Blogroll

Minggu, 14 Juli 2013

Puisi-Puisi Rabindranath Tagore

 photo tagore_zpsac2a33f1.jpg
Potret Tagore diambil dari www.moifightclub.files.wordpress.com

Panggilan Hidup
Jika gong berdegung sepuluh kali di pagi hari dan aku berjalan menuju sekolah, bertemulah aku setiap hari dengan penjual kelontong yang berteriak, “Manik! Manik batu!”
Tak ada yang memburu dia, tak ada jalan yang harus ditempuh, tak ada tempat ke mana ia harus pergi.
Aku ingin jadi penjual kelontong yang menghabiskan hari-harinya di jalanan sambil berteriak, “Manik, Manik batu!”
Jika sore hari pukul empat aku pulang dari sekolah, kulihat dari gerbang masuk tukang kebun sedang menyabit rumput di halaman.
Ia bekerja sesuka hatinya, mengotori bajunya dengan debu, berjemur di bawah panas matahari, kehujanan tanpa seorang pun melarangnya.
Aku ingin jadi tukang kebun yang bekerja sesuka hati, dan tak seorang pun melarangku.
Jika malam tiba dan ibu menyuruhku tidur, kulihat lewat jendela, peronda malam bolak-balik di gang.
Jalanan gelap, dan sepi, dan lampu pasar tegak bagai raksasa bermata merah di tengah kepalanya.
Peronda itu berjalan membawa lampunya bersama banyang-banyangnya, dan ia tak pernah tidur selama hidupnya.
Aku ingin jadi peronda dan berjalan di jalanan sepanjang malam sambil menghalau bayang-bayang dengan lampuku.

Tamu
Lama tiada tamu berkunjung ke rumah, pintu-pintuku tertutup, jendela terpalang: kupikir malam-malamku akan sepi.
Ketika mataku kubuka kusaksikan gelap telah lenyap.
Aku bangkit dan lari kemudian kulihat batu gapura rumah-ku hancur, dan lewat pintu terbuka angin dan cahayamu mengibarkan bendera-benderanya.
Dulu ketika aku jadi tawanan di rumahku sendiri, dan pintu-pintu tertutup, hatiku senantiasa ingin melarikan diri dan pergi mengembara.
Kini aku masih saja duduk di muka gapuraku yang hancur, menunggu kehadiramu.
Kini kau telah mengikatku dengan kebebasanku.

Sajak-Sajak Masa Tua
Ketika aku masih muda
Siang hari pukul dua
Kuhadapkan kepalaku ke pintu
Kamarku di atap
Tikarku lebar terhampar
Dan kuhabiskan jam-jam riang.
Jauh di udara burung elang
Memanggil-manggil
Di angin basah
Daun-daun shirish berkilauan
Dengan paruh pecah karena haus, burung gagak
Terbelalak matanya memandang tembok batu.
Burung-burung gereja menggelepar
Di kasau-kasau kamarku.
Menyebrangi gang kudengar suara penjaja makanan:
Di sebuah atap nun jauh seseorang bermain layang-layang.
Jauh di balik pelupuk mata,
Yang Tak Dikenal
Meniup seruling membujuk hatiku
Meninggalkan rumah.
Cinta dan duka bercampur entah kenapa,
Menenun mimpi tanpa awal
Tanpa akhir.
Seakan aku memandang –
Teman seseorang yang tak punya teman.
Aku melangkah ke umur tujuh puluh,
Menuju akhir pantai.
Kusingkap jendela kalbuku
Seakan di masa kanak
Merenung. Waktu-waktuku lewat.
Dalam panas membakar ini
Dahan-dahan Shirish bergetar
Dekat perigi di tepi pohon tamarin.
Anjing tetangga tidur;
Bebas dari gerobak, sapi jantan
Membaringkan dirinya di padang.
Bunga gandharaya berlayuan di atas kerikil,
Mataku menyentuh semua,
Pikiranku berada di tiap benda.
Seakan bocah bebas bertelanjang, pikiranku
Menyertai kenaungan hutan
Dan langit,
Kulit kerang-kerangan tak dikenal
Bergema dalam semua yang kukenal.
***
Dunia kini buas dengan mata gelap kebencian,
Pertikaian kian ganas dan ketakutan tak kunjung henti,
Miring jalannya, kacau oleh timbunan kelobaan.
Segenap makhluk meneriakkan kelahiran baru darimu.
O Kamu kehidupan yang tak terbatas,
Selamatkanlah mereka, bangkitkanlah suara kekal harapanmu.
Biarkan teratai cinta dengan kekayaan madunya tak habis-habis
Mebukakan kelopak-kelopaknya di dahan cahayamu.
O Terang, O Kebebasan,
Dalam kasih saying dan kebaikanmu yang tak terhingga
Spulah semua najis kegelapan dari hati bumi ini.
Kaulah pemberi karunia abadi
Beri kami kekuatan menyangkal
Dan tuntutlah dari kami kebanggaan kami.
Dalam pesona fajar baru kearifan
Biar si buta memperoleh penglihatan terang
Dan biar hidup mendatangi jiwa-jiwa mati.
O Terang, O Kebebasan,
Dalam kasih saying dan kebaikanmu yang tak terhingga
Sapulah semua najis kegelapan dari hati bumi ini.
Hati manusia cemas oleh bara kegelisahan,
Oleh racun kepentingan diri,
Oleh dahaga tak kenal akhir.
Negeri-negeri jauh dan luas menunjukkan kening mereka
Yang memercikkan darah merah kebencian.
Rabalah mereka dengan tangan kananmu,
Jadikan mereka satu dalam semangat,
Bawakan keselamatan dalam hidup mereka,
Bawakan nada keindahan.
O Terang, O Kebebasan
Dalam kasih saying dan kebaikanmu yang tak terhingga
Sapulah semua najis kegelapan dari hati bumi ini.
***
Dari jauh aku memikirkanmu
Kaum zalim, tak tergugat.
Dunia gemetar dalam ketakutan
Mengerikan.
Kobaran api kelobaanmu
Melalap hati yang patah
Di tanganmu trisula
Naik menuju awan bertopan
Menurunkan guntur.
Hatiku gemetaran
Aku berdiri di depanmu.
Dalam pandang matamu yang mencakar
Terhambur ancaman bagaikan gelombang
Angin kencang turun.
Seraya menekankan tanganku ke hati
Aku bertanya,
“masih ada lagikah
Halilintarmu yang terakhir?”
Angin kencang bertiup.
Hanya inikah?
Rasa takutku lenyap.
Jika halilintarmu kau enyahkan,
Kau jadi lebih agung dariku.
Tiupan anginmu membuatmu tegelincir
Jatuh ke duniaku.
Kau jadi kecil
Dan rasa takutku lenyap.
Betapapun besar
Kau tak lebih agung dari kemarin.
Bahwa aku lebih agung
Itulah kata-kataku yang terakhir
Jika aku pergi.
***
Pintu senantiasa terbuka
Hanya mripat si buta yang tertutup
Ia yang tak berani masuk
Tak kenal jalan ruh.
Pintu, serumu bergema dalam terang dan gelap
Musik selamat datangmu begitu khidmat
Palang pintumu dalam matahari fajar
Dan dalam kegelapan bintang-bintang.
Pintu, dari benih sampai pucuk sulur.
Kau berjalan dari kembang ke buah
Walau waktu-waktu tak terurai
Dari mati menuju hidup.
O Pintu, kehidupan dunia
Perjalanan demi perjalanan dari mati ke mati
Kau lambaikan isyarat pada peziarah kebebasan
Suara “Tak Takut” terdengar dari malam keputusasaan.
***
Bertebaran di ruang ini
Benda-benda bisu tuli berbaur
Ada yang mencucuk mata, ada yang sukar dipandang:
Jambang bunga di sudut,
Poci the menyembunyikan wajahnya;
Isi almari, aneka ragam
Berkerumun menuju kekosongan.
Sepasang bingkai jendela pecah tergeletak di sisi tirai
Sekonyong kulihat tirai memerah sendiri
Kulihat tapi tak kusaksikan.
Cahaya pagi mengusut liku-liku desain permadani,
Di situ – taplak meja hijau; lama telah kukhayalkan
Agar menyala warnanya di mataku.
Kini kehijauan terkubur, seakan asap rokok
Dan ia tetap berada di situ sekaligus lenyap.
Pengambilan barang ada di sini, penaruh penuh kertas
Aku lupa membuangnya jauh-jauh.
Almanac condong ke arah meja,
Mengingatkan aku bahwa kini tanggal delapan,
Botol minyak rambut merebut cahaya;
Jam berdetak: sulit kulihat.
Dekat dinding
Sebuah rak, penuh buku –
Banyak yang tetap tak dikenal.
Gambar-gambar yang kugantung
tampak bagai hantu, terlupakan,
garis-garis babut yang dulu mengucap jelas
kini hamper membisu.
Hari-hari lenyap, kemarin dan kini
Terbaring tanpa pertalian.
Di ruang sempit ini
Ada benda yang karib, begitu banyak yang asing,
Dan meja lintas sejenak
Lewat mata yang biasa terpejam.
Betapa banyak yang hilang dari apa yang kupandang.
Tapi tanpa acuh kusebrangi dan kusebrangi lagi
Jembatan antara yang dikenal dan tak dikenal.
Seseorang menaruh sebuah foto bocah
Di bawah bingkai kaca; cetakan memudar
Ramang mendekati bayangan
Dalam pikiran aku adalah Rabindranath,
Seperti ruang ini
Dalam bahasa kabur, mengharukan
Ada benda yang tampak terang, ada
Yang jauh tersembunyi di sudut.
Banyak yang hampir lupa kupindahkan
Seperti makna yang hilang ini,
Hari-hari silang menyusut
Menghapus haknya mengada.
Bayang-bayang lenyap di tengah yang baru
Dan abjad yang menggeram makna
Tak seorang telah membacanya.

Rabindranath Tagore dilahirkan pada tahun 1861 di Calcuta, India. Berasal dari keluarga yang berkecukupan dan mencintai seni, membuat Tagore kecil akrab dengan sajak-sajak penyair India dan Persia. Pengalaman apresiasinya itu bukannya tidak membawa pengaruh pada karya-karyanya kemudian. Konon, Tagore banyak terpengaruh Hafiz, penyair sufi (Persia) abad ke-14.
Tagore pernah sekolah di Inggris, pada tahun 1877, mengambil jurusan hukum, tetapi tidak selesai. Ia kembali ke India untuk mengurus tanah orang-tuanya. Dalam perjalanan hidupnya sewaktu muda, Tagore pernah mengalami kesulitan keuangan. Tetapi karena kecintaannya terhadap hidup dan kehidupan, dalam keadaan seperti itu, ia malah mendirikan sekolah khusus laki-laki, Shanti-Niketan. Maka ia harus banyak membagi waktunya, antara mengajar, menulis, dan menerjemahkan.
Kontribusi nyata Rabindranath Tagore dalam dunia kesusastraan meliputi 50 drama, 100 kumpulan puisi, 40 kumpulan cerpen dan roman, serta sejumlah buku esai dan filsafat. Gitanyali adalah salah satu kumpulan puisinya yang dianggap sebagai karya puncak kepenyairannya. Tahun 1913, Tagore menerima hadiah Nobel untuk kesusastraan (Nobel Award of Literature). Dan tahun 1915 menerima gelar kebangsawanan sir dari kerajaan Inggris. Tagore meninggal tahun 1941. Puisi-puisi terjemahan di atas dikutip dari buku Antologi Puisi Nobel, yang diterbitkan oleh Yayasan Bentang Budaya, Jogjakarta.

@Redaktur SARBI: Dody Kristianto

0 komentar:

Poskan Komentar

Anda Pengunjung ke

SARBI

Tentang Kami

Sastra Alienasi Rumput Berbasis Independen (SARBI) adalah kelompok diskusi yang bergiat mendiskusikan perihal isu sastra, seni, dan kebudayaan terkini dengan mengambil sudut pandang alternatif. Selain itu, SARBI juga banyak menggali pemikiran tradisi negeri sendiri dan konsepsi mancanegara yang diharapkan dapat bersinergi sehingga menghasilkan pandangan kontemporer yang segar. Untuk membuktikan perihal tersebut, kami melahirkan lembar SARBI untuk ikut menghiasi keriuhan dunia sastra, seni, dan budaya serta berharap dapat menjadi oase untuk memenuhi dahaga kita •

Redaksi

Pemimpin Redaksi Sidang Redaksi Sidang Redaksi Sidang Redaksi Sidang Redaksi Sidang Redaksi Penata Artistik

Tinggalkan Pesan

Dokumen Post