![]() |
fioneysofyan.com |
Oleh: Faisal L. Hakim
Jika
Anda praktisi game sepak bola, PES atau
FIFA misalnya, bisa jadi Anda akan sangat bosan jika terus-terusan menang
melawan komputer atau seluruh gamers
lain yang pernah Anda temui. Sialnya, Anda belum juga terkalahkan. Sudah tidak
ada langit di atas Anda!
Saya
memiliki teman yang menurut saya sangat yang bermain game bola. Entah saya yang bodoh, atau memang teman saya
yang begitu pandai, kenyataannya saya
tak pernah mengalahkannya.
Kami
hidup di sebuah desa yang masih menganggap Play
Station II (PS 2) sebagai mainan
yang elit dan modern. Sebuah anggapan yang pantas pada waktu itu, mengingat
desa saya yang sinyal HP baru masuk. Tahun 2004-an.
Hadirnya
PS 2 mengharuskan saya move on dari
PS 1. Awalnya masih tidak asik. Terlalu pelan untuk dimainkan. Saya coba
balikan ke PS 1, namun sial mata saya menjadi tidak bersahabat. Gambarnya
bergetar. Saya menduga karena beberapa hari sebelumnya telah bermain game bola
di rental PS 2. Alhasil, saya harus beradaptasi dengan PS 2. Perubahan mutlak
untuk diikuti.
Kembali
ke teman saya. Ia adalah ikon manusia game. Rental PS yang hanya beberapa di
desa dikuasainya. Bukan hanya game bola, tetapi semua game yang tersedia ia
jagonya. Terpaksa saya berurusan dengannya karena kehlian bermain game bola
saya selalu tumbang olehnya.
Ia
adalah sosok yang, maaf, tidak kaya. Di rumahnya, hanya ada teve 14 in yang
bahkan tidak bisa untuk dicolokin PS. Artinya ia menjadi jago PS bukan karena
punya PS sendiri di rumah. Lantas, bagaimana ia menjadi jago PS itulah
pertanyaannya.
Benar
saja ia menjadi jagoan game. Setelah saya telusuri dan perhatikan, ia memiliki
kedekatan emosional dengan yang punya rental. Tidak sampai di situ saja, ia
bahkan memiliki kedekatan dengan para pelanggan rental. Semua rental PS yang
ada.
Mudah
saja baginya untuk melakukan pendekatan emosional. Dengan bakatnya itu, ia
menawarkan jasa untuk memainkan game dari petualangan hingga game jenis olah
raga, seperti balapan dan sepak bola. Kurang lebih redaksinya begini, “Gak ngunu maine, ndelok tak maekne, ngene
lho.” (Nggak gitu mainnya, sini saya mainin, gini loh).
Dan
sialnya, ia selau berhasil. Ironinya, si penyewa PS riang gembira ketika game
petualangan yang dimainkan teman saya berhasil melalui rintangan. Nggak sadar, tulisan timer di pojok kiri bawah layar
menunjukkan tinggal 1 menit lagi. Kasihan
deh...
Ingin Mengalahkan
Selain
game petualangan yang berjenis one
player, game-game arcade yang two player pun ia tuntaskan. Sebagai
remaja muda yang gemar bermain game, kemampuannya yang luar biasa itu membuat
saya sangat bernafsu untuk menumbangkannya. Demi kepentingan saya, saya rela
mengeluarkan uang untuk menyewa PS. Dan mengajaknya bertanding. Game bola,
kesukaan saya.
Pendek
kata saya selalu kalah. Padahal tidak kurang saya berlatih. Dari versus komputer yang paling sulit sampai
gamers lain selain dia, sudah saya tumbangkan. Sesekali saya mengalahkannya.
Tapi anehnya, selalu saja saya berpikir
bahwa saya menang karena ia bosan lantas mengalah. Atau mungkin kasihan kepada
saya.
Orang
satu ini membuat saya gerah sepanjang hari. Hingga saat ini saya masih belum
bisa puas mengalahkannya secara mutlak.
Teman Saya vs Ahok
Saya
menilai antara teman saya dan Ahok tak jauh berbeda. Sama-sama pandai dan
berbakat dalam permainan. Bedanya, teman saya bermain PS dan Ahok bermain
politik. Namun, polanya juga nggak jauh
berbeda, kok.
Jika
lawan politik Ahok menghadirkan figur-figur sukses dari daerah lain. Berharap
figur-figur tersebut bisa meruntuhkan populeritas Ahok di Jakarta, maka,
menurut pengalaman saya nih, itu akan memakan tenaga ekstra.
Maksud
saya, semakin pihak lain ingin melawan Ahok dalam perebutan kursi Gubernur,
dengan cara menghadirkan jago-jago daerah lain yang lagi naik daun, maka harusnya
mudah saja bagi Ahok untuk memenangkannya. Sebagaimana teman saya membuat
jengkel saya hingga saat ini.
Saya
menilai upaya peruntuhan kepopuleran Ahok oleh lawan-lawannya dirasuki oleh
nafsu mengalahkan yang sangat luar biasa. Sebagaimana pengalaman saya ingin
menumbangkan teman saya, yang walaupun saya menang tetap tidak puas.
Sayangnya,
pemilihan Gubernur kan bukan untuk ajang coba-coba. Berbeda dengan pertandingan
PS yang bisa diulang-ulang hingga mata bengkak. Bisa jadi senjata pembukaan
kasus RS Sumber Waras dan reklamasi teluk Jakarta menjadi pilihan brilian.
Namun tunggu, saya pikir tidak semudah itu.
Komunikasi
politik Ahok juga keren. Dengan gaya komunikasi pembuktian terbalik ala Moh. Hatta sebagaimana diungkapkan Effendi
Gazhali, Dosen UI di laman cnnindonesia.com (1/6/2015) memberinya kekuatan
argumentasi lugas, meski sedikit kasar.
Tentang
korupsi misalnya, Effendi menambahkan, bahwa Ahok selalu mengatakan, “kalau
tidak korupsi, tunjukkan dong dari mana penghasilan, apakah sudah bayar pajak dan
sebagainya”. Dan model kayak gitu disukai publik yang haus kelugasan.
Selain itu, Ahok juga news maker yang
baik. Apa pun yang dilakukannya, media menyorotinya.
Saya
pikir itu adalah pekerjaan rumah bagi yang ingin melawan Ahok. Semakin bernafsu
mengalahkan Ahok, semakin Ahok di atas angin. Jangan berharap bahwa Ahok akan
bosan dan mengalah seperti kasus kemenangan pertandingan bola saya versus teman saya.
Oke,
sampai sini saya akan jujur kepada Anda bahwa saya tidak memihak siapa pun. Saya
juga punya tips buat si Ahok, “Tetaplah tenang dan yakinlah bahwa kemampuan
Anda tetap di atas rata-rata. Semakin Anda khawatir akan kekalahan, semakin
terbuka peluang Anda untuk kalah beneran.
Anda sudah keren. Ini serius.”
Dalam
permasalahan ini saya sekali lagi ingin jujur kepada Anda bahwa saya ingin mem-versus-kan Ahok dengan teman saya. Meski
dalam konteks yang berbeda, setidaknya saya pahami politik sebagai permainan
juga, yang pada akhirnya tamat ketika misinya selesai. Alih-alih sampai kepada
kesejahteraan rakyat, frasa “misi selesai” berhenti kepada duduknya pemain di
kursi kekuasaan.
Ya,
saya menyimpan dendam kepada teman saya. Dendam itu kini menjelma sebagai
kebanggaan karena memiliki teman jago bermain game. Dan, kebanggaan itu
memotivasi saya untuk menyaksikan dua sosok hebat bertemu dipermainan sesungguhnnya.
Saya
hanya penasaran. Salam.
0 comments:
Post a Comment