![]() |
Sumber Gambar: www.pulsk.com |
Oleh: Faisal L. Hakim
010
Sungguh
manjur anjuran teman saya waktu itu, “Jika kamu ingin dapat perempuan cantik
kayak artis di teve-teve, gampang, jadilah aparat” katanya waktu itu. Ya,
kira-kira lima tahun lalu ketika saya masih duduk di bangku SMA kelas dua.
Sungkan
juga sebenarnya saya bercerita, tetapi mungkin, cerita saya akan menjadi
inspirasi bagimu yang kesulitan memperistri perempuan sesuai dengan harapanmu,
tentunya jika masih punya kesempatan untuk seleksi dan lolos menjadi aparat
negara.
Saya
tidak ngganteng-ngganteng amat. Buktinya, waktu SD sampai lulus SMA saya tidak
pernah punya gandengan seperti teman-teman. Saya selalu sulit mendapatkan
perempuan idaman saya. Saya jones
menahun. Sudah hampir putus asa.
Setelah
lulus SMA saya teringat ucapan teman saya tadi. Saya pikir-pikir dulu. Dan
akhirnya sepakat dengan sarannya. Bukan tanpa alasan, saya riset dahulu.
Melihat tetangga kanan-kiri yang memiliki suami aparat. Meski rata-rata sudah
usia kepala tiga, mereka cantik-cantik.
“Bagaimana,
terbukti, kan, ucapanku?” ujar temanku beberapa hari setelah saya meminang
bunga desa.
“Ya,
berkat kau, saya rela mengingkari janji saya sendiri untuk tidak menjadi
aparat.”
Resti dan Vina
Hari-hariku
saat ini penuh dengan buaian. Mulai dari teman-teman kampus hingga teman-teman
di Karang Taruna kampungku, memujiku. Betapa tidak, aku kini memiliki kekasih
berpangkat dari pulau sebarang.
Ia
masih seminggu di sini. Buah dari usahaku mondar-mandir di depan kamp
pelatihan. Nyangkut juga parasku
kepadanya. Tak rugi aku merawat diri. Bersaing dengan gadis-gadis desa lain,
termasuk temanku sendiri, Vina. Betapa bahagianya bersanding dengan seorang aparat.
Tidak
mudah untuk mendapatkannya. Aku harus bersaing dengan Vina, teman karibku.
Sempat minder pula. Vina cantik. Tak kalah denganku. Ia seorang biduan.
Suaranya bagus. Dan hanya rela dijamah oleh cowok-cowok militer. Vina kenal dia
dari bbm. Entah bagaimana.
Aku
berkorban dari materi hingga perasaan untuk merenggut perhatiannya. Bukan tanpa
alasan, bayangkan, betapa romantisnya ketika saya mengantar suami di bandara ketika
ia mau berangkat perang. Atau stasiun. Atau terminal. Lalu ia mencium keningku.
Dan terabadikan di foto. Romantisme itu, begitu indah. Layaknya film-film
Perang Dunia II. Atau novel-novel latar kolonial.
Pun
akhirnya persahabatan kami merenggang. Vina yang menjadi teman sejak kecil
terpaksa kusakiti. Salahkanlah cinta, salahkanlah takdir, Vin!
Aku
coba untuk meminta maaf kepada Vina setiap hari, bagaimanapun ia sahabatku, namun
ia selalu menghindar, “maaf res, aku terburu-buru,” katanya waktu terakhir kami
berpas-pasan di kampus.
Kucoba
kirim pesan bbm kepadanya, “Vin, maafin aku”, di-R pun tidak. Ternyata di-D
lebih menyakitkan.
Tak
kusangka, sakitnya tidak berhenti di situ. Pada akhirnya Vina menunjukkan
betapa ia juga menyandang status yang sama denganku: pacarnya. Dengan durasi
yang sama pula: hampir sembilan bulan.
010
Jauh
dari isteri adalah pengalaman baru bagi saya. Betapa cantiknya ia hingga saya
rela menjadi seorang abdi negara untuk mendapatkannya. Dan, betapa cinta kami
terestui semesta alam tatkala ia rela meninggalkan pacarnya yang sudah tiga
tahun bersamanya. Jodoh memang tidak ke mana.
Namun
setelah di tempat baru ini, betapa pula saya sangat butuh sentuhan nyata seorang
perempuan. Bukan hanya suara, atau ketikan pesan pendek isteri saya yang indah.
Lagi pula, hati saya hanya untuknya. Bukan yang lain.
Saya
baru rasakan betapa mudahnya mendapatkan perempuan cantik. Bahkan, tidak perlu
mencari. Nyata saja, siapa juga yang bodoh dan tega membiarkan orang terjamin
masa depannya seperti saya, kesepian di tanah rantau.
Buktinya,
seminggu setelah kedatangan saya di pulau ini sudah ada yang menawarkan cinta
kepada saya. Tidak tanggung-tanggung, dua mahasiswi cantik di salah satu
universitas swasta di sini. Ya, saya pantas mendapatkannya. Kalau bisa dua,
kenapa harus satu. Toh, keduanya tak akan mendapatkan hati saya yang sudah
dimiliki Diana.
Diana
Setiap
detik saya tak habis-habisnya merinduinya. Seorang yang telah berhasil merebut
hatiku yang sudah kujanjikan pada kekasihku dulu.
Memang,
selain harapan orang tua, menjadi isteri seorang berpangkat adalah keinginan
hati kecilku. Betapa bahagiannya saya memilikinya. Tak peduli betapa sakitnya
ia yang kutinggalkan. Sudah menjadi wajar dan lumrah di mana ada kebahagiaan
harus ada yang dikorbankan. Ya menyakitinya, ya menerima sumpah serapahnya. Saya
memang pantas mendapatkannya.
Namun,
yang harus saya khawatirkan untuk ke depannya, adalah merelakan suami saya
pergi menjalankan tugas di luar pulau. Saya sendiri, di rumah seperti saat ini,
sudah saya pikir sebelumnya. Resiko menjadi isterinya. Hatta, terjadi juga
kecemasan itu. Belum lagi, bicara kesetiaan, saya tidak yakin bahwa kesetiaan
sejujur kesan saat kami berpisah dengan lambat. Antara dermaga dan samudra,
waktu itu.
Aku
Jika
kau menyangkal bahwa sakit hati tidak sesakit sakit gigi, maka aku rela sakit
gigi seumur hidup daripada menanggung luka sedemikian dalam. Tanpa bisa
dioprasi. Tanpa bisa diapa-apakan lagi.
Luka
adalah luka, biarpun senyummu menutupi. Namun kenyataannya, dengan senyum aku
bisa menghibur diri. Bahkan, hingga menjadi bahan olok-olok anak kecil di
gang-gang kampung. “Orang gila, orang gila, orang gila....” hingga mereka
lelah.
Siapa
sangka, melalui senyuman, aku bisa merubah benci menjadi pura-pura benci atau
pura-pura cinta. Saya mengidap dendam kesumat, atau bisa kau bahasakan cinta
kesumat.
Pada
siapa lagi kalau bukan Diana. Perempuan sialan yang selalu kucintai. Sampai
kini. “Ini bukan pura-pura,” sanggahku pada diri sendiri.
Untuk
kali ini perasaanku tidak sepihak, sebagaimana ia memilih laki-laki keparat itu
dan meludahiku begitu saja. Aku menduga ia telah menyesal sedemikian rupa
sampai akhirnya ia mengirim pesan singkat kepadaku, “aku kangen kamu, mas.”
Duh
Gusti, betapa senyumku kepada alam membuahkan hasil. Biarpun diiringi tangisan
sesal dan sakit yang mendalam. Ia ternyata masih merindukanku.
“Begitu
juga denganku, dek”, singkat saja.Untuk selanjutnya, kami tidak lagi berbalas
pesan singkat, tapi bertukar suara, menuju ke sentuhan, menuju pelukan, dan
menuju cakrawala cinta.
010
Beberapa bulan lagi saya pulang. Sudah rindu isteri. Apalagi,
akhir-akhir ini kami jarang komunikasi. Entah mengapa, malas saja rasanya. Tapi
begitu tugas saya di sini hampir berakhir, kerinduan itu muncul tiba-tiba. Saya
membayangkan, isteri saya sekarang tambah cantik, lebih matang. Ya, saya ingin
memeluknya erat.
Aku
Cinta kami tak terbantahkan. Dalam konteks ini, terkadang
aku tidak percaya bahwa jodoh pasti tepat sasaran. Kupikir, jodoh adalah ketika
cinta sejati seperti yang kumiliki bertemu. Meskipun tanpa upacara pernikahan.
Sialnya, apa yang saya pahami terbantahkan juga. Alih-alih
aku bahagia, aku sekarat ketika mendengar keparat itu mau tiba. Pasti Diana
akan kembali kepadanya. Bukan hanya tubuhnya yang aduhai, melainkan juga hati
dan jiwanya. Lalu aku, lenyap begitu saja.
Diam-diam aku pergi. Dan tak akan kembali. Daripada makan
hati. Mati berkali-kali.
Diana
Jika kau bertanya bagaimana kabar saya hari ini, dengan
maksud bahwa apakah saya riang dan bahagia menunggu kedatangan suami pulang
dari tugas, maka saya jawab, tidak!
Sejujurnya hatiku sudah terenggut oleh kekasihku. Yaitu dia
yang seharusnya tak kutinggalkan demi dirinya.
Sementara kini, beberapa hari lagi, suamiku pulang. Saya
tidak tahu harus bagaimana. Terhimpit dalam puing-puing tajam tak berbelas
kasihan. Saya tak pernah menyangka cinta sesakit ini. Film-film dan novel-novel
tentang kerinduan seorang isteri menanti suaminya pulang perang hanyalah bulshit belaka. Setidaknya begitu yang
kurasakan.
Bahkan, ketika mereka berhiperbola seperti “o Tuhan, betapa penantian adalah musibah
para perindu stadium akhir” saya kira tak lebih dari dusta yang dibenar-benarkan.
010
Rumah itu terlihat. Tak asing bagi saya. Bahkan, dari jarak
puluhan kilo, saya bisa mencium bau selokannya. Bau pesing tikus sudut-sudutnya.
Juga bau sambal trasi yang dibuat oleh isteri saya.
Langkah saya semakin cepat. Ransel puluhan kilo di punggung
semakin tidak terasa bebannya. Tinggal beberapa langkah lagi saya sampai di
depan pintunya. Sudah tak sabar melihat ia membuka pintu sembari menampakkan
cekung pipi yang menghiasi senyummnya.
“Assalamualaikum...” saya ketuk pintu itu. Satu dua kali tak
berbalas. Sunyi. Terhnyak saya ketika ada sahutan, “waalaikumsalam..” suaranya
sedikit lirih. Tepat di belakang saya.
Saya terpaku, terdiam sebantar. Tanpa menolehnya. “Bukan suara
itu yang kuharapkan,” batinku. Pelan-pelan saya memutar badan. Terlihat seorang
separuh baya. Tetangga sebelah pemilik toko kelonthong.
“ Mas Aryo?” Sapa perempuan itu.
“Oh, ibu, iya saya. Baru pulang dari tugas.” Sahutku.
Perempuan itu memberi jawaban sunyi. Saya melanjutkan, “hmm...
saya ketuk pintu dari tadi, tapi nggak ada jawaban. Ibu tahu isteri saya di
mana?”
Ia menceritakan dari awal hingga akhir. Begitu dramatis. Diam-diam
mata saya meneteskan air. Membasahi pipi kanan lalu kiri. Besok sudah tujuh
harinya.
Surabaya
2016
Cerita ini hanya fiksi dan rekaan belaka. Apabila
ada kesamaan peristiwa atau kejadian, itu hanya kebetulan belaka.
Keterangan:
010—gaya rambut yang bagian samping kepala memakai clipper tanpa sepatu dan bagian atas memakai sepatu ukuran satu.
0 comments:
Post a Comment