zpse798fbf5.jpg

Karya Pawel Althamer(Lahir1967) Berjudul: Title Self-Portrait as a Businessman Autoportret jako Biznesmen Tahun 2002, with additions 2004 Medium:  Jacket, trousers, dress shirt, silk tie, shoes, socks, und. Koleksi Tate

Karya Arifin C Noer

naskah ini merupakan kelanjutan dari naskah monolog Kasir Kita karya almarhum Arifin C Noer. naskah ini sengaja ditampilkan karena memang sering digunakan sebagai naskah wajib pada perlombaan monolog tingkat SMA maupun tingkat perguruan tinggi.

Pasti isteri saya
Menarik napas panjang

Saya telah mencium bau bedaknya. Demikian wanginya sehingga saya yakin kulitnya yang menyebabkan bedak itu wangi. Oh, apa yang sebaiknya saya katakan?

Tidak! Saya harus tahu harga diri. Kalau dia ku maafkan niscaya akan semakin kurang ajar. Saudara tahu? Mengapa semua ini bisa terjadi? Oh, kecantikan itu! Ah! Bangsat! Selama ini saya diusiknya dengan perasaan-perasaan yang gila. Bangsat!

Saudara tahu? Dia telah berhubungan lagi dengan pacarnya ketika di SMA! Ya, memang saya tidak tahu benar, betul tidaknya prasangka itu. Tapi cobalah bayangkan betapa besar perasaan saya. Suatu hari secara kebetulan saya pulang dari kantor lebih cepat dari biasanya dan apa yang saya dapati? Laki-laki itu ada di sini dan sedang tertawa-tawa. Dengar! Tertawa-tawa. Ya, Tuhan. Cemburuku mulai menyerang lagi. Perasaan cemburu yang luar biasa.

Telepon berdering lagi.

Pasti dia.
Mengangkat gagang telepon.


Misbach Jazuli di sini, hallo?

Segera menjauhkan pesawat telepon dari telinganya.

Inilah ular yang menggoda Adam dahulu. Perempuan itu menelepon dalam keadaan aku begini. Jahanam! (kasar) Ya, saya Jazuli, ada apa? Nanti dulu. Jangan dulu kau memakai kata-kata cinta yang membuat kaki gemetar itu! Dengar dulu! Apa perempuan biadap! Kau telah menghancurkan kejujuranku! Dengarkan! Kau telah menghancurkan kejujuranku! Dengarkan! Kau telah menyebabkan semuanya semakin berantakan dan membuat aku gelisah dan takut seperti buronan!

Meletakkan pesawat dengan marah.

Betapa saya marah. Sesudah beberapa puluh juta uang kantor saya pakai berpoya-poya, apakah ia mengharap saya mengangkat lemari besi itu ke rumahnya. Gila!
Ya, saudara. Saya telah berhubungan dengan seorang perempuan, beberapa hari setelah saya bertengkar di pengadilan agama itu. Saya tertipu. Uang saya ludes, uang kantor ludes. Tapi saya masih bisa bersyukur sebab lumpur itu baru mengenai betis saya. Setengah bulan yang lalu saya terjaga dari mimpi edan itu. Betapa saya terkejut, waktu menghitung beberapa juta uang kantor katut. Dan sejak itulah saya ingat isteri saya. Dan saya mendengar tangis anak-anak saya. Tambahan lagi isteri saya selalu menelepon sejak seminggu belakangan ini.
Tuhanku! Bulan ini bulan Desember, beberapa hari lagi kantor saya mengadakan stock opname. Inilah penderitaan itu.

Memandang potret di atas rak buku.

Sejak seminggu yang lalu saya pegang lagi potret itu. Tuhan, apakah saya mesti menjadi penyair untuk mengutarakan sengsara badan dan sengsara jiwa ini?

Apabila anak-anak telah tidur semua, dia duduk di sini di samping saya. Dia membuka-buka majalah dan saya membaca surat kabar. Pabila suatu saat mata kami bertemu maka kami pun sama-sama tersenyum. Lalu saya berkata lembut : “Manis, kau belum mengantuk?” Wajahnya yang mentakjubkan itu menggeleng-geleng indah dan manis sekali. Dia berkata, juga dengan lembut : “Aku hanya menunggu kau, mas” Saya tersenyum dan saya berkata lagi : “Aku hanya membaca koran, manis” Dan lalu ia berkata : “ Aku akan menunggui kau membaca koran, mas” Kemudian kami pun sama-sama tersenyum bagai merpati jantan dan betina.

Kubelai rambutnya yang halus mulus itu. Duuh wanginya. Nyamannya. Lautan minyak wangi yang memingsankan dan membius sukma. Apabila dia berkata seraya menengadah “Mas”. Maka segera kupadamkan lampu di sini dan lewat jendela kaca kami menyaksikan pekarangan dengan bunga-bunga yang kabur, dan langit biru bening dimana purnama yang kuning telor ayam itu merangkak-rangkak dari ranting keranting.

Tiba-tiba ganti nada.

Hah, saya baru saja telah menjadi penyair cengeng untuk mengenang semua itu. Tidak-tidak! Laki-laku itu ............, sebentar. Saya belum menelepon ke kantor bukan ? Sebentar.

Diangkatnya pesawat telepon itu ! memutar nomornya.

Hallo, minta 1237 utara. Hallo ! ....... Saudara Anief ... ? Kebetulan .... Ya, ya, mungkin pula influenza. (batuk-batuk-dan menyedot hidungnya) Yang pasti batuk dan pilek. Saudara....ya?....Ya, ya saudara Anief, saya akan merasa senang sekali kalau saudara sudi memintakan pamit saya kepada pak Sukandar....Terima kasih...Ya? Apa? Saudara bertemu dengan isteri saya disebuah restoran?
Nada suaranya naik.

Apa? Dengan laki-laki? (menahan amarahnya) Tentu saja saya tidak boleh marah, saudara. Dia bukan istri saya. Ya, ya...Hallo! Ya, jangan lupa pesan saya pada pak Sukandar.
batuk dan menyedot hidungnya lagi

Saya sakit. Ya, pilek. Terima kasih.

Meletakan pesawat telepon.

Seharusnya saya tak boleh marah. Bukankah dia bukan isteri saya lagi? Ah, persetan : pokoknya saya marah! Persetan : cemburuan kumat lagi? Ah, persetan! Saudara bisa mengira apa yang terdapat dalam hati saya. Saudara tahu apa yang ingin saya katakan pada saudara? Saya hanya butuh satu barang, saudara. Ya, benar-benar saya butuh pistol, saudara. Pistol. Saya akan bunuh mereka sekaligus. Kepala mereka cukup besar untuk menjaga agar peluru saya tidak meleset dari pelipisnya.

Nafasnya sudah kacau.

Kalau mayat-mayat itu sudah tergeletak di lantai, apakah saudara pikir saya akan membidikkan pistol itu ke kening saya? Oh, tidak! Dunia dan hidup tidak selebar daun kelor, saudara! Sebagai orang yang jujur dan jangan lupa saya adalah seorang ksatria dan sportif, maka tentu saja secara jantan saya akan menghadap dan menyerahkan diri pada pos polisi yang terdekat dan berkata dengan bangga dan herooik : “Pak saya telah menembak Pronocitra dan Roro Mendut.”

Tentu polisi itu akan tersenyum. Dan kagum campur haru. Dan bukan tidak mungkin ia akan memberi saya segelas teh. Dan baru setelah itu membawa saya ke dalam sebuah sel yang pengap.

Hari selanjutnya saya akan diperiksa. Ya, diperiksa. Lalu diadili. Ya, diadili. Saudara tahu apa yang hendak saya katakan pada hakim? Kepada hakim, kepada jaksa, kepada panitera dan kepada seluruh hadirin akan saya katakan bahwa mereka pengganggu masyarakat maka sudah sepatutnya dikirim ke neraka jahanam. Bukankah bumi ini bumi Indonesia yang ketentramannya harus dijaga oleh setiap warganya?

Saudara pasti tahu seperti saya pun tahu hakim yang botak itu akan berkata seraya menjatuhkan palunya : “Seumur hidup di Nusa Kambangan!”
Pikir saudara saya akan pingsan mendengar vonis semacam itu? Ooo, tidak saudara. Saya akan tetap percaya pada Tuhan. Tuhan lebih tahu daripada Hakim yang botak dan berkaca mata itu.

Lagi pula saya sudah siap untuk dibawa ke Nusa Kambangan. Di pulau itu saya hanya akan membutuhkan beberapa rim kertas dan pulpen. Ya, saudara. Saya akan menjadi pengarang. Saya akan menulis riwayat hidup saya dan proses pembunuhan itu yang sebenarnya, sehingga dunia akan sama membacanya. Saya yakin dunia akan mengerti letak soal yang sejati. Dunia akan menangis. Perempuan-perempuan akan meratap.

Dan seluruh warga bumi ini akan berkabung sebab telah berbuat salah menghukum seseorang yang tak bersalah. Juga saya yakin hakim itu akan mengelus-elus botaknya dan akan mengucurkan air matanya sebab menyesal dan niscaya dia akan membuang palunya ke luar. Itulah rancangan saya.

Saya sudah berketetapan hati. Saya sudah siap betul-betul sekarang. Siap dan nekad. Ooo, nanti dulu. Saya ingat sekarang. Saya belum punya pistol. Dimana saya bisa mendapatkannya? Inilah perasaan seorang pembunuh. Dendam dendam yang cukup padat seperti padatnya kertas petasan. Dahsyat letusannya. Saya ingat Sherlocks Holmes sekarang. Agatha Christi, Edgar Allan Poe. Sekarang saya insaf. Siapapun tidak boleh mencibirkan segenap pembunuh. Sebab saya kini percaya ada berbagai pembunuh di atas dunia ini. Dan yang ada di hadapan saudara, ini bukan pembunuh sembarang pembunuh. Jenis pembunuh ini adalah jenis pembunuh asmara.

Nah, saya telah mendapatkan judul karangan itu.
“Pembunuh Asmara” Lihatlah dunia telah berubah hanya dalam tempo beberapa anggukan kepala. Persetan! Dimana pistol itu dapat saya beli? Apakah saya harus terbang dulu ke Amerika, ke Dallas? Tentu saja tidak mungkin. Sebab itu berarti memberikan mereka waktu untuk melarikan diri sebelum kubekuk lehernya.

Oh, betapa marah saya. Darah seperti akan meledakan kepala saya. Betapa! Sampai-sampai saya ingin menyobek dada ini. Oh,...saya sekarang merasa bersahabat dengan Othello. Saudara tentu kenal dia, bukan? Dia adalah tokoh pencemburu dalam sebuah drama Shakespeare yang terkenal.
Othello. Dia bangsa Moor sedang saya bangsa Indonesia, namun sengsara dan senasib akibat kejahilan cantiknya anak cucu Hawa.
Telepon berdering! Seperti seekor harimau ia!
Itu dia.
Mengangkat pesawat telepon dengan kasar.

Hallo!!! Ya, disini Jazuli !! Kasir !! Ada apa?
Tiba-tiba berubah.
Oh,...maaf pak. Pak Sukandar, kepala saya. Maaf, pak. Saya kira isteri saya. Saya baru saja marah-marah...Ya, ya memang saya...Ya, ya.

Tertawa.

Ya, pak...
Batuk-batuk. Menyedot hidungnya.
Influenza... Ya, mudah-mudahan..Ya, pak....Ya.
Saudara, dengarlah. Dia mengharap saya besok masuk kantor untuk pemberesan keuangan....Ya?..Insya Allah, pak..Ada pegawai baru?..Siapa, pak? Istri saya, pak?

Tertawa.
Ya, pak...

Batuk-batuk dan menyedot hidungnya.

Ya, pak. Terima kasih. Terima kasih, pak. Besok.
Meletakan pesawat telepon.

bersambung....


_____________________

Redaktur SARBI: Dody Kristianto

AKA, SAS, dan Musik “Bawah Tanah”

 photo hozabumscopy_zps1fce8cf9.jpg

Oleh Riza Sihbudi*

Pada tahun 1970-an di majalah Aktuil-majalah terbitan Bandung yang menjadi bacaan wajib para penggila musik-pernah ada polemik panjang lebar tentang grup asal Surabaya, AKA. Grup yang merupakan singkatan dari Apotik Kaliasin ini beranggotakan Ucok Harahap (vokal/kibor), Arthur Kaunang (bas/vokal), Sonata Tanjung (gitar/biola/vokal), dan Syeh Abidin (drum/vokal).
Polemik itu berkisar pada soal layak-tidaknya AKA mengklaim dirinya sebagai pengusung aliran underground (bawah tanah). Istilah bawah tanah waktu itu merujuk pada jenis musik ingar-bingar (heavy metal) yang dibarengi dengan berbagai atribut nonmusikal, seperti rambut gondrong, pakaian awut-awutan, serta atraksi panggung yang teatrikal dan sensasional.
AKA waktu itu gemar membawakan lagu-lagu keras milik Grand Funk Railroad, Led Zeppelin, Deep Purple, Black Sabbath, hingga James Brown. Lagu James Brown, Sex Machine, adalah salah satu lagu kegemaran Ucok. AKA gemar menampilkan aksi-aksi Ucok yang sensasional seperti Alice Cooper, band Amerika Serikat yang sangat dikenal dengan atraksi teatrikalnya, misalnya masuk ke peti mati atau diikat di tiang gantungan.
Di sisi lain, bagi para pengkritiknya, AKA dianggap kurang layak disebut sebagai penganut musik bawah tanah. AKA mengeluarkan album pertama mereka, Do What You Like (1970), yang berisi tiga lagu bernuansa rock keras berbahasa Inggris (Do What You Like, I’ve Gotta Work It Out, dan Glennmore) dan juga lagu-lagu pop Indonesia seperti Akhir Kisah Sedih dan Di Akhir Bulan Lima yang liriknya sangat bertolak belakang dengan semangat musik bawah tanah.
Oleh karena itu, AKA dianggap lebih tepat disebut sebagai penganut "ngandergron". Betapapun, kata para pengkritiknya, aliran bawah tanah juga mensyaratkan karya-karya dengan lirik yang kuat dan tidak asal-asalan.
NAMUN, terlepas dari kontroversi antara underground atau "ngandergron", yang jelas kehadiran AKA di panggung musik rock domestik era 1970-an tak bisa dipandang remeh. Bahkan, AKA yang dibentuk di Surabaya, 23 Mei 1967, bisa dianggap sebagai "pelopor" rock di Tanah Air.
Popularitas mereka waktu itu hanya bisa dikalahkan oleh grup-grup legendaris seperti Koes Plus atau Panbers. Para penonton selalu berjubel di setiap pementasan AKA. Artis film Roy Marten dan Hendra Cipta konon pernah mengaku harus menjual celana jins hanya karena ingin menyaksikan pentas AKA. Seorang anak di pelosok desa di Bali sejak kecil dipanggil dengan "Ucok" hanya lantaran ia berambut kribo. Itulah kira-kira gambaran betapa sekitar tahun 1970-an Ucok bersama AKA benar-benar menyihir masyarakat.
Demam musik rock seperti seiring dengan gaya rambut kribo. Orang tak malu lagi disebut kepalanya seperti "sarang burung", seperti ditulis Putu Fajar Arcana dalam artikel Ucok AKA Memang Pernah Gila di harian ini edisi 28 Oktober 2001.
Antara tahun 1969-1971, AKA sempat bermain beberapa kali di West Point Garden, Singapura. Ucok mengakui AKA terang-terangan berkiblat kepada grup-grup dunia seperti Beatles, Led Zeppelin, Deep Purple, Black Sabbath, Grand Funk, dan Bee Gees.
Maka, dalam setiap albumnya, AKA selalu menyelipkan lagu-lagu pop manis selain rock yang garang. Setelah Do What You Like, album-album AKA berikutnya adalah Reflections (1971), Crazy Joe (1972), Sky Rider (1973), Cruel Side Of Suez War (1974), Mr. Bulldog (1975), Pucuk Kumati (1977), serta empat album di tahun 1979 (AKA In Rock, The Best Of AKA, AKA 20 Golden Hits, dan Puber Kedua).
AKA juga pernah membuat album pop Melayu dan pop kasidah. "Waktu itu kami kebanjiran pesanan," ucap Ucok. "Tetapi, lagu dalam album pertama kami menduduki anak tangga pertama lagu-lagu Barat di radio Australia. Saya ingat waktu itu Ebet Kadarusman masih menjadi penyiar di Radio," kata Ucok, seperti ditulis di Kompas edisi 28 Oktober itu.
Pada setiap akhir pentas, AKA selalu menggelar atraksi teatrikal di panggung. Itulah salah satu ciri khas AKA. Itu mungkin yang menyebabkan banyak orang mengaitkan Ucok dengan ilmu magis. "Saya memang gila waktu itu. Banyak yang bilang saya punya magic. Tak ada apa-apa, itu hanya atraksi di panggung saja," kata Ucok, yang bernama lengkap Andalas Datuk Oloan Harahap dan sejak kecil belajar piano klasik dari seorang guru Belanda.
Dalam salah satu pentas AKA di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) tahun 1972, Ucok, seperti biasanya, dirajam oleh para algojo dan kemudian dimasukkan ke dalam sebuah peti mati yang lalu dipaku. "Saat saya mau masuk peti, tiba-tiba di dalam peti seperti sudah ada orang lain. Saya masuk juga. Tubuh perempuan itu dingin sekali. Saya tendang-tendang tutup peti sampai pecah," tutur Ucok.
Ketika berhasil keluar, Ucok berlari karena dikejar "perempuan" tadi. Ia berlari tanpa takut ke atas genteng. Atraksi itu membuat penonton histeris. Bahkan, ketika Ucok jatuh setelah tersetrum listrik, para penonton masih histeris.
PADA tahun 1976, lantaran Ucok mulai banyak terlibat proyek di luar AKA (di antaranya membentuk Duo Kribo bersama Ahmad Albar), ketiga personel AKA lainnya sepakat memproklamirkan berdirinya trio SAS yang merupakan singkatan dari ketiga personelnya. Di grup barunya ini, Arthur juga memainkan kibor dan gitar akustik, selain tetap jadi pembetot bas dan vokalis.
Oleh salah seorang penulis musik luar negeri, SAS pernah mendapat julukan sebagai number one rock group in Indonesia. Berbeda dengan AKA, SAS lebih banyak berkiblat pada jenis musik rock progresif ala ELP (Emerson, Lake & Palmer) dan Rush, trio rock asal Kanada.
Pengaruh band-band rock Inggris, khususnya Led Zeppelin dan Deep Purple, masih cukup kuat. Perbedaan lainnya, SAS tidak lagi menampilkan aksi-aksi teatrikal yang sensasional yang menjadi salah satu "cap dagang" utama AKA.
Namun, dibandingkan dengan AKA, eksplorasi musik rock yang dihasilkan SAS jauh lebih berwibawa. Jika dalam AKA mereka seakan-akan hanya tampil sebagai pengiring Ucok, SAS (Sonata, Arthur, dan Syeh) tampil lebih lepas dan eksploratif.
Bahkan, Arthur yang kidal ini mampu menunjukkan dirinya sebagai salah satu penulis lagu dan musik rock yang tangguh di Nusantara. Begitu juga permainan gitar Sonata yang dapat disejajarkan dengan gitaris-gitaris rock terdepan era itu seperti Ian Antono (God Bless).
SAS juga termasuk di deretan grup rock lokal yang amat produktif. Sampai tahun 1993, SAS menghasilkan lebih dari sepuluh album. Di antaranya adalah Baby Rock (1976), Bad Shock (1976), SAS Vol. III (1977), Lapar (1977), Sentuhan Cinta (1978), Exception (1978), Kasmaran (1979), SAS 1980, SAS 1981, Sansekerta (1984), Episode Jingga (1986), Sirkuit (1987), Metal Baja (1993), serta dua album kompilasi The Best Of SAS dan SAS 20 Golden Hits.
Agak berbeda dengan grup-grup lain, dalam empat album terakhirnya grafik kualitas permainan musik SAS justru tampak semakin meningkat dan matang. Album Metal Baja, misalnya, kendati tampak kalah "pamor" dibandingkan dengan Baby Rock atau Bad Shock, sebenarnya bisa disebut sebagai salah satu puncak karya SAS.
Sayangnya, sejak 1994, aktivitas musik SAS praktis terhenti. Salah satunya karena Sonata memutuskan beralih profesi menjadi seorang penginjil. Menurut pengakuan Arthur, SAS (juga AKA) secara resmi belum bubar. "Apalagi penggemar kami masih banyak," kata ayah artis cantik Tessa Kaunang itu.
Akan tetapi, konon Sonata sudah tidak mau lagi bermain musik rock. Walhasil, ketika pada tahun 1997 AKA membuat album "daur ulang" berjudul Puber Kedua, posisi Sonata digantikan gitaris tamu, Ian Antono.
Hanya saja, sisa-sisa kehebatan Arthur sesekali masih bisa kita saksikan di kafe-kafe seperti ketika ia bersama beberapa musisi muda memainkan Baby Rock, Sansekerta, dan Stairway To Heaven di Bali tahun lalu. "Rock never dies!" teriak dia.

*) Riza Sihbudi, Peneliti LIPI. 

NB : Artikel ini konon termuat pada Kompas cetak, entah edisi dan tahun kapan. Yang pasti, saat ini salah satu redaktur blog ini lagi keranjingan lagu-lagu AKA maupun SAS.

Redaktur SARBI: Dody Kristianto

Monday, September 30, 2013

Monolog Kasir Kita (1)

 photo EdwardHopper_OfficeatNight1940_CollectionWalkerArtCenterMinneapolisGiftoftheTBWalkerFoundationGilbertMWalkerFund1948copy_zpsade16a0d.jpg  
Karya Edward Hopper. Berjudul: Office at Night. Tahun 1940. Koleksi: Walker Art Center, Minneapolis; Gift of the T.B. Walker Foundation, Gilbert M. Walker Fund, Tahun 1948.

karya Arifin C Noer

Catatan : monolog ini termasuk naskah yang sering dijadikan naskah wajib untuk perlombaan monolog tingkat SMA maupun perguruan tinggi. Salah satunya adalah ajang Peksiminal.
_____________________________________


Ruang tengah dari sebuah ruang yang cukup menyenangkan, buat suatu keluarga yang tidak begitu rakus. Lumayan keadaannya, sebab lumayan pula penghasilan si pemiliknya. Sebagai seorang kasir di sebuah kantor dagang yang lumayan pula besarnya. Kasir kita itu bernama Misbach Jazuli
Sandiwara ini ditulis khusus untuk latihan bermain. Sebab itu sangat sederhana sekali. Dan sangat kecil sekali. Dan sandiwara ini kita mulai pada suatu pagi. Mestinya pada suatu pagi itu ia sudah duduk dekat kasregisternya di kantornya, tapi pagi itu ia masih berada di ruang tengahnya, kelihatan lesu seperti wajahnya.
Tas sudah dijinjingnya dan ia sudah melangkah hendak pergi. Tapi urung lagi untuk yang kesekian kalinya. Dia bersiul sumbang untuk mengatasi kegelisahannya. Tapi tak berhasil.
Saudara-saudara yang terhormat. Sungguh sayang sekali, sandiwara yang saya mainkan ini sangat lemah sekali. Pengarangnya menerangkan bahwa kelemahannya, maksud saya kelemahan cerita ini disebabkan ia sendiri belum pernah mengalaminya; ini. Ya, betapa tidak saudara? Sangat susah.

Diletakkannya tasnya

Saya sangat susah sekali sebab istri saya sangat cantik sekali. Kecantikannya itulah yang menyebabkan saya jadi susah dan hampir gila. Sungguh mati, saudara. Dia sangat cantik sekali. Sangat jarang Tuhan menciptakan perempuan cantik. Disengaja. Sebab perempuan-perempuan jenis itu hanya menyusahkan dunia. Luar biasa, saudara. Bukan main cantiknya istri saya itu. Hampir-hampir saya sendiri tidak percaya bahwa dia itu istri saya.

Saya berani sumpah! Dulu sebelum dia menjadi istri saya tatkala saya bertemu pandang pertama kalinya disuatu pesta berkata saya dalam hati : maulah saya meyobek telinga kiri saya dan saya berikan padanya sebagai mas kawin kalau suatu saat nanti ia mau menjadi istri saya. Tuhan Maha Pemurah. Kemauan Tuhan selamanya sulit diterka. Sedikit banyak rupanya suka akan surpraise.

Buktinya? Meskipun telinga saya masih utuh, toh saya telah berumah tangga dengan Supraba selama lima tahun lebih.

Aduh cantiknya.
Saya berani mempertaruhkan kepala saya bahwa bidadari itu akan tetap bidadari walaupun ia telah melahirkan anak saya yang nomer dua, saya hampir tidak percaya pada apa yang saya lihat. Tubuh yang terbaring itu masih sedemikian utuhnya. Caaaaannnnttiiik.

Ah kata cantikpun tak dapat pula untuk menyebutkan keajaibannya. Cobalah. Seandainya suatu ketika gadis-gadis sekolah berkumpul dan istri saya berada diantara mereka, saya yakin, saudara-saudara pasti memilih istri saya, biarpun saudara tahu bahwa dia seorang janda.
Lesu.

Ya, saudara. Kami telah bercerai dua bulan lalu. Inilah kebodohan sejati dari seorang lelaki. Kalau saja amarah itu tak datang dalam kepala, tak mungkin saya akan sebodoh itu menceraikan perempuan ajaib itu.

Semua orang yang waras akan menyesali perbuatan saya, kecuali para koruptor, sebab mereka tak mampu lagi menyaksikan harmoni dalam hidup ini. Padahal harmoni adalah keindahan itu sendiri. Dan istri saya, harmonis dalam segala hal. Sempurna.

Menarik napas.

Bau parfumnya! Baunya! Seribu bunga sedap malam di kala malam, seribu melati di suatu pagi. Segar, segar!
Telepon berdering.

Itu dia! Sebentar (ragu-ragu) Selama seminggu ini setiap pagi ia selalu menelpon. Selalu ditanyakannya :”Sarapan apa kau, mas” Kemarin saya menjawab :”Nasi putih dengan goreng otak sapi”
Pagi ini saya akan menjawab .....

Mengangkat gagang telepon

Misbach Jazuli disini. Hallo? Hallo! Halloooo!

Meletakkan pesawat telepon

Salah sambung. Gilaa! Saya marah sekali. Penelpon itu tak tahu perasaan sama sekali.

Tiba-tiba
Oh ya! Jam berapa sekarang?

Gugup melihat arloji

Tepat! Delapan seperempat. Saya telah terlambat tiga perempat jam. Maaf saya harus ke kantor. Lain kali kita sambung cerita ini atau datanglah ke kantor saya, PT Dwi Warna di jalan Merdeka. Tanyakan saja disana nama saya, kasir Jazuli. Maaf. Sampai ketemu.
Melangkah cepat. Sampai di pintu sebentar ia ragu. Tapi kemudian ia terus juga.
Agak lama, kasir kita masuk lagi dengan lesu.

Mudah mudahan perdagangan internasional dan perdagangan nasional tidak terganggu meskipun hari ini saya telah memutuskan tidak masuk kantor.

Tidak, saudara! Saudara tidak bisa seenaknya mencap saya punya bakat pemalas. Saudara bisa bertanya kepada pak Sukandar kepala saya, tentang diri Misbah Jazuli.

Tentu pak Sukandar segera mencari kata-kata yang terbaik untuk menghormati kerajinan dan kecermatan saya. Kalau saudara mau percaya, hari inilah hari pertama saya membolos sejak enam tahun lebih saya bekerja di PT Dwi Warna.
Seperti saudara saksikan sendiri badan saya sedemikian lesunya, bukan? Tuhanku! Ya, hanya Tuhanlah yang tahu apa yang terjadi dalam diri saya. Saya rindu pada istri saya dan sedang ditimpa rasa penyesalan dan saya takut masuk kantor berhubung pertanggung jawaban keuangan....
Telepon berdering.
Sekarang pasti dia!
Menuju pesawat telepon

Saya sendiri tidak tahu kenapa selama seminggu ini ia selalu menelpon saya.
Apa mungkin ia mengajak rukun dan rujuk kembali...tak tahulah saya. Saya sendiri pun terus mengharap ia kembali dan, tapi tidak! Saya tak boleh menghina diri sendiri begitu bodoh! Bukan saya yang salah. Dia yang salah. Yang menyebabkan peristiwa perceraian ini bukan saya tapi dia. Dia yang salah. Sebab itu dia yang selayaknya minta maaf pada saya. Ya, dia harus minta maaf.

Toch saya laki-laki berharga : saya punya penghasilan yang cukup.
Laki-laki gampang saja menarik perempuan sekalipun sudah sepuluh kali beristri. Pandang perempuan dengan pasti, air muka disegarkan dengan sedikit senyum, dan suatu saat berpura-pura berpikir menimbang kecantikannya dan kemudian pandang lagi, dan pandang lagi, dan jangan sekali kali kasar, wajah lembut seperti waktu kita berdoa dan kalau perempuan itu menundukkan kepalanya berarti laso kita telah menjerat lehernya. Beres!

Nah, saya cukup punya martabat, bukan? Dan lagi dia yang salah! Ingat, dia yang salah. Nah, saudara tentu sudah tahu tentang sifat saya. Saya sombong seperti umumnya laki-laki dan kesombongan saya mungkin juga karena sedikit rasa rendah diri, tidak! Bukankah saya punya tampang tidak begitu jelek?

Telepon berdering lagi.

bersambung

_________________________________

Redaktur SARBI: Dody Kristianto

Tuhan dengan Suatu malam

 photo ArtistEricGill18821940TitleMaryMagdalenDate1926MediumWoodengravingonpaperDimensionsimage63x63mm_zpsd6114953.jpg
Karya Eric Gill (1882‑1940). Berjudul: Mary Magdalen. Tahun 1926. 
Media: Wood engraving on paper. Koleksi: Tate


Cerpen Motinggo Busye

“Maukah kau kawin dengan aku?”

“Kenapa?”

“Aku mau kawin,”

Perempuan ini ketawa sambil menuangkan teh ke cangkir.

Lelaki itu pergi.

“Maukah kau kawin dengan aku?”

“Edan!”

“Edan? Apa kau kira aku ini edan? Aku mengajak kau sungguh-sungguh!”

Dan ketika lelaki itu pergi dari warung itu, diikuti oleh mata perempuan itu sampai di balik penjual-penjual barang lowak, dan perempuan itu berkata kepada perempuan di sebelahnya bahwa lelaki itu sudah gila barangkali.

“Mau kau kawin dengan aku?”

“Tidak!”

Lelaki itu terdiam. Ia benar-benar terdiam mendengarnya. Dipandangnya perempuan itu. Perempuan itu membelah manggis dengan telapak tangannya dan menawarkannya kepadanya. Ia menolak.

“Aku tidak mau manggis. Aku mau kawin,” katanya.

“Makanlah manggis ini dulu. Nanti kita kawin,” jawab perempuan itu.

Dijamahnya manggis itu satu, tapi ia belum memakannya,

“Minum?” tanya perempuan itu.

“Tidak. Mau kau kubawa jalan-jalan? Aku punya uang banyak sekarang. Kemarin aku terima gaji.”

“Ke mana kita jalan-jalan?”

“Ke mana saja kamu suka. Asal jangan ke neraka, “ kata lelaki itu.

Perempuan itu ketawa dengan riahnya, kemudian meladeni seorang lagi dan kemudian memeriksa tas hijaunya, kemudian menepuk bahu lelaki itu, kemudian keluar dari warung itu.

“Naik becak?” tanya perempuan itu.

“Tidak usah. Jalan saja dulu. Kalau kau capek kita naik becak.”

Lalu mereka jalan.

“Aku pernah melihatmu dulu sering menyanyi di rel-rel kereta api,” kata lelaki itu.

“Ya, dekat Jembatan Kewek,” jawab perempuan itu sambil tertawa dan membetulkan selendangnya,

“Siapa namamu?”

“Maria,” jawab perempuan itu.

“Kau Katolik,” kata lelaki itu.

“Ya. Aku masih bisa sembahyang dan hafal lagu-lagu gereja. Kau mau mendengar aku menyanyikan lagu gereja?”

Lelaki itu terdiam. Dan perempuan itu berpikir sebentar lalu bertanya, “Kau juga Katolik, Mas?”

“Ya.”

“Siapa nama baptismu?” tanya perempuan itu.

“Ignatius,” jawab lelaki itu.

“Di mana kau tinggal?”

“Dekat palang sepur sana di utara,” jawab lelaki itu. Dan perempuan itu merasa riang.

“Barangkali namaku yang tepat Maria Magdalena. Aku ingat romo pastor menceritakan hal itu.

Waktu itu aku menyanyi gereja dekat gereja. Aku habis ditipu oleh lelaki yang tidak mau bayar. Lalu aku sedih. Aku pikir Tuhan tidak kasihan denganku lagi. Sehingga aku merasa ditipu, ditipu, ditipu oleh orang-orang. Lalu aku menyanyi. Nyanyi itu nyanyi missa,” perempuan itu ketawa serak, kemudian menepuk punggung lelaki itu, bertanya, “Kita ke mana?”

“Ke mana saja kamu suka,” kata lelaki itu.

“Tapi semua tempat-tempat itu sudah tutup. Kita bisa ditangkap polisi,” kata perempuan itu.

“Besok-besokkan bisa. Jadi gimana kata pastor itu. Maukah pastor itu menegurmu?” tanya lelaki itu lagi.

“Heran! Heran sekali! Pastor itu mau menegurku dan menanyakan di mana aku belajar lagu itu. Aku menjawab, lagu itu kupelajari di gereja. Aku ikut ibu ke gereja dan tiap missa menyanyi sampai pandai.”

“Rupa-rupanya,” lalu perempuan itu ketawa geli, “rupa-rupanya pastor itu heran kalau ada perempuan macamku ini bisa menyanyi. Tapi kemudian pastor itu bertanya, siapa namaku. Dan kujawab bahwa namaku Maria. Dan pastor itu menyuruhku insaf.
Aku bilang aku tidak bisa dapat pekerjaan. Dan pastor itu bercerita tentang Maria Magdalena. Kau kan tahu cerita itu bukan?

“Berapa umurmu?”

Lelaki itu menjawab, “Empat puluh lima.”

“Sudah tua juga kau ini,” kata perempuan itu.

“Memang,” jawab lelaki itu.

“Kau kira aku bisa dimaafkan Yesus seperti Maria Magdalena'?” tanya perempuan itu.

“Maria Magdalena! Itu cerita kudapatkan dari seorang kawanku yang juga Katolik. Dongeng itu akan kuingat selalu. Ya, kisah. di mana seorang pelacur akan dilempari batu oleh semua orang dan Yesus melarangnya,” kata lelaki itu.

Lalu orang-orang itu berkata, “Bunuhlah wanita jalang itu. Ia wanita berdosa. Lempari dengan batu-batu,” sambung perempuan itu menyambungi cerita lelaki itu.

“Tapi Yesus bertanya: 'Apa kalian sudah bersih dari dosa? Benarkah begitu ceritanya?” tanya lelaki itu.

“Ya, ya. Kira-kira begitu. Lalu orang-orang itu menyadari, bahwa mereka pun orang-orang yang berdosa dan setelah dijelaskan Yesus mereka tak jadi melemparinya,” kata perempuan itu.

Kemudian perempuan itu bertanya, “Ke mana kita sekarang. Aku capek.”

“Kita naik becak.”

“Biarlah kita jalan saja,” kata perempuan itu lagi.

“Kau ini siapa?” tanya perempuan itu.

“Aku?”

“Ya. Kau!”

“Aku orang yang berdosa!” jawab lelaki itu.

“Aku khawatir tadi,” kata perempuan itu.

“Kenapa?”

Perempuan itu melepaskan nafasnya sambil ketawa dan mengebut-ngebut selendangnya. Kemudian berkata, “Kaukira kamu ini Yesus.”

Laki-laki itu ketawa. Tiba-tiba ia merasa benar-benar senang dengan perempuan itu.

“Kamu berasal dari mana? “tanya lelaki itu,

“Dari Muntilan,” jawab perempuan itu. “Di Muntilan ada gereja!”

“Aku barusan saja membunuh,” kata lelaki itu tiba. “Tapi bukan aku yang berbunuh-bunuhan. Tapi aku percaya, rohku telah membunuh mereka. Atau Tuhan telah membunuh mereka,” kata lelaki itu.
Perempuan itu terdiam. Lelaki itu terdiam pula. Kedua-duanya semakin terdiam. Tiba-tiba kedua-duanya sama mengingat Tuhan. Bila kedua-duanya sama mengingat Tuhan, kedua-duanya ingat pada masa kecilnya.

“Kamu mendongeng atau sungguh-sungguh?” tanya perempuan itu.

“Sungguh-sungguh,” kata lelaki itu.

“Nanti kau bisa ditangkap polisi. Apa polisi tidak tahu kejadian itu?” tanya perempuan itu.

“Barangkali besok polisi tahu.”

“Besok kau dicari polisi dan ditangkap,” kata perempuan itu.

Perempuan itu terdiam, Dalam terdiam ia ingat ayahnya.

“Ayahku setelah membunuh ibuku lalu tertangkap. Biarpun ayah kejam dan aku sayang padanya. Ayahku sayang padaku. Ibu yang jahat,” kata perempuan itu.

“Ayah dihukum sepuluh tahun. Mati di dalam penjara,” kata perempuan itu.

“Kenapa ibumu dibunuhnya?” tanya lelaki itu.

“Ibu berdosa,” kata perempuan itu.

“Kenapa?”

“Main-main dengan laki-laki,” kata perempuan itu.

“Istriku juga demikian. Rumah itu dekat jembatan dekat palang sepur. Aku selama ini bekerja sebagai tukang palang sepur. Sampai sore tadi aku masih malang sepur. Aku bekerja sampai pagi. Aku sudah tahu bahwa istriku main-main. Sudah tiga kali aku diamkan. Akhirnya hilang kesabaranku. Aku tahu lelaki itu masuk jam delapan dan pulang jam dua belas. Dan tadi, aku sudah tidak sabar lagi. Aku batuk-batuk keliling rumah ketika mereka berada di rumahku. Laki-laki itu rupanya tidak berani ke luar, Aku batuk-batuk kecil, Dekat sumur. Lalu aku batuk-batuk besar dekat pintu. Aku berkata keras-keras seperti bercakap-cakap dengan seseorang. Dan aku sendiri yang menjawabnya dengan suaraku: 'Kepung saja rumah ini', kataku seperti bercakap-cakap dengan seseorang. Lalu kukecilkan suaraku dan berkata seperti menjawab: 'Kamu bawa pisau?' Dan aku menjawab: 'Si Paidin bawa golok'. Dan dekat pohon-pohon pisang aku berseru: 'Masuk dari kakus, Paidin', Dan aku lari ke dekat pohon pisang, menjawab suaraku sendiri: 'Biar dulu. Kalau dia berani ke luar pintu kita bunuh saja'. Lalu aku lari ke dekat kamarku. Aku mendengar istriku dan laki-laki itu bertengkar. 'Kau larilah ke luar!' kata istriku. Laki-laki itu tidak berani 'Jangan ribut-ribut. Aku membawa pisau. Bisa kubunuh kau!' dan istriku menjawab: 'Coba kalau kau berani bunuh aku. Kau tidak punya tanggung jawab sebagai lelaki'. Lelaki itu mengancam lagi: 'Jangan berisik. Kucekik kau nanti'. Dan istriku berkata; 'Coba kalau berani. Kau yang kucekik'. istriku rupanya pintar berkelahi. Mereka bergulat. Akhirnya, akhirnya, kudengar dua-duanya merintih. Mereka dua-duanya rupa-rupanya saling bunuh-membunuh,” lelaki itu letih bercerita dan menarik nafas.

“Kedua-duanya mati?” tanya perempuan itu.

“Mati. Betul-betul mati.”

Perempuan itu kemudian berkata, “Kenapa kau lari?”

“Aku tidak lari. Aku jijik menginjak rumah itu. Sebab itu aku jalan-jalan. Aku mau menghirup udara. Sekarang giliran kawanku jaga palang sepur,” kata lelaki itu.

“Kau tidak sedih istrimu mati?”

'Tidak.”

“Aku memang pernah lihat kau jaga palang. Waktu itu kau lama-lamakan, sehingga orang-orang menggerutu menunggu palang terbuka,” kata perempuan itu.

“Aku suka sekali bikin lucu,” kata perempuan itu lagi.

Mereka kini telah berada di depan Gereja Bintaran.

“Tahu-tahu kita sudah sampai di Gereja Bintaran,” kata lelaki itu.

“Ke mana kita sekarang?” tanya perempuan itu.

“Masuk ke gereja. Sembahyang. Kau mau?”

“Aku malu. Pastor sedang tidur barangkali,” kata perempuan itu.

“Kita ketuk saja pintunya. Kita katakan kita mau sembahyang,”

“Tapi aku wanita jalang. Gereja akan kotor.”

“Ah, tak apa.”

Perempuan itu berdiri saja. Tapi tangannya kemudian menekan-nekan manggis.
“Kau mau manggis?” kata perempuan itu.

“Aku mau sembahyang,” kata lelaki itu.

“Sudah dua puluh tahun aku tidak masuk-masuk gereja,” kata lelaki itu.

“Aku mau pulang,” kata perempuan itu. “Kau punya uang buat becak aku ke pasar? Aku tadi ada janji sama seorang lelaki,” kata perempuan itu lagi.

“Marilah masuk. Yesus telah memaafkan Maria Magdalena. Kenapa kau takut masuk?”
Perempuan itu kemudian berkata, “Sekarang tidak ada lagi orang yang seperti Yesus yang mau memaafkan Maria Magdalena.”

“Ada!” kata lelaki itu.

“Siapa?” tanya perempuan itu.

“Aku!” teriak lelaki itu.

Perempuan itu terkejut amat sangat. Dipandangnya lelaki tinggi itu. Lelaki itu berjanggut seperti Yesus dan dengan gemetar ia menangkap sekilas-sekilas dongeng-dongeng masa kecil dan gambar-gambar Yesus yang pernah dilihatnya. Lalu perempuan itu sangat menggigil, tidak dapat berkata, dan lari, ia lari sekuat-kuatnya melewati jalan-jalan Bintaran, Sayidan dan kemudian masuk pasar. Di warung dengan nafas; mendegap-degap ia berkata, “Aku ketemu Tuhan Yesus. Laki-laki tadi!”

Orang-orang di warung semua heran, tapi mereka kemudian ketawa. Perempuan itu marah-marah.
Lalu dia bercerita.

Ketika perempuan itu bercerita di warung itu, dalam sebuah gereja, seorang lelaki berjanggut sedang berlutut berdoa, minta ampun atas segala dosa-dosanya.

Ketika itu ia sendiri. Sangat sendiri.

Ia adalah seorang manusia.

NB : cerpen di atas diambil daru kumpulan cerpen Motinggo Busye yang berjudul Keberanian Manusia.

Redaktur SARBI: Dody Kristianto
� $e s x ` mal; widows: 2; word-spacing: 0px; -webkit-text-size-adjust: auto; -webkit-text-stroke-width: 0px; font-size: medium; ">Perempuan itu melepaskan nafasnya sambil ketawa dan mengebut-ngebut selendangnya. Kemudian berkata, “Kaukira kamu ini Yesus.”

Laki-laki itu ketawa. Tiba-tiba ia merasa benar-benar senang dengan perempuan itu.

“Kamu berasal dari mana? “tanya lelaki itu,

“Dari Muntilan,” jawab perempuan itu. “Di Muntilan ada gereja!”

“Aku barusan saja membunuh,” kata lelaki itu tiba. “Tapi bukan aku yang berbunuh-bunuhan. Tapi aku percaya, rohku telah membunuh mereka. Atau Tuhan telah membunuh mereka,” kata lelaki itu. 
Perempuan itu terdiam. Lelaki itu terdiam pula. Kedua-duanya semakin terdiam. Tiba-tiba kedua-duanya sama mengingat Tuhan. Bila kedua-duanya sama mengingat Tuhan, kedua-duanya ingat pada masa kecilnya.

“Kamu mendongeng atau sungguh-sungguh?” tanya perempuan itu.

“Sungguh-sungguh,” kata lelaki itu.

“Nanti kau bisa ditangkap polisi. Apa polisi tidak tahu kejadian itu?” tanya perempuan itu.

“Barangkali besok polisi tahu.”

“Besok kau dicari polisi dan ditangkap,” kata perempuan itu.

Perempuan itu terdiam, Dalam terdiam ia ingat ayahnya.

“Ayahku setelah membunuh ibuku lalu tertangkap. Biarpun ayah kejam dan aku sayang padanya. Ayahku sayang padaku. Ibu yang jahat,” kata perempuan itu.

“Ayah dihukum sepuluh tahun. Mati di dalam penjara,” kata perempuan itu.

“Kenapa ibumu dibunuhnya?” tanya lelaki itu.

“Ibu berdosa,” kata perempuan itu.

“Kenapa?”

“Main-main dengan laki-laki,” kata perempuan itu.

“Istriku juga demikian. Rumah itu dekat jembatan dekat palang sepur. Aku selama ini bekerja sebagai tukang palang sepur. Sampai sore tadi aku masih malang sepur. Aku bekerja sampai pagi. Aku sudah tahu bahwa istriku main-main. Sudah tiga kali aku diamkan. Akhirnya hilang kesabaranku. Aku tahu lelaki itu masuk jam delapan dan pulang jam dua belas. Dan tadi, aku sudah tidak sabar lagi. Aku batuk-batuk keliling rumah ketika mereka berada di rumahku. Laki-laki itu rupanya tidak berani ke luar, Aku batuk-batuk kecil, Dekat sumur. Lalu aku batuk-batuk besar dekat pintu. Aku berkata keras-keras seperti bercakap-cakap dengan seseorang. Dan aku sendiri yang menjawabnya dengan suaraku: 'Kepung saja rumah ini', kataku seperti bercakap-cakap dengan seseorang. Lalu kukecilkan suaraku dan berkata seperti menjawab: 'Kamu bawa pisau?' Dan aku menjawab: 'Si Paidin bawa golok'. Dan dekat pohon-pohon pisang aku berseru: 'Masuk dari kakus, Paidin', Dan aku lari ke dekat pohon pisang, menjawab suaraku sendiri: 'Biar dulu. Kalau dia berani ke luar pintu kita bunuh saja'. Lalu aku lari ke dekat kamarku. Aku mendengar istriku dan laki-laki itu bertengkar. 'Kau larilah ke luar!' kata istriku. Laki-laki itu tidak berani 'Jangan ribut-ribut. Aku membawa pisau. Bisa kubunuh kau!' dan istriku menjawab: 'Coba kalau kau berani bunuh aku. Kau tidak punya tanggung jawab sebagai lelaki'. Lelaki itu mengancam lagi: 'Jangan berisik. Kucekik kau nanti'. Dan istriku berkata; 'Coba kalau berani. Kau yang kucekik'. istriku rupanya pintar berkelahi. Mereka bergulat. Akhirnya, akhirnya, kudengar dua-duanya merintih. Mereka dua-duanya rupa-rupanya saling bunuh-membunuh,” lelaki itu letih bercerita dan menarik nafas.

“Kedua-duanya mati?” tanya perempuan itu.

“Mati. Betul-betul mati.”

Perempuan itu kemudian berkata, “Kenapa kau lari?”

“Aku tidak lari. Aku jijik menginjak rumah itu. Sebab itu aku jalan-jalan. Aku mau menghirup udara. Sekarang giliran kawanku jaga palang sepur,” kata lelaki itu.

“Kau tidak sedih istrimu mati?”

'Tidak.”

“Aku memang pernah lihat kau jaga palang. Waktu itu kau lama-lamakan, sehingga orang-orang menggerutu menunggu palang terbuka,” kata perempuan itu.

“Aku suka sekali bikin lucu,” kata perempuan itu lagi.

Mereka kini telah berada di depan Gereja Bintaran.

“Tahu-tahu kita sudah sampai di Gereja Bintaran,” kata lelaki itu.

“Ke mana kita sekarang?” tanya perempuan itu.

“Masuk ke gereja. Sembahyang. Kau mau?”

“Aku malu. Pastor sedang tidur barangkali,” kata perempuan itu.

“Kita ketuk saja pintunya. Kita katakan kita mau sembahyang,”

“Tapi aku wanita jalang. Gereja akan kotor.”

“Ah, tak apa.”

Perempuan itu berdiri saja. Tapi tangannya kemudian menekan-nekan manggis.
“Kau mau manggis?” kata perempuan itu.

“Aku mau sembahyang,” kata lelaki itu.

“Sudah dua puluh tahun aku tidak masuk-masuk gereja,” kata lelaki itu.

“Aku mau pulang,” kata perempuan itu. “Kau punya uang buat becak aku ke pasar? Aku tadi ada janji sama seorang lelaki,” kata perempuan itu lagi.

“Marilah masuk. Yesus telah memaafkan Maria Magdalena. Kenapa kau takut masuk?”
Perempuan itu kemudian berkata, “Sekarang tidak ada lagi orang yang seperti Yesus yang mau memaafkan Maria Magdalena.”

“Ada!” kata lelaki itu.

“Siapa?” tanya perempuan itu.

“Aku!” teriak lelaki itu.

Perempuan itu terkejut amat sangat. Dipandangnya lelaki tinggi itu. Lelaki itu berjanggut seperti Yesus dan dengan gemetar ia menangkap sekilas-sekilas dongeng-dongeng masa kecil dan gambar-gambar Yesus yang pernah dilihatnya. Lalu perempuan itu sangat menggigil, tidak dapat berkata, dan lari, ia lari sekuat-kuatnya melewati jalan-jalan Bintaran, Sayidan dan kemudian masuk pasar. Di warung dengan nafas; mendegap-degap ia berkata, “Aku ketemu Tuhan Yesus. Laki-laki tadi!”

Orang-orang di warung semua heran, tapi mereka kemudian ketawa. Perempuan itu marah-marah.
Lalu dia bercerita.

Ketika perempuan itu bercerita di warung itu, dalam sebuah gereja, seorang lelaki berjanggut sedang berlutut berdoa, minta ampun atas segala dosa-dosanya.

Ketika itu ia sendiri. Sangat sendiri.

Ia adalah seorang manusia. 

NB : cerpen di atas diambil daru kumpulan cerpen Motinggo Busye yang berjudul Keberanian Manusia

Anda Pengunjung ke

SARBI

Tentang Kami

Sastra Alienasi Rumput Berbasis Independen (SARBI) adalah kelompok diskusi yang bergiat mendiskusikan perihal isu sastra, seni, dan kebudayaan terkini dengan mengambil sudut pandang alternatif. Selain itu, SARBI juga banyak menggali pemikiran tradisi negeri sendiri dan konsepsi mancanegara yang diharapkan dapat bersinergi sehingga menghasilkan pandangan kontemporer yang segar. Untuk membuktikan perihal tersebut, kami melahirkan lembar SARBI untuk ikut menghiasi keriuhan dunia sastra, seni, dan budaya serta berharap dapat menjadi oase untuk memenuhi dahaga kita •

Redaksi

Pemimpin Redaksi Sidang Redaksi Sidang Redaksi Sidang Redaksi Sidang Redaksi Sidang Redaksi Penata Artistik

Tinggalkan Pesan

Dokumen Post