Telah Terbit !

Yang sederhana, yang berserakan, yang tak diperhitungkan dan bertebaran di mana-mana, tetaplah harus dirayakan. Spesial SARBI edisi 8 di akhir tahun!

Segera Dapatkan !

Buku Puisi Karya KOMANG IRA PUSPITANINGSIH.

Toko Buku SARBI

Kumpulan buku bekas pilihan yang asik untuk dibaca dan dikoleksi dengan harga bersahabat.

Telah Terbit!

BULETIN TIKAR EDISI 02/2013 Diterbitkan oleh Komunitas Tikar Merah (KTM)

Dapatkan!

Buku Terbaru SARBIKITA Publishing Karya Heru Susanto

Blogroll

Thursday, March 7, 2013

Puisi Dody Kristianto, Kompas 13 Januari 2013

 photo _MG_0564copy_zps99c9e5e0.jpg


Jurus Menunggang

Bahasamu adalah mengangkangi, menumpangi. Maka tuntaskanlah beberapa siasat :

siasat tenang, siasat mengekang, siasat diam, hingga siasat berdendang agar tak sampai segala kesetanan bertandang. Segalanya tak lebih dari siasat singkat.

Semua semata untukmu, yang membuatnya di bawah dan tertaklukkan. Jangan menunggunya hingga giras dan melontarmu ke segala arah.

Kuatkan pula ancangan yang telah diwariskan para moyang. Pandangan ke depan, sesekali melirik kiri dan kanan.
Jangan pernah kau palingkan muka
ke belakang. Jangan pernah.

Semua demi segala demit yang menunggumu. Demit yang menjebak dan menyiapkan sial agar kau yang menyimpan kebaikan gerak tak banyak berlagak.

Mulakan semua dengan ketenangan, mulakanlah dengan sikap seupama kapal karam. Agar ia tak sampai berontak, lagi tak menyentak dengan langgam badan mahagalak.

(2012)  


Jurus Menjelang Tumbang

Inilah jurus menjelang tumbang :

kau yang terpuruk di pojokan. setelah terhempas
tonjokan tangan kidal. tapi kau ingin membalas
dengan sisa tenaga selembut tisu
dengan ancangan sekuat lidi
dengan pukulan selesat siput
di atasmu, bintang-bintang datang mendekat
di matamu, bulan merah pudar setengah kelam

tapi, kau tak ingin malu oleh pesilat muka tikus
kau tak mau takluk oleh jurus sapuan
bangau ngantuk. kau ingin tetap menghajarnya,
meski wajahmu tak tercetak di depan cermin lagi
berkuda-kudalah. siapkan seribu pukulan
pukulan dua tiga empat hanya lewat dari badan
sang penantang. tepatkan pula tendangan,
tendang yang melesat jauh di atas kepala sang penghajar

mengertilah, kau hanya tinggal menunggu ia
mendaratkan jotos pamungkas. jotos yang ingin berpulang
tepat di jantung. di tempat yang tak lagi dapat kau lindungi
dengan gelibat bertahanmu

(2012)
  
Menangkal Sawan
Yang kutakutkan adalah kau.
Telah jitu kutangkal gerak galak naga air.
Juga dapat kuringkus macan geni
yang memberiku seribu tikam pada badan.

Tapi untukmu, pergulatan beralih liat.
Kau teramat lihai menaruh beling di perutku.
Atau paku di jantungku. Membuatnya bergoyang,
bergelantungan saat kuancang sebuah tinjuan.

Kuda-kudaku bolehlah terpasang tegap,
tapi kau cukup meniup sawan. Anasir angin
akan mengantar yang rawan itu masuk ke dalam,
lalu pencar di luaran. Mereka akan berulah
semacam pendekar ganas yang mengincar.

Aih, kau penebar kejahatan di udara.
Petenung yang tak habis kuganyang
dalam satu tonjokan tajam.

(2012)

Thursday, February 21, 2013

Buku Semusim di Neraka karya Arthur Rimbaud

 photo _MG_0488copy_zps4bb35493.jpg

 photo _MG_0510copy_zpsa327baaa.jpg

 photo _MG_0512copy_zps2c31e0a9.jpg

JEAN NICOLAS ARTHUR RIMBAUD adalah sebuah bintang jatuh di langit kesusastraan Perancis pada paruh kedua abad ke-19. Dia tiba-tiba melesat, merebut perhatian, dan kemudian padam begitu saja: tidak ada yang bisa melacak keberadaannya. Baru pada 1883 Rimbaud bisa dilacak lagi. Seorang importir kopi Arab yang sedang mudik ke Marseille dengan kapal bercerita kepada kenalannya tentang salah satu anak buahnyayang pendiam namun terampil bernama Arthur Rimbaud. Kenalan itu terperanjat: dia kenal Rimbaud dan mengingatnya sebagai penyair yang dua belas tahun sebelumnya melakukan debut yang "membius dan matang sebelum waktunya" di Paris. Ketika importir itu kembali ke kantornya di Aden, Yaman, dia ingin berbincang tentang kesusastraan dengan Rimbaud, tapi anak buahnya yang mantan penyair tenar itu menolak dan mengatakan bahwa puisi-puisinya "absurd, menggelikan, menjijikan". Rimbaud memang telah mengucapkan selamat tinggal untuk selama-lamanya kepada puisi di tahun 1874, ketika usianya belum lagi genap 2o tahun.

Puisi SEMUSIM DI NERAKA:

Dulu sekali, kalau ingatanku tak keliru, hidupku adalah pesta dansa di mana setiap hati menyingkapkan diri, di mana setiap anggur mengalir.

Suatu petang kudekap keindahan - dan kurenungkan ia dengan getir - dan kuhina dia.

Kutegapkan diri menentang keadilan.

Aku berlari. O tukang sihir, o kesengsaraan, o kebencian, kalian rawat harta bendaku!

Dalam diriku telah pudar semua harapan kemanusiaan. Dengan lompatan tangkas hewan buas, aku telah taklukkan dan cabik-cabik semua kegembiraan.

Aku telah panggil para algojo.Aku ingin musnah denga mengunyah popor senjata mereka. AKu telah undang wabah penyakit agar aku bisa megap-megap di pasir dan genangan darah. Kesengsaraan telah menjadi dewaku. Aku telah terjerumus di lumpur dan aku keringkan diri di udara yang tercemar kejahatan. Aku telah mainkan peran si dungu hingga hampir gila.

Dan musim semi membawakanku tawa mengerikan seorang dungu.

Kini, ketika kudapati diriku siap membusuk, aku berpikir untuk mencari kunci kepada pesta dansa yang dulu itu, mungkin bisa kutemukan keyakinan lagi.

Kuncinya adalah kemurahan hati - ini menunjukkan kalau aku sedang bermimpi!

"Kau akan tetap menjadi heyna, dan sebagainya ...," seru iblis yang dulu pernah memahkotaiku dengan bunga popi yang cantik. "Carilah kematian dengan seluruh  gairahmu, dan semua kecintaan pada diri, dan Tujuh Dosa Tak Terampuni."

Ah! Aku terlalu berlebihan: namun, Setan tersayang, kumohon jangan risau! Dan sementara menunggu beberapa kepengecutan yang terlambat tiba, karena kau menghargai kurangnya bakat deskriptif atau didaktik dalam diri seorang penulis, kuberikan kepadamu beberapa halaman dungu dari buku harian milik Jiwa Yang Terkutuk.

jadis, sije me souviensbien...     

___________________________________________ 


Data Buku:

Penerjemah : An Ismanto

86 hlm, 12.5x19 cm
Cetakan Pertama: Desember 2012

Penerbit:

MK ART BOOKS
Jl. Bimo Kurdo No. 8 Sapen
Yogyakarta
081802717528

Distributor:

Jualan Buku Sastra
www.jualbukusastra.blogspot.com


Cara Memesan Buku

1. Untuk memesan buku, anda tinggal memastikannya dengan mengubungi 081802717528 untuk memastikan judul, tempat dan persediaan buku.

2. Transfer harga buku ke  

      No rekening 0117443522 

      BNI Cabang UGM 

      Atas Nama Indrian Toni 

 sesuai harga buku + ongkos kirim sesuai kesepakatan.

3. Konfirmasi dan kirim alamat

4. Buku siap kami antar.


@ Redaktur SARBI: Ferdi Afrar

    




Wednesday, February 20, 2013

Buletin Tikar Edisi 01/2013

 photo _MG_0488copy_zpsea8f2de7.jpg

 photo _MG_0497copy_zpse3f0a579.jpg

 photo _MG_0499copy_zpsdb38c6a7.jpg

BULETIN TIKAR EDISI 01/2013

PUISI
1. Rifqi Asrar
2. Jufri Zaituna
3. Kiki Sulistyo
4. Ali Gaelanta
5. Habil Ebi S.
6. Lubet Tengah

CERPEN
Sate Tinggal Tusuk oleh Choirul Wadud

BUNGA PANDAN
Celurit oleh Mahendra

ESAI
Mesin Puisi oleh Set Wahedi

_______________________________

BULETIN TIKAR adalah buletin yang diterbitkan oleh Komunitas Tikar Merah (KTM).
Buletin ini terbit sebulan sekali. Adapun rubrikasinya adalah esai (budaya, seni pertunjukan, sastra, catatan proses kreatif), puisi, dan cerpen. Buletin Tikar menerima kiriman naskah berupa, esai, cerpen, atau puisi (tema bebas). Tulisan dikirim ke: tikarmerah@gmail.com

SUSUNAN REDAKSI:

Pemimpin Redaksi: M. Faqieh Akhmad
Redaksi: Lubet Tengah, Habil Ebi, Rifqi Asrar, Yuyung, Rizal Sugi, Mukhlis Barack
Redaksi Senior: Taqin, Alek, Timur
Penanggung Jawab: Khalil Tirta Segara (Ketua Komunitas Tikar Merah)
Alamat Redaksi: Jl. Jemur Wonosari Gang 3a No.01 Surabaya. 
Telpon Redaksi: 08973810466

/Redaktur SARBI: Ferdi Afrar

Wednesday, January 16, 2013

Puisi-Puisi Agam Wispi

Photobucket

Agam Wispi adalah salah satu sastrawan Lekra terkemuka selain Pramoedya Ananta Toer. Penyair ini meninggal pada tahun 2003 lalu di sebuah panti jompo di Amsterdam. Berikut dua puisinya yang dipetik dari situs www.marxist.org

Surabaja

tiap kita djumpa
surabaja
aku selalu remadja
gembira kepada kerdja
pasti kepada harapan
surabaja
laut dan kota
rata

surabaja bau keringat
bau kerdja
ketegarannja harum semerbak
dan malamnja malam bertjinta
deritanja
terisak-isak
dalam dengus napas
darah bergelora
tjemara bersiut
meliut semampai
wilo merunduk
merenung sungai
besok ke laut
dia akan sampai

tapi ini!
malam pelaut
buih hidup
jang menggapai!
surabaja
lebih remadja
dalam bantingan usia

kutjinta surabaja
sebab dia kota kelasi
kurindukan surabaja
sebab trem berlari-lari
(djakarta? Term diganti impala!)
kusukai surabaja
sebab betja dan taman
ditepi kali
kubanggakan surabaja
sebab dia kota berani
kusenangi surabaja
sebab kedjantanan bernjanji
kepahlawanan bergolak
dari kantjah-kantjah jang menggelegak
dan tahun-tahun kenangan
jang diwariskan
mogok pertama
buruh kereta api
zeven provincien
buruh pelabuhan dan pelaut
bersatu hari
disiram hudjan peluru
dan dentjing belenggu
rantai besi, bendera pertama
internasionalisme proletar
dipantjangkan
proklamasi ? sitiga-warna diturunkan
dan dalam pelukan sang saka
dipandjatkan kepuntjak perlawanan
kemudian
diantara serpihan bom
jang mengojak
dan kota jang terbakar
terbakarlah semangat pertempuran
njalanja
tak terpadamkan
hingga kini
nanti
dan kapanpun
njalanja panas menempa
badja kemerdekaan
badja kehidupan
ketika kita tidak lagi bertanja
pilih njala atau pilih badjanja?
dan kita merebut
kedua-duanja!
djauh mengatasi segala
pekik pilu dan djerit sendu
ratapan kehilangan dan erang kesakitan
adalah bagai ibu jang melahirkan baji
jang kemudian memeluk dan menjusui
serta mengusap-usapnja dengan kesajangan kebahagiaan
disitu Hari Pahlawan
dilahirkan
kko pesiar
menunggu trotoar
kelasi-kelasi
melambaikan dasi
jang bernama “kesenangan” memperpandjang umurnja
maka itu djadi terlambat
tapi bus dan truk tidak menunggu
ajo, pulang djalan kaki!
tjinta sudah ketinggalan
ditembok-tembok kota
o, ketika kapal merapat lego djangkar
pelabuhan mengulurkan tangannja
dan lampu kota mengerdipkan matanja
dan bus-bus kadet menderu
megah
dan di tundjungan sikadet melangkah
gagah
putih-putih
dan gadisnja dua
jang satu pedang jang satu wanita
dan si gadis punja mata kedjut pelita
dan si pedang punja mata gelegak darah mudah
si kadet djua permata dari lautan
bukan main!
namun adakah permata berkilau
tanpa sebersit tjahja mentjekau?
dan tiadalah angkatan perang
tak bertulang-punggung
kukuh
merekalah
kelasi dan pradjurit
darat laut udara
polisi
milisia dari rakjat pekerdja
tangan-tangan badja jang keras menghentam
tidak perduli bom nuklir
tapi tangan!
tangan jang menentukan
jang menghajunkan pedang kemenangan
selama di djantungnja
debur-mendebur
gelora repolusi
mengabdi rakjat pekerdja
sokoguru
buruh
tani
matahari tenggelam
di djembatan wonokromo
surabaja berdandan
bagi malam berdesau
tjemara
tjadar kota
jang disingkapkan
surabaja
napas merdeka
jang dipertaruhkan
pahlawan-pahlawan lahir
pada djamannja dan diukur
oleh pengabdiannja
kepada rakjat
dan hari depannja
djaman lampaupun berlalu
djaman baru datang
melahirkan pahlawan baru
namun pahlawan sebenarnja
hanja tumbuh dalam lumpur dan debu
pembesar-pembesar boleh bermatian
orang-orang besar boleh berlahiran
tenaga segar dari kepahlawanan
djuga sekarang
djika muda-mudi berperasaan
merasakan hidup sampai ke tulang-sumsumnja
dan jang tua-tua teguh
membatu karang oleh hempasan gelora
merekalah orangnja
dan kebanjakannja
tak bernama
merekalah petani jang dirampas tanahnja
kembali merebutnja dari setan-setan desa
mereka jang berdjuang membebaskan dirinja
dari belenggu perbudakan tanah
dan buruh-buruh pelabuhan buruh pabrik
jang beruntun-rutun pagi hari
berkilat-kilat oleh keringat
dan hitam oleh matahari
pengangkut pasir jang menunggu
perahu menghajut ke gunung sari
betja jang berkerumun di lubuk djalanraya
kko – kelasi – pradjurit
jang ingat kepada asalnja
pegawai-pegawai jang sadar kepada klasnja
(bukan pemabok “karyawan jang mengingkari “makan-gadji”)
si miskin-kota jang kehilangan desanja
dan mengisi sudut-sudut gelap kota
dengan kerdap-kerdip pelita
petani-petani jang dirampok panennja
dan tepat menghidjaukan bumi, memerahkan tanah
pemuda peladjar mahasiswa jang membakar buku USIS*
dan mengusir setan-setan ilmu dari amerika imperialis
untuk mematahkan belenggu kebodohan
ratjun kemerdekaan jang berbungkus kenikmatan hampa
dan surabaja
berderap dalam tempik-sorak
meski bau tengik dan sarang malaria
sama banjak njamuk dan lalat dimana saja
tunggu! suatu hari pernjataan perang
djuga kepadamu!
disini ketegaran berkata sederhana
keras dan langsung kehulu-hatimu
jang sudah mati, ja sudah!
jang hidup sekarang, menjiapkan repolusi
dimana masing-masing beri djanji
merdeka atau mati!
bagi keringat kaum buruh
bagi tanah-tanah petani
bagi kepertjajaan kepada harapan
MANUSIA
ja, sekarang kita bertanja
sudahkan tanah bagi petani?
sudahkan keringat bagi kaum buruh?
jang sudah – sedikit!
jang belum – banjak!
menteri-menteri tetaplah turun naik
jang belum, kepingin djadi menterei
jang djelek, tak mau turun
jang baik, masih di podium
dan rakjat tetap menuntut: kabinet nasakom!
dan kabir-kabir main sunglap dengan peluru, wang, dan senjum
dengan tuantanah dan imperialis?
seketurunan! satu medja-makan dan sama-sama minum dan pemimpin-pemimpin munafik menghamburkan budi ikut berteriak “ganjang malaysia! Berdiri di atas kaki sendiri!”
kemak-kemik pantjasila, manipol, djarek, sukarnoisme
tapi main mata dengan modal monopoli
gudang ratjun komunisto-phobi
buruh phobi
tani phobi
partai phobi
imperialisme amerika? Tunggu dulu!
dan sardjana-sardjana membalik-balik bukunja
tapi tak mengenal aspirasi tanahairnya sendiri
dan seniman memabokkan diri dengan kepuasan murah
tak tahu kemelaratan dan kebangkitan rakjatnja sendiri
dan politikus mentjatut teori dengan “ala indonesia”
munafik-munafik ini mau melupakan sumbangan dunia
kepada sedjarah dan perdjuangan klas
sungguh, kekerdilan yang memalukan dan hina
adalah mereka jang mau menutup laut dengan telapak tangannja
laut daripada kebenaran perdjuangan klas
o, sudahkah keringat bagi kaum buruh?
sudahkah tanah bagi kaum tani?
jang menggarap!
jang menggarap!
jang menggarap!
betapa berbelit-belit
plintat-plintut
tapi adakah jang lebih tegas dari kebenaran?
sebab dia tak dapat digeser dari relnja repolusi?
abad-abad telah menjumbangkan lokomotip-lokomotip raksasa
jang menderu kentjang menembus belantara kegelapan
dengan perdjuangan klas dan repolusi
dengan marx, engels, dan lenin
dengan mau tje-tung, bung karno, dan aidit
dengan diri sendiri; rakjat tertindas
antara sabang dan sukarna-pura
di seluruh dunia dimana sadja

o, djanganlah hanja membaca hurup-hurup
tapi tak menangkap hakekat dan arti
o, djanganlah sungai lupa kepada laut
dan kemerdekaan tinggal abu tanpa api
sebab kami
surabaja
sudah banjak mati

sebab kepahlawanan sehari-hari
tidak pada jang sudah mati
berkata pemimpin besar repolusi
djaman ini djaman konfrontasi
pemimpin tengahan bitjara lain lagi
katanja: perdamaian universil dan konsepsi

dan perdamaian djadilah dewi ketjantikan
dan pedang kemerdekaan ditumpulkan

maka konsepsipun berlahiran diatas kertas
dan kertas-kertas berhamburan setjepat inflasi
mereka jang bekerdja dilaparkan oleh djandji
mereka jang malas berpikir tanpa batas

jang tak tahu ekonomi politik
mau bikin ekonomi politik
maka begitu naik djadi menteri
harga beras melambung tinggi
maka berkatalah rakjat suatu hari
bisa sekarang bisa nanti
stop!
mau konsepsi apa lagi?
kami sudah banting kemudi ke u.u.d empatlima
kami sudah bikin manipol dan nasakom
land reform dan dekon
ajo, konfrontasi
melawan tudjuh setan-desa
imperialis amerika
atau
sebelum roda ini melindas
minggir!

kami mau repolusi
kami mau buku dan pedang ditangan
kami mau tanah dan bedil dibidikkan
kami mau palu dan meriam didentumkan
kami mau pukat dan kapal-selam berkeliaran
kami mau indonesia dan rakjatnya jang gesit berlawan
bagi repolusinya dan bagi dunianya
bagi dunia dan bagi repolusinya

dan surabaja
senatiasa remadja
dalam bantingan usia
berdjuang
beladjar
kerdja

kutjinta surabaja
dia kota kelasi
kurindukan surabaja
sebab trem berlari-lari
kusukai surabaja
betja dan taman ditepi kali
kubanggakan surabaja
kota berani mati
kusenangi surabaja
kedjantanan jang bernjanji

surabaja
menghadang pukulan
menghantam
bertubi-tubi
disini tjemara bersiut
meliuk semampai
dan wilo merunduk
merenung sungai

kelasi, djika besok kelaut
djangan lupa kepada pantai

Keterangan: *USIS adalah United States Information Service, aparatus propagandanya Amerika Serikat untuk mengedepankan kepentingan nasionalnya ke negara-negara asing.


Dia jang lahir dalam kantjah perdjuangan*

dia jang lahir dalam kantjah perdjuangan
kini sudah besar dan mendjadi dewasa;
dia jang dibesarkan dalam dadung pertempuran
beribu-ribu gugur, namun berdjuta mengangkat pandjinja.

orang-orang munafik dan kerdil pikiran sia-sia mengintip rahasia:
mengapa sedjarah berpihak kepada klas jang paling muda?
mengapa komunisme kian merata, terudji, dan ditjinta?
dan bagi rakyat pekerdja, pedjuang proletariat ubanan tetap remadja?

siang bertukar malam dan malam berganti pagi
ribuan tahun manusia terbenam di lumpur perbudakan
dan di kegelapan pikiran itu marx dan engels memertjikkan api
dan di tiap negeri berkumandanglah lagu kebangkitan.

seorang egom mati di tiang-gantungan
seorang aliarcham tewas di tanah-buangan;
generasi baru datang, beladjar tentang keberanian dan kearifan
satu demi satu musuh dikalahkan dan satu demi satu direbut kemenangan.

marxisme-leninisme menemap perdjuangan kelas
dan perdjuangan klas menjemai marxisme-leninisme;
o, repolusi tjermelang, jang sedang disiapkan nasion-nasion tertindas
dalam abad ini djuga kita punahkan imperialisme.

pada hari ke-empat-puluh-lima
dia sudah besar dan dewasa;
diutjapkan atau tidak, rakyat pekerdja menjebut namanja
sederhana dan terang: Partai Komunis Indonesia

*Judul diambil dari baris pertama. Puisi ini sebenarnya tak berjudul.


/Redaktur SARBI: Dody Kristianto


Tuesday, January 8, 2013

Puisi Pratiwi Parmawati

Photobucket
Rain from www.blirk.net

Sejenak, Mengingat Aromamu, Hujan

sesakku memandang ribuan tanya pada tatapanmu.
sama sepertiku sesak memandang dua burung pipit berebut senja.
aku pun ingin bertanya, mengapa?

gerimis sore itu menenggelamkan senja dalam petang
yang diam dan sunyi yang meradang.
aku teringat kau menghilang tiba-tiba tanpa sepatah kata,
saat gerimis merubah takdir, hujan.
harus dengan apa ku ucapkan, maukah kau sejenak
nikmati suasana ini?
menikmati indahnya hujan dari tumpukan-tumpukan gerimis petang.

dan malam semakin larut, melabuhkanku pada muara hujan
yang menutup senja.
dan sesaat ku tersadar.
aku terjebak dalam nuansa gerimis yang menghujani tanda tanya
yang mendekap dalam benak.
tentang inginku ...
dan tentang yang tak mungkin terungkapkan
karena bukan untuk diungkap oleh ucap.

'kan kutunggu hujan yang lain datang 'tuk menutup petang
dalam balutan hangatnya fajar.
dan 'kan kusebut hujan dalam irama terakhir
sebelum malam memudar dan lilin terakhir redup berpijar.

17042012

Pratiwi Parmawati lahir di Lamongan, 17 Mei 1992. Saat ini tengah
menempuh S-1 Pendidikan Matematika di Universitas Negeri Malang.

Sumber: Harian Jawa Pos, 6 Januari 2013

/Redaktur SARBI: Guntur Sekti Wijaya







Anda Pengunjung ke

SARBI

Tentang Kami

Sastra Alienasi Rumput Berbasis Independen (SARBI) adalah kelompok diskusi yang bergiat mendiskusikan perihal isu sastra, seni, dan kebudayaan terkini dengan mengambil sudut pandang alternatif. Selain itu, SARBI juga banyak menggali pemikiran tradisi negeri sendiri dan konsepsi mancanegara yang diharapkan dapat bersinergi sehingga menghasilkan pandangan kontemporer yang segar. Untuk membuktikan perihal tersebut, kami melahirkan lembar SARBI untuk ikut menghiasi keriuhan dunia sastra, seni, dan budaya serta berharap dapat menjadi oase untuk memenuhi dahaga kita •

Redaksi

Pemimpin Redaksi Sidang Redaksi Sidang Redaksi Sidang Redaksi Sidang Redaksi Sidang Redaksi Penata Artistik

Tinggalkan Pesan

Dokumen Post