Telah Terbit !

Yang sederhana, yang berserakan, yang tak diperhitungkan dan bertebaran di mana-mana, tetaplah harus dirayakan. Spesial SARBI edisi 8 di akhir tahun!

Segera Dapatkan !

Buku Puisi Karya KOMANG IRA PUSPITANINGSIH.

Toko Buku SARBI

Kumpulan buku bekas pilihan yang asik untuk dibaca dan dikoleksi dengan harga bersahabat.

Telah Terbit!

BULETIN TIKAR EDISI 02/2013 Diterbitkan oleh Komunitas Tikar Merah (KTM)

Dapatkan!

Buku Terbaru SARBIKITA Publishing Karya Heru Susanto

Blogroll

Thursday, November 8, 2012

Saja-Sajak Subagio Sastrowardoyo

Photobucket

SARBI ingin menyajikan puisi-puisi dari para penyair terkemuka Indonesia. Salah satunya adalah Subagio Sastrowardoyo. Berikut beberapa puisi pilihan Subagio Sastrowardoyo dalam kumpulan Keroncong Motinggo. Selamat membaca. 

Kejatuhan

Di daerah mimpi
nyawaku berdiri sebagai pohon hitam
dengan buah-buah getir bergantung di dahan
Hanya ular yang menjaga tahu akan rasanya
Perempuan yang telah kehilangan selera:
jangan masuk taman terlarang
atau akan bangun aku tersentak
menyaksikan diri telanjang
Atau cukup lebarkah tanganmu
untuk menutup lobang malu?


Nuh

Kadang-kadang
di tengah keramaian pesta
atau waktu sendiri berjalan di gurun
terdengar debur laut
menghempas karang

Aku tahu pasti
sehabis mengembara
dan bercengkerama di kota
aku akan kembali ke pantai
memenuhi janji

Sekali ini tidak akan ada pelarian
atau perlawanan

Kapal terakhir terdampar di pasir

Aku akan menyerah diam
waktu air membenam


Sayap Patah

sejak berdiam di kota
hati yang memberontak
telah menjadi jinak
kini pekerjaan tinggal
membaca di kamar
barang dua-tiga sajak
atau memperbaiki pagar di halaman
(yang sudah mulai rusak)
atau menyuapi anak
waktu menangis karena lapar
kadang-kadang juga memuji istri
memakai baju yang baru dibeli
--  meneropong bintang
bukan lagi menjadi hobi –
hanya sesekali di muka kaca
aku berkata menghibur diri:
bidadari! sayapmu patah
sekali waktu akan pulih kembali


Jika Hari Rembang Petang

Jika hari rembang petang
tidak berarti permainan bakal selesai
dan boleh tinggalkan gelanggang

hanya peranan bertukar
dari pemain di dalam
menjadi penonton di luar

kita lantas memasuki ruang penuh cahaya
dan melihat bayang
terlempar di layar

kita bisa jaga dan menatap semalam suntuk

hari sudah tinggi
kau tak berbenah?

di bawah bayang senja
setiap barang nampak indah

muka-muka yang lelah
berbinar di redup sinar

di antara kita berdua, kekasih
siapa dulu akan terkapar?


Pasrah

Demi malam yang ramah
aku berjanji akan menyerah
kepada angin
yang menyisir tepi hari

Di pinggir lembah
aku akan diam terbaring

Yang membuat aku takut
hanya bulan di sela ranting
yang memperdalam hening


Tentang Subagio Sastrowardojo
Subagio Sastrowardojo lahir di Madiun, pada 1 Februari 1924. Karirnya di dunia seni dimulai pada zaman revolusi dengan menyanyi dan melukis. Baru tahun limapuluhan mulai menulis cerpen, sajak dan esai. Ia sempat memperdalam pengetahuannya dalam bidang sastra dan teater di Yale University. Dan saat ini (maksudnya sekitar tahun terbit buku ini, 1975), ia tinggal di Adelaide, Australia, mengajar bahasa dan sastra Indonesia di sana. Kumpulan puisinya, Simphoni (1957), Daerah Perbatasan (1970), Hari dan Hara (...). Kumpulan cerpennya Kejantanan di Sumbing (1965). Esainya Bakat Alam dan Intelektualisme (1972).



Sajak-Sajak Iwan Simatupang

Photobucket 

Berikut SARBI menyajikan beberapa puisi pilihan Iwan Simatupang yang diambil dari buku Ziarah Malam. Selamat membaca. 

Potret

Di sudut kamar seorang dara
Tergantung potret serdadu senyum:
“Tunggu! Sepulangku, bahtera kita kayuh!
Di atasnya salib: Pahlawan kasih yang
belum jua pulang.

Kini dara sudah lama tak menunggu lagi.
Langkah-langkah pelan, yang biasa datang
Menjelang tengah malam dari kebun belakang
Bawa cium dan kembang –
Takkan lagi kunjung datang.


Di sudut kamar seorang dara
Tergantung potret serdadu senyum:
“Jangan tunggu! Aku bangkai dalam bingkai!
Di atasnya salib: Pahlawan kasih yang
masih jua belum pulang.

Kini dara sudah lama dalam biara.


Ballade Kucing dan Otolet

Di jalan ada bangke
Kucing digilas otolet

Darah
Ngeong tak sudah
Selebihnya:
Langit biru
Dan manusia buru-buru

Otolet makin rame
Di tuhan punya jalan

Bangke makin rata
Di aspal panas

Penumpang gigimas
Bercanda

Di Surga
Kucing pangku supir kaya
Dan cekik
Tuhan


Pada Kepergian Bersama Angin
buat murid-muridku di Surabaya

Irama dari bahaya dan bencana
Lagi-lagi gentayangan dari jauhan
Ah, mengapa panji tak kuangkat saja kembali
Dan
Berlari jingkat telanjang bulat ke muka
Dengan tembilang
Memupus segala jejak di belakang?

Usah duga
Mana tugu ujung segala pencarian
Hanya
: Bila pelangi cerlangi dinihari pekat
Dan asap berkepul hijau dari bintang-gerhana –
Datang, datanglah kau
Ziarahi aku dalam bayang terkulai
Dari tiang gantungan atas piala racun tercecer...

Dan aku
Akan ziarahi semua
Penziarah

Dengan senyum –
Seribu-kiamat


Merah Jambu Di Melati
Kepada Sitor Situmorang

Ada darah tiris
Dari hati atas melati
Satu satu

Ada melati tumbuh
Diciuman segara dengan gurun
Jauh jauh

Darah beku
Melati layu
Tapal sayu

Ada murai atas cactus
Ada cactus dalam hati
Ada kicau berduri

Sunyi sunyi


Bintang tak Bermalam
(nocturne untuk Nany Jasodiningrat)

Bertengger atas risau lembayung
Bintang tak tahu
Ke mana pijar hendak dipenjar

(Siang telah reguk segala warna
Bahkan kelam
Tak lagi bagi malam)

Dan pada pelangi
(Yang hanya di siang)
Tak ada berwakil

Warna bintang jatuh


Pengakuan

Aku ingin memberi pengakuan:

Bulan yang gerhana esok malam
telah kutukar pagi ini
dengan wajah terlalu bersegi
pada kaca yang retak oleh
tengadah derita kepada esok

Kulecut hari berbusa merah

Jambangan di depan jendela terbuka
menyiram kesegaran pagi dengan
pengakuan:

esok adalah bulan purnama

Sungai Batanghari, 13 Agustus 1961


Tentang Iwan Simatupang
Iwan Simatupang lahir di Sibolga, Sumatera Utara pada 18 Januari 1928 dan meninggal 4 Agustus 1970 di Jakarta. Tahun 1949 pernah menjadi komandan pasukan TRIP di Sumatera Utara, tahun 1950-1953 bekerja sebagai guru di Surabaya. Tahun 1977 Iwan Simatupang menerima Hadiah Sastra ASEAN. Dramanya: Bulan Bujur Sangkar (1957), Taman (1958), RT Nol/RW Nol (1966), Petang di Taman (1966) dan Cactus dan Kemerdekaan (1969). Novelnya: Merahnya merah (1968), Ziarah (1969), dan Kering (1972). Cerpen-cerpennya dibukukan oleh Dami N. Toda dengan judul Tegak Lurus denga Langit (1982). 

Sumber: www.kepadapuisi.blogspot.com




Puisi Dody Kristianto, Koran Tempo 21 Oktober 2012


Pencak Walang

sungguh perilaku santun itu
menyimpan racun, menyimpan segala
yang akan meredupkan degup jantung
kala serangan pertama tiba

ia memang gemar datang tiba-tiba
kamu tentu akan terpesona dengan awalan
yang ia tunjukkan

sungguh tenang, begitu tenang
dan tak akan gegar
pada gertak para penghadang

ia yang kamu kira bercakar
sebenarnya hanya mengandalkan genggam
genggaman terkencang, genggaman
yang kamu pandang sederhana saja
namun ia dapat menyobek belulangmu
dan membuat tulangmu tampak di luaran

kamu yang tak waspada, tentu menduga
perilakunya remeh saja
siap-siap saja menerima sentakannya
di kepalamu

yang akan membuatmu rubuh
dan tak akan mampu kamu mengingat lagi
arak apa yang kamu tenggak pagi tadi

(2012)


Mengumpulkan Tenaga Dalam

Tentu tuntas jika jurus itu langsung
menyentuh jantung atau paru yang kamu lindungi.
Tapi, ia lebih memilih bersabar. Ia menyatukan
segala di sekitaran : kayu, api, air, tanah, logam,
semua yang tiba dari atas, bawah,
samping kiri, kanan.

Bahkan, ia tetap diam bila sepasukan berkuda
melaju bersama, mengarahkan apa yang mereka
genggam ke penjuru badan.

Ia bergeming.

Tapi ia tahu, sungguh tahu
kapan ia akan melangkah,
langkah-langkah serupa dalam kitab
yang ia simpan di ingatan.
Langkah seorang perenung, yang pasti
tak takluk pada sebatang tombak.

Ia tahu, bila tusukan hanya sekadar arah
yang layu bersama angin.
Ia mengerti bila sayatan tak lebih
dari lempeng besi yang lemah
di depan dada.

Sampai ia merasa, segala di sekitaran membaja,
menjadi satu gerak yang akan menghantam,
yang pasti keras, melebihi kekerasan baja
yang kamu tempa

(2012)


Menantang Sang Badra

pasti kau menyangka
pertarungan ini singkat
dan tak imbang

kau mengayun gobang
dengan baju baja
yang tak akan mempan
ditembus segala logam

sangat lantang menantang ia,
yang selalu tenang,
yang melangkahkan kaki
dengan tuntunan angin,
dengan bantuan segala bunyi
yang tak dapat kau ikuti

telah kau gelar jurus termahirmu,
siasat andalan, juga polah gobangmu
yang ingin mengupas kulitnya,
juga segala awalanmu
yang sudah menganggap ia tumpas
dalam sekali tebas

semoga saja kau tak salah
menata langkah
ia yang terlihat diam
sudah mengira
dengan ancangan apa
kau akan menyerang

dengan jurus tusukan
yang terbagi dalam tiga bayangan
atau semacam sabetan
yang menimbulkan
sepasang gelombang tipuan

kau tak mengira bukan
ia mengenali semua
dari entak kakimu
ia juga mengerti
dengan langkah apa
ia membikinmu jatuh

seketika kau merasakan bau tanah
dan membuat sepasang matamu
tak lagi dapat dibuka

ia benar mengerti titik lemahmu
sejak kau ucap sumbar pertama
dan telinganya dengan sabar
menangkap getar gertakmu

(2012)

Membangkitkan Pesilat Kadal

Kamu yang melepas langkah dari musim semi
yang lantang menantang jawara di tanah selatan
tunggulah tunggu. aku yang telah kamu taklukkan
sekian petang lalu akan menumpahkan dendam.

Aku, yang sudah berguru pada pesilat sepi
di pucuk gunung itu, menyimpan beragam siasat
dan hantaman yang tak pernah kamu rasa sebelumnya.

Lidah racunmu takkan sanggup menyengat aku lagi.
Telah kutempa beraneka ilmu kulit kebal,
mulai dari ajian badak hingga perihal belulang buaya.

Jika kamu gunakan tenung pamungkasmu, aih,
tak akan gentar, aku tak gemetar. Segala pukulan gaib
dan jurus tameng selubung tubuh aku pegang penuh.

Hingga tak gegar aku tamatkan bermacam sesumbar,
semua pendekar yang berlalu di depan pandang.
Termasuk engkau, yang menepi dan sembunyi
di padasan rawa-rawa kering 

(2012)

Tentang Tarung Terakhir

Yang berlalu bersama sajak
tentu tak cuma tombak

kapak dan segala yang tak bijak
akan turut beranjak.

Juga ia, sang jemawa yang mennyambut laga dengan pencak mahagalak. Aih, jawara selatan, yang tak mempan ditembus segala tajam, yang tak hangus dijilat lidah panas. Datang. Datanglah seliat dan segila peneguk arak.

Malam ini tarung penghabisan. Kita gelar semua jurus : gerak ancang, pukulan, tendangan, cabikan, hingga semua pitingan yang kau kulik dari hikayat kitab kerahasiaan.

Pukul di samping dan kau mengelak,
cakaranmu berbuah garis,

tapi tendanganku berakhir lebam
yang tak dapat kau sembunyikan.

Bila bulan itu tak lagi bundar di mata, segera akhirkan saja pertarungan. Langkah panjang tak sanggup lagi kita lakukan. Hunuskan, tembuskan segala pedang atau gelar saja sengat berbisa yang tak mungkin lagi diterawang mata.  

(2012)


Biodata :
Dody Kristianto, lahir di Surabaya, 3 April 1986. Saat ini ia tinggal di Sidoarjo dan bergiat bersama Sastra Alienasi Rumput Berbasis Independen (SARBI).



Monday, October 8, 2012

SILATURAHMI SASTRA BERSAMA SOSIAWAN LEAK

Sosiawan Leak Bersama Dody Kristianto (SARBI) - Moderator





Para penikmat sastra Sidoarjo

Photobucket

Photobucket


Photobucket
 

Teman-teman Dekesda menampilkan musikalisasi puisi

Pemimpin Redaksi SARBI (sebelah kiri)

Sosiawan Leak bersama Autar Abdillah (Litbang Dekesda)

Acara ini diselenggarakan Dewan Kesenian Sidoarjo tanggal 15 September 2012 di Dinas Pariwisata Sidoarjo, sebagai bagian dari Majas (Malam Ajang Sastra) program kerja komite sastra Dewan Kesenian Sidoarjo.


 

Anda Pengunjung ke

SARBI

Tentang Kami

Sastra Alienasi Rumput Berbasis Independen (SARBI) adalah kelompok diskusi yang bergiat mendiskusikan perihal isu sastra, seni, dan kebudayaan terkini dengan mengambil sudut pandang alternatif. Selain itu, SARBI juga banyak menggali pemikiran tradisi negeri sendiri dan konsepsi mancanegara yang diharapkan dapat bersinergi sehingga menghasilkan pandangan kontemporer yang segar. Untuk membuktikan perihal tersebut, kami melahirkan lembar SARBI untuk ikut menghiasi keriuhan dunia sastra, seni, dan budaya serta berharap dapat menjadi oase untuk memenuhi dahaga kita •

Redaksi

Pemimpin Redaksi Sidang Redaksi Sidang Redaksi Sidang Redaksi Sidang Redaksi Sidang Redaksi Penata Artistik

Tinggalkan Pesan

Dokumen Post