Blogroll

Monday, December 9, 2013

Puisi-Puisi Wing Kardjo

 photo T07486_9_zpse646e166.jpg
Sir Stanley Spencer | Zacharias and Elizabeth 1913-14 | Oil and pencil on canvas
support: 1426 x 1428 x 24 mm frame: 1703 x 1705 x 130 mm


Yang Jauh
Seolah hidup harus hidup
kau yang jauh, makin jauh
saja, seakan hanya bayang-
bayang di bawah pohon teduh
Kau hilang dari pemandangan
tapi pula tak mati seperti mimpi.
Adakah yang kautunggu selalu
meskipun hari-hari terus berlalu?
Mungkin petang dan bayang-
bayang musim panas makin
panjang, makin cemas
daun-daun menguning mendekati
musim gugur. Hari makin pendek
saja. Nanti, nantikanlah!

Piknik 55
Kereta terakhir menderit
di ujung stasiun. Telah habis hari ini
perjalanan bersama, senja di balik bukit-
bukit kelabu. Telah lalu umur hari, satu dari

panjangnya rasa. Jauh berbeda
udara pegunungan daripada kota
yang satu ketenangan, yang lain keriuhan,
ketekunan dalam kerja, kesibukan dalam nyala.

Dua-duanya sama-sama
menghidupi kelanjutan,
kehijauan tumbuhan

dan harapan. Masih luas
lapangan dan subur
turun keakanan.

Bukit
Bukan kebetulan hidup kaurisaukan
meski makan dan penginapan
sudah terjamin hingga
tahun depan

Dalam gelisah tidur, mimpi mendaki
bukit telur, kapan kapal pecah, laut
berdebur. Bagaimana bisa tekebur
hidup bisa begitu saja lebur.

Pentingnya hati terkunci di laci,
lahir sajak seperti arak,
yang terpendam dalam-

dalam, diperam
cahaya bulan.
Bulan.

Scheveningen
Laut, lautkah itu
yang kauberikan padaku
seperti yang kaujanjikan
dulu, sepi dan tak berarti

Laut, lautkah itu
gemerlap dan perak
di tiap ombak, pecah dan
bersatu dalam keluasan waktu

Laut
lautkah itu, yang
kauberikan padaku

dan
hanya itu
saat kau berlalu!

Surga
Ke Paris!
(menghindari
sipilis) Amsterdam
God damn!

Sementara
Iqra buka celana
aku menunggu depan
etalase kaca.

(yang tirainya
menutup dan membuka)

Aku sengsara, sengsara
bukan karena neraka
tapi surga di mana-
mana!

Perut
Hari melonjak
dalam perut sajak.
Sepi tak beranjak.

Bayang
Di kelab malam
lampu dan bayang-bayang
Tak pernah tentram
 
Rumah
Berumah tanah.
beratap langit, dua-
duanya pahit?

Waktu

1.
Aku makan
waktu. Aku
makan mimpi, aku
makan nasi lauk-pauk basi.

Minum racun
buah-buahan busuk
yang disisihkan Adam
dan Hawa di sisi senja,

Kala Tuhan
menenggelamkan
matahari dalam kelam

dan dosa
mengusir mereka
dari Sorga

2.
Andai mesti
suci mengapa manusia
tergoda, andai penuh cinta
mengapa mesti sepi dan sia-sia

Andai jasad fana
mengapa jiwa mesti
baka, andai hidup maya
mengapa mesti cari selamat.

Aku
hanya bisa
mencatat detik-

detik melompat
memohon
tobat


Wing Kardjo lahir Garut 23 April 1937, dan meninggal dunia di Jepang pada 19 Maret 2002. Kumpulan puisinya yang sudah terbit Selembar Daun (Pustaka Jaya, 1974), Perumahan (Budaya Jaya, 1975), Fragmen Malam (Pustaka Jaya, 1975), dan Pohon Hayat: Sejemput Haiku (Forum Sastra Bandung, Mei 2002. Ia juga menerjemahkan Pangeran Kecil karya Antoine St. Exepery dan Sajak-sajak Perancis Modern dalam Dua Bahasa (1975). Selain itu menulis pula sejumlah esai, dan novel pendek, semi biografi, terbit dengan judul Topeng.*

NB : puisi-puisi di atas dipetik dari beberapa sumber, yaitu www.langitjiwa.wordpress.com, www.kepadapuisi.blogspot.com, serta www.pikiran-rakyat.com

Redaktur SARBI: Dody Kristianto


0 comments:

Post a Comment

Anda Pengunjung ke

SARBI

Tentang Kami

Sastra Alienasi Rumput Berbasis Independen (SARBI) adalah kelompok diskusi yang bergiat mendiskusikan perihal isu sastra, seni, dan kebudayaan terkini dengan mengambil sudut pandang alternatif. Selain itu, SARBI juga banyak menggali pemikiran tradisi negeri sendiri dan konsepsi mancanegara yang diharapkan dapat bersinergi sehingga menghasilkan pandangan kontemporer yang segar. Untuk membuktikan perihal tersebut, kami melahirkan lembar SARBI untuk ikut menghiasi keriuhan dunia sastra, seni, dan budaya serta berharap dapat menjadi oase untuk memenuhi dahaga kita •

Redaksi

Pemimpin Redaksi Sidang Redaksi Sidang Redaksi Sidang Redaksi Sidang Redaksi Sidang Redaksi Penata Artistik

Tinggalkan Pesan

Dokumen Post